Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
59. Sandiwara Di Atas Sandiwara


__ADS_3

Jam dinding terus bergulir, memboyong sang waktu untuk larut pada malam ini. Namun, tepat pukul 24.00 tengah malam, aku hanya sekadar berduaan dengan Bos Andreas yang sedari tadi memerhatikan tanpa jemu, entah apa yang dia rasakan saat sekarang. Untuk memulai berbicara dan ingin pulang ke rumah, aku tak mampu. Sehingga aku hanya menanti Bos Andreas saja berkata.


Setelah makanan dan minuman telah habis, si bos menatap arlojinya seraya mengeryit bersamaan. Kemudian dia menatap ke depan sejurus pada kedua netraku. Dengan harapan, kalau dia akan mengajak aku untuk segera pulang. Karena di rumah, Anissa dan Bi Ira sudah pasti sangat khawatir.


Aku tidaklah sering keluar tanpa pamit seperti ini, hanya karena ajakan si bos yang mengharuskanku untuk keluar bersamanya hingga larut malam. Tak berapa lama, Bos Andreas mengambil ponselnya dan membuka notifikasi di layar tersebut. Tampak dari raut wajahnya, menggambarkan pria yang bertanggung jawab, berwibawa, serta penyayang. Meskipun aku hanya menebaknya saja, sejauh ini belum tau sifat aslinya seperti apa.


Sebagai manusia biasa, aku hanya bisa berprasangka baik saja, apalagi dia telah baik padaku dan mau menerima si wanita gembel ini untuk bekerja di kafe miliknya.


“Marissa,” panggil si bos.


“Iya, Bos,” jawabku.


“Kita pulang saja, yuk, sudah larut malam. Entar keluarga kamu pada khawatir lagi jika berlama-lama,” titahnya menjelaskan.


“I-iya, Bos, saya juga mikirnya seperti itu tadi.”


“Oke, kamu berjalan lebih dulu ke pintu keluar. Biar saya membayar makanan dulu di bartender,” suruhnya seraya merogoh kantong celana bagian belakang.


“Baik, Bos.” Selepas menjawab, aku mengikuti perintahnya dan berjalan menuju ambang pintu.


Terlihat dari ekor netra, si bos sangat gembira malam ini, sedari tadi selalu membuang senyum simpul ketika hendak berkata. Aku pun merasa sangat senang jika dia bisa bahagia seperti itu, karena yang aku tahu, dia adalah laki-laki yang tidak pernah menebar senyum ketika di kafe.


Tepat malam yang dingin, keheningan malam tak terpecahkan oleh sinar rembulan yang telah tertutup awan hitam bergerak anggun ke sana dan ke mari, aku tertegun dengan menatap koridor sebelah kiri. Tiba-tiba, sentuhan lembut mendarat di pundakku sebelah kiri, lalu kutoleh menuju pusat siapa gerangan yang menyentuh tadi.


Di sana telah ada Revan—mantan suamiku, membuang senyum simpul seperti ketika awal kami bertemu ketika waktu sekolah. Namun, aku telah merasa muak dengan sikap sok lembutnya sebagai manusia pendosa bertopeng malaikat, aku pun berdiam diri seraya bergeming tanpa suara.


“Marissa, kamu ngapain di sini?” tanyanya.


Aku tak menjawab sama sekali pertanyaannya, seraya berkacak pinggang, tatapanku pun hanya sejurus menuju plafon ruang kafe.


“Marissa, kamu kenapa begini? Tolong jelaskan pada saya, apa salah saya?”

__ADS_1


“Cukup! Mas, kamu jangan tanya lagi kesalahan kamu apa. Pengkhianat, kamu enggak lebih dari seorang binatang.”


“Marissa ... aku sudah meminta maaf padamu, pada anak kita, tetapi kenapa kamu tetap keras kepala seperti ini?! Atau jangan-jangan, kau sudah punya laki-laki baru yang akan menikahimu.”


Mendengar ucapannya, aku spontanitas menatap. Namun, mulutku merasa terkunci untuk menjawab. Sehingga aku hanya membulatkan kedua netra dan menarik napas berat berulang-ulang.


Tak berapa lama, si bos pun datang tepat pada waktunya. Dia tertegun di samping kananku seraya menatap wajahku yang sempat kesal akibat kehadiran Revan barusan.


“Marissa, kamu kenapa? Siapa dia?” tanya Bos Andreas penuh selidik.


“Enggak siapa-siapa, Mas, hanya laki-laki gila yang selalu mengikutiku,” jawabku seraya menggandeng tangan Bos Andreas.


“Oh, kalau begitu kita pergi saja dari sini, mari,” ajak Bos Andreas dan menggandeng tanganku erat.


“Iya, Mas,” jawabku singkat, kemudian tatapan ini hanya tertuju pada wajah kesal Revan yang masih menatap dari kejauhan.


Maaf, Mas, aku melakukan ini sekarang. Kalau dulu kau bisa menyakiti aku, kenapa sekarang aku enggak bisa. Semoga kau menjauh dari hidup ini, agar kita tidak ada lagi yang namanya bersama ataupun balikan.


Tapi tidak apa-apa, lambat laun aku akan membuat hidup Revan dan Siska akan menderita. Bahkan mereka akan merasakan sakit yang pernah mereka lakukan dahulu. Tepat di dalam mobil, kami bergerak keluar dari halaman kafe menuju jalan lintas untuk kembali pulang.


Di sepanjang jalan, aku sekadar fokus menatap depan tanpa memerhatikan si bos di samping kanan. Rasanya aku merasa sangat puas setelah membuat panas Revan di kafe tersebut.


“Marissa,” panggil si bos.


“I-iya, Bos,” jawabku.


“Apakah saya boleh bertanya?” tanyanya.


“Boleh, Bos, silakan saja,” jawabku lagi.


“Perihal laki-laki tadi, apakah kamu benar tidak mengenalnya?”

__ADS_1


Pertanyaan itu akhirnya terlontar kembali, akibat dari rasa ingin tahu yang berlebihan dari si bos, membuat mulut ini terbungkam dan sukar untuk menjelaskan tentang siapa laki-laki yang menjadi pertanyaan.


“Saya tidak kenal, Bos,” jawabku spontan.


“Oh, syukurlah, karena saya melihat dari netra laki-laki itu tampak tulus ketika berbicara padamu tadi, sehingga saya merasa kepo dan ingin tahu.”


“Kami pernah kenal, Bos, tetapi dulu. Beberapa tahun lalu, akan tetapi kami tak pernah bertemu dan tadi adalah saat yang tak terduga-duga.”


“Oh, teman lama, ya?” tanyanya.


“Begitulah, Bos,” titahku.


Walaupun aku berkata dengan penuh kebohongan, akan tetapi tidak lain untuk menutupi segala aib yang ada dalam diri ini. Aku tidak mau kalau semua orang tahu masa lalu kelamku dulu, karena bisa membuat diri ini merasa sangat depresi dan menjadi beban pikiran saja.


Selang beberapa menit, kami pun sampai di depan rumah dengan pintu gerbang yang telah terbuka sangat lebar. Itu artinya, Anissa dan Bi Ira masih ada di dalam rumah dan belum tidur. Kami berdua keluar dari dalam mobil seraya berdiri di tepian trotoar.


“Mas, terima kasih telah mengajak saya makan malam,” ucapku.


“Iya, sama-sama. Yang harusnya terima kasih adalah saya, karena kamu mau menemani saya makan malam.”


“Oh, ya, Mas, hati-hati kalau pulang. Di jalan menuju ke sana sangat rawan, saya enggak mau kalau kamu entar kenapa-kenapa.”


“Iya, Mar, saya akan mengingat ucapan kamu. Terima kasih sudah perhatian pada saya,” jawabnya.


Mampus aku, bisa-bisanya lagi menasihati si bos. Kan, kelihatan banget kalau aku ganjen sama dia. Enggak bisa dijaga banget ini mulut, astaga ..., batinku.


“Ya, sudah, kalau begitu saya masuk ke rumah dulu, Mas.”


“Silakan, saya juga akan langsung pergi. See you ....”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2