Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
71. Berbagi Masalah Dengan Sang Putri


__ADS_3

Rapat hari ini ditutup dengan sebuah keputusan yang luar biasa, karena para karyawan dan petinggi perusahaan tampak sangat senang dengan caraku menyampaikan pembahasan. Namun, tidak dengan Revan yang sedari tadi hanya sekadar membungkam.


Mungkin dia merasa betapa ucapan ini tidak terkontrol dan membuatnya merasa sangat tersindir. Untuk menjadi seorang pemimpin, seharusnya dia bisa lebih menghargai karyawan.


Semburat jingga sore hari telah datang, suasana siang memboyong indahnya panorama yang tembus dari kaca kantor. Satu persatu orang-orang di dalam ruang rapat pun pergi, meninggalkan aku yang sekarang masih sibuk dengan beberapa berkas. Saking tak bisanya aku membuka ponsel, sebuah panggilan tak terjawab datang dari Ziva—anak semata wayangku.


Dengan cepat, aku membuka pesan singkat yang dia kirimkan melalui aplikasi Whatsapp. Kata terangkai indah juga dia tulis dipesan itu, bahkan menambahkan beberapa emoticon seraya mempercantik tulisannya. Tak pernah sebelumnya dia mengirimkan ucapan seperti itu, karena yang aku tahu kalau dia adalah anak yang biasa saja dan tidak suka bermanja.


Tepat di dalam ruang rapat, sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku. Ya, tepat berada di belakang badan, Rizal membuang senyum kecil seraya menatap mantap. Netranya juga seperti berkaca-kaca, entah apa yang dia rasakan hari ini. Secara saksama, aku membalas tatapannya lalu dia pun merunduk.


“Rizal, kamu kenapa? Saya lihat seperti orang yang lagi ada masalah,” ucapku dengan sangat mendayu-dayu.


“Bos, saya ingin mengatakan sesuatu,” jawabnya lirih.


“Kamu lagi ada masalah apa? Katakan saja sekarang, barangkali saya bisa bantu.” Selepas berkata, aku membereskan beberapa dokumen di atas meja.


“Ini adalah keputusan yang berat, Bos, sebenarnya saya tidak ingin mengambil keputusan ini. Tetapi rasanya enggak ada lagi pilihan,” titahnya menjelaskan.


Kemudian, Rizal mendudukkan badan di atas kursi. Aku pun memutar posisi duduk sembari menatap lawan bicara. Tak kusangka, dia tampak sangat sedih dan menitihkan air matanya sesaat. Saking merasa bingungnya aku, menggunakan tangan kanan, kusentuh pundaknya.


“Kau ada masalah lagi dengan istri kamu di rumah?” tanyaku dengan spontan.


Tanpa menjawab, Rizal hanya mengangguk dua kali. Namun, tak sepatah kata pun dia ucapkan.


“Zal, sebenarnya saja juga bukanlah laki-laki yang berhasil membangun rumah tangga. Karena saya adalah orang yang gagal dalam hal itu, akan tetapi kalau menurut saran saya, kamu harus sedikit mendengarkan apa maunya dia.”


“Tapi, Bos, saya sudah enggak tahan melihat sikapnya. Setiap malam, dia pergi entah ke mana dan dengan siapa. Ketika saya bertanya, dia mengusir saya untuk keluar dari rumah.”

__ADS_1


“Terus, keputusan yang akan kamu ambil apa saat ini?” tanyaku dengan menaikkan satu nada suara.


“Bos, saya akan keluar negeri. Dan saya akan keluar dari perusahaan ini,” jawabnya membuatku bergeming tanpa suara.


Rizal adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan. Namun, keputusan yang dia ambil ini membuat aku merasa sangat terpukul karena sebuah proyek ke depannya akan dia tangani. Entah di mana lagi aku harus mencari penggantinya, dia adalah orang yang telah mendedikasikan hidupnya lebih dari sepuluh tahun di perusahaan.


Tanpa ucapan, aku menarik napas berat seraya membuang tatapan. Berkas di atas meja seakan tidak ada artinya kalau penggerak itu semua tiada dan akan pergi. Bahkan, aku sempat berpikir akan memberikan kepemimpinan ini sedikit untuknya.


Mendengar ucapan itu, hanya semilir angin yang terdengar merasuki telinga kanan dan kiri.


“Apakah kamu yakin akan keluar dari perusahaan ini?” tanyaku lagi.


“I-iya, Bos, saya akan tetap keluar.”


“Oke, karena keputusan kamu telah bulat, saya tidak bisa mencegah lagi. Ini adalah kali ketiga kamu ingin pergi dan memutuskan hubungan pekerjaan bersama saya, besok kamu akan terima uang saku dari saya. Terima kasih telah menjadi yang terbaik, semoga di luar sana ada perusahaan yang mampu memberikan kehidupan kamu lebih layak lagi.”


Setelah berkata, aku meninggalkannya di ruang rapat. Entah kenapa, hari ini terasa sangat berat. Tak pernah aku mengalami ini sebelumnya, kalau ada karyawan yang ingin keluar, biasanya tak pernah ditahan. Namun, situasi ini berbeda, ketika aku sudah mempekerjakan orang yang sudah melebihi saudara, rasanya berat.


Dengan menuruni anak tangga lantai dua, aku memperbaiki jas yang saat ini aku pakai. Bersama langkah gontai, akhirnya membuat diri terhenti sejenak di depan parkiran mobil. Sopir pribadi pun telah tiba tepat waktu.


Kemudian, kami melesat pergi menuju rumah dengan sedikit rasa bersalah. Apakah aku selama ini salah dalam memimpin, setiap bulannya banyak sekali karyawan yang keluar. Namun, aku merasa telah baik-baik saja dalam bersikap. Tuhan ... ampuni lisan hamba yang salah ini, jika benar mereka pergi karenanya.


Setelah berdialog dalam batin, kami pun sampai di depan rumah dengan tepat waktu. Di dalam rumah, Ziva telah pulang sekolah dan mentaati perintah yang aku berikan. Sang putri telah duduk di atas kursinya seraya meneguk jus jeruk. Aku tak menghiraukannya, dengan langkah lebar aku ingin naik ke lantai dua.


“Papa!” teriak Ziva.


Akibat panggilan itu, aku memberhentikan langkah. Kemudian aku memutar 180 derajat, “iya, ada apa, Sayang?”

__ADS_1


“Kenapa enggak ngucapin salam?” tanyanya.


“Ah, iya, Papa lupa. Assalammualaikum ...,” sapaku.


“Nah, gitu, dong. Wa’alaikumsallam ... Pa, bisa temani Ziva sekarang?”


“Papa lagi cape, Sayang, kamu minum jus sendirian aja, ya.” Selepas berkata, aku memutar kepala lagi.


“Pa, udah enggak sayang lagi sama Ziva?”


Mendengar pertanyaan itu, aku mengembuskan napas dan memutar badan. Mau tidak mau, aku mengikuti apa katanya. Dengan berjalan lambat, langkah kaki pun sampai di meja makan dan bersebelahan dengan sang putri.


“Ada apa, Nak?” tanyaku.


Bersama sentuhan lembut, Ziva membuka kacamataku dan menghapus keringat yang bergerak sejurus dari lekuk pipi. Perlakuan sang putri membuat aku sedikit tenang, akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan kasih sayang darinya begitu tulus.


“Pa, pasti lelah telah bekerja seharian. Ziva ingin mengulang momen kita dulu, tidak pernah pulang larut malam, selalu berdongeng sebelum tidur.”


“Kamu sekarang sudah besar, enggak mungkin papa bacain dongeng lagi,” titahku.


“Iya, Ziva memang sudah besar. Tetapi Ziva adalah perempuan, dan Papa tahu kalau perempuan itu memiliki hati yang sangat kecil. Bahkan Papa pun sedang bersedih hari ini, menandakan kalau laki-laki juga punya hati yang kecil.”


“Enggak, papa enggak sedih. Tuh, biasa saja, kok.” Aku menyentuh pipiku yang sedikit melas.


“Papa jangan bohong, Ziva dapat rasakan hati Papa saat ini. Dari awal Papa masuk rumah, Ziva menebak kalau ada masalah yang serius di luar sana.”


Mendengar ucapan itu, aku mengangguk dan membuang tatapan menuju tembok. “Ya, kamu benar, Sayang. Papa sedang ada masalah yang susah untuk dikatakan saat ini.”

__ADS_1


“Sebesar apa, Pa? Bukankah, masalah akan menjadi kecil kalau diceritakan? Kita berbagi masalah sekarang,” sambarnya seraya menoleh.


Bersambung ...


__ADS_2