Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
23. Awal Permainan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Anissa POV


Malam itu, aku pulang dengan ditemani oleh Refal. Sebenarnya terpaksa, akan tetapi ajakannya itu tak mampu untuk tolak. Sesampainya di depan halte, aku pun berteriak sangat keras.


"Stop ...!"


Seketika Refal menginjak rem mobil secara tiba-tiba. "Duh ... hampir saja nabrak pohon," ucapnya, lalu ia menoleh ke arah wajahku penuh dengan hati-hati.


"Fal, gue berhenti di sini aja," paparku seraya membuka pintu mobil dengan perlahan.


"Nis, kenapa enggak gue antar sampai rumah aja. Sekarang udah larut malam, kalau lu kenapa-kenapa bagaimana?" desaknya, lalu dari ekspresi Refal terlihat tengah mengernyit kedua alis secara bersamaan.


Fal, maafin gue. Kalau lu tahu yang sebenarnya, pasti lu akan kecewa banget kenal gue. Fal, gue ini adik lu. Kita satu ayah, akan tetapi gue enggak akan memberitahu sekarang, sebelum misi gue untuk membuat nyokap lu dan bokap kita jera. Lima belas tahun gue melihat kepedihan nyokap gue yang dipasung, batinku berkata.


Tanpa membalas ucapannya, aku pun keluar mobil dan berlari meninggalkan lokasi. Namun, Refal bukan pulang ke rumahnya, ia malah keluar dari mobil dan mengejarku. Tepat di bawah pohon bunga Tanjung, disaksikan oleh bintang-bintang dan rembulan malam.


Pemuda berkumis tipis itu menarik tangan kananku sangat erat. Kemudian, aku menoleh ke arahnya seketika. Langkah kaki pun sontak berhenti, dengan sedikit memberontak seketika aku melepas tangannya.


"Eh, maaf, Nis."


Dari depan lawan bicara, aku menadahkan kepala menuju aspal. "Fal, gue bisa pulang sendirian. Tolong jangan ikuti gue lagi," pungkasku. Pemuda di hadapan seperti tengah kecewa, akan tetapi aku tak peduli dengan gelagatnya.


"Nis. Gue pengen kenal sama lu. Gue ingin kita dekat dan berteman, apa itu salah."


"Salah!"


"Emang gue salah apa sama lu, Nis. Bukankah, sewaktu kita duduk di sekolah dasar—lu baik banget sama gue. Kenapa sekarang jadi berubah gini." Refal pun menaikkan nada suaranya, ia sedikit ngegas dalam berucap.


"Fal, kita baru aja kenal. Sewaktu sekolah dasar itu hanyalah kebetulan, dan sekarang juga kebetulan."


"Tapi, Nis—"


"Fal! Gue mohon. Kalau lu masih mau berteman sama gue, biarkan sekarang gue pergi dan jangan lu kejar lagi. Paham!" hardikku. Kemudian dengan tangan kanan, aku memperbaiki jilbab yang sempat berantakan.


Refal pun membuang tatapannya menuju rembulan, ia membanting tubuh di atas kursi halte. Dalam samar, aku sesekali melirik pemuda berkumis tipis itu dari kejauhan. Mengambil jalan dengan jalur arah berbeda, aku pun sampai di depan ruangan tempat sang mama dipasung.


'Fal, maafin gue. Sebenarnya kita satu darah. Lu enggak boleh jatuh cinta sama gue, lu harus menjauhi gue. Karena lu itu abang gue,' batin berkata.


Seketika air mata menetes setelah sampai di depan pintu. Akses kedua menuju ruang bawah tanah terletak di belakang gudang rumah.


Aku pun membatin lagi. Fal, sebenarnya kita tinggal satu rumah. Hidup dalam ruang lingkup yang sama. Lu enggak tahu kalau—gue—adik lu telah hidup tujuh belas tahun di rumah milik nyokap gue sekarang. Wait-wait, gue enggak boleh lemah dengan keadaan ini. Pokoknya, Refal harus mencintai gue dan dendam nyokap segera terbalaskan. Ya, itu tujuan awal.


Memasuki pintu ruangan, aku berjalan seraya merundukkan kepala. Dari ambang penglihatan, sang mama sudah tertidur pulas. Namun, setelah mendengar suara tapak kakiku, ia bangun dan membuka mata sangat lebar.


"Nissa! Kamu baru pulang, Nak?" panggil wanita cantik yang selalu mengikat rambutnya dengan bandana merah.


Aku pun berhenti menuju tempat tidur. Kemudian, kutoleh wajah sang mama seketika. Masih dengan air mata yang mengalir deras dan kedua bola mata memerah.

__ADS_1


"Iya, Ma." Langkah kaki berjalan menuju posisi sang mama. Kemudian, kutatap kedua kaki sang mama yang masih terikat besi sangat ketat.


Dari samping kiri, wanita cantik berbaju merah itu memandang wajahku tajam. "Nak, kamu kenapa? Seperti lagi nangis?" tanyanya, ia pun menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.


"Enggak, Ma. Tadi ... Nissa cuma kelilipan debu aja di jalan." Lalu, kubuang tatapan menuju tembok.


"Jangan bohongi mama, Sayang. Pasti kamu lagi patah hati, 'kan? Hayo ... siapa pacar kamu sekarang," desaknya, sembari meledek.


"Ma, tadi Nissa diantar pulang sama Refal. Tapi ... Nissa enggak tega kalau akhirnya Nissa akan membuat ia sakit dan tersiksa karena masalah ini."


"Refal? Siapa anak itu?"


"Refal itu anaknya papah, Ma. Abang—Nissa. Anak Tante Siska!" jelasku, kemudian wanita di samping malah menteskan air matanya.


Aku seketika terdiam, menaikkan dagu dan menatap greget sang mama. Selang beberapa menit, mama pun menghapus air matanya. Ia seakan meratapi apa yang pernah ia alami hingga sampai saat ini.


"Nak, kalau kamu mau tinggal dengan papamu. Pergilah, jangan pernah anggap saya sebagai ibumu lagi."


"Ma, maksud Nissa bukan seperti itu. Apa bedanya kita dengan mereka, kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan," titahku seraya memeluk wanita cantik yang sedang menangis sangat histeris.


Sang mama melepas pelukan itu. Ia pun menatap wajahku dengan ekspresi jijik. Kemudian, wanita berbandana merah di samping kanan meletakkan badannya tepat di tembok ruangan. Dengan sangat keras, mama memukul tembok dengan kepalanya.


"Ma, cukup, Ma."


"Ternyata anak yang aku besarkan selama ini mulai menjadi pengkhianat. Pergi Nissa, pergi dari hadapan mama ...."


"Baiklah, Ma. Kita akan jalankan rencana kita. Serahkan semua pada Nissa, dalam waktu dua bulan ke depan, Nissa akan pastikan kalau Mama terlepas dari pasung ini. Lihat aja Tante Siska, gue akan menyingkirkan benalu sepertimu dari rumah Marissa Oktavia Almahera." Setelah berkata, aku membiarkan tubuh sang mama untuk tidur di tembok berwarna hijau.


***


Pagi telah tiba. Dengan bergegas bangun, aku berdandan secantik mungkin. Tak lupa untuk memakai jilbab berwarna putih cerah, sementara sang mama masih tertidur pulas.


Mama masih tidur. Biar aja, deh, entar menganggunya kalau dibanguni, batinku.


"Ma. Nissa pergi sekolah dulu, ya." Selesai berpamitan, aku mencium kening wanita dengan rambut acak-acakan dan baju seperti gembel.


Seperti biasanya, aku pergi ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum. Berdiri di pinggir aspal hitam untuk menunggu sebuah kendaraan seperti biasanya aku naiki. Selang beberapa menit berdiri, angkutan umum tak kunjung datang. Entah ke mana perginya mobil-mobil yang membawa para siswa dan siswi untuk menuju sekolah.


Kemudian, sebuah mobil berwarna putih berhenti. 'Ini mobil siapa, ya? Sepertinya gue kenal?' batinku berkata.


Jendela kaca perlahan terbuka. Rupanya Refal adalah sosok pemuda yang membawa mobil tersebut, ia mengedarkan senyum kecil seraya mendongak ke arahku.


"Nis, lu pergi sama siapa?" tanyanya.


"Gue naik angkutan umum aja," jawabku.


"Mau pergi bareng gue enggak?" lanjutnya, kemudian ia membuka pintu sebelah kiri.

__ADS_1


Aku pun menggelengkan kepala dua kali. Lalu, kugeser posisi dengan melangkah miring ke samping. Refal pun keluar dari dalam mobilnya, ia berdiri tepat di belakang tubuhku.


"Nis, pergi bareng gue aja, yuk," tawarnya lagi, ia pun mengeluarkan blush bajunya dari celana.


Dengan tatapan jijik, kedua bola mata menatap baju yang telah ia keluarkan. "Lu ngapain keluarin baju? Biar kelihatan keren? Sorry ... type gue enggak cowok yang urak-urakan seperti itu."


Mendengar ucapanku, Refal kembali memasukkan blush bajunya lagi. "Nih, udah rapi belum?" tanyanya, sambil mengedarkan senyum kecil.


"Fal! Lu itu bukan type gue." Aku merogoh cermin berbentuk segitiga di dalam tas. Kemudian, dengan tangan kiri, aku menyodorkan cermin itu tepat di wajah Refal.


"Lu enggak lihat kalau rambut lu warna-warni seperti tembok taman? Lihat di tangan lu. Ia kali gue mau sama cowok tatoan."


"Nis, ini bukan tato permanen, kok ...."


"Walaupun! Gue enggak suka sama cowok seperti lu. Sana-sana, jangan dekat sama gue," cibirku seraya menyuruhnya menjauh dengan kedua tangan.


Pemuda tampan berkumis tipis itu malah mendekat, ia membuang cengir dan semakin tak peduli kata-kataku. "Nis ... lu cantik kalau marah."


"Emang."


"Tapi jangan kebangetan dong ...."


"Kenapa emang? Suka-suka gue, lah!" hardikku.


"Ih, makin suka gue sama lu."


Mendengar ucapan itu, aku mendelik dan menoleh ke arah lawan bicara. Batin pun berkata, akhirnya ... Refal mulai suka sama gue. Bagus kalau gitu, gue bisa secepatnya menyingkirkan lu dan nyokap lu dari rumah gue.


"Udah, deh, Fal. Lu kenapa enggak pergi sendiri aja, sih?"


"Enggak! Gue mau ikut sama lu aja di sini." Lawan bicara melipat kedua tangannya di atas dada.


"Ih, sinting lu." Karena kendaraan umum tak kunjung datang, aku pun berjalan meninggalkan Refal di posisi awal.


Berjalan sedikit kencang seraya menekan mimik wajah pura-pura kesal. Dari samping kanan, rupanya pemuda tampan itu mengikuti dan menyalakan clarkson mobilnya beberapa kali.


Ten!


Ten ...!


Ih, Refal bikin malu aja tau enggak. Ngapain pakai ngehidupin clarksonnya lagi. Dasar bodoh! Gue ini adik lu, masa iya lu cinta sama adik sendiri, batinku seraya meringis dalam hati.


Selang beberapa menit berjalan, aku pun merubah posisi menjadi jongkok. Karena tak mampu lagi untuk lanjut berjalan. Napas pun ngos-ngosan dan keringat membasahi seluruh tubuh. Secara seksama, aku menatap mantap arloji di tangan kiri, sang waktu sudah menunjukkan pukul 07:30.


Haduh ... udah siang lagi. Pasti telat sampai sekolahnya, deh, gumamku dalam hati.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2