
Revan POV
“Kenapa, ya, Marissa seperti itu terhadapku. Walaupun dia benci, setidaknya aku adalah ayah dari Anissa. Sampai kapan kau akan membenci aku, Mar, karena sejujurnya aku masih ingin bersamamu.”
Setelah berkata tanpa jawaban di sebuah ruang kafe, aku mencoba untuk pergi dengan berjalan sedikit menyeret lantai. Tapakkan gontai pun membawa diri ini untuk segera keluar dari lokasi dan ingin secepatnya pergi. Tepat di keheningan malam, aku menatap nirada hitam yang sedang bergerak anggun ke sana dan ke mari.
Awan hitam berbalut putih, serta rasa dingin menyergap dan merayap memasuki lubang pori-pori manusia. Sekarang aku tak tahu harus ke mana dalam melangkah, karena arah tujuan terasa sangat buntu sesuai pikiran ini yang seakan tak ada jalan lagi. Dengan bertemankan sepi, aku memasuki mobil sport dan menutup pintu dengan rapat.
Kemudian aku menginjak gas mobilku seraya keluar laju dari kafe yang menjanjikan banyak keindahan, walaupun aku telah memakai jasa seorang wanita lain di sana untuk bermalam. Setelah dipikir-pikir, selepas kejadian itu muncullah rasa penyesalan. Bagaimana tidak, aku lebih memilih tidur dengan wanita lain daripada istri sah di rumah.
Namun, aku melakukan ini karena sudah terlalu benci pada Siska—istriku. Tanpa rasa bersalah, aku telah sering menikmati mahkota wanita yang tidak lain adalah penjajah nafsu di dunia ini. Tanpa berpikir keras, aku bergerak mengarah ke sebuah pantai yang ada di pinggir kota. Untuk menuju ke sana, membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit perjalanan.
Masih dengan jas hitam yang biasa aku pakai untuk bekerja, kini aku sampai di depan bibir pantai seraya menatap langit dan desir pasir pantai berwarna putih. Ombak-ombak kecil pun menghampiri kehadiranku tanpa permisi dan pergi begitu saja. Seolah tidak ada yang istimewa hidup di dunia ini lagi.
Di tangan kanan, aku membawa minuman keras untuk memabukkan diri, sementara di tangan kiri ada ponsel yang setia menemani setiap saat. Tanpa ditemani siapa pun, aku menghabiskan malam sendirian di bibir pantai. Tak berapa lama, sebuah lentera kecil hadir di ujung penglihatan, bergerak anggun seperti mengarah di mana aku berpijak saat ini.
Ya, lambat memang, tetapi tak beringsut ke lain arah. Dia hanya mengarah ke jalan setapak yang aku pijak saat ini. Akibat dari rasa kantuk yang berlebihan, serta pusing akibat minuman keras, aku merasakan kesulitan untuk fokus dan menatap siapa orang tersebut. Tak berapa lama, lentera itu sampai di sampingku dengan membawa sosok yang sepertinya aku kenali.
Namun, wajahnya tidak terlihat sama sekali, kemudian aku membuang tatapan menuju deruh ombak yang tengah kejar-kejaran di lautan lepas.
“Anda sedang apa di sini,” ucap seseorang yang bernada suara seperti wanita.
“Aku bukan siapa-siapa, hanya seberkas sampah dunia yang hidup tak tahu akan berbuat apa.”
“Ha-ha-ha ... lelaki tampan sepertimu masih punya pemikiran bodoh,” cibirnya seraya membungkam ucapanku.
“Apa maksudnya mengatakan aku bodoh?” tanyaku ngegas.
“Kalau orang pergi ke pantai ini larut malam, pasti karena ada masalah rumah tangga atau sekadar masalah percintaan. Sudah bisa ditebak, karena hampir sama,” katanya menjelaskan.
__ADS_1
“Siapa kau!” hardikku.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku, karena aku adalah orang yang setia pada pantai ini. Aku tidak pernah putus cinta pada pantai,” jelasnya.
“Dasar manusia aneh, bagaimana bisa kau mencintai pantai yang nota bene hanya benda mati.”
“Kau yang terlalu bodoh sebenarnya, pantai tidak mati. Ombaknya saja bergerak walau tak bernyawa, lantas dirimu, bernyawa tetapi hati seperti mayat bukan?”
Mendengar ucapan itu, aku memalingkan tatapan menuju pusat lawan bicara. Ketika aku putar kepala, lentera itu pergi perlahan meninggalkan aku sendirian. Karena merasa sangat penasaran, langkah kaki ini bergerak mengikuti dari belakang dengan membawa sebotol minuman.
Beberapa menit berjalan, sampailah kami di sebuah pondok kecil yang terdapat di bibir pantai. Orang tersebut memasuki ruangan itu dan mendudukkan badan di teras rumah. Kemudian aku mengikuti gelagat anehnya menaiki anak tangga rumahnya. Kami pun duduk bersampingan dan sesekali saling tukar tatap.
Namun, wajah yang dia miliki tertutup kain hitam yang susah untuk dilihat. Entah dia adalah laki-laki, atau perempuan. Yang pasti, dari nada suaranya bahwa dia adalah seorang perempuan. Tanpa menghiraukan apa pun, aku merenung seraya menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit angkasa.
“Kau tinggal di sini?” tanyaku.
“Sejak kapan? Kenapa aku tidak pernah melihat kau sebelumnya.”
“Sejak beberapa hari yang lalu, aku terlahir sebatang kara. Tidak ada siapa pun, dan hidup hanya sekadar untuk hidup tanpa ada masa depan,” jelasnya.
“Mengapa kau enggak mencari di mana keluargamu, mungkin kau bisa kembali pulang dan berkumpul lagi.”
“Aku lebih suka sendiri, tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada yang mengatur. Karena bagiku, alam adalah saudara teramat istimewa. Tidak pernah menyakiti, bahkan melukai. Alam juga tidak pernah selingkuh seperti kebanyakan manusia!”
Deg!
Mendengar perkataan seputar selingkuh, seolah tamparan keras mendarat di pipi ini. Sejak kepergianku beberapa hari lalu meninggalkan rumah, tidak lain adalah karena berselingkuh dan menuangkan nafsu birahi bersama wanita lain di luar. Namun, aku tidak pernah ingin melakukannya jika nafsu tidak hinggap malam itu.
“Apakah kau bahagia tinggal di gubuk ini?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Dibilang bahagia, sih, enggak terlalu. Setidaknya aku telah berjanji pada alam, kalau hidup dan mati ini hanya untuknya.”
“Dan kau siapa sebenarnya, tolong buka jubah yang kau pakai saat ini.”
“Apakah kau tidak takut jika aku membuka jubah ini.”
“Kenapa harus takut, karena kita sama-sama manusia bukan?”
Lawan bicara menggeleng dua kali, dia pun menadahkan kepalanya seperti tengah berpikir keras perihal ucapanku barusan. Sedari tadi, kami berbincang tanpa kenal nama, wajah, dan status hidup. Hanya perihal pembahasan alam saja yang dia utarakan padaku tentang indahnya menjalani hidup ini.
Tak berapa lama, aku pun menaiki anak tangga rumahnya dan duduk lebih dekat di posisi samping kanan.
“Kau mau apa?” tanyanya.
“Aku cuma mau melihat siapa kau sebenarnya, tunjukkan padaku siapa kau!”
“Tidak, kita tidak mungkin bisa saling menatap. Karena apa? Karena kita berbeda alam,” katanya seraya membuatku merasa sangat aneh.
Perihal beda alam yang dia katakan tadi, aku berpikir keras kalau ternyata dia adalah makhluk gaib penunggu pantai ini. Namun, tidak mungkin, setelah dicermati secara saksama kedua kakinya menapak di lantai seperti manusia pada umumnya. Sehingga aku pun semakin penasaran untuk melihat wajah di balik jubah hitam itu.
“Kalau kau tidak mau memperlihatkan aku pada wajahmu, aku akan paksa.”
“Paksa saja kalau kau bisa,” tantangnya seraya menoleh sedikit.
Aku menarik jubah yang dia pakai dan dengan cepat, orang yang menjadi lawan bicara pun tidak ada di posisinya.
“Astaga! Ke mana larinya manusia tadi?!”
Bersambung ...
__ADS_1