
Marissa POV
“Assalammualikum ...,” sapaku dengan lembut seraya menatap wanita paruh baya di hadapan, tampak dari badannya seperti ketakutan.
“Wa’alaikumsallam ...,” jawabnya tertahan.
“Bi, kenapa bengong gitu?” tanyaku seraya menatap ke arah wajah lawan bicara.
“Nyah, saya mau minta maaf sebelumnya, karena saya tidak bisa mencegah Tuan Revan untuk masuk.”
“Sudahlah, Bi, jangan dipermasalahkan lagi. Saya tahu benar bagaimana sifat dia. Oh, ya, mau apa lagi laki-laki bajingan itu datang ke rumah ini?”
Sejenak percakapan berhenti, Bi Ira tampak sangat gugup untuk menjelaskan semua yang ingin dia katakan. Padahal sedari tadi aku sudah berkata lembut dan tidak membuatnya takut, karena aku tahu benar apa yang tengah dia rasakan.
“I-ini, Nyah. Tuan memberikan kue ini untuk Non Anissa,” jawabnya sembari menunjuk sebuah kantong plastik berukuran sangat besar.
“Untuk apa lagi dia memberikan Anissa seperti ini, bukankah selama ini dia telah lepas tangan untuk mengurus anak saya?!” pekikku sedikit ngegas.
“Mama, jangan emosi, dong. Kan, semua bukan salah Bibi juga,” sambar Anissa dari ambang pintu kamar.
Dengan menyentuh kening menggunakan kedua tangan, aku pun berjalan dan mendudukkan badan di atas kursi.
“Bukan begitu, Nak, tapi mama enggak mau lagi berurusan dengan laki-laki bajingan itu.”
“Siapa yang bajingan? Emang Mama sebenci itu padanya, sampai-sampai tidak bisa memberikan kesempatan untuknya menebus kesalahan!” hardik Anissa ngegas.
“Non-Non, udah, enggak baik melawan orang tua,” lerai Bi Ira seraya mendekap tubuh Anissa.
“Bi, Allah aja yang maha pencipta, Dia yang mengatur dan bisa membolak-balikkan hati semua hambanya bisa memberikan kata maaf. Emang kita siapa? Tuhan!?”
“Sayang, bukan begitu maksud mama,” jawabku memperjelas.
“Ternyata hati Mama masih diselimuti rasa kebencian. Memang tujuan kita untuk membalaskan dendam itu padanya, tetapi jangan Mama terus berbuat seperti ini.”
__ADS_1
Tanpa mampu berkata, aku pun mencoba untuk membangkitkan badan seraya berjalan menamui putri semata wayangku. Namun, ketika aku sampai di ambang pintu, dia malah menutup kamarnya dengan sangat cepat.
Menggunakan tangan kanan, aku mengetuk pintu beberapa kali. “Nissa, buka pintunya, Nak.”
“Udahlah, Ma, turuti ego Mama yang membabi buta itu.”
“Sayang, bukan begitu, Nak. Mama minta maaf kalau kamu tersinggung,” titahku penuh harap.
“Nyah, biarkan saja Non Anissa istirahat. Kalau kita terlalu membuatnya tertekan, jiwanya akan terganggu,” ucap Bi Ira menengahi.
“Iya, Bi, terima kasih. Maafkan saya yang tidak bisa mengontrol emosi.” Dengan penuh harap, aku pun memeluk wanita paruh baya di hadapan.
“Iya, Nyah, semua manusia adalah tempatnya dosa. Dan kita hanyalah sebagian dari itu semua, jangan saling menyalahkan,” jawabnya lirih.
Kami pun bergerak dan pergi dari depan pintu kamar. Bi Ira menuju tempatnya beristirahat, aku pun membuka pintu dengan menatap sebuah kantong plastik berukuran sangat besar.
Karena merasa sangat penasaran, aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang tamu kembali. Tepat di kursi sofa, aku mendudukkan badan seraya membuka plastik tersebut dengan penuh hati-hati.
Akan tetapi, tidak untukku, melainkan untuk Anissa yang merupakan putri kesayangan. Momen indah pun terputar kembali, rasanya naif jika aku tidak membuka saat-saat indah ketika itu. Walaupun rasa benci telah mendarah daging, serta balas dendam juga akan segera terlaksana, Revan adalah laki-laki yang pernah aku cinta.
Sosok pemuda berwajah tampan yang aku cintai ketika SMA. Tetapi mengapa, setelah aku mendapatkannya dengan ikatan pernikahan, semua tidaklah semulus perkiraan. Yang tersisa hanyalah air mata dan ketakutan, terpatri dalam ingatan semata.
Tanpa terasa, air mataku keluar deras membasahi pipi, sejurus dan mengarungi kesedihan bersama ironi hidup yang tak lagi aku rindukan. Selepas perpisahan tanpa kata cerai itu terjadi, rasanya aku bagaikan wanita tanpa harga di dunia ini. Hidup bersama belahan jiwa, yang sampai saat sekarang masih bertanya, kasih sayang seorang ayah.
Lolongan anjing mampu memecah keheningan malam. Udara dingin menyergap, serta merayap memasuki tiap lubang pori-pori. Belum lama aku mendudukkan badan, sebuah tapakkan terdengar sedikit mendayu-dayu dan menggetarkan kursi sofa.
Dengan cepat, aku menghapus air mata, menoleh ke kiri, menghadirkan seorang bidadari cantik yang selama ini membuat aku kuat untuk hidup. Dia adalah Anissa.
“Ma, kenapa enggak tidur?” tanyanya seraya menghapus air mata yang keluar dari kedua bola mataku.
“Mama enggak ngantuk,” jawabku tanpa menoleh lawan bicara.
“Tapi ini sudah malam, Ma. Besok Mama akan pergi bekerja kembali,” titahnya memberikan pandangan.
__ADS_1
“Sayang, ini kue untuk kamu,” ucapku seraya menyibak kotak kue tersebut.
“Ini Mama yang beli?” tanyanya penasaran.
Tanpa menjawab, aku hanya menggeleng dua kali. Karena memang bukan aku yang membeli kue tersebut. Sampai saat ini, Revan adalah laki-laki yang paling mengerti karakter boneka kesukaanku ketika remaja. Sama persis dengan yang menempel di kue tersebut.
“Lantas, kalau ini bukan Mama yang beli, siapa?” tanyanya lagi.
“Ini pemberian dari Revan.” Dengan lantangnya, aku menjawab.
“Oh,” responsnya singkat, kemudian Anissa menutup kantong plastik itu sangat rapat.
Tak berapa lama, Anissa membangkitkan badan seraya meraih kantong plastik berisikan kue itu.
“Kamu mau ke mana, Nak?” tanyaku penuh selidik.
“Nissa mau buang kue ini,” jawabnya.
“Kenapa? Kamu enggak suka?”
“Buat apa kita bertengkar hanya karena kue seperti ini. Lebih baik Nissa buang saja,” jawabnya.
Saking tidak bisanya aku menjawab, tubuh pun bangkit dari atas sofa dengan menatap mantap wajah sayup sang anak. Tampak jelas dari kedua bola matanya, kalau dia sangat suka dengan karakter yang ada di kue itu. Namun, sepertinya Anissa sangat menyayangiku, sehingga dia lebih memilih untuk membuang pemberian dari Revan.
“Nak, maafkan mama yang telah menyinggungmu. Kamu enggak perlu membuang kue ini, karena ini adalah pemberian dari Revan.”
“Tapi Nissa enggak mau melihat Mama sedih dengan adanya hal-hal seperti ini. Jujur, Nissa berkata seperti itu bukan ingin membela Om Revan, tetapi sikap Mama yang hilang kendali kalau berbicara tentang Om Revan.”
“Iya, mama paham itu semua. Maafkan mama yang enggak bisa menempatkan emosi sesuai pada tempatnya.”
“Sudahlah, Ma. Jangan dibahas lagi, mungkin ini adalah cobaan untuk kita agar ke depannya bisa bersikap lebih dewasa lagi. Nissa tidak mengajari Mama soal ini. Karena Nissa tahu, perasaan Mama yang masih hancur karena perbuatan Om Revan. Tetapi satu yang harus Mama ingat, kalau Nissa adalah anak kandung Mama. Jadi jangan pernah berkata kasar, di rumah ini adalah wanita semua. Memiliki hati yang lebih sensitif dari seorang pria.”
Bersambung ...
__ADS_1