Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
39. Anakku Amnesia


__ADS_3

Revan POV


Malam-malam tidak seindah dengan kehidupan ketika dulu. Semua tampak berbeda 180 derajat, serta orang-orang yang pernah ada sebagai penyemangat telah pergi entah ke mana. Dalam suasana gelap, ketika rembulan berhasil ditutup rapat oleh awan yang hitam.


Kini, aku sendirian dalam posisi bergeming tepat di balkon lantai dua. Sementara pikiran masih berkecamuk pada putra semata wayang, yang sekarang masih terbaring lemah melawan ironi kehidupan. Namun, aku tak menyangkal kalau kejadian ini murni kesalahannya, karena dalang di balik susahnya keluarga adalah bersumber dariku.


Lantunan suara lolongan anjing memecah keheningan malam. Gairah untuk hidup lebih lama seakan sirna ditelan waktu. Untuk kembali ke pelukan Marissa dan Anissa, rasanya tidak mungkin lagi terjadi. Di sisi lain, aku masih menutup rapat-rapat perihal siapa mereka berdua di depan putraku.


Karena aku tahu, Reval sangatlah mencintai Anissa—saudara kandungnya sendiri. Ketika dia tahu yang sebenarnya, entah seperti apa jadinya dia nanti. Mungkin saat ini, aku membiarkan semuanya berjalan seperti air yang mengalir.


Dalam samar, tapakkan kaki seseorang terdengar dari luar kamar. Entah siapa yang datang ke atas lantai dua, padahal sedari tadi aku sudah memberitahukan pada semua pembantu agar tidak menerima tamu siapa pun itu.


Tidak berapa lama, ketukan pintu terdengar tiga kali. Kutoleh sepintas ke arah belakang badan, kemudian tatapan pun kembali tertuju sejurus pada bintang-bintang.


“Sayang,” panggil seseorang bernada suara wanita.


Sepertinya aku mengenali siapa dia, tanpa memutar wajah aku pun menjawab, “untuk apa kau ke sini!”


“Sayang, aku kangen saat-saat bersamamu.”


“Tetapi aku tidak,” jawabku memungkas ucapan kala itu.


“Kenapa? Apakah kamu sudah punya yang lain di luar sana?” tanyanya bertubi-tubi.


Mendengar ucapan itu, aku mengembuskan napas panjang seraya memutar badan. Lalu aku menjawab, “bukan aku yang melakukan hal seperti itu, coba pertanyaan kamu, aku kembalikan padamu.”


“Mas, jangan seperti itu terus. Aku sudah berubah, sekarang kita tidak ada lagi orang ketiga. Walaupun—“ Siska menggantung ucapannya.


“Walaupun? Marissa, maksud kamu?” sambarku.


“Aku tidak tahu sebenarnya tentang perasaan kamu padanya, Mas. Tetapi belakangan hari, semua tampak jelas. Kamu sekarang berubah,” jawabnya, lalu dia berjalan menemuiku di samping kanan.


Malam ini tak ada sepatah kata pun dapat terucap, selain hanya semilir angin yang menggoyangkan dedaunan dan bergesek terbang ke sana dan ke mari.


Kita bicara tentang cinta, bukan sebuah perjuangan semu yang dibalut dengan pengkhianatan. Namun, ada kalanya kita harus mundur, untuk menenangkan diri agar semua terjalin menjadi indah. Yang tidak bisa aku lakukan adalah, pergi dan meninggalkan Siska. Karena yang kutahu, Reval sangat menyayangi ibunya.


Apabila perpisahan itu terjadi, otomatis akan membuat putraku sangat merasa sedih.


Tiba-tiba, ponselku pun berdering keras. Panggilan itu datang dari dokter yang merawat Reval di rumah sakit. Dengan sigap, aku mengangkat telepon itu.

__ADS_1


[Hallo.]


[Hallo, Pak. Apakah dengan Bapak Revan?]


[Iya, Dok, saya Revan.]


[Pak, bisakah datang ke rumah sakit sekarang?]


[Kalau boleh tahu, ada apa, ya, Dok?]


[Anak Anda terus-terusan memanggil seseorang. Tetapi saya tidak tahu dia memanggil siapa.]


[Baik, Dok, saya akan segera ke sana.]


[Terima kasih, Pak, selamat malam.]


[Selamat malam.]


Seketika telepon pun terputus. Sementara di samping badan, Siska tampak sangat penasaran dengan ekspresinya seperti orang khawatir.


Tanpa mengajaknya, aku langsung berlari dan keluar dari dalam kamar. Dengan menuruni anak tangga lantai dua, aku tidak memedulikan sang istri yang ternyata mengikuti dari belakang badan.


Karena aku merasa sangat cemas, aku tidak lagi menghiraukannya. Sekarang aku hanya terfokus pada mobil sport putih yang selalu membawaku ke mana pun.


Dengan menginjak gas sangat laju, aku melesat keluar dari gerbang ditemani kedua bola mata mulai berkaca-kaca.


Reval, kamu kenapa, Nak? Kamu harus kuat, ayah akan segera datang untuk menemanimu, batinku berkata.


Memakan waktu sekitar tiga puluh menit, aku pun akhirnya sampai di portal dengan tulisan; RS. H. Anwar Mangunkusumo. Dengan langkah cepat, aku hanya memarkirkan mobil di tepian gerbang saja. Setelah memasuki halaman rumah sakit, para dokter simpang siur melintasi ruang penjagaan.


Yang membuatku sangat gelisah adalah, wajah-wajah para dokter tampak sangat datar dan sinis menatap ke arahku. Selang beberapa menit, aku sampai di lantai dua, tepatnya di ruang anggrek.


Karena pintu kamar telah terbuka lebar, aku pun memasuki ruangan dengan tergesah-gesah.


“Dok, apa yang terjadi pada anak saya?” tanyaku seraya menoleh ke arah pembaringan.


“Pak, anak Anda memanggil nama seseorang, tetapi kami tidak mengenali siapa orang tersebut.”


Dengan sangat erat, aku memegang tangan kanan Reval seraya mendudukkan badan di samping kanan.

__ADS_1


“Nak, ini ayah. Kamu kenapa, Sayang?” tanyaku lirih.


“Nissa ... kamu di mana?” tanyanya.


“Sayang, ini ayah.” Selepas berkata, aku menatap wajah para dokter yang terpaku karena sangat heran.


Lamat-lamat, Reval pun membuka kedua bola matanya seraya menatapku mantap. Namun, tetapannya kali ini tampak sangat kosong, tidak seperti putra yang kukenal sebelumnya.


“Aku ada di mana?” tanyanya.


“Nak, kamu ada di rumah sakit. Ini ayah, ini para dokter,” kataku.


“Kamu siapa?” tanyanya lagi.


“Nak, ini ayah. Orangtua kamu, coba lihat sekali lagi.” Dengan memasang wajah semringah ditimpali rasa cemas, aku menatap kedua bola mata Reval.


Yang menjadi pertanyaan besar adalah, Reval hanya sekadar menggeleng saja.


“Aku tidak punya ayah,” jawabnya.


“Nak, kamu punya ayah. Saya adalah ayah kamu, coba ingat-ingat dulu,” desakku.


“Pak-Pak, pasien jangan dipaksa untuk mengingat terlalu jauh. Karena dia baru saja pulih dari masa kritisnya,” jawab si dokter.


“Tapi, Dok, kenapa anak saya tidak mengenali saya?” tanyaku lagi.


“Pak, mungkin dia belum pulih benar. Biarkan dia mencoba untuk menetralisir suasana di sekitar,” jelas si dokter yang berada di samping kanan.


Karena para dokter telah mempersilakan aku untuk keluar, akhirnya mau tidak mau, aku keluar dari dalam ruangan. Yang tersisa hanyalah Reval, serta kedua dokter spesialis tentang kejiwaan.


Selepas kepergianku dari ruangan, tampak kedua dokter itu sangat akrab dengan putraku. Rasa sakit hati pun kembali menyergap, karena kejadian ini membuat jiwa sangat sesak untuk bernapas lagi.


Yang bisa aku lakukan hanyalah mendudukkan badan di atas kursi tunggu, seraya menoleh sekilas ke arah pintu ruang yang merawat putra semata wayangku.


Tuhan ... kenapa engkau memberikan cobaan ini terlalu berat pada hamba? Apakah tidak ada jalan terbaik-Mu untuk memberikan sedikit saja rasa damai dalam hidup ini. Jika memang hamba bersalah, maafkan hamba.


Sebuah sentuhan seseorang pun mendarat lembut di pundakku. Namun, ketika aku menoleh orang tersebut, sosok itu telah menghilang seperti embusan angin yang mengarah ke sebuah koridor rumah sakit.


Akibat dari rasa penasaran yang berlebihan, aku mengikuti bayangan hitam tersebut dengan berjalan sangat laju.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2