
Marissa POV
Sore yang indah bersama dengan semburat jingga arunika menerpa seisi sudut kota. Lelah jiwa telah terobati setelah melihat senyum indah sang anak yang mulai bersekolah lagi di SMA Tunas Bangsa, di mana sekolah itu adalah pilihannya sejak pertama ingin pindah. Tak ada kata lain yang dapat terucap, karena pilihannya adalah yang terbaik untukku juga.
Tepat di dalam ruang kerja, dengan tumpukan gelas dan piring, aku menghabiskan waktu dengan mencuci. Namun, hari ini sangatlah melelahkan, tidak seperti hari-hari biasanya. Begitu banyak pengunjung yang mampir, membuat para karyawan tidak mampu untuk mendudukkan diri dan sekadar menarik napas panjang.
Tuntutan pekerjaan yang sedang aku jalani, hampir satu tahun lamanya aku bekerja di kafe ini. Tak berapa lama, Risma pun datang menghampiri dengan membawa piring kotor di tangannya.
“Selamat sore, Mbak,” ucapnya seraya membuang senyum simpul.
“Risma, bisa tidak kalau datang jangan hanya bawa piring kotor, bawa uang gitu.” Selepas berkata, aku membalas senyum simpulnya dengan sedikit meledek.
“Mbak, lain kali aku bawa cowok tampan aja, deh, ke sini. Mau enggak?” tawarnya seraya mengernyitkan alis bersamaan.
Karena merasa sangat malu, aku memukul perut lawan bicara. “Resek banget kamu, Ris.”
“Si Mbak, ditawari cowok enggak mau, ditawari brondong juga ga mau. Jadi maunya apa?” tanyanya seraya menyibak rambut yang menutup separuh wajahnya.
“Bantu, gih, aku mencuci piring!” seruku dengan menaikkan satu nada suara.
“Mbak, di luar banyak banget tamu. Aku enggak bisa bantu,” jawabnya, lalu dia keluar dari tempat untuk mencuci piring.
Belum pun Risma pergi, datanglah Reza—karyawan yang sama-sama bekerja dengan kami di kafe. Kehadiran brondong itu selalu membuat aku sedikit malas, karena ucapannya selalu merayu, tidak ada pembahasan lain. Entah serius atau tidak, yang pasti dia sangat suka meledek aku setiap waktu.
“Sepertinya kesayangan lagi bahagia, nih,” sambar Reza spontan.
Mendengar ucapannya itu, aku dan Risma pun membungkam dan saling tukar tatap. Belum pun aku berhenti membatin, dia telah mengatakan hal yang demikian. Karena malas berurusan dengan brondong yang seumuran anakku di rumah, aku melanjutkan untuk mencuci piring.
“Mbak, ditanya, tuh, jawab atuh,” ucap Risma.
“Ris, kamu kembali lagi ke dalam sana, banyak pengunjung!” seruku seraya mengusir Risma.
“Cie ... yang enggak mau diganggu,” sambar Risma.
“Mar, entar malam-malam apa?” tanya Reza.
“Malam minggu, emang kenapa?” Aku pun menjawab dengan membuang pertanyaan.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan, Mar.”
“Ah, enggak, ah. Aku ada acara,” tolakku seraya mondar-mandir tanpa henti.
__ADS_1
“Ayolah, cantik. Masa enggak mau jalan sama babang Reza,” tambahnya lagi.
“Marissa akan jalan dengan saya malam ini,” sambar seseorang yang sedang tertegun di posisi belakang Risma.
Dengan tatapan pongah, sang pemilik kafe pun memantau kami bertiga. Tak seperti biasanya, ketika kami bersenda gurau, dia tidak terlalu ambil open. Namun, kali ini berbeda. Raut wajahnya juga seperti marah.
“Eh, ada Bos, kalau begitu ... Risma balik kerja lagi, Bos.” Risma pun meninggalkan kami bertiga di ruang cuci piring.
Masih dalam posisi yang sama, si bos pun menatap Reza secara saksama. “Kamu, kenapa masih di sini?”
“Eh, iya, Bos. Reza juga mau kerja lagi,” jawab brondong berkumis tipis itu.
Karena sedari tadi aku tetap bekerja, sehingga tidak ada kekhawatiran atau merasa bersalah. Setelah kedua cecunguk itu pergi, bos pemilik kafe pun berjalan di depan kaca yang menjadi penghubung antara ruangan dengan tempat pencucian piring.
Sedari tadi pemilik kafe memerhatikan aku yang hanya mencuci tanpa henti, kemudian dia mengetuk kaca di hadapanku.
“Hallo,” ucapnya.
“Iya, Bos.” Sembari berkata, aku tetap bekerja dan mencuci piring.
“Enggak capek kerja terus?” tanyanya tiba-tiba.
Deg!
“Sebenarnya capek, Bos, tapi udah tuntutan pekerjaan.”
“Kalau capek istirahat dulu, kan, saya enggak melarang karyawan untuk duduk sejenak.”
“I-iya, Bos, tapi saya malu untuk bermalas-malasan.”
“Calon istri idaman,” ujarnya seraya membungkam ucapanku.
Eh, maksud si bos apa, ya, ngomong begitu. Kok, aku merasa ada yang aneh padanya. Tunggu-tunggu, mungkin dia lagi sakit atau gimana, ya? tanyaku dalam hati.
Selang beberapa menit tertegun, si bos pun tak kunjung pergi. Sementara aku merasa sangat canggung bila ada yang memerhatikan ketika bekerja, sehingga aku tidak bisa fokus kali ini.
“Marissa,” panggilnya.
“I-iya, Bos, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku.
“Kamu ada acara enggak malam ini?” Katanya, lalu dia membuang tatapan menuju langit-langit ruangan.
__ADS_1
“Enggak ada, Bos, emang kenapa?”
“Mau enggak jalan dengan saya?” ajaknya.
“Ta-tapi, Bos, saya pulang kerja saja sudah malam. Saya enggak mau terlalu lama pulang, karena anak saya di rumah kasihan.”
“Ya, sudah, nanti kamu pulang lebih cepat. Agar kita bisa pergi malam ini,” jawabnya.
“Ta-tapi, Bos.”
“Marissa, anggap saja ini perintah dari atasan.”
Selepas berkata, si bos pun pergi begitu saja dengan sedikit bersenandung. Sementara aku tidak sempat untuk menolak ajakannya, sehingga mau tidak mau harus mengikut saja sesuai perintah atasan.
Tidak berapa lama berdialog dalam batin, aku pun selesai mencuci piring dan mendudukkan badan sejenak. Kemudian seseorang datang lagi ke tempat di mana aku sedang mendudukkan badan. Namun, diri ini terlalu sibuk untuk melamun karena ucapan si bos barusan.
“Hay!”
“Astaga! Risma ... kamu buat aku terkejut aja, deh.”
“Ngapain si bos ke sini, Mbak?” tanyanya penuh selidik.
“Aku bingung dengan cara apa menolaknya, belum sempat berkata dia sudah pergi begitu saja.”
“Emang apa katanya, Mbak?”
“Si bos ngajakin jalan malam ini, mengatasnamakan perintah atasan lagi, aku bisa ngomong apa coba, Ris?”
“Ya, ampun ... si bos ngajak jalan si Mbak enggak respons? Sebenarnya Mbak, mati kutu atau mati rasa, sih?”
“Aku enggak mau dianggap yang aneh-aneh sama karyawan lainnya.”
“Gini, ya, Mbak. Kamu adalah janda, dan dia adalah duda. Apa salahnya coba kalau jalan bareng?”
“Entahlah, Risma, aku bingung.”
Saking merasa geroginya untuk memulai dekat kembali dengan pria, aku seakan tidak layak lagi berdekatan dengan kaum Adam. Selepas pernikahan yang membuat diri ini tercampakkan dalam sebuah hubungan pernikahan, aku mengganggap bahwa diri ini tidak lain seperti sampah.
“Sudahlah, Mbak, masa-lalu anggap aja masa lalu. Kamu jalani aja hidup ini, karena enggak semua laki-laki itu sama,” ucap Risma.
“Apa aku masih pantas mendapatkan kebahagiaan, setelah kegagalan yang membuat hancur hidup dan masa depanku, Ris.”
__ADS_1
“Semua orang layak bahagia, termasuk kamu. Kita sama-sama wanita, dan aku tahu rasanya diselingkuhi itu seperti apa. Memang aku enggak pernah di posisi Mbak, tetapi aku bisa merasakan bagaimana tekad Mbak mengurus anak.”
Bersambung ...