
Selang beberapa menit, akhirnya aku sampai di depan rumah. Membuka pintu mobil dengan cepat, aku keluar dan berlari menuju ruang bawah tanah. Bola mata mendelik setelah mendapati pintu ruangan tersebut masih tertutup sangat rapat.
Alhasil, aku kembali keluar rumah melintasi Bi Ira di ruang tamu. "Aden ... Den ...," teriaknya.
Tanpa mempedulikan ucapan itu, aku kembali berlari dan menuju pintu belakang rumah. Setelah sampai, penglihatan kembali mendelik. Napas ngos-ngosan membawa tubuh berhenti di depan sebuah pohon bunga Tanjung.
"Alhamdulillah ... pintunya masih tertutup rapat, mungkin Anissa masih ada di dalam berserta ibunya," ucapku sendiri. Lalu, aku berjalan perlahan dan menuju pintu ruang bawah tanah. Akses kedua untuk bisa ke sebuah lokasi.
Menempelkan telinga sebelah kanan di pintu tersebut, seraya mendengarkan suara yang ada di dalam ruangan. Beberapa menit menunggu, tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara. Dengan menoleh ke arah kunci ruangan, rupanya telah terbuka sedikit.
Aku langsung membuka dengan tangan kanan. Ketika pintu terbuka sangat lebar—Anissa dan ibunya sudah tidak ada. Padahal, wanita itu telah dipasung sangat erat.
"Loh, Nissa enggak ada? Dan ibunya juga enggak ada? Ke mana mereka berdua? Jangan-jangan ... kunci itu adalah ...."
Menggantung ucapan, aku kembali berjalan dua langkah ke depan. Tepat di sebuah pintu, aku berhenti. Tatapan pun menuju sebuah kunci yang tadi malam sempat terjatuh dan hilang.
Rupanya, kunci itu sudah ada di anak tangga pertama akses menuju ruang bawah tanah. Dengan sigap, aku mengambil kunci dan membuka pintu ruangan tersebut.
Hasilnya, benar. Pintu pun terbuka lebar dan aku mendogak, 'kan kepala menuju siluet tiga orang yang ada di depan mata. Ya, mereka adalah ayah, ibu dan Bi Ira.
Tampak dari raut wajah itu sangat kesal melihat tingkahku pagi ini. Entah apa yang membuat mereka sangat kesal, padahal hari ini aku telah membebaskan sebuah permainan sandiwara drama rumah tangga orang tua.
"Ayah ... Ibu! Bi Ira? Kalian ngapain di sini?" kutanya seraya menadahkan kepala ke lantai.
"Refal ... kamu yang lagi apa di sini, Nak?" respons sang ayah sambil menoleh kanan dan kiri ruang bawah tanah.
"Eng-enggak ada, Yah." Mulut ini terasa sangat keluh untuk berkata, yang ada hanyalah nada suara terbata-bata.
Lalu, sang mama pun berjalan dua langkah ke depan. Ia menoleh kanan dan kiri ruangan yang sudah sunyi tanpa seorang pun.
"Refal!" bentaknya singkat.
Aku tetap merunduk dan membungkam ucapan.
"Refal! Di mana mereka semua!" hardiknya lagi.
"Mereka siapa, Ma? Perasaan Refal datang emang enggak ada siapa-siapa." Selesai menjawab, aku menoleh sedikit ke wajah Bi Ira. Tampak dari raut lekuk keningnya bahwa ia merasakan kemenangan hari ini.
'Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Mengapa ekspresi Bi Ira berubah tiga ratus enam puluh derajat seperti itu?' batinku.
"Dasar anak kurang ajar kamu!" tamparan mendarat di pipi kananku. Ya, pukulan keras dari ayah lagi.
Plak!
Membuang tatapan menuju lantai, aku menyentuh bekas gambar telapak tangan yang ada di pipi kananku. Sangat sakit dan perih dirasakan.
"Ayah ...," panggilku sangat lirih.
"Lancang kamu sudah membuat Marissa keluar dari ruang ini!" pekiknya.
__ADS_1
Ibu pun berjalan mendekatiku, ia menarik jambul rambutku dengan keras. Seketika tatapan menjadi mendongak ke arahnya.
"Kamu bawa ke mana Marissa? Jawab!" bentak sang mama.
"Nyonya ... jangan kasar sama Aden, kasihan ...." Dari ujung posisi, Bi Ira angkat bicara.
Mama dan ayah menyambar secara bersamaan. "Diam kamu!"
"Ayo, kita bawa Refal ke ruang tamu," ujar sang ayah. Mereka pun menarik tanganku sangat erat.
"Tunggu!" bentak seseoranh seketika.
Entah siapa yang telah berucap sangat keras dari arah belakang. Yang pasti, suara itu tidak pernah aku kenal sebelumnya.
"Lepaskan Refal, atau kalian akan masuk ke dalam penjara sekarang," lanjutnya lagi.
Tatapan seketika menoleh ke arah siapa gerangan yang berucap. Setelah barisan ayah dan ibu menepis ke kanan dan ke kiri, aku menatap mantap orang tersebut.
Mereka adalah Anissa dan ibunya. Di samping kanan dan kiri, mereka membawa polisi senjata lengkap. Tanpa balas kata, sang ayah mendekati tubuhku dan mengambil benda tajam di dalam kantong jasnya.
"Kalian pergi dari sini!" ucap ayah sangat keras, ia meletakkan pisau tajam tepat di leherku.
"Tuan ... jangan lakukan itu, bibi mohon ...."
"Diam kamu! Ira, bawa Marissa dan polisi itu keluar dari rumah ini. Kalau tidak, saya akan menghabisi nyawa Refal."
Dari samping kanan, ibu berteriak. "Mas ... jangan lakuin itu! Refal anak kamu, Mas ...."
"Oke! Saya akan pergi dari rumah ini, Mas. Tapi kamu ingat satu hal, semua kebusukan itu akan berakhir mulai detik ini." Ibu—Anissa berkata seraya melipat kedua tangannya.
"Pak. Ayo, kita tinggalkan rumah ini," lanjut wanita yang sedang merangkul putrinya—Anissa.
Dari posisi tikaman, aku berteriak. "Nissa ... jangan tinggalin gue!"
"Diam! Kamu!" ucap sang ayah membentak.
Anissa pun berhenti seketika, ia menatap lirih menuju wajahku. Kedua bola matanya berkaca-kaca. Lalu, ia berkata sangat lirih. "Refal ... maafin gue. Kali ini, gue enggak bisa membantu lu dan tetap tinggal di sini."
"Nissa ... gue cinta sama lu! Gue enggak mau kehilangan lu," lanjutku seraya berkata lirih.
"Fal, tempat gue enggak di sini. Gue bukanlah jodoh yang telah Tuhan titipkan untuk lu, Fal! Gue ini adik lu. Kita satu ayah."
"Gue enggak peduli itu semua, gue cinta sama lu, Nis."
Seketika sang ayah melepas tikamannya. Ia pun membuang benda tajam itu ke atas lantai. Dengan langkah lebar, kedua kaki melangkah menemui wanita yang telah menjadi kekasihku saat ini.
Tepat di hadapannya, aku meneteskan air mata. "Nissa, kamu baik-baik aja?" kutanya.
Lawan bicara mengangguk dua kali. "Iya, gue baik-baik aja."
__ADS_1
"Gue mohon ... jangan tinggalin gue di sini. Gue sayang sama lu." Dengan tangan kanan, aku menyentuh jilbabnya yang telah acak-acakan.
Sementara dari posisi kanan dan kiri, polisi serta Tante Marissa tampak sangat sedih.
Ia pun angkat bicara. "Anak ganteng, kamu dan Nissa enggak mungkin bisa bersatu, Sayang. Kalian adalah saudara."
"Tante ... saya enggak peduli semua itu. Saya cinta sama anak Tante."
Wanita berambut panjang itu menarik napas dan menelan ludah beberapa kali.
"Refal, kamu cari wanita lain saja. Enggak mungkin kamu mencintai adik kandung kamu sendiri. Kalian adalah saudara, dengarin ucapan tante."
"Enggak. Kalau Nissa akhirnya harus pergi, Refal juga akan pergi dari dunia ini." Bersama deraian air mata, aku berlari menuju luar rumah.
"Refal ... kamu mau ke mana ...," sorak Anissa sangat keras.
Tanpa mempedulikannya, aku tetap memasuki mobil dan membawa diri untuk pergi. Perasaan yang sangat kacau membuat jiwa emosi tingkat tinggi. Keluar dari halaman rumah dan hampir saja menabrak Mang Diman—penjaga pintu gerbang.
Entah apa yang ada dalam otakku saat ini. Yang ada hanyalah sebuah kekecewaan dan drama konyol kedua orang tuaku. Setelah hati mulai bertakhta pada satu wanita yang berhati mulia, kini sirna karena sebuah peristiwa.
Jika memang aku tak ditakdirkan untuk bersama Anissa. Maka, secepatnya aku akan pergi dari semesta.
Melintasi jalan raya dengan volume kendaraan yang ramai. Tanpa sadar, aku pun menatap sebuah truk yang sedang menyebrang secara tiba-tiba.
Brug!
Penglihatan buram, serta otak tak mampu lagi berpikir netral. Yang terdengar keras dari kedua telinga adalah sebuah teriakan orang-orang yang membuatku tak mampu untuk membuka kedua bola mata.
Astaghfirullah ....
Bawa ke rumah sakit.
Ayo, kita angkat tubuhnya.
Sepertinya anak ini telah meninggal.
Detak jantungnya telah berhenti.
Tidak, nadinya masih sedikit bergerak.
Suara ambulan terdengar sangat keras, sementara orang-orang tak lagi berteriak ketika awal. Malam yang sunyi, membawa tubuh untuk menyadari bahwa cinta tak harus memiliki.
Dari ambang penglihatan, aku menatap sebuah ladang gandum yang dipenuhi dengan orang-orang yang tengah memanen.
Bagaimana rasanya berdamai dengan waktu. Bagai berjalan di musim semi dengan suasana yang tak begitu panas dan tak begitu dingin. Semburat jingga cokelat keemasan, seutas cinta di balik awan yang menggandeng senja.
Ini adalah kisah kita, bersama dengan jiwa yang hampa karena sebuah cerita. Tak ada satu orang pun bisa menerima, setelah jiwa yang telah pergi bersama semesta. Kejadian dan kejadian masih terpotret jelas diingatan. Kenangan bersama ia, sang belahan jiwa.
Di suatu malam, dengan tetesan infus yang mengalir lambat.
__ADS_1
Tuhan, mengapa manusia dicipta. Jika akhirnya harus dimusnahkan secara tidak hormat. Kepada-Mu, sang Maha Kuasa, tolong jaga dia. Ketika aku telah menutup kedua bola mata untuk selama-lamanya.
Bersambung ...