Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
53. Kenikmatan Dunia


__ADS_3

Setelah sekian menit memerhatikan dari balik kaca mobil, aku pun merasa sangat kepo ingin mengetahui siapa orang di dalam kendaraannya itu. Beberapa menit bersenandika dalam batin, aku pun menyalakan mesin mobil tepat di tepian trotoar. Kemudian mobil di hadapanku menyala dan ingin meninggalkan lokasi.


Terlebih Marissa juga telah pergi dari posisi semula dan berjalan memasuki gerbang. Tanpa berpikir panjang, aku pun menginjak gas mobil lebih laju agar tidak tertinggal oleh orang misterius itu. Jalan yang dipilih olehnya juga sangat mengundang pertanyaan, karena sedikit berkabut dan dipenuhi pohon berukuran besar.


Seketika aku berpikir kembali perihal peristiwa beberapa tahun lalu. Tepat di jalan yang saat ini aku lalui, nyawa ini pernah hampir hilang karena sebuah peristiwa. Penyekapan yang dilakukan sebagian orang misterius pun kembali terputar lagi dalam ingatan. Namun, waktu itu aku tidak tahu persis siapa pelakunya.


Karena sangat penasaran, aku berhenti di sebuah pohon besar dikarenakan mobil milik orang misterius itu menghilang tiba-tiba. Akibat dari rasa takut yang berlebihan mendadak muncul, aku pun putar mobil dan ingin kembali pulang melalui jalan yang tadi dilalui.


Tak berapa lama, aku pun sampai di jalan lintas yang telah sunyi pengendara. Sehingga aku mengurangi frekuensi kecepatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setibanya di sebuah hotel, aku berhenti dan ingin menginap di sana. Walaupun tidak membawa uang sama sekali, kucoba untuk mengambil dari ATM milik perusahaan.


Setibanya aku di dalam parkiran, terdapat mobil yang sepertinya kukenal. Namun, dia sana sudah tidak ada siapa pun. Sehingga aku membuang rasa kecuriagaan pada mobil tersebut. Tapakkan yang kian gontai membawa diri ini untuk memasuki ruangan dengan sepuluh lantai di atasnya.


Bersama dengan penjaga hotel, aku memesan nomor kamar yang masih tersedia. Dapatlah aku nomor 212 yang berada di lantai sembilan. Dengan langkah cepat, kedua kaki ini berpijak pada lif dengan sedikit bersenandung menuju kamar tersebut. Menjauh dari Siska adalah cara yang terbaik untuk bisa hidup lebih nyaman.


Ketika aku sampai di depan pintu kamar hotel, kedua bola mata mendapati penglihatan tak lazim. Tepat di kamar dengan nomor 215 telah ada Reza—sahabat terbaikku. Namun, dia tampak buru-buru memasuki kamar. Padahal, dia sempat dikabarkan telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.


Itu bukannya Reza, ya? Kenapa dia masih hidup? Lagian, wanita tadi siapa? Kan, Reza belum punya istri, tanyaku dalam hati.


Karena merasa sangat penasaran, aku berjalan gontai seraya menyentuh dinding kamar hotel yang bermotif batik. Tatapan pun sekadar menatap sejurus menuju ujung kamar di lantai sembilan. Akhirnya aku sampai di depan kamar tersebut dan tertegun menatap sebuah pintu yang ternyata tak terkunci.


Pintunya enggak dikunci, bagaimana kalau ternyata dia bukan Reza. Tetapi, aku sangat penasaran dengan suara des-ahan di dalam kamar tersebut, batinku bersenandika.


Kemudian, aku membuka sedikit pintu kamar itu dan menatap sebuah sprei yang telah berhambur rusak. Namun, untuk memasuki ruangan rasanya aku tidak mampu. Karena tengah ada yang sedang bercinta di sana. Saking lamanya aku tidak mendapat belaian dari wanita, nafsu yang ada di dalam jiwa menggebu untuk kepo melihat hal tersebut.


Sebuah tapakkan lembut mendarat di pundakku secara perlahan. “Maaf.”


“Eh, kamu ngagetin aja,” ucapku pada seorang wanita di posisi belakang.


“Lagi apa, ya, Pak?” tanyanya penasaran.


“Ah, eng-enggak, saya enggak apa-apa.”

__ADS_1


Kemudian karyawan hotel itu celingukan menuju ruang kamar. Dia pun seperti tengah aneh dengan suara des-ahan tersebut. Alhasil, wanita itu menutup pintu kamar yang sempat terbuka lumayan lebar.


“Bapak lagi memperhatikan orang yang lagi—“ Dia menggantung ucapan.


“Enggak, kamu kepo,” sambarku.


“Bilang aja, Pak, kalau Bapak lagi pengen, kan?” tanyanya, kemudian lawan bicara mencubit perutku sedikit lembut.


Hmmm ... apa mau wanita ini sebenarnya. Tapi, boleh juga kalau untuk sekadar menemani malam ini. Sepertinya dia gampang banget kalau diajak tidur, ujarku dalam hati.


“Nama kamu siapa?” tanyaku.


“Nama aku Raisa, Pak, kenapa?”


“Enggak apa-apa, kamu mau enggak nemani saya malam ini?” tanyaku lagi.


“Asal bayarannya sesuai, aku siap temani kamu sampai pagi.”


“Emang tarif kamu berapa sekali tusuk?” Sambil berkata, aku membuang cengir geli, sepanjang hidup aku belum pernah merayu wanita lain di dalam hotel.


“Oke, yuk, ikut dengan saya.” Aku pun menggandeng tangan lawan bicara untuk segera memasuki kamar dengan nomor 212.


Setelah memasuki kamar, aku pun bersanding dengan wanita yang merupakan salah satu karyawan di hotel ini. Dari lekuk badannya, terlihat sangat anggun dan sempurna. Apalagi warna kulitnya yang begitu terawat. Namun, sedari tadi dia hanya memerhatikan layar ponselnya saja.


Karena merasa sangat tertantang, aku memulai percakapan dengan menyentuh lehernya. “Kamu lagi sibuk?”


“Enggak, Sayang, aku lagi menunggu kamu untuk buka baju,” jawabnya.


“Emang mau secepat itu?” tanyaku.


“Kan, kita bisa lima ronde malam ini,” titahnya memperjelas.

__ADS_1


“Emang kamu kuat sampai lima ronde?”


“Aku hanya rebahan, yang bergoyang kamu, Mas.”


Mendengar ucapan itu, aku pun tersenyum geli. Hampir tiga tahun lamanya, aku memutuskan untuk pisah ranjang pada Siska. Malam ini, setelah melihat wanita berbaju merah dengan lekuk wajah sempurna aku merasakan gairah untuk bercinta. Tanpa menunggu lama, kubuka jas hitam beserta celana panjangku.


Dengan perlahan, lawan pun hanya merebahkan kedua sayapnya dan telah pasrah. Dengan lembut, aku berada di atas badannya dan memulai aksi untuk bercinta mesrah. Gairah malam ini sangatlah membuat diri untuk betah berlama-lama berada dalam lubang keindahan miliknya.


Ketika aku melakukan hentakan pertama, lawan hanya sekadar meringis. Namun, ketika dua dan tiga kali barulah des-ahan demi des-ahan itu terdengar indah di telingaku. Bangkitnya nafsu dalam jiwa ini membuat malam di hotel berbintang sangat indah bagai surga.


Setelah setetes air hina itu keluar dan membasahi sanubari, aku pun hanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi dengan lampu kemerlap jingga.


“Mas,” panggil wanita itu.


“Iya, ada apa?” tanyaku seraya menyibak rambutnya yang sempat berantakan.


“Kamu sudah menikah?” tanyanya.


“Sudah, kenapa emangnya?”


“Sudah menikah kenapa masih mau tidur dengan wanita lain?” katanya.


“Aku enggak cinta lagi pada istri di rumah, kami sudah tiga tahun pisah ranjang.”


“Setelah menikmati tubuhku, apa yang kau rasakan?”


“Tubuhmu nikmat, aku merasa seperti berada di surga. Apalagi ketika kamu men-desah, mencium bibirku. Apakah, kamu enggak menyesal melakukan hal itu padaku?”


“Enggak, Mas, mana mungkin aku menyesal melakukannya padamu. Apalagi punya kamu besar, Mas, rasanya ingin nambah.”


“Benarkah, kalau begitu. Satu jam ke depan kita lakuin lagi, aku juga ingin tambah.”

__ADS_1


Gila, nih, perempuan. Baru juga selesai, sudah mau nambah ronde berikutnya, batinku.


Bersambung ...


__ADS_2