
“Nissa, kamu tetap semangat. Jangan sedih lagi, aku selalu ada buat kamu,” ucap Ziva seraya menatapku saat ini.
“Ya, terima kasih untuk kehadiran kamu sebagai sahabat sekaligus teman di sini. Yang aku bisa lakukan adalah menjadi seperti apa inginnya waktu, tanpa harus terjatuh lebih jauh dari masalah yang tak berujung ini.”
“Sudahlah kita habiskan hari ini dengan tidak adanya beban, biarkan masalah itu pergi dan berlalu.” Selepas berkata, Ziva pun memeluk tubuhku dengan sangat erat.
Tak terasa, air mataku menetes dan bergerak sejurus membasahi pipi. Entah kenapa, jika sudah membahas perihal kehidupan ini, aku tidak bisa menahan. Mungkin karena sebuah masalah yang memang sukar untuk diperbaiki lagi, ataupun sebuah kata-kata sebagai maaf itu telah hilang dalam hidupku.
Dengan pelukan sangat erat, aku membalas Ziva. Tanpa terasa, pundak kecil yang biasa hanya aku lihat sekarang basah karena ironi. Sekarang aku adalah masuk ke dalam kategori manusia lemah, padahal jika sang mama mengetahui hal ini, aku akan kena marah. Karena kami telah berjanji akan menjadi wanita kuat dan tidak pernah menangis apa pun yang terjadi.
Akan tetapi, sebagai seorang manusia yang memiliki hati sangat rapuh, aku pun terhanyut mengikuti melodi kehidupan yang singkat ini. Tak terasa, ombak pantai membasahi mata kaki dan telah menyeret pakaianku sebelum akhirnya pasang telah tiba. Ombak bersenandung kejar-kejaran membawa gulungan putih, serta burung bangau tengah melayang di udara dan bergerak ke sana dan ke mari.
“Nissa, kita kembali ke pondok saja, yuk,” ajak Ziva seraya melepas pelukannya.
“Aku ingin melakukan suatu hal dulu sebelum pergi.”
Kemudian, Ziva mengernyitkan kedua alisnya bersamaan. “Ma-maksud kamu apa? Aku enggak mengerti sama sekali.”
“Udah, kamu ikuti aja apa yang aku lakukan sekarang.” Selepas berkata, aku membuka tas yang telah tersandang di pundak.
Lalu aku mengambil dua buah botol kaca lengkap dengan penutup. Ya, lalu aku membawa botol itu di tangan kanan dan kiri. Karena sangat penasaran, Ziva pun menyentuh botol minuman itu sangat lembut.
“Botol, untuk apa ini?” tanyanya lagi.
Aku memberikan botol yang ada di tangan kanan padanya. “Nih, kamu ambil satu dan aku satu.”
Tanpa menjawab sama sekali, Ziva mengambil botol itu dari tanganku. Lalu, dia menatapnya secara saksama, aku pun geli memerhatikan tingkah sang sahabat yang sedari tadi bergeming tanpa suara. Namun, sengaja aku terdiam agar dia sangat penasaran apa yang akan dilakukan.
“Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?” tanya Ziva.
__ADS_1
“Oke, selanjutnya kita akan menulis sebentar, aku ambil buku diary dulu. Nih, aku satu lembar dan kamu satu lembar. Dan ini pena buat kamu menulis,” ucapku lembut dengan memberikan pena untuknya.
“Kok, tiba-tiba ada kertas dan pena. Sumpah, aku enggak paham dengan ini, Nissa. Ma-maksud kamu kita akan memanggil hantu di pantai ini, atau apa?” tanyanya lagi.
“Hus! Kamu tulis masalah kamu sekarang di selembar kertas. Lalu, kamu ingin seperti apa ke depannya agar masalah itu kelar dan tidak datang lagi. Paham ...?” tanyaku seraya membuang senyum simpul.
“Oh, begitu. Oke, deh, aku akan mencoba mengikuti cara kamu yang sedikit ... aneh! Ya, aneh aja menurut aku. Soalnya anak masa kini masih percaya akan hal-hal mitos,” titahnya mencibir sedikit.
Mendengar ucapan itu, aku menggeleng dua kali seraya menulis di atas tangan dengan secarik kertas bertinta merah. Ya, sebuah doa pun aku tuliskan di kertas itu, bersama dengan masalah yang susah untuk dirangkai menjadi satu lembar. Jadi aku hanya mengatakan garis besar saja, agar semua dapat pergi berlalu bersama ombak laut.
Sedari tadi, netraku hanya terfokus pada kertas dan tidak ingin beringsut. Sembari menulis, air mataku kembali jatuh menetes di atas pena yang menari indah bak balet luar negeri. Yang tergambar di dalam tulisan itu seakan nyata, memberikan sejuta kata-kata sebagai renungan hati seorang insan lemah untuk mencari di mana letak bahagia itu.
Selepas menulis, aku melipat secarik kertas dan memasukkannya ke dalam botol, lalu Ziva mengikuti gerak-gerik yang aku lakukan saat ini. Di dalam hati, tak lupa sebait doa telah tersisipkan untuk membuang segala hal yang nantinya akan mengganggu hidup serta mental.
“Nissa, selanjutnya apa lagi ini?” tanyanya.
“Kamu udah baca doa belum untuk masalah yang kamu hadapi ke depannya,” sambarku.
“Enggak malasah sedikit, yang penting tulus dan berharap bahwa semua masalah kita hilang. Karena doa, adalah sebuah cara yang Tuhan jadikan acuan untuk umatnya bisa menjalani semua masalah. Semoga sang Maha Kuasa, mendengar ucapan kita dalam bait doa dan kertas ini akan membawa masalah untuk menjauh.”
“Amin ... selanjutnya kita buang botolnya?” tanya Ziva penuh selidik.
“Ya, kita lempar sekuat tenaga, ya. Dalam hitungan ketiga tapi, oke. Siapa paling jauh, dia yang menang bagaimana?” tantangku.
“Oke, siapa takut ....”
“Satu ... dua ... tiga ...!”
Byur!
__ADS_1
Kami pun membuang botol itu secara bersamaan dengan sedikit berteriak. Tampak bahwa milik Ziva sangat jauh, karena memang aku tidak bisa melakukan pergerakan sangat keras. Ya, mungkin karena Ziva memang sedikit tombai sehingga bisa membuang botol itu lebih sempurna.
“Nah, bagaimana? Botol aku lebih jauh, kan?” tanya Ziva sembari berkacak pinggang.
“Ya, iyalah lebih jauh. Tenaga kamu seperti cowok, hi-hi-hi ...,” ledekku sedikit.
“Ih ... Nisa, kamu anggap aku tomboi gitu. Resek banget ... aku kejar kamu, ya!” omel Ziva seraya mengejarku menuju pondok pantai.
Tak disangka, kami pun sedikit lebih tenang karena telah bersama-sama membuang masalah melalui botol dan menyisipkan sedikit doa. Hati dan pikiran manusia, dapat secepat kilat di bolak-balikkan oleh Allah.
Yang kami jalani saat ini adalah, mencoba tegar di atas masalah yang sama. Jangan sampai, ke depannya ada air mata lagi dan tuntaslah sampai di sini. Karena jika semua terjadi lagi, entah dengan cara apa untuk menyingkapi itu. Tak berapa lama, kami sampai di pondok dan menatap sebuah menu makanan telah tersedia.
Padahal, kami tidak memesan menu sebanyak ini. Sebuah minuman juga tidak hanya dua gelas, akan tetapi ada tiga gelas. Namun, di pondok hanya ada aku dan Ziva. Karena merasa sangat terkejut, kami pun saling tukar tatap dan membuang netra pada tujuan yang sama.
“Ziv, emang kamu pesan menu sebanyak ini?” tanyaku meyakinkan.
“Eng-enggak, aku enggak memesan menu segini banyaknya.”
“Ta-tapi, kenapa yang datang banyak banget, ya? Kan, kita cuma pesan minum doang?!” titahku penasaran.
“Mungkin pelayan tadi kali yang memberikan bonus,” ujar Ziva.
“Ya, tapi, kan, siapa yang mau bayar segini banyaknya menu. Karena kita enggak pesan, bisa habis uang jajan kita seminggu,” omelku.
“I-iya, sih, Nissa. Ini ulah siapa, ya? Ta-tapi kamu enggak usah khawatir. Aku akan bayar ini semua, agar uang kamu enggak berkurang sama sekali. Udah, tenang aja oke, kita makan aja. Sayang, loh, ini kalau dikembalikan. Entar apa kata penjaga di sini coba,” jelas Ziva.
“Cie ... yang udah mulai dewasa menyikapi ini semua, aku salut sama kamu, Ziv. Karena bisa dengan kepala dingin gitu menyikapi ini semua,” ledekku.
“Ma-maksud kamu, selama ini. Ih ... Nisa, kamu resek banget ....”
__ADS_1
Bersambung ...