Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
47. Cobaan Yang Datang Silih Berganti


__ADS_3

Tepat di depan toko kue yang menjual berbagai aneka bentuk, aku tertegun seraya menatap dompet di tangan kanan. Secara saksama, pandangan pun tidak beralih ke posisi lain dikarenakan keadaan yang begitu memprihatinkan. Tak seperti biasanya, pengeluaran untuk bulan ini jauh berbeda dengan bulan lalu.


Karena aku sudah terlalu lama berdiri, akhirnya keputusan pun ******* untuk memasuki toko kue tersebut demi memberikan kejutan untuk Anissa—anakku. Semoga, uangnya cukup dan dapat membeli seperti keinginan putriku.


Selepas membatin, aku bergegas memasuki toko kue seraya celingukan tanpa henti. Ini adalah kali pertama aku singgah di toko tersebut. Menurut pengakuan dari Risma, kue yang banyak dibicarakan para pembeli hasil buatan dari toko itu. Tidak salah lagi, memang di dalam ruangan bercat putih dikombinasi biru muda itu sangatlah padat dan ramai.


Tidak salah jika toko tersebut sangatlah populer saat ini. Namun, yang membuat aku merasa sangat canggung adalah, dikarenakan uang di dalam dompet sangatlah jauh dari kata cukup. Takutnya, aku tidak bisa membawa pulang kue yang dibandrol dengan harga fantastis.


Setelah hampir tiga menit tertegun, seorang pelayan berseragam merah datang menghampiri. Dari wajahnya, tampak sangat ramah, sehingga aku membuang senyum simpul untuknya.


“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pelayan itu.


“I-ini, Mbak, saya mau mencari kue,” jawabku seraya celingukan pada pengunjung yang lalu lalang tanpa henti.


“Mau yang harga berapa, Mbak? Mari, saya bantu mencarinya,” ajak pelayan berhijab yang aku tak tahu siapa namanya.


Kami pun berkeliling seraya mencari harga kue yang pas untuk kondisi keuangan saat ini. Namun, selama berjalan sedari tadi, tidak ada satu pun kue yang harganya sangat sesuai. Karena sangat bingung, aku pun akhirnya merasa putus asa karena terpaku pada kue bergambar boneka dengan warna merah muda.


Sementara pelayan di samping kanan hanya memerhatikan tingkahku sedari tadi. Aku pun menyentuh tangan kanan palayan itu dengan sangat lembut.


“Mbak,” panggilku singkat.


“I-iya, Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya seraya menatap mantap wajah ini.


“Apakah harga kue ini tidak ada yang lebih murah. Soalnya, saya tidak memiliki uang seperti bandrol yang tertera.”


“Mau yang harga berapa, Mbak?” tanyanya lagi.


“Uang saya hanya segini.” Aku menyodorkan uang kertas di hadapan pelayan itu, dari gelagatnya, dia seperti memerhatikan uang tersebut secara saksama.


“Kalau boleh tahu, kuenya untuk siapa, ya?”


“Untuk anak saya, Mbak,” jawabku dengan sejujur-jujurnya.


“Ya, sudah, Mbak mau kue yang karakter seperti apa?” tanyanya seraya mengernyitkan alis.

__ADS_1


Karena sangat malu, aku menunjuk kue yang bermotif boneka dengan warna merah muda. Namun, aku tidak berani untuk berkata-kata karena sudah pasti harganya sangatlah mahal.


“Oh, yang ini. Baiklah, biar saya bungkus dulu.”


“Ta-tapi, Mbak.” Tanpa menghiraukan perkataanku, pelayan itu tetap berjalan menuju kasir pembayaran.


Mampus aku, bagaimana kalau ternyata uangnya kurang. Betapa malunya aku. Haduh ..., batinku bersenandika tanpa henti.


Setibanya di depan kasir pembayaran, aku berhenti seraya tertegun di samping pelayan cantik itu. Dengan sigap, dia membungkus kue yang tadinya aku tunjuk sesuai selera. Selesai membungkus, palayan itu menyodorkan kue ke hadapanku.


“Ini, Mbak, kuenya,” ucap palayan itu sangat lantang.


“Berapa, Mbak, harganya?” tanyaku seraya menyusun uang yang tersisa di dalam dompet.


Ketika aku menyodorkan uang itu, pelayan di hadapan pun menyibak uang pemberian dariku sesaat.


“Mbak, uangnya simpan saja.”


“Ma-maksudnya, Mbak?” tanyaku seraya menatap mantap pelayan tersebut.


“Serius ini, Mbak? Saya jadi merepotkan,” titahku sembari menadahkan kepala di atas lantai.


Pelayan itu menarik tanganku dari kasir pembayaran, dia seakan mengajak aku untuk duduk di kursi yang ada di depan jajaran kue lainnya. Kemudian, dia pergi ke depan seraya membawa minuman hangat dua gelas. Saking malunya, aku sekadar mengikuti apa yang menjadi aksinya saja.


“Mbak, minum dulu,” katanya seraya menyodorkan teh hangat.


“Saya jadi merepotkan seperti ini, Mbak,” jawabku.


“Enggak apa-apa, Mbak. Oh, ya, namanya siapa, ya?” tanyanya penuh selidik.


“Nama saya Marissa.” Aku menyodorkan tangan kanan untuk menjabat tangan lawan bicara.


“Saya Miranda,” jawabnya seraya meraih tanganku.


“Senang berkenalan dengan kamu, Mbak, saya berterima kasih sekali atas semua ini.”

__ADS_1


“Anggap saja saya berbagi. Kalau boleh tahu, anak Mbak enggak diajak ke sini?”


“Anak saya lagi pemulihan masa sakit, Mbak, jadi saya belum bisa ajak dia ke mana-mana,” jelasku.


“Astaghfirullah, saya turut prihatin, Mbak,” jawabnya dengan nada suara parau.


“Semoga, perbuatan baik kamu ini dibalas oleh yang Maha Kuasa, dan selalu mendapatkan rezeki melimpah,” ucapku memberikan doa untuknya.


Kami pun meneguk teh hangat bersama-sama. Tak berapa lama, aku menatap arloji di tangan kanan, ternyata sang waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dengan berat hati, aku pun harus segera pulang ke rumah agar Anissa tidak terlalu lama menungguku.


“Mbak, saya kembali bekerja dulu, ya,” katanya seraya menatap menuju pengunjung yang semakin malam semakin ramai.


“Iya, Mbak, saya juga mau pulang. Takutnya, anak saya menunggu di rumah.”


“Oh, boleh, Mbak. Hati-hati di jalan. Jangan lupa sering-sering mampir di sini,” katanya, kemudian dia berdiri dan memperbaiki seragamnya.


“Mbak, saya permisi dulu, assalammualaikum ...,” sapaku.


“Wa’alaikumsallam ...,” jawabnya.


Kami pun berpisah di ruangan yang memberikanku rasa nyaman. Orang-orang berhati malaikat hari ini datang menyapa. Sehingga aku sangat bersemangat menjalani hidup dan menafkahi anakku. Ternyata rezeki telah ditetapkan oleh Tuhan, sehingga aku tidak perlu lagi mendikte akan kebesarannya.


Tepat di tepian trotoar, aku menunggu angkutan umum yang tidak melintas sama sekali. Padahal, malam ini tidaklah larut, seharusnya ada mobil untuk menuju ke rumah. Saking gelisahnya, aku pun mendudukkan badan di sebuah halte dengan menatap mantap mobil di jalan lintas.


Sang waktu terus berjalan, akan tetapi orang yang melintas semakin minim dan aku merasa sangat gelisah. Sementara ojek online yang menjadi langganan pun tidak merespons sama sekali chat dariku.


Haduh ... kenapa malam ini enggak ada yang lewat, sih, angkutan umum. Bisa-bisa aku kemalaman pulang. Pasti Anissa dan Bi Ira khawatir, batinku berkata.


Karena aku merasa sangat was-was, akhirnya aku mencoba untuk menghubungi ponsel Bi Ira. Namun, tiba-tiba ponsel milikku kehabisan baterai dan mati dengan cepat.


Tak berapa lama, sebuah tapakkan kaki terdengar pasih dari telingaku. Entah siapa yang datang dari samping kanan, ketika aku menoleh, di sana tidak ada siapa pun. Sementara di samping kiri, terdengar suara demikian. Namun, aku menoleh ke kiri dan di sana juga nihil tidak ada siapa pun.


Batin masih berkecamuk dengan rasa takut, karena perasaan itu terus tumbuh seakan tak mau beringsut pergi.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2