Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
33. Hamba Allah Pendonor Ginjal


__ADS_3

Selang beberapa menit, dokter dan diikuti dengan perawat yang lainnya membuka pintu ruang UGD. Mereka berdiri seperti tengah membentuk formasi bodyguard. Menarik napas panjang, tampak dari raut wajah dokter berkacamata bulat itu penuh kecemasan.


Dengan sigap, aku bangkit dari posisi duduk. Diikuti dengan Bi Ira, ibu mertua dan sang istri turut ambil andil menemui pusat penglihatan. Dari ambang pintu, kami berbaris sangat rapi seraya menanti kabar yang tengah mereka bawa saat ini.


"Dok, bagaimana dengan keadaan putra saya?" tanyaku. Lalu, ibu mertua berjalan dua langkah dan menyiku tangan kananku.


"Dok, bagaimana dengan keadaan cucu saya?" Bersama Bi Ira, kedua wanita paruh baya itu mendesak dokter tenaga medis rumah sakit untuk segera berbicara.


Lawan bicara menelan ludah beberapa kali, serta perawat juga menadahkan kepalanya menuju lantai ruang UGD. "Jadi begini, Bu. Cucu Anda ...."


"Kenapa dengan cucu saya, Dok!" hardik ibu mertua.


Dari samping kanannya, Bi Ira mencoba untuk menenangkan. "Sabar, Mbak ...."


"Cucu Anda ...."


Karena dokter tersebut bertele-tele, aku pun berjalan dan angkat bicara juga. "Dok! Jangan setengah-setengah bicaranya. Tolong katakan saja saat ini." Kedua tanganku mencengkeram kerah baju lawan bicara.


"Oke-oke. Bu, dan Bapak. Saudara Refal sedang mengalami yang namanya gagal ginjal, pasien harus mendapatkan pendonor beberapa hari ini. Kalau tidak ...."


Aku pun menyambar ucapannya. "Kalau tidak kenapa, Dok!"


"Kalau tidak, putra anda akan meninggal dunia," lanjutnya membungkam perkataan kami saat ini.


Dari samping kanan, ibu mertua pun pingsan diikuti dengan sang istri yang telah tidak sadarkan diri. Dengan sigap, aku menggendong Siska untuk membawanya ke ruangan.


"Siska!" teriakku seketika.


Dalam samar, ibu mertua juga memasuki ruangan untuk mereka istirahat sejenak. Dari posisi samping, aku berpikir keras seputar kejadian malam ini. Bi Ira pun sedang fokus untuk mengompres kening ibu mertua.


Tak lama, Siska pun bangun dan membuka kedua bola mata. Sementara para dokter dan tenaga medis lainnya satu persatu menghambur keluar ruangan, mereka menuju tempat praktik masing-masing.


"Sayang ... kamu baik-baik aja?" tanyaku pada sang istri yang masih mencoba untuk membuka kedua bola mata.


Sementara lawan bicara, hanya mengangguk dua kali dan tak menjawab sepatah kata pun. "Mas ... anak kita bagaimana kabarnya?" tanyanya.


"Sayang ... serahkan semua ini pada Allah. Hanya mukjizat-Nya, 'lah, yang bisa menolong anak kita."


"Saya enggak mau kehilangan Refal, Mas ...," rengeknya lagi. Kemudian, aku mengubah posisi dan mendongak, 'kan kepala menuju langit-langit ruangan.


"Ya, Allah ... mengapa engkau memberikan karma itu bertubi-tubi tanpa jeda. Saya mohon ... selamatkan putra hamba," ucapku sendiri, sambil mengernyitkan wajah.


Dari posisi yang sama, hanya beda satu lorong, ibu mertua membuka kedua bola matanya. Dia tak bertanya seputar keadaan cucu semata wayangnya, akan tetapi dia menatap heran ruangan rumah sakit yang menjadi tempat dia saat ini tidur.


"Ira ... saya ada di mana sekarang?" tanyanya. Lalu, wanita paruh baya itu mengubah posisi tidur menjadi duduk dan menoleh ke arahku dan Siska.

__ADS_1


"Mbak ... kamu tadi pingsan. Jadi, para dokter menyuruh untuk membawa kamu ke ruangan ini. Agar bisa istirahat dengan nyaman."


"Keadaan cucu saya bagaimana, Ra?"


Lawan bicara dari ibu mertua menarik napas panjang, dia pun menaikkan kedua pundaknya sambil menggeleng dua kali.


"Mbak, saya juga enggak tahu bagaimana keadaan Aden Refal saat ini. Kita berdoa saja, mudah-mudahan dia enggak apa-apa dan bisa berkumpul lagi bersama kita."


"Refal ... cucuku! Kamu apa kabar, Sayang ...?" rengek wanita paruh baya itu.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung keluar ruang rumah sakit. Arloji menunjukkan tepat di pukul 02.00 malam. Tenaga medis pun tak lagi ada di sekitar koridor ruang praktikum. Aku pun berjalan dan putar arah, seraya menatikan pertolongan Tuhan yang datang menemui putra semata wayang.


Kembali menaiki anak tangga lantai dua, aku pun tidur di dalam ruang musala.


***


Pagi telah tiba, terbangun setelah beberapa menit tertidur. Kumandang azan terdengar dari telingaku. Kewajiban yang tak pernah aku laksanakan itu tiba-tiba kembali mengetuk hati. Bersama langkah lebar, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Setelah selesai, aku kembali menuju musala. Di dalam ruang ibadah hanya ada tiga orang saja, kami melaksanakan salat wajib bersama. Tak lupa doa terlantun untuk mengagungkan nama Tuhan.


"Ya, Allah ... betapa hinanya manusia sepertiku. Datang bersimpuh hanya ketika aku merasakan kesusahan saja. Maafkan hamba yang telah menduskan nikmat dunia-Mu selama ini. Jika ini adalah suratan dari-Mu, tolong jangan lakukan itu pada anak hamba. Cambuk saya Tuhan ... tolong jangan buat dia menderita. Robbana' atina' fiddunya hassanah wafil' akhiratihasanah' tawaqina' adzabannar. Amin ...."


Menghabiskan waktu selesai salat di dalam sebuah musala. Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundakku dari belakang. Dengan sigap, aku menoleh orang itu dan menatap penuh kesedihan.


"Maaf, Pak. Saya ingin bertanya pada Anda."


"Sepertinya pagi ini sedang dilanda masalah berat, ya?" katanya. Lalu, lawan bicara memakai serban putih dengan tasbih cokelat itu duduk bersila. Dia juga menatap wajahku tajam.


Dengan memperbaiki posisi duduk, aku juga menatapnya. "Iya, Pak. Saya sedang dilanda cobaan, dan datangnya tanpa henti."


"Apakah Anda telah melakukan kesalahan sangat fatal di belakangan hari?"


Aku terdiam. Dengan berat hati, akhirnya kepala mengangguk dua kali. Bola mata pun tak mampu menatap lawan bicara, hanya sajadah hijau tua sebagai tempat air mata menetes tanpa henti.


"Sabar, Pak. Sebentar lagi, putra Anda akan selamat karena ada yang akan mendonorkan ginjal padanya."


Mendengar ucapan itu, aku mendongak dan menatap lawan bicara. Namun, seketika orang tersebut tidak ada. Perasaan sangat bingung menghujani diri ini, tatapan pun menoleh ke arah kanan dan kiri mencari lawan bicara yang memakai serban putih tadi.


"Pak! Bapak! Anda di mana?" tanyaku sendiri, kedua bola mata tak mendapati seorang pun dalam musala milik rumah sakit saat ini.


Badan pun bangkit dan berjalan laju menuju pintu. Dari ambang penglihatan yang berjarak hampir sepuluh meter, para tenaga medis memasuki ruangan di mana putraku dirawat. Bersama dengan para suster, kelima dokter masuk dan meneteng sebuah benda berukuran besar.


Langkah kaki pun menghampiri ruang UGD. Beberapa menit setelahnya, perawat berjilbab putih keluar ruangan.


"Maaf, Sus. Apa yang terjadi pada putra saya? Mengapa para dokter masuk dan ada izin dari saya?" tanyaku bertubi-tubi.

__ADS_1


"Pak, hari ini kami akan melakukan operasi besar untuk anak Bapak. Maaf sebelumnya, kami tidak memberitahu Anda. Karena dari tadi para dokter mencari Anda, tapi tidak ada."


"Maksudnya ... putra saya mendapatkan pendonor ginjal itu?"


"Benar, Pak. Ada seseorang yang mengaku sebagai hamba Allah, mendonorkan ginjalnya pada putra Anda," paparnya dengan sangat rinci.


"Orang itu seperti apa, Sus?" kutanya lagi.


Seketika, wanita yang menjadi lawan bicara membungkam. "Maaf, Pak. Pendonor tidak memperbolehkan untuk kami memberitahu identitasnya."


"Ya, Allah ... alhamdulillah ... Engkau begitu dahsyat dan Maha Pengasih. Dalam waktu singkat Engkau menjawab doa hamba."


"Maaf, Pak. Saya akan masuk ke dalam ruangan lagi."


"Oke, Sus. Terima kasih," responsku singkat.


Tanpa membalas kata, perawat itu langsung menutup pintu ruang UGD. Tampak dari balik kaca pintu ruangan, bahwa tenaga medis sedang memberikan yang terbaik untuk putraku tercinta.


Karena sangat senang, aku berlari menuju ruangan sang istri, Bi Ira, dan ibu mertua. Tak habis pikir dalam menafsirkan momen pagi ini, yang ada dalam otak adalah kesembuhan putra semata wayangku.


"Bu!" panggilku pada mertua.


"Ada apa kamu manggil saya, Van!" bentaknya.


"Bu, cucumu sudah mendapatkan pendonor ginjal. Dan dia sedang operasi saat ini, berikan doa terbaiknya," lanjutku dengan wajah semringah.


Secara serempak, ibu mertua, sang istri, dan Bi Ira berkata. "Alhamdulillah ...."


"Mas, kamu enggak bohong, 'kan sekarang?" Dari samping kiri, sang istri bertanya lagi.


"Sayang, saya enggak bohong."


"Siapa orang berhati mulia yang mendonorkan ginjalnya itu, Mas?"


Aku menggeleng dua kali. Seketika ekspresi ketiga wanita di hadapan berubah.


"Tuan, kok, geleng kepala?" tanya Bi Ira.


"Saya sudah tanya perawat rumah sakit, Bi. Katanya ... pendonor merahasiakan identitasnya. Dan perawat hanya bilang, kalau pendonor dari hamba Allah."


"Siapa pun orangnya, Tuan tidak boleh menyia-nyiakan. Tolong Tuan cari orang tersebut hingga dapat, berikan hadiah yang setimpal," ujar Bi Ira.


'Benar juga Bi Ira. Aku harus mencari sampai jumpa pendonor itu, agar aku bisa membalas kebaikannya yang sedia menolong nyawa putraku. Ya, siapa pun orangnya. Akan aku jadikan dia sebagai anak kandung dan tinggal satu rumah denganku,' batin berkata.


"Bi, saya berjanji pada langit dan bumi yang menyaksikan hari ini. Jika saya bertemu pendonor itu, saya akan membawanya pulang ke rumah dan menjadikan dia sebagai anak kadung jika masih remaja. Serta menjadikan orang itu saudara jika pendonor sudah dewasa. Saya berjanji," ucapku. Secara serempak, ketiga wanita di hadapan berkata.

__ADS_1


"Amin ...."


Bersambung ...


__ADS_2