
Revan POV
Siang itu, di sebuah ruang kantor yang penuh akan kepenatan. Untuk kembali pulang, rasanya aku tak ingin. Pasti akan bertemu dengan Marissa yang selalu berteriak tanpa henti membuat kedua telinga ini hendak pecah, akan tetapi apa boleh buat. Sikapnya berubah seperti itu sudah hampir setiap hari, jadi aku perlahan terbiasa.
Dari ambang pintu, suara ketukan terdengar sangat keras hingga mengejutkanku. Entah siapa yang ada di luar sana sangat berani mengganggu waktu sibuk saat ini, padahal sedari tadi pagi sudah ada pemberitahuan prihal jangan pernah menemui aku apa pun yang terjadi.
Tok-tok-tok!
"Masuk ...."
Mulut pun seketika berkata, sejak ucapan itu terlontar, membawa wanita cantik bernama—Siska—sekretaris pribadiku di kantor. Kedatangannya selalu membuat hidup ini terasa sejuk, apalagi senyum semringah yang ia edarkan setiap menatap mantap kedua bola mata. Seakan jiwa tergugah untuk dapat memilikinya menjadi seorang istri kedua.
Ia duduk di kursi putar tepat di hadapanku. "Bos, ini berkas-berkas yang tadi Anda minta." Ia menyodorkan berkas dengan map berwarna hijau muda.
Aku pun mengambil sodorannya seraya menatap girang senyum manis bibirnya. Begitu menggoda dan mampu menaikkan adrenaline-ku untuk berlama-lama di kantor berdua bersamanya.
"Sis, kamu udah punya pacar belum?" kutanya.
Seketika Siska mengernyitkan kedua alis dan membuang tatap menuju tembok ruangan. "Hmmm ... kok, Bos nanyanya seperti itu."
"Iya, soalnya saya ingin mengajak kamu makan, malam ini. Di sebuah resto tempat saya biasa makan, bagaimana?"
Seraya menunggu jawabannya, aku pun mendelik penuh hati-hati.
"Boleh, sih, Bos."
"Kok, sih? Mau atau tidak?" timpal mulut ini seraya memastikan ucapnya.
Lalu, dengan sangat malu-malu, ia mengangguk dua kali. Tanpa membalas kata, rupanya ia lebih senang menggunakan bahasa tubuh. Aku pun menelan ludah dan menarik napas panjang.
"Oke! Entar sore, kamu tunggu di mobil saya biasa."
"Siap, Bos!" jawabnya sangat semringah.
"Jangan panggil Bos, dong ...."
"Lalu, apa, ya?" tambahnya.
"Panggil Mas aja," lanjutku dengan wajah penuh kemenangan.
Tampak dari wajahnya, ia sangat tersipu malu. Ternyata semudah itu merayu wanita yang sudah hampir lima tahun bekerja bersamaku, padahal ia terkenal sangat cuek dan jutek. Mungkin hari ini adalah awal langkahku untuk mendapatkannya. Semoga saja, perselingkuhan ini enggak ada yang tahu dan kami bisa saling berhubungan meski dengan status terlarang.
"Oh, ya, Bos. Saya permisi keluar dulu, soalnya masih ada yang harus saya selesaikan," ucapnya seraya menggigit bibir bawah.
"Tuh, 'kan, udah panggil Bos lagi."
"Eh, iya, Mas. Saya permisi keluar dulu," sosornya seketika.
"Oke, silahkan. Selamat bekerja kembali demi kemajuan rumah tangga kita," celetukku yang membuatnya kembali putar badan.
"Apa, Mas? Saya enggak salah dengar, 'kan?"
Lalu, tanpa mendapat jawaban dari pertanyaannya. Ia langsung keluar begitu saja melalui akses utama menuju lantai dua. Jantung berdegup kencang, panah asmara yang ia tebarkan hari ini mampu membuatku merasakan cinta baru. Entah apa yang sedang merasukiku.
Yang pasti, aku akan tetap terjalin asmara terlarang ini sampai nantinya ia mau menikah denganku.
__ADS_1
Waktu terus bergulir, aku menatap arloji di tangan kanan yang sudah menunjukkan pukul 18:00. Itu tandanya, jam untuk bekerja sudah habis. Tak terasa memang, jika dijalani bersama dengan sosok wanita yang mampu membuat nyaman hidup.
Dengan sigap, aku merapikan berkas-berkas serta beberapa dokumen yang sempat berserakan. Sepanjang hari tak mampu untuk fokus merancang proyek baru, yang ada dalam isi kepala hanyalah Siska terus-menerus mengitari puing-puing jiwa yang sempat kacau karena beberapa peristiwa.
Kutatap balkon kantor, horden berwarna putih tertiup angin seraya mengajak untuk bercanda bersama senja. Warna jingga sedikit kecokelatan, seakan menggandeng sang rembulan untuk mengisi kekosongan alam semesta.
Begitu pula suasana hati ini, seperti tengah kosong. Lalu, ada sebuah hal yang mampu menggandeng untuk kembali menerangi kekacauan itu.
Setelah dokumen rapi dan berada pada posisinya masing-masing, aku pun bergegas untuk meninggalkan ruangan. Tangan kanan mengunci pintu kantor seraya berjalan dengan menyumpal kedua telinga menggunakan eartphone warna putih. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya aku bersenandung lagu-lagu mancanegara.
Bagiku, tiada yang lebih penting selain memutar lagu band terkenal Snow Patrol dengan judul laginya, RUN. Kecintaan diri ini terhadap lantunan musik POP yang terpadu indah dengan aliran musik HIP-HOP, mampu membuat pikiran menjadi sedikit nyaman.
Langkah kaki menapak sedikit kencang. Dengan menggunakan tangga darurat, aku turun seraya menatap mantap ujung koridor lantai satu. Di sana sudah terparkir mobil putih merek yang saat ini limited edition, perusahaan mobil terkemuka dunia hanya mengeluarkan beberapa unit untuk tahun ini. Salah satunya yang aku punya sebagai kendaraan sehari-hari untuk bekerja.
Di dalam kantong celana, ponsel berdering beberapa kali. Dengan tangan kanan, aku mengambil sebuah ponsel genggam dan melihat jendela layar yang membawa notifikasi panggilan datang dari nomor rumah.
Aku pun menjawab panggilan tersebut.
[Hallo ....]
[Hallo, Tuan.]
[Bi Ira? Ada apa, Bi?]
[Tuan, saya mau menyampaikan kalau Nonya Marissa tidak mau makan malam. Bagaimana ini, Tuan?]
[Bi ... saya lagi sibuk. Tolong kamu saja yang bujuk dia, jangan ganggu saya malam ini.]
Dengan tangan kiri, aku mematikan panggilan itu. 'Mengganggu aku aja kamu, Bi. Enggak tahu apa kalau aku lagi sibuk dinner sama Siska. Kamu urus aja itu perempuan gila di rumah,' batinku.
"Eh, Sis. Kamu udah dari tadi nunggu saya?" kutanya ia seraya mengedarkan senyum kecil.
Ia pun menadahkan kepala, seketika kembali menatapku malu. "Eng-enggak, Mas. Lagian nunggu seorang Bos itu adalah tugas saya," responsnya.
Aku pun mengangguk dua kali. Kemudian, dengan tangan kanan aku membuka pintu mobil di kursi paling depan.
"Sis, silahkan masuk." Kupersilahkan wanita yang sedang berada di samping kiri.
Ia pun sedikit mendesah. "Ah ... enggak, Mas. Saya duduk di belakang aja seperti biasa."
"Loh, kenapa emang?"
"Enggak enak kalau dilihat orang. Lagian kita juga bukan muhrim, Mas."
"Sis ... bentar lagi juga bakal muhrim," lanjutku sambil menggigit bibir.
"Ah, ada-ada aja. Saya duduk di belakang aja, Mas." Ia menolak beberapa kali.
Lalu, kupegang kedua tangannya perlahan. "Siska, kamu takut sama saya? Kamu enggak bakal saya kecewakan, kok. Karena saya sangat serius sama kamu."
"Tapi, Mas ...."
"Suuttt ... please, jangan menolak ajakan bos kamu malam ini, anggap aja ini perintah dari atasan."
"Hmmm ... ya, udah kalau gitu. Jika ini adalah perintah dari atasan, saya ikut aja apa kata Bos."
__ADS_1
"Nah, gitu dong, 'kan saya jadi tambah cinta sama kamu."
Siska pun mencubit perutku perlahan. "Ih, dasar laki-laki buaya."
Dengan tawa kecil, aku berkata. "Buaya-buaya gini, tapi kamu mau, 'kan?"
"Siapa yang nolak sama buaya tampan," lanjutnya sambil berjalan menuju pintu mobil sebelah kiri.
Kami pun duduk berdua, dengan menginjak gas perlahan, kami bergegas meninggalkan kantor malam ini.
Di atas mobil bersama dengan suasana malam yang penuh dengan tipu daya. Ya, masih membahas seputar perselingkuhan yang terjalin di antara aku dan Siska. Kami melangkah memasuki sebuah resto paling terkenal seantero kota Medan, tepat di jalan Sudirman pusat taman.
Mengendarai mobil mewah limited edition. Aku yang kala itu mengenakan kacamata berwarna hitam, lengkap dengan jas berwarna sedikit kecokelatan.
Membutuhkan hampir tiga puluh menit untuk kami sampai di resto tersebut. Kutapakkan kaki sebelah kanan untuk mengawali langkah dan menuju pintu sebelah kiri, seketika aku membuka pintu untuk Siska keluar dari mobil.
"Silahkan tuan putri ...," ucapku seraya mepersipahkan ia keluar, kemudian ia menggenggam sodoran tanganku erat.
Kami melangkah menuju resto tersebut dan menuruni anak tangga yang terbuat dari keramik. Sampailah di tempat kursi paling depan. Aku seengaja memilih lokasi dekat dengan pemandangan luar, agar dapat menukar tatap bersama bintang-bintang di alam semesta.
Dari depan, Siska memainkan ponselnya. Hampir tiga menit duduk, pelayan resto datang sambil menenteng menu makanan paling special.
"Selamat malam, Bapak ... Ibu ...," sapa pelayan rasto dengan tatapan semringah, ia pun mengedarkan senyum kecil.
Kemudian aku menjawab dengan memandang pelayan itu dari samping kanan. "Selamat malam, Mbak."
"Ini daftar menu resto, silahkan dipesan." Wanita cantik berpakaian merah dengan rambut yang ia ikat menggunakan tali rafia itu menyodorkan buku menu.
Sekitar dua menit memilih, aku sangat tertarik dengan sea food yang menawarkan cita rasa sangat enak itu.
"Mbak, saya pesan yang ada di nomor satu aja. Sis, kamu pesan menu apa?" kutanya ia yang sangat serius memandang layar ponsel tanpa berkedip.
Lalu, ia pun membuyarkan lamunannya. "Ah, saya menunya sama aja dengan Bos."
Dengan tangan kanan, aku mengembalikan daftar presensi menu makanan pada pelayan resto. "Mbak, kami pesan dua menu yang sama." Pelayan pun pergi meninggalkan kami berdua, selang beberapa menit. Akhirnya, Siska mematikan ponselnya dan menatap ke arah depan.
"Bos, saya mau nanya sesuatu, boleh?" ucapnya, ia pun seraya mengernyitkan kedua alis.
Karena sangat penasaran, aku pun ikut menatap wajah lawan bicara seketika. "Boleh, Sis. Emang kamu mau nanya apa, ya?"
"Ah, ini, Bos. Bukannya apa-apa, ya, saya cuma mau nanya tentang istri—Bos di rumah. Kita makan berdua, sedangkan ia sedang mengalami sakit."
Mendengar ucapannya, aku menyandarkan badan di kursi sofa berwarna cokelat. Batin pun berkata, 'benar juga Siska, betapa berdosanya aku yang mengajak wanita lain makan. Sementara istri sahku di rumah entah bagaimana keadaannya. Kalau dipikir-pikir, resto ini adalah tempat kesukaan Marissa ketika kami masih pacaran dulu.'
Dengan menggunakan kedua tangan, rupanya Siska tengah melambai tepat di hadapanku. "Bos, kok, melamun."
Karena sangat terkejut, aku membuyarkan lamunan. Kemudian sedikit salah tingkah, "ah, Sis. Iya, saya enggak apa-apa."
Akhirnya, ucapan pun berhenti seketika. Pelayan berpakaian merah itu datang seraya membawa makanan yang tadi sudah dipesan. Lalu, kami menyantap menu yang telah tersedia di hadapan. Tiba-tiba, perut ini terasa sangat sakit, sehingga aku merubah posisi dan berdiri memperbaiki jas berwarna cokelat.
"Sis, kamu tunggu di sini, ya! Saya ingin permisi ke toilet sebentar."
"Iya, Bos," respons Siska sangat singkat. Kemudian, aku bergegas pergi meninggalkan meja tempat kami sedang dinner.
Bersambung ...
__ADS_1