Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
67. Lelaki Yang paling Setia Adalah Pahlawan Keluarga


__ADS_3

Beberapa menit selepas makan siang, sebuah tapakkan lembut seperti embusan angin membawa geraran kaki seseorang yang hadir. Tepat di samping pintu kantin, seorang pria berkacamata hitam dilengkapi dengan jas sedikit silver berjalan menghampiri. Dari gelagat orang tersebut, aku sangatlah mengenalinya, siapa lagi kalau bukan papa yang datang dengan menggenggam ponsel di tangan kanan.


Kehadiran pria berkumis tipis itu membuat sebagian orang di dalam kantin membangkitkan badan, bahkan hanya sekadar melihat dari kejauhan, karisma yang di hadirkan oleh papa membuat seisi ruangan sangat tercengang. Ya, begitulah reaksi para wanita bahkan lelaki jika melihatnya. Bisa dibilang, papa memiliki aura yang sangat positif bagi pasang mata yang melihatnya.


Dengan menarik napas berat, aku membangkitkan badan seraya menatap papa secara saksama. Kemudian, pria yang mengenakan dasi sedikit merah itu tertegun dengan menatapku sedikit tajam.


“Sayang, kamu masih di sini?” tanya papa dengan membuka kacamata yang dia pakai.


“I-iya, Pa, kan, tadi Papa bilang harus nunggu di kantin,” jawabku terbata-bata.


“Bagus, ternyata kamu masih patuh pada perintah papa. Oh, ya, mana teman kamu yang lainnya?”


Dengan menarik napas berat, aku menoleh ke samping kanan. “Papa enggak lihat kalau di sini ada orang?”


Bersama senyum kecil, papa pun membuang cengir karena mendadak malu. Tak hanya itu, om yang ada di hadapannya juga membangkitkan badan seraya ingin berjabat tangan. Namun, dari gelagatnya, si papa tidak mengenali om tersebut. Tatapan mereka sangat biasa saja dan seperti baru pertama kali bertemu dalam kantin ini.


“Maaf, kalau saya tidak melihat Anda di sini,” ucap papa seraya menyodorkan tangan kanannya.


“Nama saya Andreas,” ucap om berkumis tipis itu dibarengi dengan senyum simpul.


“Nama saya Mario. Oh, ya, tadi anak saya bilang kalau lagi melihat orang sakit? Di mana orang tersebut?” tanya papa memastikan.


“Orangnya sedang dirawat di ruang UGD. Jika berkenan, kita lihat bersama-sama,” ajak om Andreas.


“Ah, enggak, saya hanya memastikan saja. Karena tadi saya menelepon dia, ramai sekali. Ternyata dia enggak masuk sekolah hari ini,” titah si papa.


“Iya, mereka juga sudah saya nasihati soal tadi. Kalau lagi sekolah dilarang untuk keluar tanpa pamit dengan guru, karena bisa berdampak sangat tidak baik untuk sekolah.” Selepas berkata, om Andreas pun mencoba untuk beringsut pergi.


“Ziva, kita pulang saja sekarang. Karena papa masih ada kerjaan di kantor,” ajak si papa.


“Pah, Ziva enggak pulang dulu.”


“Kenapa?”


“Karena Ziva akan menemani Anissa menjaga mamanya, kasihan dia. Apalagi Nyonya Marissa belum sadarkan diri sampai saat ini,” titahku menjawab si papa.

__ADS_1


Mendengar ucapanku berusan, si papa hanya terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, sedari tadi hanya menatap kedua netraku secara saksama.


“Pa, kenapa diam?” tanyaku memastikan lagi gelagatnya.


“Tadi kamu bilang siapa nama wanita itu?” tambah si papa mengulang ucapan.


“Nyonya Marissa, ya, kan, itu nama mama kamu, Niss?”


“Iya, itu nama mama aku, Om.” Anissa pun mengambil ponsel di dalam saku bajunya.


“Papa kenal dengan Nyonya Marissa?” tanyaku.


“Ah, enggak, papa enggak kenal. Oh, ya, kalau kamu sudah ingin pulang, telepon saja papa. Karena hari ini ada rapat di kantor, maaf kalau papa enggak bisa menemani kamu sekarang.” Selepas berkata, si papa pun mencium keningku sangat lembut, dia pergi melintasi akses satu-satunya menuju luar.


“Hati-hati, Pa!” teriakku dari samping meja makan.


Tanpa menjawab sama sekali, si papa sekadar menoleh sebelum akhirnya pergi begitu saja. Setelah papa tidak tampak lagi dari meja makan, aku kembali mendudukkan badan seraya menatap Anissa di samping kanan.


“Itu papa kamu, Ziv?” tanya Anissa.


“Sedikit, sih, karena sangat besar gitu badannya.”


“Tetapi hatinya lembut, itulah papa aku he-he-he ....”


Kami pun terkekeh-kekeh melihat gelagat papa yang datang tiba-tiba, kemudian pergi begitu saja. Meskipun terkesan sedikit sombong, papa adalah pria yang memiliki perawakan seperti itu.


🍁🍁🍁


Waktu terus bergulir, ternyata orang yang saat ini dirawat dalam ruangan rumah sakit pun sadar. Anissa kembali memasuki ruangan tersebut seraya menatap mamanya yang pulih setelah sekian jam tertidur. Namun, sang fajar telah memboyong suasana gelap dan panorama jingga senja sore hari telah hadir bersamaan dengan situasi yang menyingsing.


Karena terlalu sore, aku ingin secepatnya pulang ke rumah. Karena aku tidak akan membuat papa kecarian lagi setelah mendapati sebuah keluarga sangat romantis di rumah sakit ini. Anissa adalah seorang anak yang sangat menyayangi mamanya, sehingga membuat aku merindukan kasih sayang papa di rumah.


“Nissa, aku pamit pulang dulu, ya,” ucapku pada Anissa.


“Ziva, terima kasih telah menemani aku seharian ini. Kamu adalah sahabat yang membuat aku sangat betah berteman, jangan kapok berteman dengan aku.”

__ADS_1


“Iya, kamu jaga mama kamu di sini, semoga Tuhan segera mengangkat penyakit mama kamu.”


“Terima kasih, Ziv, karena doamu pasti didengar oleh Tuhan.”


“Anissa, kamu pulang saja sama dia, karena mama sudah agak mendingan,” ujar Nyonya Marissa sangat lirih.


“Terus, mama siapa yang jagain?” tanya Anissa sedikit lirih.


“Mama ada yang jaga, para suster dan perawat rumah sakit ini. Kamu besok harus sekolah, Sayang. Pendidikan adalah yang utama buat kamu,” jawab si nyonyah.


“Yakin, Ma? Tetapi ....”


“Sudah, jangan pikirin soal yang menjaga mama, lagian Bi Ira tadi sempat telepon mau ke rumah sakit jaga mama.”


Mendengar ucapan itu, Anissa tampak merasa sangat sedih. Walaupun baru sebentar bertemu, mama dari Anissa tetap masih mengutamakan anaknya untuk masuk sekolah besok. Akhirnya, aku merasa kasih sayang dari wanita lain. Karena setiap ucapan orang tua adalah doa.


“Ziv, aku ikut pulang bareng kamu,” ucap Anissa.


“Yuk, kita pulang bareng. Lagian aku hari ini dijemput sama sopir pribadi papa, kok.”


“Ma, Anissa pamit pulang dulu. Jangan telat minum obat, besok Anissa pasti akan ke sini lagi ketika pulang sekolah.” Selepas berkata, Anissa mencium tangan serta kening mamanya.


Dibarengi denganku, sikap lembut juga membuatku menjabat dan mencium tangan Tante Marissa. “Tan, Ziva pulang dulu. Besok, kami akan jenguk Tante lagi di sini,”


“Iya, Nak, kalian jangan pergi ke mana-mana lagi, ya. Hati-hati di jalan,” jawab si tante.


“Iya, Tan, assalammualikum ....”


“Wa’alaikumsallam ....”


Dengan sangat riang, kami pun keluar dari dalam ruangan seraya berjalan bergandengan tangan. Tepat di bangku tunggu, Tante Risma telah tiada. Kemungkinan, dia telah pergi bersama om berkumis tipis itu. Tanpa menghiraukan sekitar, aku dan Anissa menuruni anak tangga seraya keluar dari dalam rumah sakit.


Hari ini adalah pengalaman yang indah, karena bisa bertemu dengan orang-orang baik, serta aku belajar dari mereka untuk menghargai. Betapa keluarga itu sangatlah berarti, padahal selama ini aku tidak begitu peduli dengan papa di rumah.


Namun, semua terjawab lunas, bahwa yang berarti di dunia ini adalah keluarga, bukan masa lalu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2