
Selepas berbincang banyak dengan para karyawan, aku pun bergegas menuju ruangan kembali karena ada sesuatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Meskipun jam untuk bekerja akan berakhir sebentar lagi, aku masih menyempatkan untuk mengurus segala pekerjaan tertunda beberapa bulan lalu.
Dengan langkah yang semakin gontai, aku membuka pintu ruangan dengan penuh hati-hati. Setelah sampai di bangku putar, aku mendudukkan badan seraya menatap semua berkas yang terlihat urak-urakan tidak tentu arah itu.
Semburat arunika menembus kaca transparan di dinding kantor, dari lubang ventilasi membawa semilir angin yang nyaman menelusuri setiap lubang pori-pori. Namun, pikiranku masih berkecamuk pada putra semata wayangku yang saat ini tidak tahu sedang apa.
Meskipun begitu, aku masih tetap tenang dan bekerja untuknya. Demi masa depannya yang cerah kelak, kuhabiskan waktu di kantor tanpa mengenal lelah. Detik demi detik berjalan dan menghabiskan waktu dunia, khatulistiwa seakan bermain dengan candaan yang mengajakku untuk segera pulang ke rumah.
Persekian menit mendudukkan badan, aku memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan sekarang. Sementara untuk kembali pulang, rasanya aku enggan melakukan hal itu. Tidak lain karena, begitu muaknya diri ini memandang sang istri yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Setelah merasa tenang, aku membangkitkan badan seraya mengambil jas hitam yany tadinya tersangkut di bangku putar. Kemudian aku keluar dari ruangan tanpa celingukan. Setibanya di lantai satu, para karyawan tampak sangat senang dengan kehadiranku kembali di perusahaan.
Wajah-wajah semringah pun terlempar dari mereka yang sedari tadi memerhatikan diri ini. Seolah aku merasa sangat canggung, karena hal seperti itu tidak pernah kudapati sebelumnya.
“Selamat sore, Bos,” sapa Olivia.
“Selamat sore, Bos,” sambar Vanesa.
“Selamat sore. Btw-kalian kenapa masih di sini?” tanyaku penuh selidik.
“Kami lagi menunggu Dimas dan Brama, Bos,” titah Vanes.
“Loh, bukannya dia sudah keluar sejak tadi?”
“I-iya, Bos, sudah keluar. Tetapi, ponselnya tertinggal di dalam ruangan,” jelas Olivia.
“Oh, kalau begitu, saya permisi duluan saja.”
“Oke, Bos, silakan,” jawab mereka serempak.
Tanpa memperpanjang bercakapan, aku pun melanjutkan berjalan menuju parkiran mobil. Dengan menggunakan kendaraan mobil sport berwarna putih, aku bergegas keluar dan melintasi halaman perusahaan.
Setibanya di jalan lintas, gas pun mulai laju kuinjak. Karena sore ini tidak terjadi macet, aku bisa bergegas meninggalkan kantor dengan lumayan cepat. Sekitar lima belas menit berkendara, sampailah aku di depan sebuah toko kue. Hati pun merasa sangat terdetak untuk berhenti. Entah apa yang membuatku merasa kasihan dengan Anissa, sehingga membuatku berhenti di depan toko tersebut.
Secepatnya, aku keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju toko kue tersebut. Seorang wanita berseragam merah pun datang menghampiri.
“Selamat sore, Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
__ADS_1
“Saya mau cari kue, Mbak,” jawabku.
“Oh, silakan masuk, Pak. Pilih saja, karena harganya sudah tertulis di pojok kaca,” jawabnya seraya mempersilakan.
“Terima kasih,” titahku.
Kami pun berjalan seiringan memasuki tiap koridor, akan tetapi aku sangat sulit memutuskan pilihan, karena aku tidaklah tahu karakter apa yang disukai oleh Anissa. Karena telah kehabisan akal, pilihanku pun jatuh di karakter boneka teddy bear berwarna merah muda. Kue tersebut pun sangat unik dan berukuran lumayan besar.
“Mbak, saya mau kue yang ini,” kataku seraya menunjuk kue tersebut.
“Yang ini, Pak?” tanyanya memastikan.
“Iya, yang itu.”
Penjaga toko mengambil kue tersebut dan membawa kami ke sebuah kasir pembayaran. Setelah membungkus sangat rapi, aku membayar kue tersebut dan langsung bergegas pergi.
“Terima kasih telah berbelanja di toko kami, Pak,” kata penjaga kasir.
“Iya, sama-sama,” jawabku.
Karena hari mulai malam, aku bergegas memasuki mobil dan meletakkan kue di samping kiri. Arah pulang pun akhirnya terkhianati dengan adanya kue tersebut. Keputusan kali ini jatuh ke sebuah jalan lintas mengarah ke rumah Anissa dan Marissa. Meskipun aku telah mendapat larangan untuk bertemu Anissa, akan tetapi aku tidak peduli dengan hal itu.
“Assalammualaikum ...,” sapaku.
“Wa’alaikumsallam ...,” jawab seseorang bernada suara wanita, sepertinya aku kenal dengan orang tersebut.
Setelah pintu terbuka, menghadirkan sesosok wanita paruh baya dengan bandana merah di rambutnya. Dia adalah Bi Ira, mantan pembantuku yang telah pergi beberapa hari yang lalu. Netranya terbelalak menatap ke arahku, entah apa yang dia rasakan.
“Tu-Tuan,” ucapnya.
“Bi Ira, kamu ada di sini?” tanyaku.
“Iya, Tuan, saya tinggal dengan Nyonyah,” titahnya.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau pindah ke sini?”
“Sa-saya, saya ....” Bi Ira pun terbata-bata dalam menjelaskan.
__ADS_1
“Marissa ada di dalam?” tanyaku lagi.
“Silakan masuk dulu, Tuan,” ajaknya.
Kami pun memasuki rumah dan mendudukkan badan di atas kursi, kemudian Bi Ira tampak sedang membangkitkan badannya.
“Bibi mau ke mana?” tanyaku.
“Saya mau ke dapur buat minum, Tuan,” jawabnya.
“Jangan repot-repot, saya hanya sebentar saja. Ke mana Marissa, kok, sepi sekali?”
“Nyonyah pergi, Tuan,” jawabnya.
“Kalau begitu, saya titip kue ini untuk Anissa.” Aku menyodorkan kue tersebut pada Bi Ira.
“Baik, Tuan, terima kasih.”
“Kalau begitu, saya permisi pulang saja,” ucapku seraya memperbaiki jas.
“Tuan enggak nunggu Nyonyah pulang dulu?” tanyanya menjelaskan.
“Tidak usah, Bi, entar Marissa marah.”
Tanpa menunggu jawaban, aku pun bergegas pergi dari ruang tamu. Sementara Bi Ira, dia menatap dari ambang pintu. Tak berapa lama, sebuah angkutan umum berhenti di depan pintu gerbang.
Hadirnya angkutan itu membawa seorang wanita yang tidak lain adalah mantan istri, ternyata dia pulang dari suatu tempat. Namun, kehadirannya di samping kiri tampak sangat kesal. Tidak hanya itu, ekspresinya seperti jijik melihat kedatanganku.
“Marissa,” panggilku lirih.
Satu panggilan tak terjawab, lawan bicara hanya melanjutkan berjalan memasuki ambang pintu.
Mungkin Marissa masih marah padaku. Ya, sudahlah, mungkin dia lagi cape, batinku.
Arloji menunjukkan pukul 19.00, aku pun bergegas memasuki mobil seraya keluar dari halalam rumah. Dengan menginjak gas sangat netral, aku sekadar fokus menatap depan dan menyopir. Hari-hari yang aku jalani semakin menyiksa. Karena bukan hanya batin yang menjerit, perasaan pun seakan tak memiliki cela untuk menebus rasa bersalah yang telah tertumpuk tinggi.
Entah dengan cara apa lagi, aku bisa menjelaskan pada Marissa, kalau aku ingin bersungguh-sungguh meminta maaf padanya. Mungkin suatu saat nanti, dia akan menerima rasa maaf ini dan semua baik-baik saja. Meskipun, sepertinya sang waktu tidak pernah berjanji akan membuat semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung ...