
Marissa POV
Seminggu sudah aku mendekam dalam rumah. Terasa sangat membosankan, serta tidak ada orang yang mampu membuat diri ini untuk tertawa lepas kembali. Ya, selain Anissa dan Bi Ira. Padahal, ketika aku berada di tempat kerja, terasa sangat ramai dan semua memiliki jiwa untuk menghibur. Apalagi kehadiran berondong yang biasa membuat diri merasa sangat malu, serta Risma juga turut ambil andil dalam bagiannya.
Pagi ini rasanya aku telah sanggup untuk pergi bekerja. Akan tetapi, untuk menapak rasanya kedua kaki seakan susah. Memang, untuk beberapa bulan ke depan, Andreas memberikan aku cuti dan gaji itu terus berjalan. Namun, rasanya tidak enak dengan hal demikian. Apalagi para karyawan yang sudah lama bekerja tidak dapat dispensasi seperti itu.
Dengan bertekad dan berharap penuh pada Allah, semoga Dia bisa menuntun aku untuk bekerja pagi ini dan mencari uang tanpa ada kecemburuan sosial nantinya. Bersama langkah yang mulai kuat, aku turun dari atas dipan seraya berjalan menuju kamar mandi. Tepat di ambang pintu, dengan cepat kali ini melangkah dan membersihkan diri.
Setelah beberapa bulan mandi menggunakan air hangat, pagi ini terasa sangat segar mandi menggunakan air dingin. Aku tidak mau terus-terusan memanjakan badan, nantinya tidak kesehatan yang datang, melainkan penyakit itu terus menyergap hingga membelenggu diri ini.
Selepas mandi, aku mencari pakaian kerja yang biasa aku pakai. Yaitu, seragam merah dan topi untuk sekadar menghias di atas kepala. Terik matahari membawa semburat memasuki lubang ventilasi. Dapat dipastikan, kalau di luar akan panas dan membuat diri ini terasa sangat gerah. Kemudian aku mengambil bandana merah, mengikat rambut dengan sangat rapi dan sepatu bekerja juga sudah terpakai.
Sekarang saatnya pergi, tak lupa untuk meneguk sebuah minuman hangat di atas meja dapur. Namun, sedari tadi aku tak melihat Bi Ira di sana. Entah ke mana perginya dia, padahal aku ingin berpamitan walaupun akhirnya membuat dia bertambah kekhawatirannya. Minuman hangat telah tandas, membuat diri untuk segera keluar dari rumah dan mencari ojek online untuk menuju ke tempat kerja.
Tepat di ruang tamu, aku memberhentikan langkah. Karena tapakan seseorang terdengar samar dari luar rumah. Seketika orang itu hadir, membawa kating berwarna hijau dengan rambut yang terikat besar seperti layaknya sanggul di era tahun 90-an. Ya, siapa lagi kalau bukan Bi Ira. Wanita yang sejak tujuh belas tahun bekerja bersamaku. Apa pun situasinya, dia setia dan ingin hidup dalam rumah yang terbilang sangat kecil ini.
“Nyonyah! Kok, rapi benar. Emang mau pergi ke mana?” tanyanya penuh selidik.
“Ah, i-ini, Bi. Saya akan pergi bekerja pagi ini,” titahku terbata-bata.
“Bekerja? Emang badannya udah sembuh benar?” tanyanya lagi.
“Alhamdulillah, Bi ... lagian buat apa saya di rumah terus. Yang ada bukan makin sehat, penyakit yang akan datang menerpa.”
“Tapi, Nyah ... kata Non Anissa, Nyonyah enggak boleh keluar rumah dulu. Kalau dia nanti pulang sekolah bagaimana jawaban Bibi?”
“Bilang saja kalau saya lagi pergi bekerja, pasti dia akan mengerti, kok, anaknya. Ya, udah, ya, Bi kalau begitu saya pamit dulu. Assalammualaikum ...,” sapaku dengan berpamitan pada lawan bicara.
__ADS_1
“Wa’alaikumsallam ... ya Allah, Gusti ... tolong lancarkan segala pekerjaan Nyonyah di luar sana. Amiin ....” Terdengar samar, doa yang sudah mendapat balasan dariku di dalam hati.
Dengan langkah yang lumayan laju, aku pun berdiri di tepian trotoar. Pagi ini ojek tidak melintas sama sekali, sementara arloji sudah menunjukan pukul 07.30 dan aku harus segera sampai di tempat kerja jam 08.00. Karena sangat bingung, akhirnya keputusan pun jatuh pada angkot yang melintas di depan. Menggunakan tangan kanan, aku melambai dan membuat angkot itu berhenti.
“Mau pergi ke mana, Bu?” tanya si sopir.
“Ke Jalan Mangga Dua, Pak,” jawabku.
“Oh, silakan naik.”
Tanpa menjawab, aku pun menaiki angkot itu yang tidak begitu padat. Secara saksama, netra hanya terfokus pada jalan depan yang sudah mulai tidak macet lagi. Sementara di samping kanan dan kiri, para penumpang lainnya pada sibuk memainkan ponsel.
Tak berapa lama, angkot yang saat ini aku naiki mendadak pelan tingkat perjalanannya. Entah kenapa, terhenti di depan sebuah mall yang berada di tengah dari perjalanan. Karena sangat penasaran, aku pun melambaikan tangan dan menyentuh pundak si sopir.
“Mas, kenapa berhenti di sini? Emang ada penumpang di sana?” tanyaku.
“Enggak, Neng,” jawabnya singkat.
“Ban angkot saya sepertinya bocor,” jawabnya dengan nada suara lirih.
“Oh, begitu ....” Selepas berkata, para penumpang pun turun dan berjajar di tepian trotoar.
Kemudian aku mengikuti mereka seraya berdiri dan celingukan. Untuk menumpang pada satu rekan kerja, mereka tidak ada yang melintas sama sekali. Alhasil, kami pun harus menunggu sopir itu di tepian. Karena merasa sangat terlambat, aku membayar si sopir dan segera berjalan kaki untuk menuju kafe.
Padahal, perjalanan ke sana membutuhkan waktu cukup lama, karena masih setengah lagi sampainya. Tepat di jalan raya, aku mendapati sebuah penglihatan yang tak biasa. Ya, mobil dengan plat nomor yang sepertinya aku kenali tengah terparkir di tepian trotoar.
Itu mobil aku bukan, sih? Tetapi kenapa ada di sana, ya? Kalaupun yang pakai adalah Revan, sudah pasti dia ada di sekitar. Atau jangan-jangan, mobil itu sudah diberikan pada Siska? tanyaku bersenandika.
__ADS_1
Selepas bersenandika dalam hati, aku pun kembali berjalan seraya menatap layar ponsel. Tiba-tiba.
Brug!
“Ach ... kalau berjalan pakai mata, dong!” pekik seseorang yang tidak sengaja aku tabrak badannya.
“Ma-maaf, saya tidak melihat tadi,” jawabku sembari menyentuh baju orang itu.
Barang-barang yang ada di katingnya pun berserak, sehingga aku menjongkokkan badan seraya mengambil beberapa roti di atas aspal. Seketika kutoleh orang yang sedang bergeming tanpa suara itu.
“Ini makanannya, Mbak,” ucapku lirih.
Seketika lawan bicara membuka kacamatanya, terlihat bahwa itu adalah Siska—istri kedua suamiku. Dia adalah pelakor dalam rumah tangga yang aku jalani bersama Revan beberapa tahun. Kini, kami dipertemukan di depan sebuah bangunan tempat pusat perbelanjaan.
“Ops, ada wanita gila di depan aku,” katanya seraya menutup mulut dengan tangan kanan.
Tanpa menjawab dan menambah pertikaian, aku hanya sekadar menarik napas ringan dan tidak memedulikannya.
“Maaf, aku lagi buru-buru. Sekali lagi sorry, karena udah menabrak kamu tadi.”
“Oh-oh-oh ... ternyata kau masih hidup, ya, Marissa. Setelah sekian lama hidup miskin, ternyata bisa survive juga,” ledeknya sembari menyentuh baju seragamku.
“Jangan sentuh aku!”
“Ha-ha-ha ... ternyata kau lagi bekerja di kafe itu, ya? Jadi apa? Pembokat, atau ... jadi perempuan pela-cur simpanan si Andreas?” tanyanya dengan sangat lantang.
“Bukannya ... yang selama ini pelacur itu adalah kamu? Kenapa jadi saya yang kau tuduh. Coba bercermin, siapa wanita murahan di dunia ini.” Bersama ucapan itu, aku mengernyitkan kedua alis.
__ADS_1
“Dasar miskin, enggak tau diri, sudah miskin masih juga belagu.”
Bersambung ...