Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
90. The Most Wanted


__ADS_3

Tak berapa lama setelah mendudukkan badan, bel pun berbunyi. Akan tetapi, Ziva masih belum ada di dalam kelas, termasuk anak baru yang tadi telah memukul pipi kiriku. Entah kenapa, sejak kejadian pagi ini, rasanya aku ingin menjauh dari mereka. Perbedaan kasta dan takhta dalam hidup, mengharuskan segalanya terjadi.


Bukan aku tidak mau membalas perbuatan baik orang lain, hanya saja perbedaan itulah yang membuat diri merasa tidak pantas. Entah kenapa, aku selalu merasa kalau hidup ini tidak adil, semua level dipukul rata dan manusia tidak harus saling mejauh dan merasa tersudut akibat beberapa faktor tersebut.


Tak berapa lama, seseorang pun datang seraya membawa dokumen di tangan kanannya. Ya, dia adalah Pak Reza—guru pelajaran matematika. Pagi ini akan ada yang namanya ujian, sesuai dengan apa yang dia katakan minggu lalu. Akan tetapi, sedari tadi aku tidak memerdulikannya di bangku paling depan. Bahkan mengucap salam, hanya hati saja yang mewakili itu semua.


“Kok, kalian terlihat lemas begitu menjawab salam saya?” tanyanya seraya membangkitkan badan.


Selang beberapa menit, Ziva pun datang dari ambang pintu bersama dengan pemuda yang tadinya memukul pipi ini. Ya, dia adalah Refal. Cowok satu-satunya yang memiliki wajah tampan seperti artis Korea. Namun, ternyata sifatnya tidaklah sebagus dan semulus kulit wajahnya, dia tampak sangat kasar dan mau memperlakukan wanita dengan tidak memiliki perasaan.


“Oke, karena kalian sudah kumpul semua, pagi ini saya akan membagikan hasil ujian minggu lalu. Tolong kalian dengan nilai di bawah delapan puluh, maju ke depan kelas.” Pak Reza berjalan melalui lorong bangku dan membagikan kertas hasil ujian.


Satu-persatu siswa dan siswi pun tercengang mendapati hasil ujian tersebut. Sedangkan aku, hanya mampu menunggu hasil dan bersiap diri untuk maju ke depan kelas. Jujur saja, sewaktu ujian itu seminggu lalu dilaksanakan, hati merasa berkecamuk pada mama yang sedang berada di rumah sakit.


Tetapi itu bukanlah sebuah alasan, melainkan hanya menguji iman agar lebih tangguh menghadapi situasi genting dan sukar. Apabila waktu itu aku tetap menunggunya di rumah sakit, otomatis mama juga enggak akan memaafkan aku yang tidak masuk sekolah dengan alasan demikian.


“Nissa, ini lembar jawaban milik kamu,” ucap Pak Reza seraya melipat lembar jawaban itu.


Menggunakan tangan kanan, aku pun mengambil sodoranya dengan sangat perlahan. “Apakah saya adalah pemilik nilai paling jelek, Pak?”


“Sepertinya kamu adalah salah satu siswi yang akan maju ke depan kelas, saya sangat kecewa dengan hasil yang kamu dapatkan.”


Selepas berkata, Pak Reza pun pergi dari samping tempat dudukku. Entah kenapa, rasa malu itu seakan menjadi nyata. Bahkan untuk melihat hasil ujian saja, rasanya tangan ini bergetar sangat hebat.


“Baiklah, kalian sudah melihat hasil ujian kalian seminggu yang lalu. Seperti tadi yang saya bilang, siswa dengan nilai di bawah delapan puluh, tolong berdiri di depan kelas. Sekarang.”

__ADS_1


Kemudian, Pak Reza mendudukkan badan di atas kursinya. Para siswa dan siswi mulai membangkitkan badan dari atas bangku seraya berjalan satu-persatu. Tepat di barisan paling depan hingga ketiga, semua telah kosong dan berjajar rapi di depan. Namun, siswa laki-laki yang menjadi anak baru tetap duduk santai tanpa menggeser posisinya.


Gila ini anak baru, dia enggak bergerak sama sekali. Padahal dia anak baru. Astaga! Aku lihat enggak, ya, nilai aku. Kalau hasilnya jelek, mampus aku. Malu banget maju ke depan. Tapi, ya, sudahlah, yang penting sudah memberikan yang terbaik.


Selepas Riko berdiri, ternyata Ziva pun berdiri dan menatap tajam ke belakang. Ya, posisi tatapan itu menujuku dengan kedua netra seperti marah besar. Entah apa maksudnya dia, karena yang aku tahu ketika ujian kami berbeda duduk dan posisi juga sangat berjauhan.


Ternyata Ziva aja yang rangking satu maju ke depan kelas, apalagi aku si anak baru pindahan dari SMA Gemilang. Apakah nasib ini lebih buruk? tanya batin bersenandika.


Tak berapa lama, siswa baru itu juga membangkitkan badan, lalu dia berjalan membawa kertas ujian di tangan kanannya. Dengan cepat aku membuka kertas ujian. Kedua netra tercengang dengan sebuah tinta merah bercoret rapi di sana. Ya, akhirnya nilai sembilan puluh sembilan telah aku dapatkan dari pelajaran matematika.


Akibat perasaan yang bercampur aduk, aku tak mampu berkata dan hanya sekadar menatap secarik kertas di atas meja. Kini, satu ruang kelas telah berdiri di depan bersama Pak Reza.


“Anissa!” panggil Pak Reza.


Seketika aku membuyarkan lamunan. “I-iya, Pak?”


“Ma-maaf, Pak, saya akan berdiri juga, kok.” Selepas berkata, aku membangkitkan badan seraya membawa secarik kertas ujian.


Para siswa dan siswi di ruang kelas tampak sangat senang karena aku ikut menemani mereka. Padahal, nilai yang tertera di kertas itu sangat jauh dari KKM yang telah ditentukan.


“Nissa, kamu dapat nilai berapa emangnya?” tanya Ziva.


“Ah, nilai aku lebih kecil dari kamu,” jawabku seraya menepikan badan.


“Nissa, kamu yakin ingin berdiri di sini bersama mereka?” tanya Pak Reza.

__ADS_1


“Yakin, Pak. Kan, tadi Bapak yang panggil saya buat berdiri ke depan.”


“Huuu ... makanya, jadi anak jangan belagu. Kalau nilai kecil lebih baik maju aja kali, ngapain nunggu di bangku?” sorak para siswa dan siswi di barisan.


“Boleh saya lihat hasil nilai dari ujian kamu?” Selepas berkata, Pak Reza membangkitkan badan.


Aku pun memberikan lembar jawaban ujian itu kepadanya. Dengan senyum kecil, Pak Reza menatap remeh secarik kertas itu dan memberikan sebuah lem kertas. Kemudian dia menempelkan nilai matematika itu di papan tulis.


“Ini nilai Anissa, kalian lihat sendiri.” Pak Reza menepi dan mendudukkan badan di atas kursi.


“What! Sembilan puluh sembilan. Enggak salah, lu, Niss? Ini, sih, sempurna namanya,” pekik Ziva seraya menatap wajahku tajam.


“Tuh, dia aja pemilik nilai sempurna biasa aja gayanya. Kalian, dapat nilai dua puluhan, tapi bergaya sok-sok anak sultan,” cibir Pak Reza.


“Lantas, kenapa kamu ada di depan kelas, Nis?” tanya Ziva lagi.


“A-aku, aku ingin menemani kalian aja. Masak iya aku duduk sendiri sementara kalian semua berdiri, biar adil ya seperti ini.”


Mendengar ucapanku, Pak Reza kembali membangkitkan badan seraya menunjuk lembar ujian matematika di depan tulis.


“Kalian tahu kenapa saya beri nilai Nissa sembilan puluh sembilan? Padahal jawaban dia benar semua. Karena saya merasa sangat insecure, bahwa di kelas ini ada yang bisa lebih hebat menjelaskan rumus matematika daripada saya. Nissa, tidak apa-apa, kan, kalau kamu enggak dapat nilai seratus?” tanyanya.


“Enggak, Pak. Kamu adalah guru kami, sehebat apa pun siswanya, tanpa kamu kita bukan apa-apa. Bahkan ilmuan sekali pun, mereka tidak akan pintar tanpa seorang guru. Maka dari itu, cinta seorang guru pada siswanya, mampu membawa semua menuju kehidupan yang lebih baik.”


Mendengar ucapan itu, beberapa siswa dan siswi memberikan tepuk tangan secara spontan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2