
Dalam suasana yang tidak bisa dijelaskan, aku hanya sekadar menatap dua preman yang saat ini hendak menikmati tubuhku. Sementara di sekitar koridor gelap, tidak ada seorang pun yang melintas. Tapakkan demi tapakkan menghampiri dengan pongahnya kedua lelaki itu membuka jaket di badan mereka.
Bahkan satu dari mereka juga membuka resleting celananya dan aku tak tahu hendak melakukan apa pun. Hanya pasrah yang bisa aku lakukan saat ini, seraya bermonolog dalam batin bahwa Allah akan senantiasa menolong hambanya yang berada dalam situasi sangat sulit.
Setibanya kedua lelaki itu di hadapanku, mereka membuang cengir dan mencengkeram kedua tanganku. Sementara lelaki berambut panjang, perlahan membuka kancing bajuku secara perlahan.
Isak tangis keluar dari kedua bola mataku, serta degup jantung juga bergetar lebih kencang dari kendaraan yang hendak berperang. Untuk melawan keduanya, aku tak mampu. Mungkin malam ini adalah aib terbesar dalam hidup akan terjadi.
“Ayolah, jangan menangis begitu. Kita akan melakukannya dengan santai,” ucap lelaki berambut panjang.
“Ha-ha-ha, kau sangat cantik Nona,” goda yang satunya seraya menyambar ucapan.
“Cuih!” Aku pun membuang ludah ke wajah lelaki berambut panjang itu.
“Brengsek!” Tamparan keras mendarat di pipi sebelah kananku.
“Bro, jangan kasar-kasar sama perempuan, nanti kenikmatannya berkurang. Ha-ha-ha ....”
Mereka berdua pun tertawa terkekeh-kekeh. Sementara aku, hanya sekadar membuang tatapan menuju tembok di samping kanan. Lelaki berkumis tebal dengan brewok lebat itu mendaratkan hidungnya di leherku. Tiba-tiba.
Brug!
Sebuah pukulan pun mendarat dari belakang badan kedua preman itu. Karena sangat terkejut, aku hanya sekadar menatap seraya menekan mulut dengan tangan kanan.
“Brengsek! Siapa kau!” hardik preman itu ngegas.
“Dasar laki-laki tidak punya malu, beraninya sama wanita. Ke mari kalian berdua, biar aku ajari sopan dan santun memperlakukan wanita,” tantang lelaki misterius itu yang mengenakan jas hitam, dilengkapi dengan kacamata hitam.
Aksi yang dia lakukan membuatku tercengang, padahal ukuran tubuhnya tidak sebanding dengan kedua preman tersebut.
Brug!
Pukulan pertama mendarat di pundak kedua preman itu, hingga beberapa kali pukulan bertubi-tubi sebagai aksi menghabisi kedua manusia bejad tersebut. Selepas meluapkan emosi, pemuda yang seperti seorang super hero itu mendekatiku dengan tatapan datar.
Setelah sampai di hadapanku, dia membuang senyum simpul seakan ingin mengejek.
“Kenapa kau? Ada yang lucu?” tanyaku dengan spontan.
“Perbaiki bajumu, agar kita bisa cepat pergi dari tempat ini,” jawabnya. Kemudian, dia memutar badan dan berjalan melintasi kedua preman yang sudah terkapar.
Dari belakang badannya, aku mengikuti dengan melintasi kedua preman tersebut. Tapakkan yang dia langkahkan pun tidak main-main, karena sangat lebar dan membuat aku harus berlari.
__ADS_1
Tibalah kami di sebuah kafe yang telah tutup, di sana telah ada sebuah mobil sport berwarna merah. Pemuda berkacamata hitam itu berjalan mengarah ke mobil dan tertegun ke arahku. Namun, aku tidak mau ikut dengannya.
Pemuda berkumis tipis itu melambaikan tangannya, tetapi tidak mau beringsut dari posisinya semula. Dalam suasana hening, aku bergeming seraya menarik kerah bajuku yang sempat robek dibuat preman tadi.
Tak berapa lama, pemuda berperawakan tampan itu kembali berjalan menujuku saat ini. Setibanya dia di sebuah kafe, dia menatap pongah karena heran dengan gelagatku yang sedari tadi ketakutan.
“Kau kenapa?” tanyanya.
“Eng-enggak, aku enggak apa-apa,” jawabku.
“Kau sudah aman Nona cantik, ayo, aku antar pulang,” ajaknya sangat lembut.
“Enggak, aku mau pulang sendiri.”
“Loh, kenapa? Emang kamu pulang naik apa? Di sini enggak ada angkutan umum,” jawabnya seraya menatap arloji di tangan kirinya.
“Aku akan jalan kaki, Mas, terima kasih atas bantuan dan tawarannya.” Setelah menolak, aku pun beringsut pergi dari posisi bergeming.
Akan tetapi, pemuda itu tidak kunjung pergi dari depan kafe. Entah apa maksudnya menunggu di sana dengan menatap ke arahku. Karena merasa sangat banyak berutang budi, aku sekadar berjalan di tepian trotoar.
Keheningan malam kembali pecah setelah bunyi kendaraan seperti mengikutiku dari belakang. Sorotan lampu berwarna putih juga ambil andil dalam bagiannya. Ternyata, dia adalah pemuda yang tadinya menolongku.
“Yakin, kamu enggak mau ikut aku?” tanyanya.
“Mas, harus berapa kali saya katakan. Saya akan berjalan saja,” jawabku menolaknya.
“Cobalah untuk tidak egois, aku sudah menolong kamu ikhlas, tetapi kamu malah seperti itu.”
Mendengar ucapannya, aku hanya terdiam. Tiba-tiba, gerimis pun datang tanpa ada angin dan hujan. Sehingga, pemuda itu keluar dari mobilnya dengan membuka jas hitam yang dia pakai. Melihat aku yang terpaku dan bergeming, dia menarik paksa tanganku untuk ikut dengannya.
“Ayo, masuk mobil sekarang.” Kami pun memasuki mobil dengan cepat, meskipun badan sedikit basah akibat terpaan air hujan.
Pemuda di samping kanan menginjak gas mobilnya dengan sangat kencang. Sementara pandangannya hanya fokus menatap depan. Seumur hidup, aku tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu dari seorang laki-laki, sekalipun dia adalah Revan—mantan suamiku.
Dari kaca spion, pemuda di sampingku memerhatikan. Entah apa maunya, sampai saat ini aku tidak tahu kenapa dia begitu perhatian.
“Mas,” panggilku singkat.
“Iya,” jawabnya.
“Aku boleh bertanya?”
__ADS_1
“Boleh, silakan.”
“Kau siapa?” tanyaku.
“Aku adalah Andreas,” katanya menjawab pertanyaanku. “Kalau kamu, siapa Nona?”
“Aku Marissa.”
“Kenapa kamu bisa bersama kedua lelaki tadi. Bukankah, ini telah larut malam?”
“Aku habis dari toko kue, Mas. Ketika aku ingin pulang, angkutan umum enggak lewat sama sekali. Alhasil, aku hanya sekadar menunggu di halte dan bertemu mereka. Yah, aku dipaksa. Apakah kau percaya dengan ucapanku?”
Lawan bicara mengangguk dua kali, akan tetapi dia tidak menjawab perkataanku barusan.
Yang penting aku sudah katakan yang sejujurnya, bahwa aku bukanlah wanita malam seperti yang kau pikirkan, Mas, tetapi aku berterima kasih karena kau telah baik padaku, batinku berkata.
“Saya tidak mengatakan kalau kamu wanita malam,” sambar pemuda di samping kanan.
Mampus! Kenapa dia bisa tahu ucapan batinku, ya?
“Oh, ya, rumah kamu di mana, Nona?” tanyanya.
“Lewat gang depan itu, Mas. Aku berhenti di sana saja,” jawabku.
“Kenapa kamu tidak memperbolehkan saya untuk masuk ke gang rumah kamu?”
“Bukan begitu, Mas, karena kita baru saja kenal. Anakku sangat sensitif kalau melihat aku pergi bersama laki-laki.”
“Emang kenapa?” tanyanya.
“Biasalah, aku, kan, janda. Dia sangat trauma dengan ayahnya.”
“Anak kamu atau malah kamu yang trauma?” Selepas berkata, lelaki itu membuang cengir.
“Anakku, Mas. Oke, sudah sampai. Terima kasih, Mas.” Aku pun ingin keluar dari dalam mobil secepatnya.
“Tunggu!”
Pemuda itu menahanku untuk keluar cepat dari dalam mobilnya. Karena sangat heran, aku pun menatapnya tanpa membuka pintu mobil sama sekali.
Bersambung ...
__ADS_1