
Hampir satu jam lebih aku memerhatikan segala kegiatan yang dilakukan oleh para dokter di dalam ruang perawatan. Entah kenapa, durasi mereka berbicara kali ini lumayan lama. Tidak seperti hari-hari biasanya. Mungkin ada pembahasan penting yang tengah mereka katakan, tetapi aku tidak tahu.
Setelah menunggu beberapa jam di atas bangku tunggu, seorang dokter yang memakai masker berwarna hijau keluar dan membuka pintu. Sontak aku membangkitkan badan karena merasa sangat kepo tentang pembahasan mereka.
Dengan menarik napas berat, dokter yang saat ini memegang stetoskop menatap mantap kedua bola mataku. Namun, dia tak kunjung berkata dan menyampaikan sesuatu, sehingga aku yang mulai untuk berkata.
“Dok,” panggilku singkat.
“I-iya, Pak,” jawabnya.
“Apa yang terjadi pada putra saya?” tanyaku penuh selidik.
“Pak, bisakah kita membahas ini semua di ruangan saya?” Dokter dengan bed nama Andreas mengajakku untuk memasuki ruangannya.
“Boleh, Dok,” jawabku.
“Oke, mari, Pak.” Dokter berperawakan seperti bintang artis sinetron itu berjalan menggiringku untuk pergi menuruni anak tangga lantai dua.
Sampailah kami berdua di sebuah ruangan dengan portal bertuliskan Ruang Spesialis. Di mana, ruangan tersebut adalah tempat praktik si dokter setiap harinya.
Setelah kami memasuki ruangan, tampak dari raut wajah dokter di hadapanku seperti tengah memendam sebuah pernyataan tersembunyi. Akhinya aku pun merasa sangat kepo untuk mengetahui hal tersebut.
“Dok, bisakah kita bahas sekarang?” tanyaku sedikit mendesak.
“Ah, oke, Pak. Jadi begini ....”
...🍁🍁🍁...
Dokter tersebut menjelaskan panjang kali lebar tentang apa yang menjadi sebuah kewajibannya sebagai seorang dokter. Ada sebuah permintaan mendalam dari putra semata wayangku ketika mereka berbincang di sebuah ruang inap. Namun, rasa-rasanya aku susah untuk menyetujui hal tersebut.
Selain keadaan Refal yang masih belum sembuh benar, risiko besar akan dia temui jika melanggar semua yang menjadi ketetapan dokter. Akan tetapi, putraku tetap bersikeras untuk melakukan kehendaknya itu. Alhasil, si dokter pun kehabisan kata-kata untuk mencegah.
“Jadi begitu, Pak, saya sudah tidak bisa berkata apa pun,” kata si dokter dengan suara sedikit parau.
“Saya paham, Dok. Pasti berat untuk Anda tidak mengiyakan perkataan putra saya. Tetapi, apakah dempak yang akan terjadi akan seburuk itu jika gagal?” tanyaku penuh selidik.
Sejenak lawan bicara terdiam, ekspresinya mendadak berubah, serta tatapan tajam pun hanya terfokus padaku saja. Semilir angin datang menyapa dari lubang ventilasi, meskipun begitu, ruangan tetap saja terasa sangat panas akibat dari rasa yang tak lagi tenang.
Bahkan dokter yang selama ini menangani sakit putraku. Dia kehabisan akal untuk membantah keinginan Refal yang memang susah untuk dijelaskan. Dalam suasana serba salah, aku sekadar terdiam mengikuti alunan permainan konyol yang sebentar lagi akan terlaksana.
“Pak, kalau saya boleh kasih saran. Anda sebaiknya mencegah hal tersebut, karena dapat mengganggu kejiwaan putra Anda jikalau itu gagal,” ujar si dokter.
__ADS_1
“Tapi, Dok, saya tidak bisa mencegahnya. Karena apa yang dikatakan anak saya ada benarnya,” sambarku menjelaskan.
“Kalau memang keputusan Anda begitu, saya tidak bisa berkata lagi. Sekarang saya akan mengatakan hal ini, kalau Anda telah setuju dengan gagasan yang Refal inginkan.”
“Dok, saya mohon, lakukan yang terbaik untuk anak saya. Berapa pun akan saya bayar untuk itu,” jawabku penuh harap.
“Baiklah, Pak, sebisa mungkin saya akan melakukan yang terbaik.” Setelah berkata, kami pun membangkitkan badan seraya keluar dari ruangan.
Tiba-tiba, teleponku berbunyi dan panggilan itu datang dari Olivia—sekretaris di kantor. Dengan sigap, aku mengangkat telepon itu.
[Hallo, Olivia. Ada apa nelepon saya?]
[Bos, ada hal penting yang harus Bos hadiri.]
[Perihal apa? Saya masih sibuk.]
[Bos, ini adalah tentang proyek kita yang terbaru. Karena perusahaan kita mengalami kemunduran, dan akan berdampak yang tidak baik-baik saja untuk ke depannya.]
[Oke, sekarang saya akan ke kantor.]
Masalah demi masalah pun terus berdatangan, bertubi-tubi dan tak ada sela untukku bernapas. Namun, sejak perusahaan dipegang oleh Siska—istriku, kemunduran demi kemunduran terus saja terjadi.
Dengan berjalan kencang, sampailah aku di sebuah parkiran mobil dan menginjak gas sangat laju. Tepat di pusat kota, macet pun terjadi. Alhasil, aku menitipkan mobil di salah satu kafe tempat langgananku.
Langkah kaki yang kian lembung, membawa diri ini secepat embusan angin memasuki pintu kantor. Tampak dari ujung netra, bahwa karyawan tengah tertegun menghadap arah Timur. Entah apa yang dilakukan Siska waktu itu, karena dia tampak sedang marah-marah pada sebagian karyawan.
“Dasar bodoh kalian! Enggak becus kerja begitu saja!” teriak Siska dengan nada suara pongah.
“Siapa yang bodoh! Siapa yang enggak becus!?” pekikku menaikkan nada suara.
“Eh, Sayang, kamu sejak kapan ada di sini?” tanya sang istri, kemudian dia berjalan mendekatiku dan berpura-pura untuk lari dari perkataannya barusan.
“Siapa yang kau bilang bodoh?!”
“Eng-enggak ada, kamu salah dengar kali, Mas,” jawabnya.
“Olivia, berikan dokumen keuangan bulan ini,” pintaku pada asisten yang sedang menadahkan kepala.
Menggunakan tangan kanan, Olivia pun menyodorkan satu lembar kertas bertuliskan beberapa coretan. Dengan sigap, aku mengambil sodorannya dan menatap mantap benda tipis berwarna putih itu.
“Apa! Banyak sekali pengeluaran bulan ini? Olivia, untuk apa uang sebanyak ini?” tanyaku ngegas.
__ADS_1
“Bos, uang tersebut telah dipakai oleh Ibu Siska. Ka-kami tidak tahu dipergunakan untuk apa,” titahnya terbata-bata.
“Dasar bodoh!” cibirku pada sang istri yang sedari tadi menatap lantai.
“Mas-Mas, aku bisa jelaskan ini semua. Uang ini untuk biaya rumah sakit anak kita,” jawabnya.
“Tidak mungkin, karena biaya Refal telah aku bayar. Untuk apa kau pergunakan uang sebanyak ini?!” desakku lagi.
Tanpa mampu menjawab, Siska hanya sekadar memerhatikan, untuk berkata lagi dia seakan takut melihat amarah dariku.
“Olivia, telepon semua jajaran, kita bertemu di ruang rapat.”
“Baik, Bos,” jawabnya.
Setelah berkata sangat ngegas, aku pun berjalan laju menuju ruangan yang sudah disepakati. Tepat di belakang badan, Siska tampak sedang mengikutiku dengan berjalan laju.
Karena hari ini aku merasa sangat muak dengannya, aku pun berhenti dan memutar badan. “Kau ngapain masih ada di sini!?”
“Mas, aku ingin ikut rapat denganmu,” jawabnya lirih.
“Kau pulang saja ke rumah, karena kami tidak butuh orang bodoh sepertimu!”
“Mas, aku ini istrimu. Semua pekerjaan kantor sudah aku lakukan sesuai perintah kamu,” katanya.
“Aku bilang pergi, ya, pergi! Atau perlu aku panggil security untuk menyeretmu keluar dari kantor ini?”
“Kamu tega, Mas, aku ini istrimu.”
“Pergi!” teriakku lagi.
“Aku enggak mau pergi, Mas. Aku ingin ada di sini, lagian ini kantor aku juga,” rengeknya dengan nada suara dilebay-lebaykan.
“Dimas ... Dimas ...!” teriakku.
“Ada apa, Bos?” tanya Dimas.
“Tolong usir wanita ini dari kantor!” seruku.
“Ta-tapi, Bos?”
“Usir dia atau kau akan saya pecat sekarang!”
__ADS_1
“Baik, Bos, laksanakan. Bu Siska, ayo, pergi dari sini.”
Bersambung ...