
Anissa POV
Malam telah tiba, suasana rumah terasa berbeda sejak kehadiran mama kembali dan dapat tertawa lepas seharian. Berkumpulnya mereka dalam rumah, membuat aku betah, apalagi jika nantinya ada teman yang diajak bertukar pikiran. Untuk malam ini, aku tidur bersama Ziva yang sedari tadi sudah terlelap. Namun, untuk menutup kedua netra, rasanya sangat berat.
Akibat katup mata tak bisa diajak kompromi, aku membangkitkan badan dari atas dipan seraya turun menginjak lantai. Tapakan gontai pun membawa diri untuk segera sampai di sebuah kursi yang terletak di sudut ruang kamar. Di sana sudah ada lampu sebagai penerang, dan beberapa pena telah berserah ke sana dan ke mari.
Sudah hampir sepekan aku tak menuliskan perihal isi hati, karena sibuk dengan tugas sekolah yang menumpuk. Apalagi pikiran ini terus berkecamuk pada sang mama yang tak kunjung ada kabarnya, ketika dia di rumah sakit. Setelah aku mendudukkan badan di atas kursi, netra pun terfokus pada buku diary di atas meja.
Tak lupa, aku membuka nakas yang berisikan pena dan sebuah foto satu-satunya peninggalan Bi Ira. Yaitu, sebuah potret betapa keluargaku pernah ada dan sempat harmonis. Menggunakan tangan kanan, aku mencoba untuk meraih foto tersebut dan mencari.
Loh, foto yang biasa ada di sini kenapa enggak ada, ya? Ke mana perginya foto itu? Mampus aku, kalau sampai jatuh ke tangan orang yang salah, bisa malu besar keluargaku nantinya.
Selepas bersenandika, aku menbangkitkan badan seraya berjalan ke sebuah tas yang ada di samping dipan. Ya, tas sekolah berwarna cokelat, benda itu sering aku bawa ke mana-mana di bandingkan yang lainnya. Dengan gaya cepat, tangan ini membuka dan menuangkan isi keseluruhan tas tersebut.
Akan tetapi, hasilnya nihil. Yang tampak di sana hanyalah buku pelajaran, buku tulis, dan pena serta penggaris. Secarik foto masa lalu tak kunjung ditemukan. Karena sangat takut, aku mencoba untuk berjalan menuju sebuah lemari tempat pakaian. Dengan harapan, kalau di sana akan ada hasil dari pencarian sedari tadi.
Ketika otak mulai panas akan sebuah penglihatan yang memenuhi lemari, tak satu pun terlihat bahkan foto tersebut. Akan tetapi, yang ada hanyalah beberapa kertas tersobek kecil-kecil dan berserakan.
Astaga! Apa jangan-jangan foto itu telah habis termakan oleh tikus? Namun, batinku berkata kalau semua itu tidak mungkin.
Selepas bersenandika, aku mengambil beberapa sobekan itu dengan sedikit menitihkan air mata. Ternyata, kertas tersebut bukanlah foto masa lalu keluargaku. Karena dari tingkat ketebalan kertas itu tidak sama dengan yang ada di foto.
Bersama tapakan gontai, kulangkahkan kaki menuju sebuah meja dan menatap sobekan tersebut. Dengan memutar otak, sobekan itu kususun rapi dan mencari titik terang dari gambar yang hilang. Ketika air mata mulai jatuh, aku menekan kening menggunakan kedua tangan.
__ADS_1
Tuhan ... kenapa semua jadi seperti ini, sih. Betapa bodohnya aku yang membiarkan foto itu hilang begitu saja, batin pun bermonolog kembali.
Sebuah sentuhan lembut mendarat di belakang badan, bersama dengan bayangan hitam yang menepi ke arah Barat sekitar empat puluh lima derajat. Bersama tatapan lirih, aku menghapus air mata seraya menatap siapa gerangan orang itu.
“Nissa, kau kenapa masih ada di sini? Sudah larut malam, apakah kau baik-baik saja?” tanya Ziva.
Karena aku tak mampu untuk menjawab, mulut terbungkam dan tidak mungkin berkata yang sebenarnya. Namun, lawan bicara semakin membulatkan kedua netranya penuh selidik. Untuk berkata, rasanya mulut sangat keluh, ditambah ini adalah AIB dan masalah keluarga, tidak mungkin orang lain tahu.
“A-aku, aku kehilangan benda kesayangan aja,” titahku terbata-bata.
“Apa yang hilang, Nissa?” tanyanya lagi.
“Enggak penting, kok, hanya sebuah buku diary.” Alhasil, mulut ini berhasil menciptakan goresan dosa karena telah berbohong pada kedua belah pihak. Yaitu, Tuhan dan Ziva.
“Niss, yuk, kita tidur lagi. Kan, besok ada ujian di sekolah. Terakhir lagi, kita harus pulihkan tenaga dan pikiran,” ajaknya dengan menyentuh tangan kananku.
“Ta-tapi, Ziv, aku masih belum mengantuk. Bagaimana kalau kau saja yang tidur duluan, entar aku menyusul.”
“Anissa ... jangan pikirkan diary terus, besok akan aku belikan yang lebih bagus dari milikmu. Percayalah!” pungkas lawan bicara mencoba meyakinkan.
Karena aku tak mau memperpanjang perdebatan, akhirnya kulanglahkan kedua kaki menuju dipan dan merebahkan kedua sayap. Namun, netra masih memandang langit-langit karena memikirkan perihal foto yang mendadak hilang dari dalam nakas.
Tuhan ... mudah-mudahan, besok aku dapat menemukan foto itu dan kenangan tak akan hilang dari hidup ini. Meskipun setiap kali aku menatap selalu menangis, setidaknya ada bukti untuk dunia, bahwa aku punya seorang ayah.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Pagi telah tiba, suara ayam jantan pun terdengar dari balik gorden rumah. Semilir angin nan sayup datang dari ventilasi dan membawa panorama indah di bumi nusantara. Kicauan burung gereja, serta kupu-kupu cantik pun berterbangan ke sana dan ke mari.
Dengan cepat, aku melompat dari atas dipan menuju jendela kamar, tatapan sejurus pada pusat penglihatan, seraya menikmati suasana indah bersama sejuknya nikmat Tuhan. Kemudian, aku menatap kembali menuju atas dipan, ternyata di sana sudah tidak ada Ziva yang tertidur pulas.
“Loh, ke mana perginya anak itu? Kenapa bisa cepat sekali pergi dari kamar aku, atau jangan-jangan dia pergi ke sekolah sendiri?” Selepas berkata, aku berlari menuju kamar mandi.
Tepat di ruang tersebut, sudah kosong tidak ada siapa pun yang mandi. Kemudian aku berlari menuju halaman rumah, tepat di ambang penglihatan, mobil mewah berwarna merah masih terparkir rapi tanpa ada pergerakan.
Loh, ini mobil milik Ziva. Kenapa orangnya enggak ada di mana-mana? Mampus aku kalau ayahnya menelepon dan bertanya, aku harus jawab apa?
Sekian menit bersenandika dalam batin, aku pun mencoba untuk berjalan melintasi dapur. Namun, di sana seperti tengah ada kekacauan karena sangat ribut. Rasa penasaran menghujani diri, memaksa kaki untuk melangkah dan mencari tahu.
Tepat di ambang pintu, terlihat tiga orang wanita tengah menggoreng sesuatu dengan sedikit bernyanyi.
“Ziva, ka-kau ada di sini? Sejak kapan?” tanyaku lirih.
Lawan bicara pun menatap dengan penuh kemenangan. “Anissa, kau ngapain di situ. Hey, sini bantuin kita. Ini lagi goreng tempe sama Bi Ira dan Mama kamu.”
“Sayang, kamu ngapain di sana? Mari, kita goreng tempe sama-sama,” ucap si mama.
Dengan langkah gontai bercampur air mata, aku pun berjalan menuju sebuah ruangan yang dipenuhi ketiga wanita yang terlihat sangat akrab. Batin berkata, bahwa mereka sangat membuat aku bertambah semangat, karena sudah bisa beradaptasi dengan cewek tomboi seperti Ziva.
__ADS_1
Bersambung ...