
Anissa POV
Namaku Anissa. Lebih lengkapnya, Anissa Cantika Almahera. Berparas cantik, menurut pujian dari para cowok di sekolah. Tadi, di ruang bawah tanah aku baru saja makan jeruk bersama mama, menghabiskan canda gurau sebelum berangkat ke sekolah.
Setiap harinya aku naik taksi, karena sampai saat ini sang mama belum memberikan fasilitas seperti anak-anak sultan lainnya. Hidup dalam sebuah kamar dengan pasung berantaikan besi di kedua kaki sang mama, darinya aku belajar tegar, mencoba untuk masuk dalam alunan drama kehidupan para manusia tak tahu diri yang tega berbuat kejam pada wanita mulia di ruang bawah tanah.
Waktu yang terus berlalu. Kini, umurku menginjak tepat di usia tujuh belas tahun. Segala kepahitan orang tua tampak jelas di kedua bola mataku. Bagaimana tidak, sejak kegagalan ketiga saudara kandung ketika itu, kini membuat wanita bernama—Marissa—sang ibu harus mendekam dalam belenggu pasung.
Menelusuri dan selalu menanti saatnya tiba, hari ini adalah permainan drama yang sesungguhnya akan dimulai. Berdasarkan dari curhatan sang ibu dan Bi Ira, aku bertekad untuk membalas dendam setelah sekian lamanya sang ayah telah berbuat kejam dan tega memasung istri sejak tujuh belas tahun yang lalu.
Hari ini, aku pergi ke sekolah sendirian. Setelah biasanya Bi Ira mengantarkanku, mulai di Senin pagi ia percaya bahwa aku bisa untuk menjaga diri sendiri. Sekarang, aku telah duduk di bangku SMA.
Dari sekian banyaknya siswi di SMA Tunas Bangsa. Aku Merupakan gadis tercantik dan paling pintar dengan berbagai prestasi yang berhasil aku torehkan beberapa kali.
Berjalan santai dan memperbaiki jilbab berwarna putih, kulangkahkan kaki kanan untuk memasuki pintu gerbang sekolah. Di sana, di portal bertuliskan SMA Tunas Bangsa. Lokasi tempat biasa aku menimbah ilmu tengah dipadati kerumunan para siswa dan siswi yang melintas, rasa penasaran menghujaniku.
Kemudian, aku bergegas dan melewati beberapa teman yang asyik memandang siswa tampan dengan mobil yang sangat mahal.
Cowok itu menggunakan kacamata hitam, ia melirik ke arahku dan mengedarkan senyum kecil. Karena ia terlihat sangat asing, akhirnya aku tetap berjalan. Mungkin, karena selama bersekolah di sini, aku jarang bergaul dan keluar kelas seperti yang lainnya. Makanya sampai saat ini, aku belum mengenal satu persatu murid-murid di SMA Tunas Bangsa.
Setibanya di sebuah ruang kelas, kedua bola mata mendelik setelah mendapati siluet para sahabat tengah memandang layar ponselnya masing-masing. Batin sudah bisa menebak kalau mereka pasti tengah menggosip tentang cowok. Enggak etis banget hidup hanya sekedar memikirkan cinta.
Dari arah belakang, seseorang memukul pundakku secara perlahan. "Anissa."
Karena tengah ada yang mengajak tempur untuk mengupas berita viral, aku menoleh ke belakang. "Eh, lu, Lol. Gue kira siapa."
"Boleh gue duduk di samping lu, Nis?" tanyanya, kemudian ia meringis sedikit maksa.
"Boleh, biasa juga enggak pakai permisi langsung duduk aja lu," responsku dengan membulatkan mata jijik.
Loli pun duduk di samping kiri, ia mengambil ponselnya dan menatap mantap layar akun social media. Sudah menjadi tradisi siswa dan siswi di sekolah ini, sebelum jam pelajaran dimulai, mereka menyempatkan untuk kepo melihat postingan cowok-cowok di Instagram.
Dengan menggunakan tangan kanan, aku merogoh pena berwarna merah muda. Sesekali aku menggigit pena itu karena bingung harus menulis apa, hari ini terasa sangat membosankan.
Bagaimana tidak, di arah depan dan belakang para siswa dan siswi sibuk dengan menatap ponsel mereka masing-masing, kepala pun tengah menadahkan ke di atas meja belajar.
Dari sebelah kiri, Loli menyiku. "Nis!"
"Hmmm ... apaan?" kutanya lawan bicara dan sedikit menggumam.
"Gila, ini bukannya cowok tadi di depan pintu gerbang sekolah kita?" Loli menyodorkan layar ponselnya tepat di hadapanku. "Masya' Allah ... ganteng banget, sih ...."
__ADS_1
Sekilas aku menatap mantap layar ponselnya, ia berkata benar kali ini. Karena cowok itu juga aku lihat tadi ketika masuk ke halaman sekolah, akan tetapi diri ini masih stay anggun dan tetap biasa saja.
Dari samping kiri, sepertinya Loli tengah kehabisan kata-kata untuk cowok yang katanya anak baru itu. Ia pun menadahkan kepalanya di atas meja dan sangat takjub dengan ciptaan Tuhan yang menempel pada wajah cowok itu.
"Lol! Lu kenapa?" aku nanya pada siswi berambut panjang dengan kepang dua di kepalanya.
"Cowok ganteng, Nis. Lu bakal jatuh cinta kalau melihatnya."
"Lebay ...! Wajah begitu aja lu bilang ganteng. Gini, ya, Lol. Gue itu tetap jatuh cinta sama penulis novel ini tau enggak. Selain baik hati, ia juga sangat romantis. Ketampanannya mampu membelah tujuh benua."
"Lu, sih, mimpinya kebangetan. Lagian, penulis novel ini enggak mau sama lu. Kan, ia sudah punya pacar," sambar Loli dengan wajah penuh kemenangan.
Hampir sepuluh menit berbincang, bel pun berbunyi sangat keras. Itu pertanda kalau jam belajar akan segera dimulai pagi ini. Dari ambang penglihatan, Bu Intan datang sambil menenteng buku pelajaran fisika. Tak hanya itu, wanita berkacamata bulat dengan senyum sangat lebar ketika berbicara membawa sesorang siswa baru.
Wajahnya sangat asing, akan tetapi aku pernah melihatnya ketika pagi tadi masuk ke halaman sekolah.
"Assalam' mualaikum ...," sapa Bu Intan seraya mengedarkan senyum semringah.
"Waalaikum' sallam ...," respons seluruh siswa dan siswi secara serempak.
"Anak-anak, pagi ini kita kedatangan siswa baru yang sangat tampan. Ia adalah—Refaldo—siswa dari SMA Gemilang. Nak, silahkan perkenalkan diri kamu."
"Assalam' mualaikum ...," sapa cowok itu dengan suara sangat tegap.
"Waalaikum' sallam ...," jawab serempak seluruh siswa yang berhadir.
"Perkenalkan, nama saya Refaldo Maulana. Semoga kalian bisa bersahabat baik dengan saya, dan jangan terlalu jatuh hati pada ketampanan saya."
Dari tempat duduk aku seketika berucap jijik. "Idih! Percaya diri banget lu anak baru. Bangga itu prestasi, bukan wajah. Kampungan banget tau enggak, norak."
"Anissa, jangan galak-galak dong. Refal, 'kan, hanya marsyanda," ringis Bu Intan melawak.
"Bercanda, Bu ... bukan masyanda," sambar seluruh siswa dan siswi.
Seketika ruangan menjadi sangat ramai. Ya, begitulah sikap Bu Intan, paling bisa membangkitkan suasana menjadi sangat hidup. Dengan celetuk, 'kannya yang mengandung 100% komedi, membuat kami betah jika ia sudah membawakan pelajarannya.
"Sudah selesai, Nak?" tanya guru fisika itu dari posisi tempat duduknya.
"Sudah, Bu," balas Refal singkat.
"Oke, kalau sudah selesai, kamu silakan duduk di bangku paling akhir. Tepat di belakang Anissa." Bu Intan menunjuk bangku kosong yang ada di belakangku.
__ADS_1
Kemudian, dari arah depan, Refal menunjuk juga. "Di sana, Bu?" timpalnya, lalu menukar tatap dengan bu guru.
"Iya, di sana." Bu Intan jeda ucapan sejenak, kemudian. "Kalau kamu mau duduk di sini, biar saya yang di belakang," lanjutnya seraya mengedarkan senyum.
Cowok baru itu menggaruk kepalanya, ia tampak bingung dengan mengubah ekspresinya seperti orang bodoh. Tanpa balas kata, cowok dengan blush baju yang keluar dari dalam celananya berjalan menuju bangku kosong di belakangku.
Dari samping kiri, Loli memekik gelisah. Ia pun memutar tempat duduknya beberapa kali dan mendongak tanpa jeda. Ketika Refal melintas, Loli pun berkata.
"Hallo ... cowok ganteng ...."
Selesai berkata, Loli memutar kepalanya tiga ratus enam puluh derajat.
"Loli ...." Dari bangku paling depan, Bu Intan memanggil.
"Eh, iya, Bu," balasnya.
Beberapa menit waktu pelajaran berlangsung, bu guru memberikan tugas dengan lima pertanyaan. Akan tetapi, aku masih merenung di dalam ruang kelas tanpa menghiraukan sedikit pun materi yang ia bawakan pagi ini. Entah kenapa, sejak kehadiran Refaldo, aku merasa sangat muak dan kembali membayangkan perkataan sang mama di rumah.
Drama pahit sepanjang masa itu adalah ulah dari—ayahnya yang merupakan—ayahku juga. Secara tiba-tiba, bel pun kembali berbunyi sangat keras. Waktu untuk istirahat telah tiba, dengan membawa buku novel sebagai bahan baca, aku keluar dari ruangan dan duduk di teras sekolah.
Dari samping kiri, seseorang tengah duduk di sebelah. Melirik sesekali ke arahku dan kembali membuang tatapan.
"Hai!" katanya sangat singkat.
Kutoleh lawan bicara, rupanya ia adalah siswa baru. "Ya." Selesai menjawab singkat, aku membuang tatapan menuju lembaran novel yang tertunda akibat ajakannya untuk sekedar basa-basi.
"Nama kamu siapa?" tanyanya.
"Mau tau aja atau mau tau banget." Tanpa menatap lawan bicara, aku tetap membaca novel tersebut.
"Hmmm ... mau tahu banget."
"Jangan kepo! Soalnya kita belum kenal," tukasku.
"Kita bukannya satu kelas ketika duduk di bangku sekolah dasar?"
"Itu dulu, bukan sekarang."
Setelah selesai berkata, aku merubah posisi menjadi berdiri tegap. Kemudian, aku melangkah menuju ruang kelas kembali. Batin pun berkata, Fal, maafkan gue yang enggak mau terlalu kenal dengan lu. Karena nyokap lu udah menghancurkan kehidupan nyokap gue. Suatu saat lu bakal tahu kenapa gue bersikap seperti ini.
Bersambung ...
__ADS_1