
Revan POV
Tuh, aku bilang juga apa, mereka berpelukan. Pasti sebentar lagi ciuman, huh! Syukur saja aku tidak terlalu lama berada di dalam sana. Coba kalau pria itu tidak datang, bisa kena rayuan Mario untuk memenuhi nafsunya. Apalagi, dia adalah duda sejak lama ditinggal sang istri, pasti pria dan wanita membuatnya tertarik.
Tepat di ambang pintu, aku memerhatikan gelagat dua orang pria tampan di dalam ruang rapat. Entah kenapa, rasa kepo yang tumbuh dalam diri ini tak tertahan untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Rasa penasaran itu terbayar lunas, karena Mario memeluk pemuda tersebut dengan mesrahnya. Dari ekor netra, terlihat bahwa mereka sangat dan dekat, sudah seperti orang pacaran.
Akan tetapi, yang membuat aku sangat geli adalah, Mario dan pria itu sama-sama lelaki kekar dan gagah. Namun, mengapa bisa menjadi pecinta sesama. Saking herannya aku di posisi tertegun, kupalingkan wajah menuju sebuah sudut ruangan yang dipenuhi dengan karpet merah. Seketika aku merasa ada sebuah sentuhan lembut yang mendarat di pundak belakang, kemudian netra pun menoleh ke orang tersebut.
“Eh, Pak, kok, masih di sini?” tanya salah satu karyawan di perusahaan milik Mario.
Dengan gaya canggung, aku menekan wajah menggunakan kedua tangan. “Ah, i-ini, saya hendak pergi dari sini.”
“Loh, emang sudah kelar urusannya dengan Pak Mario?” tanyanya lagi.
“Su-sudah, sih, Pak. Akan tetapi dia ada rekan lain di dalam, jadi saya pamit pulang lebih awal. Oh, ya, tolong sampaikan bahwa saya kirim salam saja. Karena masih ada yang harus saya kerjakan di kantor saya,” titahku terbata-bata.
Lawan bicara menggangguk dua kali, akan tetapi dia tidak kunjung pergi dari hadapan, malah ekspresinya sama ketika aku menatap kedua netra Mario. Dalam posisi tertegun, rasanya aku ingin kencing dalam celana. Orang-orang yang ada di perusahaan milik Mario sangat aneh, walaupun karyawan di sini tampan-tampan, akan tetapi seperti seorang ho-mo saja ketika melihat lelaki lain.
“Kalau begitu ... saya permisi dulu,” ucapku dengan spontan.
“Boleh, Pak, silakan.” Lawan bicara menadah dan menatap berkas di tangan kanannya itu.
Tanpa basa-basi, aku pun pergi dengan cepat dan menuju lif. Lantai satu adalah tujuanku, karena sedari tadi sudah merasa takut dan keringat dingin keluar membasahi wajah hingga celana bagian dalam. Bukan karena hantu yang mendasari itu, akan tetapi tatapan para karyawan di perusahaan milik Mario membuat sangat trauma.
Apalagi di sini rata-rata karyawan berjenis kelamin laki-laki, tidak ada udara segar untuk aku mencuci mata.
Pasti pemuda tadi juga ho-mo, dari gaya-gayanya seperti itu. Tetapi kenapa Mario bisa mempekerjakan karyawan demikian di perusahaannya, ya, atau jangan-jangan ... ah, sudahlah, kenapa aku yang jadi kepo terus dari tadi.
__ADS_1
Di delam sebuah lif telah kosong, aku adalah orang satu-satunya yang bergerak menuju lantai satu. Setibanya di tempat tujuan, aku bertemu kembali dengan karyawan berjenis kelamin laki-laki memakai kacamata hitam tengah menggerompok. Dengan gaya takut, aku menyibak mereka yang sedang berdiri di depan pintu.
“Maaf, permisi,” ucapku.
“I-iya, aneh banget itu siapa, sih?” Terdengar samar, para karyawan itu tampak sangat kesal mendapati aku yang keluar dari kantor dengan menabrak siapa pun.
Tanpa memedulikan ucapan mereka, aku berjalan menuju parkiran mobil. Setibanya di sana, Mang Diman sudah menunggu dan aku mendudukkan badan dengan keringat yang masih membasahi badan. Sedari tadi, mulut pun terkunci dan tak sepatah kata pun dapat terucap.
Tampak dari kaca mobil bagian depan, Diman memerhatikanku seakan ingin berkata sesuatu, akan tetapi dia seakan takut untuk memulainya.
“Man, kau kenapa? Seperti mau berkata sesuatu?” tanyaku mengawali ucapan.
“Eng-enggak, Tuan. Dari tadi saya perhatikan, kok, kayak gelisah gitu?” tanyanya.
“Iya, saya lagi ketakutan memang. Habis melihat hal yang seram,” titahku menjelaskan.
“Emang melihat apa, Tuan? Hantu? Mana ada hantu siang-siang bolong begini,” ledeknya seraya membuang senyum kecil.
“Kepala hitam yang dapat mengeluarkan cairan putih? Saya tidak mengerti dengan apa yang Tuan katakan.” Selepas berkata, Diman menggaruk kepala beberapa kali.
“Kalau tidak tahu jangan bahas itu lagi, pernyataan tadi jadi PR buat kamu di rumah. Besok saya tanya harus sudah tahu jawabannya.”
“Baik, Tuan, saya akan mencari jawabannya.”
Menggunakan tangan kanan, aku mengambil tisu di dalam sebuah tas sembari menghapus keringat yang berlebih keluar dari wajah. Namun, aku tidak bisa menghapus air keringat yang keluar di bagian bawah perut. Karena masih ada Diman yang sedari tadi memantau tanpa henti. Entah kenapa, hari ini membuat sangat aneh dan lucu.
Rasa geli bercampur aduk dengan sebuah penglihatan yang baru saja aku saksikan. Ketika berada di dekat seorang wanita, aku merasa tidak ada gairah, akan tetapi ketika bertatapan dengan pria tampan, malah merasa seperti orang gila.
__ADS_1
Jangan-jangan aku, ya, yang mulai enggak waras. Ah, masak iya aku juga penyuka sesama. Lagian aku masih mau, kok, jajan di luar kalaupun di rumah enggak pernah dapat jatah dari istri, batinku.
Setelah sekian lama di perjalanan, kami pun sampai di depan kantor tepat waktu. Jalanan sepertinya sangat bersahabat siang ini, karena tidak terjadi macet seperti hari-hari biasanya. Dengan cepat aku keluar mobil seraya berjalan laju menuju kantor, di sana sudah ada Brama dan rekan lainnya sedang menggerompok.
“Selamat siang, Bos ...,” ucap Olivia dan Brama.
“Selamat siang, kalian lagi apa di sini?” tanyaku seraya bergeming di posisi semula.
“Biasa, Bos, cari udara segara saja.”
“Sudah makan siang?”
“Belum, Bos, emang kenapa nanya seperti itu? Mau membandari lagi?” tanya Vanesa sedikit meledek.
“Hus! Kalau soal makanan cepat banget kamu, pikirin kerjaan jangan perut doang!” cibir Olivia.
“Ih, enggak apa-apa kali, Liv. Kan, manusia bekerja untuk mencari makan.”
“Yang Vanes katakan benar, kita mencari uang untuk membeli makan. Ya, sudah, kita makan siang bareng aja. Untuk hari ini, saya akan teraktir kalian bertiga.”
“Tuh, kan, aku bilang juga apa. Bos kita paling bisa membuat karyawannya jatuh cinta, termasuk aku. Bos, enggak ada niat nambah istri lagi?” tanya Vanesa.
“Haduh ... daripada mendengar ocehan Vanes, geli aku. Mending kita ke kantin, yuk, Bram. Ganjen banget sama suami orang,” omel Olivia.
“Ya, elah ... namanya juga usaha. Lagian apa salahnya, sih, kalau si Bos punya istri lagi. Selain cantik, aku juga bisa membuat dia—“
“Diam mulut kamu, Nes.” Menggunakan tangan kanan, Olivia menutup mulut sahabatnya itu.
__ADS_1
Sementara aku tersenyum geli seraya memandu di posisi depan, kami pun bersama-sama menuju kantin untuk makan siang.
Bersambung ...