Pasung Tuan Muda

Pasung Tuan Muda
86. Aku Tidak Malu Berstatus Janda Part II


__ADS_3

Senyum manis seorang gadis kecil tengah terlempar ke arahku, wajah yang asing dengan kepang dua di atas rambutnya seakan menghiasi wajah nan cantik dan imut itu. Namun, sedari tadi dia hanya sekadar memerhatikan, tidak berkata sama sekali, dan bergeming tanpa suara.


Karena merasa sangat penasaran, aku mencoba untuk melepas pelukan Anissa dan terfokus menatap tajam gadis imut itu. Seketika pusat tujuan netra membuang senyum kecil, ekspresinya juga berubah seperti orang yang sudah kenal lama dengaku. Tepat di ambang pintu, Anissa pun menatap kembali sang sahabat yang mengenakan seragam sekolah dan membawa buku tulis di tangannya.


“Mama, kenalin ini Ziva,” ucap Anissa spontan.


Dengan sekali kerlingan netra, aku pun menarik napas kecil sembari menetralisir. “Nissa, dia sahabat kamu? Kok, mama enggak pernah melihatnya?”


“Hmmm ... jelas Mama enggak pernah melihatnya, karena dia adalah sahabat baru Nissa yang sekarang setia banget menjemput dan mengantar Nissa sekolah,” celetuk putri semata wayangku.


“Wah ... kamu baik banget, Ziva. Sini, tante mau lihat wajah kamu dari dekat,” suruhku mencoba akrab padanya.


Rupanya lawan bicara mengerti dengan ucapanku lewat kedua netra, dia berjalan laju dan memeluk buku tulis berwarna putih. Akan tetapi, setiap netranya menatap tajam, sebuah wajah terlihat jelas dan membawa diri untuk beretemu dengan seseorang yang tidak asing. Namun, sedari tadi aku hanya menatap dan tidak berpaling.


“Tante Marissa,” ucapnya lirih.


“I-iya, itu adalah nama saya. Ka-kamu, kamu kenal dengan saya? Apakah kita pernah bertemu, atau—“


“Mama ... kalau bertanya satu-satu, gimana mau menjawab kalau Mama borongan gitu,” pungkas Anissa di samping kanan.


Mendengar ucapan itu, aku menggaruk kepala karena malu. Kemudian aku pun berkata, “Nak, wajah kamu tidak asing bagi saya.”


“Benarkah, Tante? Saya juga seperti sering bertemu dengan Tante, tetapi lupa di mana.”


“Tunggu-tunggu ... kalian harus meminum teh hangat buatan Nissa, silakan duduk dulu dan kita bicara dengan situasi tenang. Oke ...,” sambar Anissa seketika.


Ucapan sang putri memang ada benarnya, karena sedari tadi aku selalu menyerang dengan berbagai pertanyaan. Akibat dari rasa malu yang berlebihan, kami pun mendudukan badan di atas sofa seadanya. Sementara di posisi depan, Ziva meletakkan buku tulisnya di atas meja.


Tampaknya rumah sangat bersih, wangi lemon pun menyebar seisi ruangan. Padahal, hampir dua minggu aku tidak berada di rumah dan membersihkannya. Sementara di atas meja, telah ada tumpukan buku dan gambar sketsa yang sangat bagus. Namun, aku tidak tahu kalau Anissa selama ini gemar menggambar.

__ADS_1


Yang aku tahu adalah, Anissa hanya senang mendengarkan lagu-lagu islami dan sibuk dengan buku diarynya. Karena sangat penasaran, aku mengambil secarik kertas itu dan menatap secara saksama. Dari gambar tersebut, terlihat sebuah goresan pensil yang sangat rapi, menggambarkan dua orang keluarga menyatu bahagia.


Tanpa terasa, air mataku menetes dan terpaku pada pusat tatapan. Semetara Risma, memerhatikan sejak tadi di atas bangkunya.


“Mbak, kau menangis?” tanyanya.


“Ah, eng-enggak. Saya enggak menangis, Ris.” Menggunakan kedua tangan, aku menyibak air mata yang keluar sangat deras itu.


“Tante kenapa? Apakah gambarnya jelek?” tanya Ziva menyambar ucapan.


“Eng-enggak, gambar ini bagus sekali. Apakah kamu yang telah membuatnya?” tanyaku.


“I-iya, Tan, saya yang menggambar. Akan tetapi yang memberikan warna Anissa tadi,” jawabnya sangat lembut.


Tak berapa lama, aku meletakkan gambar itu tepat di depan posisiku. Dari balik gorden putih, gadis kecil datang seraya membawa nampan. Dia adalah Anissa, anak yang aku besarkan dengan bertaruh nyawa telah siap siaga memberikan teh hangat sore ini.


“Jangan pada serius ngomongnya ... mari, kita minum dulu ...,” ucap Anissa dengan sangat senang.


“Sengaja, kalau kamu datang sudah pasti membuat sendiri di dapur, enggak perlu aku yang buatin. He-he-he ....” Tampak dari wajah sang putri, dia sangat senang berteman dengan Ziva.


Selama yang aku tahu, Anissa menutup persahabatannya pada siapa pun. Jangankan laki-laki, pada seorang perempuan pun dia tidak mau berteman baik. Akibat kemiskinan dalam hidup ini, mengajarkan dia menjadi anak yang sadar, kalau dia punya takdir yang berbeda dibanding teman-temannya.


Meskipun berteman tidak pandang itu semua, akan tetapi adakalanya, seorang sahabat bercanda sangat keterlaluan hingga menyinggung ekonomi orang lain tanpa disadari.


“Nak Ziva, ayo, makan yang banyak. Tante udah beli tadi di pasar sama Tante Risma,” ucapku.


“Iya, Ziva, habiskan saja. Nanti kalau mau tambah biar Tante belikan lagi,” sambar Risma di samping kiri.


“Ah, Tante ... buat Ziva gerogi aja. Tanpa disuruh pasti akan Ziva habiskan semuanya.” Dibarengi tawa lepas, kedua gadis itu tampak sangat lugu dan polos.

__ADS_1


Tuhan ... terima kasih hamba ucapkan. Karena, Kau telah membuat anak hamba bahagia dan bisa tertawa lepas, tidak hanya mengurung diri di kamar bersama air matanya. Sungguh kebesaranmu membuat hamba malu, bahwa yang hamba lakukan tidak bisa menebus dosa dari perpisahan yang terjadi di masa lalu.


Sedari tadi Risma menatap wajahku sangat heran, mungkin karena aku yang selalu bersedih dan hanya murung. Ceria dibuat-buat. Atau memang bahagia ini tercipta sekali seumur hidup.


“Mbak, kenapa diam aja? Ini adalah momen indah, jangan sia-siakan. Ayo, tersenyum dan lupakan masa lalu. Lihat Anissa, bisa bahagia melihat mamanya pulang, dan memiliki teman baru.” Dengan sedikit berbisik, Risma meletakkan mulutnya di daun telingaku.


Tanpa menjawab, aku mengangguk dua kali seraya menyibak air mata. Tak berapa lama, seseorang pun datang dengan mengetuk pintu.


“Assalammualikum ...,” sapanya.


“Wa’alaikumsallam ...,” jawab kami serempak.


“Bi Ira, kok, baru pulang? Dari mana saja?” tanyaku.


“Maaf, Nyah, saya tadi beli ini sebentar. Oleh-oleh dari kampung, keluarga saya titip salam dengan Nyonyah,” ucapnya sangat girang.


“Mari, Bi, kita makan bareng,” ajak Anissa.


“Nyah, kok, bibi enggak dikabarin kalau sudah pulang? Jadi merasa enggak enak, karena telah meninggalkan Nyonyah dalam keadaan sakit.”


“Enggak apa-apa, Bi, kata dokter jadwal pulang adalah besok. Akan tetapi, karena keadaan sudah membaik, saya ingin pulang saja karena kangen sama kalian. Oh, ya, bagaimana dengan keadaan anak Bibi di kampung?”


“Si Mama, kalau bertanya kebiasaan. Jangan borongan, dong, satu-satu nanyanya,” tukas Anissa sedikit mengomel.


“He-he-he ... iya, mama yang salah. Bi, sini kita gabung.” Selepas berkata, kami pun duduk bertiga dengan posisi berjejer.


Tampak wajah-wajah yang paling aku rindukan telah hadir, akan tetapi sedari tadi jiwa merasa sangat kurang. Bagaimanapun juga, Revan adalah mantan suami yang pernah aku cintai. Kehadiran seorang pria, mungkin dapat memberikan warna baru di dunia ini. Namun apa boleh buat, semua yang terjadi tidak mungkin dapat diputar kembali.


Nissa ... maafkan Mama yang tidak bisa memberikan kamu seorang ayah di dunia ini.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2