Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
58. Sekadar Ingin Membalas Dendam


__ADS_3

“Marissa, kamu mau pesan apa?” tanya Bos Andreas seraya menyodorkan menu makanan di hadapanku.


Dengan lembut aku mengambil sodoran darinya, kemudian kedua netra ini hanya tertuju sejurus pada pusat tatapan. Menu yang ditawarkan oleh kafe tersebut sangatlah banyak, tidak seperti ketika berada di kafe yang telah dikelola oleh Bos Andreas. Karena sangat bingung, aku pun sukar untuk memutuskan.


“Bos, saya bingung mau pilih makanan apa. Soalnya enggak pernah melihat buku menu sebesar ini,” ucapku dengan polosnya.


“Ha-ha-ha ... kamu polos sekali, Mar, pilih sajalah yang mana kau suka,” jawab Bos Andreas dibarengi dengan tawa terkekeh-kekeh.


“Saya pesan sop saja, Mas, soalnya enggak tahu dengan makanan yang ditulis menggunakan bahasa Inggris.”


“Ah, kamu pura-pura saja. Aku tahu, kok, kalau kau adalah lulusan Universitas yang ada di Amerika. Mana mungkin tidak tahu bahasa Inggris. Jangan sungkan-sungkan, pilih saja menu yang paling mahal di kafe ini,” jawab Bos Andreas seraya membuang senyum simpul.


Kok, si bos bisa tahu kalau aku adalah lulusan Universitas di Amerika? Padahal, aku sama sekali tidak pernah bercerita tentang pendidikanku. Atau dia anak dukun, ya, bisa menebak begitu, batinku bersenandika.


“Saya enggak anak dukun, Mar,” ucap si bos spontan.


Nah, tuh, kan? Aku bilang juga apa. Mampus aku, mana dia bisa tahu lagi ucapan batinku.


Setelah berpikir panjang dan berpikir keras, aku memutuskan sebuah menu yang menjadi favorite di resto ketika kuliah di Amerika. Daging dengan balutan sayuran yang ramah akan protein. Namun, mengandung banyak lemak. Karena aku tergolong orang yang rendah lemak, pilihan itu tetap jatuh ke menu tersebut.


“Saya pesan ini, Bos,” tunjukku dengan menggunakan tangan kanan.


“Oke, minumnya?” tanya si bos.


“Minumnya lemon tea saja.”


“Oke, saya juga pesan menu yang sama,” jawab Bos Andreas.


Tak berapa lama, pelayan resto pun datang menghampiri. Dia berjalan santai seraya membuang senyum simpul. Sesampainya pelayan itu di hadapan kami, dia memandang Bos Andreas secara saksama.


“Mbak, kami pesan menu ini,” ucap si bos dengan lantangnya.


“Oh, baik, Pak, tunggu menu tersebut sampai di meja ini.” Selepas berkata, pelayan berbandana merah itu meninggalkan meja kami dan kembali berjalan menuju bartender.

__ADS_1


Tampak dari ekor netra para pengunjung, kami berdua seperti orang yang tengah diperhatikan. Bagimana tidak, seorang pria tampan dengan fostur tubuh maskulin membawa wanita yang belum berganti pakaian serta dandanan ala kadarnya. Namun, si bos tampak sangat biasa saja dengan respons tesebut.


“Mar,” panggil si bos.


“I-iya, Bos, ada apa, ya?” tanyaku penuh selidik.


“Kamu enggak ada minat untuk mencari pengganti lagi?” tanyanya.


Mendengar ucapan itu, aku tertegun tanpa sepatah kata pun terucap. Mulut seolah bungkam untuk berkata-kata, yang ada hanyalah sebuah lamunan semu yang membawaku kembali menuju masa lalu. Apalagi jika mengingat semua tentang Mas Revan, segala sesuatunya tampak sama. Bahwa laki-laki adalah penghancur hidup seorang wanita.


“Saya tidak tahu harus menjawab apa,” ucapku spontan.


“Kenapa kamu tampak ragu? Apakah masa lalumu itu begitu sangat pahit?”


“Iya, Bos, saya juga enggak tahu harus memulai perkataan ini dari mana. Karena yang aku tahu bahwa laki-laki itu sama,” paparku memperjelas.


“Enggak semua laki-laki, Mar, masih ada di dunia ini laki-laki tulus.”


“Tapi itu hanya sebentar, Mas, dan aku sudah merasakan dicampakkan oleh suami sendiri. Dengan nikmatnya dia bercinta serta berciuman bibir di hadapanku, ketika kedua kaki ini dipasung olehnya. Kamu tahu, Mas, aku hidup di dalam ruang bawah tanah selama lima belas tahun.”


“Maaf, kalau saya telah membuka kembali masa lalumu,” titah si bos dengan melasnya.


Akibat ucapan itu, aku merasa sangat malu. Bukan hanya si bos saja yang memerhatikan dengan tatapan takut, bahkan pengunjung lainnya juga menatap ke meja kami berdua.


“Mas, aku mau ke belakang dulu,” ucapku seraya membangkitkan badan.


“Iya, Mar, hati-hati kamu,” jawabnya.


Bersama tapakkan gontai, aku melintasi koridor dan menuju sebuah toilet. Tepat di portal bertuliskan WC wanita, aku memasuki ruangan itu dan menatap cermin berbentuk lingkaran. Air mata keluar begitu saja dari lekuk pipiku. Akibat emosi yang tak terkendali, membuat amarah itu keluar tanpa mampu terbendung.


Akibat kisah masa lalu yang terus menghantui seolah menjadi boomerang yang siap kapan saja menghancurkan hidup ini. Dengan lembut aku menyalakan keran air seraya membasuh wajah, terasa sangat segar dan mampu mengurangi emosi yang kian panas.


Kini aku mencoba untuk tenang, memberanikan diri kembali ke hadapan Bos Andreas yang telah menunggu. Malam ini sangat kacau, kareka mampu menguras air mataku. Namun, sebisa mungkin diri ini untuk tetap tenang layaknya tidak ada masalah apa pun.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, aku keluar dari dalam ruangan dan melepas rambut yang tadinya aku ikat dengan bandana. Setelah rapi, langkah kaki ini terhenti di sebuah koridor yang menghubungkan toilet pria dan toilet wanita. Berhentinya aku di ruangan ini tatkala setelah mendapati Revan sedang berduaan dengan seorang wanita yang tidak aku kenal.


Entah apa maunya berdiri di sana, karena yang aku tahu wanita itu bukanlah Siska—istri keduanya. Karena aku merasa sangat dendam padanya, langkah pun hanya beringsut cepat dari jarak sekian meter padanya. Dengan tatapan heran, Revan menatap aku yang melintas di samping kanannya.


Secara saksama, dia pun tertegun di hadapanku dan menghalangi jalan untuk pergi.


“Permisi, apakah kau bisa pergi dari hadapanku?”


“Marissa, kau lagi apa di sini?” tanyanya.


“Apakah kita pernah saling kenal?”


“Marissa, semudah itu kau melupakan aku?”


“Maaf, aku enggak punya banyak waktu untuk melayani omong kosongmu.”


Dengan cepat, aku menyibak pundak lelaki yang tengah menghalangi di depan mata. Sedari tadi Revan hanya menatap aneh, aku tidak peduli jika dia melakukan itu. Rasanya sangat puas membuatnya seperti itu, walau bukan diri ini memanasi mantan suami.


Revan lagi apa sama perempuan tadi? Biasanya dia membawa Siska, atau jangan-jangan wanita tadi adalah istri barunya, ya? tanyaku bermonolog.


Setibanya di meja tempat awal, aku mendudukkan badan seraya menatap si bos yang telah menekuk wajah dengan ekspresi seperti tidak biasa. Namun, mulut ini sukar tuk berucap sepatah kata pun untuknya.


“Bos, apakah kau baik-baik aja?” tanyaku.


“Ah, iya, aku baik-baik aja.” Seketika si bos merubah ekspresi menjadi sangat semringah.


“Si Bos lagi apa hayo ... pasti mikirin wanita yang membuat Bos terkesima, kan?” ledekku.


“Iya, saya lagi terkesima dengan seorang wanita.”


“Siapa wanita itu, Bos?” tanyaku lagi.


Tanpa menjawab, si bos hanya sekadar membuang senyum simpul. Sementara untuk berkata, dia tampak malu-malu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2