Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
31. Tepat di RS. H. Anwar Mangunkusumo


__ADS_3

Revan POV


Larut malam masih di dalam mobil, aku menelusuri setiap sudut kota. Menghabiskan waktu sepuluh jam untuk mencari putra semata wayangku yang tadi meninggalkan rumah. Bersama dengan—Siska—istriku, kami melintasi beberapa tempat biasa anak muda menghabiskan malam.


Kedai kopi adalah salah satu tempat yang biasa di datangi oleh Refal. Tepat di sudut kota, kedua bola mata mendelik karena tengah melihat sosok gadis bejilbab tengah berjalan sendirian.


Dari ambang penglihatan, gadis itu adalah pacar dari—Refal—anakku. Ia menadahkan kepalanya tanpa menoleh kanan dan kiri, selepas kejadian siang itu, aku merasa sangat bersalah padanya.


Seketika aku meminggirkan mobil dan berhenti di tepi jalan. Tampak wajah gadis itu tengah mendongak, karena sorotan lampu mobilku mengenai wajahnya. Dengan langkah lebar, aku keluar dari pintu mobil sebelah kanan, diikuti dengan Siska yang ada di belakang.


Tepat di hadapannya, aku pun membuat langkah itu berhenti. "Om," ucapnya singkat.


"Apakah kamu pacar Refal?" jawabku seraya memastikan gadis berjilbab itu.


"Maaf, Om, saya enggak kenal dengan Refal. Permisi!" Selesai berkata, dia malah melintasi tubuh kami berdua dari samping kanan.


Karena aku sangat membutuhkan informasi, kedua kaki melangkah mengikuti gadis itu. Berlari dan berdiri tepat di hadapannya. Kemudian, gadis berjilbab itu menarik napas panjang.


"Om, saya mau lewat. Tolong minggir," tukasnya, lalu dia hendak melarikan diri.


"Nissa, please ... kamu bisa memberitahu di mana Refal berada?" desakku. Dengan tangan kanan, aku menyentuh pundaknya perlahan.


"Nissa!" sorak seseorang dari arah belakang.


Seketika aku menoleh ke belakang tubuh, sosok itu adalah—Marissa—istri pertamaku. Dia berdiri tegap dan melipat kedua tangannya. Dengan langkah lebar, wanita berambut panjang itu berjalan sangat kencang. Sampailah dia di hadapan kami bertiga.


"Mas! Kamu jangan paksa-paksa Anissa untuk memberitahu apa pun itu!" bentak Marissa.


"Mar! Nissa emang siapa? Dia bukan siapa-siapa kamu juga, 'kan?" sambarku dengan menyeret ucapan.


"Hah! Anissa adalah anak kandung saya, Mas. Ketika kamu memasung saya di ruang bawah tanah, Nissa lahir seiring berjalannya waktu."


"Apa! Jadi ... jadi, Anissa anak saya?" tanyaku sambil menoleh ke arah wajah gadis berjilbab yang sedari tadi menadahkan kepalanya.


"Nissa ... jadi kamu anak ayah?" kutanya sangat lirih.


Dari samping kanan, gadis itu menggeleng dua kali. "Bukan, Om! Saya bukan anak, Om."


Air mata pun mengalir deras dari lekuk pipiku. Otak tak mampu untuk berpikir panjang tentang peristiwa hidup yang semakin rumit di jalani. Kini, aku meyesali apa yang pernah terjadi.


"Mas! Lebih baik kita cari anak kita Refal, buat apa buang-buang waktu dengan gembel ini." Dari ujung posisi, Siska angkat bicara.


"Diam kamu! Anissa adalah anak saya juga, dan kamu jangan mengatur hidup saya lagi!" bentakku pada—Siska—istri kedua.


Kemudian, Marissa pun menggandeng Anissa dan membawanya pergi dari hadapan. Aku mengikuti mereka dan menarik tangan kanan Marissa sangat erat.

__ADS_1


"Mar, tolong jangan lakuin ini sama saya. Saya mengaku kalau saya salah. Please ... Anissa adalah anak saya juga."


"Bukan! Anissa bukan anak kamu, Mas," bantah Marissa bertubi-tubi.


Dengan sigap, aku mengakui kesalahan dan bersimpuh di hadapan sang istri. Menadahkan kepala seraya meminta maaf sepenuh hati. "Mar ... saya minta maaf. Selama ini saya khilaf dan mengikuti jalan sesat."


"Sampai kapan pun, saya tidak akan memaafkanmu. Kendatipun Anissa dewasa, dia adalah pewaris perusahaan yang telah kalian rampas selama ini."


"Ma ... jangan lakuin ini sama Papa. Dia adalah manusia biasa, tempatnya salah dan dosa. Biarkan aja dia memperbaiki segalanya dari awal." Mendengar ucapan itu, aku mengubah posisi dan berdiri di hadapan—anakku.


"Nissa ... maafin papa yang selama ini sudah tidak peduli padamu, Nak."


"Nissa! Ayo, ikut sama mama pergi. Biarkan mereka merasakan apa yang telah kita rasakan dulu."


"Tapi, Ma—"


"Enggak ada tapi-tapian!"


Tanpa membalas kata, Marissa dan Anissa pergi meninggalkan kami berdua di tepi jalan lintas. Dengan kedua tangan, aku menekan kepala yang rasanya hendak pecah.


Bersama dengan sebuah peristiwa yang telah terjadi selama hidup ini. Naif memang, jika semudah itu melupakan dosa-dosa yang telah aku perbuat dahulu.


Memang manusia sepertiku wajib mendapatkan sebuah cambukan dahsyat dari Tuhan. Lantas, apa cara untuk diri ini memperbaiki segalanya. Setelah sang waktu pecundangi kehidupan tanpa jeda.


Beberapa menit meratap di samping mobil, tangan kanan memukul pintu mobil beberapa kali. "Dasar bodoh!"


Berteriak beberapa kali, aku tak mendapatkan jawaban dari kesakitan ini. Selang beberapa menit meratap, suara ponsel berdering sangat keras. Dengan tangan kanan, aku merogoh kantong celana dan menatap mantap layar ponsel. Notifikasi panggilan datang dari nomor yang tak dikenal.


Dengan jari sebelah kanan, aku mengangkat panggilan itu.


[Hallo ....]


[Hallo ... selamat malam, Pak.]


[Ya, selamat malam.]


[Apa benar ini dengan bapak Revan.]


[Ya, benar. Ada apa, ya?]


Mendengar pembicaraan dari telepon, Siska mendekat dan menatap mantap wajahku.


[Begini, Pak. Kami dari rumah sakit H. Anwar Mangunkusumo.]


[Iya, ada apa?]

__ADS_1


[Kami ingin memberitahukan bahwa—Refal—putra Anda telah sekarat di ruang UGD.]


[Apa! Anak saya sekarat? Kok, bisa, Dok?]


Dari samping kiri, Siska menangis sangat histeris. "Mas! Apa yang terjadi sama Refal?" tanyanya.


[Hallo ... Pak.]


[I-iya, Dok.]


[Kehadiran orang tua dari Refal, mungkin bisa membantunya untuk sadar dari koma.]


[Baik, Dok. Saya akan menuju ke sana sekarang!]


Tut-tut-tut!


Ponsel pun mati. Tanpa membuang banyak waktu, aku membuka pintu mobil diikuti dengan Siska. Mengijak gas sangat kencang, kami pun menuju rumah sakit H. Anwar Manguskusumo. Di sepanjang jalan, air mata tak mampu untuk berhenti.


"Ya, Tuhan ... selamatkan putra hamba ...." Sang istri pun menangis tanpa henti.


Setelah satu kejadian terungkap, sekarang datang peristiwa baru. Mengendarai mobil tanpa fokus, aku menginjak gas tanpa menatap kanan dan kiri.


Tiga puluh menit kemudian ...


Sampailah aku di depan gerbang rumah sakit. Bersama sang istri, aku berlari sangat kencang. Tepat di tempat untuk melapor, aku menatap suster dan perawat yang masih menjaga malam ini.


"Maaf, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya suster yang sedang menulis sesuatu.


"Maaf, Sus. Apa ada nama pasien bernama—Refal dirawat di rumah sakit ini," jawabku. Napas pun sangat ngos-ngosan tak tentu arah.


"Sebentar, Pak. Biar saya cek dulu."


Selang beberapa menit menatap daftar presensi di sebuah buku berukuran besar, suster itu pun menunjuk paling bawah nama.


"Oh, benar, Pak. Pasien atas nama Refal sedang dirawat di UGD yang ada di lantai dua."


"Terima kasih, Sus."


Tanpa menghiraukan Siska, aku menaiki anak tangga dan menuju lantai dua gedung. Sesampainya di portal bertuliskan Ruang Gawat Darurat, aku berhenti. Tapak kaki tak seperti tadi ketika menuju lokasi, sedikit menyeret dan sangat pelan.


Tepat di depan pintu ruangan tersebut, kutatap isi dari ruang tersebut. Di sana sudah ada putra semata wayang tengah tertidur bersama perban yang mengelilingi seluruh bagian kepalanya.


"Refal ... ini ayah datang, Nak," ucapku sendiri di depan pintu.


"Refal ...," teriak Siska.

__ADS_1


"Refal ...."


Bersambung ...


__ADS_2