Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
28. Kerugian Bagi Umat Yang Me-Nuhankan Uang


__ADS_3

Refal POV


Anissa, kok, menyebut-nyebut nama Bi Ira? Kenapa bisa persis banget sama pembantu di rumah gue? Atau jangan-jangan ada yang disembunyikannya. Pokoknya, gue harus ikuti Nissa dari belakang. Barang kali gue tahu tentang ibunya yang dianggap gila oleh orang-orang selama ini. Ya, gue harus mengikutinya, batinku berkata.


Dengan langkah lebar, aku berjalan mengikuti Anissa yang buru-buru pergi. Akan tetapi, jejaknya tak lagi terlihat.


Berdasarkan dari langkahnya, ia menuju sebuah jalan yang belum pernah aku tapaki sebelumnya. Dari lorong sempit yang menghubungkan rumah ke rumah para warga.


Berjalan dan terus berjalan, kedua bola mata tak mendapati hal yang special di area sekitar lokasi. Yang ada hanyalah jalan sempit dan kumuh.


Bahkan, para pengemis dan orang miskin terlihat jelas di sini. Dari ambang penglihatan, aku mendapati siluet cewek yang menjadi pengintaian.


Nissa pun berhenti di bawah kolong jembatan. Ia mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tasnya dan memberikan pada orang-orang yang tidak memiliki rumah.


Seketika aku menyandarkan tubuh di balik tembok gedung kosong, tatapan hanya menuju cewek berjilbab putih itu saja.


Jadi ... selama ini Nissa memberikan makanan pada orang-orang miskin? Ya, Tuhan ... sungguh mulia hati lu, Niss. Dalam suasana yang mendesak aja, lu masih sempat singgah ke tempat itu. Pokoknya ... apa pun yang terjadi, gue akan tetap cinta sama lu, Nis, batinku berkata.


Kemudian, Nissa berjalan kembali dan meninggalkan anak-anak di bawah jembatan. Ia pun bergerak menuju ke jalan sempit.


Dengan langkah mengendap-endap, aku tetap mengikutinya dan berjalan tanpa henti. Sekitar sepuluh menit menapak, Nissa pun berhenti di sebuah gedung yang sepertinya aku kenal.


Loh, Nissa ngapain berhenti di belakang gedung itu? Bukannya ... gedung itu adalah rumah gue? Terus, apa hubungan Anissa dan rumah gue? batinku seraya menggaruk kepala.


Rupanya, cewek yang menjadi pusat tatapan menoleh ke arah belakang. Aku pun bersembunyi dan menyandarkan badan di balik tembok lagi. Sepertinya Nissa merasakan sesuatu, atau ia tahu sedang ada yang mengikutinya?


Rasa penasaran terus menghujaniku. Akhirnya, dengan langkah lebar kedua kaki kembali menapak hingga sampai di belakang gedung. Di balik pohon bunga Tanjung, aku berhenti. Menatap sebuah pintu berukuran minimalis dan sangat kusam.


Nissa masuk ke dalam pintu itu? Emang di belakang rumah gue ada ruangan lagi? Kok, gue enggak tahu? Ah ... bodo amatlah, yang penting gue pengen tahu aja yang terjadi saat ini, batinku berceloteh.


Telapak kaki kembali mengintai dan berjalan. Dengan gaya seperti detektif, aku mengendap-endap dan meletakkan badan di tembok rumah. Sedikit demi sedikit, aku menoleh ke arah pintu yang memiliki lubang sangat kecil.


Dugaan benar. Bahwa Nissa berada di dalam ruangan yang sangat kusam itu. Ia pun mondar-mandir dan menenteng sebuah piring.


Tatapan buyar ketika aku melihat sosok wanita berambut panjang dengan bandana merah yang mengikat di kepalanya memekik gelisah karena kedua kakinya tengah dipasung.


Astaga! Perempuan itu siapa? Dan mengapa kedua kakinya dipasung seperti itu? Apakah itu adalah ibu—Anissa? Jadi ... yang selama ini orang-orang katakan benar. Kalau ibu kandung Anissa gila. Tetapi mengapa mereka tinggal di rumah gue? Jeda sejenak, aku pun menarik napas dan membuang dari mulut.


Kemudian, apa sebenarnya yang terjadi di kehidupan keluarga gue?


Merumuskan pertanyaan yang datang secara bertubi-tubi, aku tak sengaja menyenggol sebuah pot bunga di samping sebelah kiri. Pot bunga itu jatuh dan pecah. Suara yang ditimbulkan juga sangat keras, kemudian aku kembali meletakkan badan di tembok.


Astaga ... mampus gue, pasti Anissa bakal ke sini dan memergoki gue yang udah mengintip dan mengikutinya, batinku.


Dengan langkah lebar, aku pun membungkuk, 'kan badan dan bersembunyi di bawah meja rusak. Dengan harapan, bahwa Nissa tak melihatku ada di sini.


Rupanya, cewek itu membuka pintu dan ia menoleh kanan dan kiri sebelum akhirnya kembali masuk.


Aman ... astaga! Hampir aja gue ketahuan kalau lagi sembunyi di bawah meja, celotehku dalam hati.


Dengan langkah lebar, aku kembali berlari meninggalkan lokasi. Kali ini sedikit berlari menuju ke sebuah taman, takutnya jika aku berlama-lama di tempat tersebut akan ketahuan oleh Anissa.

__ADS_1


Dalam otak masih terekam jelas. Bahwa, cewek berjilbab yang aku anggap sebagai pacar itu tengah menyuapi seorang wanita.


Akan tetapi, mengapa meraka tinggal dalam satu atap di belakang rumahku? Mengapa semua bisa terjadi dan aku tahu baru saat sekarang.


Memasuki mobil dengan langkah yang sangat kencang, aku pun bergegas menuju rumah untuk berpikir keras. Barang kali ada orang yang mampu menjelaskan tentang keberadaan ibu—Nissa di ruang bawah tanah.


Sesampainya di rumah, langkah kaki pun berhenti. Seketika kutoleh wajah sang ayah tengah bersiteru dengan Bi Ira. Seperti ada yang mereka tengah katakan. Namun, gelagat ayah tak seperti biasanya. Kali ini sangat serius dan menunjuk-nunjuk pintu ruang rahasia itu dengan jari kanannya.


"Bi ... kalau kamu mau kasih makan Marissa, jangan lawat pintu itu lagi."


"Tapi, Tuan ...."


"Kamu lewat pintu belakang saja. Kalau Refal tahu bagaimana? Pasti ia akan marah besar pada saya, Bi."


"Tuan ... menuju belakang itu harus putar arah. Dan jaraknya sangat jauh, bisa-bisa ... bibi tidak kuat untuk berjalan."


"Bukan alasan, Bi!"


"Ira! Kamu cuma pembantu di rumah ini. Jangan banyak alasan, atau kamu akan saya pecat sekarang!"


"Iya ... Nyah ... maafin saya."


Dalam samar, terdengar beberapa bentakan dari kedua orang tua. Tak biasanya mereka berkata sangat kasar pada Bi Ira.


Wanita paruh baya yang terkenal baik seantero itu kini menjadi bulan-bulanan kedua orang tua, karena ayah dan mama sangat tidak manusiawi, aku pun berjalan masuk melalui pintu rumah.


"Mama! Ayah! Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian marahi Bi Ira. Emang salahnya apa?" Seketika ruangan sangat hening.


"Kenapa kalian berhenti berkata? Ayo, lanjutkan. Siapa yang ayah maksud memberi makan Marissa? Siapa Marissa itu? Apa yang selama ini kalian sembunyikan dengan drama kucing-kucingan seperti sinetron."


Sang ayah pun berjalan mendekat dan menyentuh keningnya dengan tangan kanan. Ia mendekatiku dan menyentuh pundak ini sangat lembut, menarik napas panjang berulang-ulang.


"Nak, enggak ada yang ayah sembunyikan darimu. Semua yang kamu dengar tadi adalah sebuah masa lalu saja, dan ... dan ... ayah enggak sengaja membuka kembali masa itu. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi," ucap sang ayah. Lalu, kedua bola matanya seperti tengah berkaca-kaca.


Aku pun menepis tangannya perlahan. "Apa yang kalian sembunyikan dari Refal selama ini? Drama seperti apa yang Mama dan Ayah lakukan pada orang lain? Tolong jelaskan!"


"Refal! Kamu itu masih ingusan. Kamu belum tahu apa-apa. Sekarang! Kamu masuk kamar dan ganti baju kamu." Dari ujung posisi, mama angkat bicara.


Menaikkan nada suara, aku pun mulai ngegas. "Ma! Refal sudah tujuh belas tahun! Jangan bilang kalau Refal masih ingusan. Sekarang Refal tahu apa yang kalian sembunyikan!"


"Cukup! Refal! Kamu udah buat ayah emosi pagi ini."


"Kalian berdua adalah orang tua yang kejam! Gak punya hati! Gak punya pikiran! Di mana letak otak dan hati nurani kalian."


Tamparan keras mendarat di pipi kananku.


Plak!


"Dasar anak bajingan! Berani kamu melawan orang tua kamu sendiri! Bukan begini saya mendidik anak," hardik sang ayah. Seketika tatapan berubah ke arah samping badan.


Bi Ira pun berlari menemuiku. "Gusti ... ya, Allah ... Tuan! Mengapa kalian tega berbuat begini pada anak sendiri."

__ADS_1


Bi Ira memeluk tubuhku dengan penuh kasih sayang. Ia menangis histeris dan tak henti-hentinya mengelus rambutku.


"Den ... yang sabar, Sayang ...."


Aku pun mengubah posisi tatapan. Dari arah depan, sang ayah menatap tangan kanannya—bekas menampar pipiku sangat keras.


Kusentuh pipi perlahan, sangat sakit dan perih. Begitu juga hati, terasa sangat tersayat-sayat sembilu tajam.


Bi Ira menggandeng tanganku dan mengajak untuk segera pergi dari lokasi saat ini. "Den ... ikut bibi ke dapur. Jangan lanjutkan perdebatan ini. Ayo, Nak."


"Mungkin Refal bukan anak mereka, Bi. Refal adalah anak Bi Ira."


Dari posisi depan, sang ayah berjalan mendekat. Ia menyentuh pundakku perlahan. "Nak, maafin ayah."


"Enggak! Kamu bukan ayahku, kamu adalah orang lain." Seketika kutepis tangan kanannya.


"Nak ... ayah enggak sengaja! Maafin ayah."


"Kamu dan wanita itu bukan orang tua Refal. Jangan pernah sentuh saya lagi." Selesai berkata, aku memeluk tubuh Bi Ira.


"Aden ... jangan ngomong gitu, Sayang. Ayo, kita ke dapur aja. Bibi udah masak sayur kesukaan Aden," ajaknya dengan nada lembut, tetapi masih menangis tersedu-sedu.


Dengan langkah penuh kekecewaan, aku bergegas meninggalkan lokasi perdebatan. Bi Ira merangkul tubuh lemah ini dan memandang wajahku penuh dengan kasih sayang, sungguh ketulusannya tak mampu tergantikan oleh apa pun di dunia ini.


Sementara dari posisi awal, ayah masih berlanjut untuk bersitegang dengan sang mama.


"Kamu lihat, 'kan, Siska. Anak saya sampai melawan saya hari ini karena apa? Karena ulah kamu yang selalu saja melarangnya dengan memaksa perempuan yang kamu pilih!"


"Kok, saya, Mas! Dengar, ya, Refal itu memang anak yang enggak bisa di arahkan. Saya melakukan ini agar ia enggak salah pilih pasangan, biar ia enggak hidup susah kelak."


"Yang ada di otak kamu cuma uang dan harta terus. Di mana letak hati nurani kamu sebagai Ibu!"


"Terserah! Jika Refal akhirnya enggak mau mengikuti ucapan saya, ia boleh keluar dari rumah ini, Mas."


"Gak bisa, Siska. Rumah ini masih atas nama Marrisa, saya belum mengganti surat kepemilikan ini."


"Jadi! Kamu bohong sama saya, Mas!"


Seketika ayah menaiki anak tangga lantai dua, ia berjalan sangat laju meninggalkan sang mama. Di atas meja makan, aku cuma bisa memantau mereka yang setiap hari mempermasalahkan harta dan uang. Sungguh manusia menuhankan uang tak pernah sedikit pun berpikir pada pemberinya.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم


عن أبى هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تَعِسَ عبدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وإنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ 


Rasulullah SAW bersabda:


"Merugilah budak dinar, dirham, dan qathifah (pakaian). Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia tidak ridha.'' (HR Bukhari dari Abu Hurairah).


Pada hadis di atas, Rasulullah SAW mengingatkan manusia yang menuhankan uang (dinar dan dirham) akan merugi, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Pertama, karena manusia seperti ini akan tersibukkan oleh urusan uang, sehingga melalaikan kewajibannya terhadap Allah SWT.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2