
Revan POV
Hari-hari yang aku jalani sekarang sedikit lebih indah, terlebih karena sang putra semata wayang telah dapat beraktivitas kembali setelah sekian lama mendekam dalam rumah sakit. Namun, aku tetap akan memerhatikan kesehatannya agar dia senantiasa sehat dan tidak berkendara sesuka hati. Apalagi kini, dia telah memiliki riwayat penyakit dalam dirinya.
Setahun tanpa bisa bernapas lega, sekarang aku mulai berdamai dengan waktu. Bahwa panorama indah di penjuru negeri telah menyambut untuk diri ini bersiap dan menemui rezeki dari Tuhan. Sekarang aku mengerti, bahwa hidup bukan sekadar mengais rupiah, akan tetapi yang hakiki adalah kematian. Dalam menjalankan setiap pekerjaan, tidak akan berhasil tanpa seorang yang paling berjasa di kantor.
Pagi ini akan ada rapat yang sebentar lagi terlaksana, kerjasama dengan pemilik perusahaan paling tersohor di negara ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi dia telah menandatangani sebuah kontrak untuk pembagian hasil dari proyek baru, aku dapat kembali mengisi dompet dan ATM yang setelah sekian lama terkuras habis untuk biaya perobatan.
Dengan langkah gontai, aku menapak dan menuruni anak tangga lantai dua. Sementara kedua tangan, masih sibuk memperbaiki arloji dan dasi panjang berwarna hitam yang saat ini menggantung di leher.
“Selamat pagi, Tuan ...,” ucap seorang pelayan yang simpang siur.
“Iya, selamat pagi,” jawabku singkat.
Kemudian aku mendudukkan badan di kursi dekat dapur, tempat yang sengaja aku pilih untuk melaksanakan rutinitas setiap pagi, yaitu sekadar meneguk segelas susu hangat. Apabila waktu masih ada, aku akan mengunyah sepotong roti sebelum pergi. Namun, pagi ini rasanya tidak mungkin berlama-lama, karena pemimpin dari perusahaan Athena One sangatlah galak.
Apalagi tatapan matanya, bak elang yang ingin memangsa siapa pun. Memang dari gelagatnya, dia sangat baik pada karyawan. Namun, aku tetap saja masih merasa sakit hati padanya akibat sindiran yang dia ucapkan waktu itu. Entah kenapa, setiap kali ucapan yang keluar dari mulutnya, membuat siapa pun terbungkam untuk melawan.
Mario ... kau akan menerima pembalasan dariku karena ucapanmu waktu itu. Ingat aja setelah proyek ini akan berjalan, semua keuntungan akan menjadi milikku dan perusahaanmu akan menjadi bangkrut.
Setelah bersenandika, sebuah sentuhan lembut mendarat di pundakku sebelah kiri. Akan tetapi, aku tidak lantas menoleh karena hanya sekadar meneguk susu.
“Sayang ... kamu sudah siap bekerja?” Tiba-tiba, Siska pun datang seraya mendudukkan badannya di atas kursi.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku hanya sekadar menatap tembok bercat putih.
“Sayang, dasi kamu kurang—“
__ADS_1
“Lepaskan aku! Jangan sentuh tubuhku dengan tangan hinamu!” pekikku seraya menyibak kedua tangan sang istri.
“Sayang, kamu kenapa, sih?! Aku sudah bersikap lebih manis padamu, kenapa semua tetap salah di mata kamu? Aku ini istrimu, bukan musuh.”
“Oh, ya? Kamu istri aku? Kalau kamu benar istriku, tidak akan mungkin ada lelaki lain yang berani bercocok tanam di badan hinamu itu,” pungkasku seraya menoleh sekilas.
“Mas, itu adalah masa lalu. Kamu jangan ungkit terus-terusan ... aku sudah berubah dan enggak ada laki-laki lain selain kamu,” jawabnya melas.
“Itu untuk saat ini, aku enggak tahu suatu saat nanti. Udah jangan ganggu aku, pergi dari sini. Selera makan aku hilang kalau kau hadir,” omelku sedikit ngegas.
“Mas, kamu jangan gitu sama aku. Katanya kamu udah janji pada anak kita, kalau kamu akan menyayangi aku seperti dulu, itukan janji kamu, Mas?!”
Menggunakan tangan kanan, aku menunjuk lawan bicara seraya berkata, “asal kamu tahu, aku mau berkata seperti itu karena paksaan anak aku. Bukan karena hati nurani yang natural, sampai kapan pun kau tak akan mendapatkan apa yang kau inginkan di rumah ini. Paham! Jika sudah muak di sini, silakan pergi. Pintu rumah terbuka lebar untuk kau angkat kaki.”
“Enggak! Aku enggak akan pergi dari rumah ini. Mas, ini adalah rumah kamu dan anak kita. Otomatis rumah aku juga,” sungutnya lirih.
Kemudian aku menyentuh dagu lawan bicara. “Apa kamu bilang, ini adalah rumah kamu? Sejak kapan kamu berkontribusi untuk mendirikan rumah ini. Rumah dan perusahaan adalah milik Marissa, kau tidak ada campur tangan untuk membangun ini semua. Paham! Jangan sekali-kali kau mengatasnamakan semua aset milikmu sebagian.”
Untuk memaafkan rasanya sudah tidak mungkin lagi, sekarang aku tidak menganggap kehadirannya di rumah ini, apalagi untuk mengakui sebagai seorang istri. Karena obrolan sesingkat itu, menghabiskan waktu beberapa menit untuk aku menuju kantor.
Belum lagi harus telat di perjalanan.
“Mas ... aku ikut kamu pergi, Mas ...!” teriak Siska merengek.
Lalu, sang istri pun bersimpuh dan menarik kaki kiriku yang hendak masuk ke dalam mobil.
“Siska, lepaskan aku. Kamu gila atau bagaimana?”
__ADS_1
“Mas, aku ikut kamu kerja. Aku enggak mau di rumah sendirian, bosan! Mas ....”
Karena hari telah siang, aku pun melepas genggaman sang istri dengan memberikan hentakan di kaki. Bersama tangisan, Siska pun merengek dan mengaung di atas lantai diiringi air mata bercucur deras.
“Mas ... aku ikut kamu pergi,” ucapnya.
“Dasar wanita gila, ada-ada saja mau ikut aku kerja. Emang perusahaan punya nenek moyang kamu apa,” omelku sendiri di dalam mobil.
Tak berapa lama, Siska pun membangkitkan badan seraya berlari menuju mobil, dia memukul kaca jendela beberapa kali.
“Mas ... buka pintunya, Mas ...!” teriaknya sangat keras.
“Tuan, bagaimana ini?” tanya Diman—sopir pribadiku.
“Jalan, Man,” ucapku.
“Ta-tapi, Tuan.”
“Kalau saya bilang jalan, ya, jalan! Kamu tuli atau bagaimana?” Selepas berkata, aku pun membuang tatapan terfokus ke depan.
“Oke, Tuan,” jawab Diman seraya menginjak gas sangat kencang.
Kami berdua pun keluar dari halaman rumah dengan cepat, tampak dari spion mobil, kalau Siska masih menangis di halaman. Entah kenapa, batin aku berkata kalau dia hanya sekadar sandiwara. Sejauh ini, Siska tak pernah melakukan hal itu kalau bukan karena ada maunya.
Sudah sebulan ini, aku sengaja mem-blokir semua kartu kreditnya dan semua fasilitas yang aku berikan. Untuk memberikan efek jera, semua uang tidak dapat dia ambil dan dia pakai. Dalam satu bulan, Siska dapat menghabiskan uang ratusan juta entah untuk apa. Aku berharap, dengan begini timbul rasa bersalah itu padanya.
Tinggal di rumah yang serba mewah harusnya membuat dia sangat senang, bukan malah mencari laki-laki lain. Ibarat hidupku sekarang, terjatuh dari tangga dan terkena tangga itu lagi. Memang kalau diingat-ingat dulu, bahwa ucapan ibu mertua ada benarnya. Bahwa Siska bukanlah anak perempuan yang sayang keluarga, dan selalu menghabiskan apa yang ada di rumah.
__ADS_1
Ya, Tuhan ... betapa bodohnya aku waktu itu. Mencintai wanita yang salah sampai akhirnya rumah tangga menjadi sangat rumit seperti ini. Malah Marissa, aku sia-siakan dan tak tau apa kabarnya sekarang.
Bersambung ...