Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
81. Duda Punya Selera


__ADS_3

Setibanya di depan kantor, aku pun turun dari mobil seraya berjalan sedikit gontai. Sementara Diman, telah pergi lebih dulu karena harus memantau tugas yang telah aku berikan padanya. Dilengkapi dengan sepatu hitam dan jas hitam, serta koper cokelat di tangan kiri seakan menambah karismatik sebagai seorang pria masa kini.


Tubuh yang atletis juga aku miliki, serta wajah yang kian hari semakin tampan dan tiada kerutan sama sekali. Dengan gaya percaya diri, kedua kaki melintasi koridor dan perbatasan antara perusahaan dan bangunan bertingkat sepuluh. Perusahaan yang sedang dikelola oleh Mario sangat menjanjikan untuk kelangsungan hidup perusahaanku.


Apalagi dia telah menandatangani kontrak kerjasama beberapa hari yang lalu, dengan bagi hasil dan beberapa keuntungan lainnya akan masuk secara otomatis ke kas perusahaan. Tepat di depan pintu, para karyawan pun bergeming seraya membawa berkas berwarna kuning. Namun, tak satu pun dari mereka mau menyapaku pagi ini.


Padahal, aku telah beberapa kali menghadiri rapat di kantor tempat mereka bekerja. Tak berapa lama, sebuah rombongan yang mengendarai mobil-mobil mewah berwarna hitam datang seraya memboyong suara seperti tengah ada konser band besar. Ya, suara itu datang dari halaman depan perusahaan menuju parkiran. Akan tetapi, ada juga yang sengaja memarkirkan mobil mewahnya di depan perusahaan.


Melihat mobil-mobil yang dimiliki oleh Mario dan para karyawannya, membuat aku sangat iri. Karena sampai saat ini aku belum bisa membeli kendaraan semahal itu. Produk limited edition buatan Negara Paman Sam itu menjadi sorotan publik. Bukan hanya pasang mata di kantor saja, melainkan orang-orang yang ada di luar jalan raya.


Ketika para komplotan mereka melintas, sudah pasti para pengendara yang tak memiliki nyali akan menghindar tanpa disuruh. Ya, begitulah kepopuleran Mario di negara ini. Namun, aku tetap tidak merasa canggung padanya, karena semua manusia itu memiliki jiwa berbisnis yang berbeda. Bisa jadi dengan adanya kerjasama ini, kami dapat membuat perusahaan lebih maju ke depannya.


Sepatu berwarna hitam pun keluar dari dalam mobil disusunan kursi nomor dua, tapakkan kecil mendarat seakan memberikan sentuhan ringan pada permukaaan bumi. Seorang pemuda yang sekarang telah menduda itu keluar dari dalam mobilnya seraya memperbaiki jas dan dasi di lehernya.


Siapa lagi kalau bukan Mario, sang pemilik perusahaan terkaya di negeri ini. Sementara para cecunguknya juga ikut bergaya layaknya seorang bos besar, mengenakan jas yang sama dan mobil mewah yang sama. Kelima tangan kanan Mario memanglah tampak sekilas seperti seorang pimpinan. Menandakan kalau pria berkumis tipis itu berhasil membuat para karyawannya makmur bekerja dengannya.


Yang membuat aku merasa tercengang adalah, bukan sekadar cecunguk di belakangnya. Akan tetapi para karyawan milik Mario hampir sembilan puluh persen berjenis kelamin laki-laki. Jarang sekali terlihat seorang wanita di sini, atau memang Mario adalah pecinta yang seperti itu.


Akan tetapi, kalau dilihat dari pesonanya, dia tampak lelaki normal dan berjiwa sangat ke-bapak’an. Seluruh pasang mata masih menatap mereka berjalan, sejurus dan bergerak lambat seperti sebuah film seorang CEO di era saat ini.


Setibanya di ambang pintu, aku pun minggir sejenak menuju tembok, tepat di samping sebuah karyawan Athena One. Sedari tadi, karyawan lelaki mengenakan jas cokelat itu hanya bergeming, bahkan seperti patung tanpa nyawa.


“Maaf, Bapak adalah rekan kerja Bos Mario?” tanya karyawan itu.

__ADS_1


“I-iya, saya adalah rekan kerjanya,” jawabku seraya membuang cengir tipis.


“Loh, kenapa enggak ikutan masuk? Sebentar lagi rapat akan segera di mulai,” ujarnya lagi.


“Benarkah? Kok, bisa secepat itu? Lagian kami berjanji akan melaksanakan rapat tepat di jam sembilan pagi.”


“Pak, ini sudah jam sembilan lewat satu menit. Lebih baik Anda ke sana, karena nanti kena sindir sama si bos,” ujarnya seraya menatap komplotan yang tadi melintas tanpa menoleh sama sekali.


“Oh, iya, saya akan ke sana. Kamu enggak ikut rapat?” tanyaku.


“Ikut, Pak, mari kita pergi bareng saja,” ajaknya mempersilakan.


Kami berdua menaiki lif bersamaan, dan tujuan utama adalah hendak pergi ke lantai sepuluh yang berada paling depan. Entah kenapa, rapat pagi ini sangat berbeda dengan yang lalu, karena berganti ruangan dan membuat aku sedikit pusing melihat ruangan berkelok di perusahaan tersebut.


“Bagaimana, bisa kita mulai saja rapatnya pagi ini?” tanya Mario.


Tanpa menjawab, semua hanya terfokus padanya yang sedari tadi sudah tertegun di depan sebuah pantulan proyektor. Sebagai penggerak laptop, seorang karyawan tampan itu sangatlah cepat dalam mengganti materi, sehingga rapat kali ini sedikit kondusif karena ruangan sangatlah wangi dan sejuk.


Seandainya ruang kantor aku seperti ini, sudah pasti aku betah berada di ruangan. Hmmm ... tapi kapan, ya, bisa punya perusahaan sebesar dan semewah ini? tanyaku bersandika.


Dalam pembahasan rapat kali ini, aku tidak fokus pada pembicara, karena hanya memuji kepemilikan yang sekarang telah dipegang oleh Mario. Namun, semua menjadi motivasi tersendiri untuk membangun perusahaan yang lebih baik ke depannya.


“Apakah ada yang kurang jelas dengan pembahasan saya pagi ini?” Secara spontan, Mario berkata seakan memecah keheningan suasana.

__ADS_1


Dari sudut sebelah kiri, seorang pemuda yang merupakan pemilik perusahaan dari luar negeri pun bertanya perihal pembahasan. Dengan sigap, Mario dapat menjawabnya dengan sangat mudah. Selain terlahir kaya raya, dia juga sangat pintar dalam berbisnis dan menjalin kerjasama. Pantas saja perusahaan miliknya saat ini telah memiliki cabang di berbagai negara dan Indonesia sendiri.


Rapat pun berakhir, tepat di jam makan siang. Seisi ruangan mengahambur keluar satu persatu. Aku adalah orang paling akhir yang beranjak pergi, meskipun Mario dan para cengunguknya masih ada di dalam ruangan itu.


“Pak Revan!” panggil Mario dari kursinya.


Mendengar panggilan itu, aku pun berhenti dan menoleh sedikit. “Iya, Pak, ada apa, ya?”


“Silakan duduk di sini sebentar, ada yang mau saya tanya pada Anda,” suruhnya.


“Perihal apa, Pak Mario?” tanyaku lagi.


“Ah, sudahlah ... sesuatu yang sangat pribadi,” katanya lagi.


Karena kedengarannya sangat serius, aku pun memutar badan seraya berjalan menuju pusat suara. Setibanya di samping Mario, aku mendudukkan badan di kursi tepat berada di hadapannya.


Ini orang mau apa, ya, dari tadi melihat aku terus. Atau jangan-jangan kecurigaan aku benar lagi, kalau dia enggak normal dan mau mengajak aku pergi, batinku bermonolog.


“Bos, kami permisi pergi,” ucap kelima karyawan yang tadinya ada di ruangan.


“Oke, kalian kembali bekerja,” jawab Mario mempersilakan.


Tuh, kan, apa yang aku bilang. Ah, masa iya dia enggak normal?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2