Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
88. Anak Dari Sang Duda


__ADS_3

“Tante, kami pergi dulu ....” Ziva pun menyalim si mama dan Bi Ira dengan sangat lembut.


“Ma, Nissa juga pergi.” Kemudian, aku juga menyalim kedua wanita yang saat ini tertegun di ambang pintu.


“Kalau belajar yang serius, jangan main-main. Dan satu lagi, kalau sedang berkendara jangan main handphone. Kalian harus fokus,” ujar si mama memberikan nasihat.


“Siap, Tan!”


Kami pun akhirnya beringsut dari ambang pintu dan menuju sebuah mobil mewah berwarna merah. Kendaraan yang biasa kami naiki beberapa bulan ini, adalah sebuah pemberian dari seorang laki-laki untuk anaknya bernama Ziva. Padahal aku tidak mau pergi dengannya dikarenakan keadaan, rasanya tidak pantas diri ini untuk menaiki kendaraan semewah itu.


Setelah keluar dari halaman rumah, kami pun menuju jalan Sudirman dan ingin segera sampai di sekolah. Namun, sekitar area yang menghubungkan antara jalan biasa untuk menuju, malah dilanda macet sehingga kami harus putar balik dan bergerak menuju jalan tol. Waktu pagi ini terasa sangat singkat, arloji sudah menujukan pukul 07.00 dan sekitar lima belas menit lagi kami harus sampai sekolah.


Jam pertama, akan ada Pak Reza yang membawakan pelajaran matematika. Senin adalah hari di mana hampir membuat kami berpikir keras, apalagi kalau bukan perihal pelajaran. Serta semua tugas-tugas darinya harus bisa dijawab meskipun itu salah. Namun, aku sangat senang dengan guru seperti Pak Reza, selain tampan, dia juga sangat senang membagi ilmunya pada siapa pun.


Tak hanya itu, sejak aku masuk ke SMA Tunas Bangsa, dialah guru satu-satunya yang mampu membuat aku malu ketika menatap kedua netranya. Entah rasa apa yang tumbuh dalam diri, sehingga berani bertanya secara langsung dan menemui, jika ada materi yang tidak aku pahami. Padahal ketika belajar pada guru lain, diri ini terasa biasa saja jika tak mengerti.


Sebisa mungkin aku harus menjaga jarak dengannya, karena aku takut kalau kekasih dari Pak Reza akan merasa kecewa dengan kedekatan kami berdua. Di sekolah aku terbilang sangat ramah, akan tetapi tidak banyak yang mengenal.


Karena badan pun terasa sangat tidak ingin keluar ruangan walaupun hanya sekadar membeli makanan, semua berkat Ziva, dia rela membelikan titipan pesanan jika diri ini merasa sangat malas keluar.


“Hei! Dari tadi bengong aja. Kenapa kamu, Nis!” bentak Ziva di samping kiri.


Karena merasa sangat kaget, aku pun menatap lawan bicara secara spontan. “Ih, kamu, ya. Buat aku kaget aja tau enggak. Kalau jantung aku copot bagaimana?”


“Lagian, siapa suruh diam terus. Emang lagi mikirin apa, sih, kamu?” tanya Ziva penuh selidik.


“Enggak ada, aku enggak lagi mikirin apa pun.”


“Bohong! Dari raut wajah kamu, nampak kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Udah, deh, ngaku aja ...,” titahnya sedikit memaksa.


“Suer ... aku enggak lagi mikirin siapa-siapa. Hanya lagi mikirin pelajaran Matematika nanti. Pasti banyak tugas dari Pak Reza.”

__ADS_1


“Hayo ... mikirin pelajarannya, atau mikirin orangnya? Aku tahu, kok, kalau kau sebenarnya lagi dekat dengan Pak Reza,” cetusnya secara spontan.


“Ih, resek banget tau enggak. Mana mungkin aku suka sama guru sendiri, ada-ada aja.” Dengan ucapan sedikit kesal, aku membuang tatapan menuju jendela mobil.


Apa iya, ya, kalau aku lagi mikirin Pak Reza? Enggak-enggak, aku enggak lagi mikirin siapa pun. Memang, sih, tadi sempat terlintas sebentar perihal wajahnya.


“Tuh, kan, lagi merenung lagi. Pasti lagi mikirin seseorang. Atau lagi mikirin anak baru itu, ya?” tanyanya lagi.


“Anak baru yang mana?” tanyaku balik.


“Itu, loh, siapa namanya ...? Kepal, kapal, atau sampan aku lupa.”


“Refal kali, ngapa larinya ke kapal?”


“Iya, aku rada lupa. Soalnya enggak penting juga mengingat nama dia. Yakan ... ngaku aja, deh,”


“Ziva, pesan mama aku tadi di rumah apa? Kalau menyopir, jangan banyak bercanda. Ucapan orang tua adalah doa,” ujarku seraya mengingatkan.


Tak berapa lama, kami berdua sampai di depan pintu gerbang sekolah. Para siswa dan siswi di samping jalanan pun minggir ketika mobil kami tengah melintas. Kedatangan ini menjadi sorotan tersendiri dan ada daya tariknya, karena jarang di sekolah ada siswa yang membawa mobil pribadi sebagai kendaraan.


Sementara di samping kanan, sudah ada beberapa siswi perempuan tengah menggerompok. Entah apa maunya mereka, karena sedari tadi menatap sejurus ke arah kami ketika melintasi halaman sekolah.


“Ziv, mereka kenapa melihat mobil kamu segitunya, ya?” tanyaku penasaran.


“Biasalah, mereka adalah geng dari gedung sebelah. Musuh bebuyutan aku selama di sekolah ini,” jawab Ziva sekenanya.


“What? Jadi kamu ada musuh juga di sekolah? Aku pikir kau anak yang baik-baik aja,” titahku.


“Ya, enggaklah ... mereka itu anak yang sangat bawel.”


“Ma-maksudnya?” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Iya, karena mereka sering memberitahu Bu Intan kalau aku bolos dari sekolah. Padahal, nih, ya. Aku itu kalau bolos bukan lompat pagar, tetapi memang enggak masuk dan sekadar foto-foto di kafe.”


“Lah, lantas hubungan mereka apa? Kan, yang bolos adalah kamu.”


“Nah, itu dia yang aku kesalkan. Kenapa mereka yang kepo banget sama hidupku. Padahal, tanpa belajar pun, aku bisa rangking umum di sekolah ini.”


“Mulai sombongnya. Yuk, kita keluar aja. Entar telat lagi masuk ruangan,” ajakku seraya menggandeng tangan sang sahabat.


Kami pun keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Ziva dari kiri, aku dari kanan. Kemudian kami bertemu di kaca spion seraya menatap pantulan sosok diri dari balik cermin lonjong itu. Setelah selesai, kami bersama-sama pergi dan ingin melintasi teras sekolah.


Akan tetapi, kami dikejutkan dengan sebuah kendaraan yang melintas sangat kencang dengan knalpot oblong.


“Minggir ...!”


“Ach ...!” teriakku dan Ziva seraya menjongkokan badan di depan teras.


Saking takutnya tertabrak motor, kami berdua menutup wajah menggunakan kedua tangan. Setelah suara motor itu hilang, perlahan netra pun terbuka perlahan.


“Siapa, sih, yang cari gara-gara sama aku! Dia enggak tahu apa, kalau bokap aku yang punya sekolah ini!” pekik Ziva seraya membangkitkan badan.


“Ziv, aku enggak mati, kan?” tanyaku seraya mendongak.


“Nissa, kau tunggu di sini, biar aku yang mencari anak tadi.” Tanpa menunggu, Ziva pun pergi dari peredaran dan menuju sebuah parkiran motor.


“Tunggu ...!” teriakku seraya berlari kencang.


Setibanya di sebuah parkiran motor, aku tercengang dengan sebuah penglihatan yang tidak biasa. Ya, di sana telah banyak siswa laki-laki yang sedang bercerita. Sudah pasti, karena gedung dua tempatnya anak-anak SMK dari jurusan otomotif.


Walaupun di sana ada yang perempuan, tetapi dapat dihitung dengan jari. Sementara Ziva, berjalan santai dengan menyibak beberapa seragam sekolah siswa itu. Tatapannya juga seperti sangat jijik.


Tepat di depan seorang siswa, Ziva tertegun seraya berkacak pinggang. Kemudian, siswa laki-laki di sekitar seakan tahu ketika perempuan tomboi itu datang, mereka hanya menadahkan wajah menuju bumi semesta.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2