
Cuaca di perbukitan seperti Subang Ciater-Jawabarat itu memang selalu mendung, tetapi sudah lewat makan siang. Tambahan suhu dingin membuat kabut bermunculan di wilayah penginapan.
Tampak Hani dan Dimas sedang ngemil sambil
menikmati masing-masing secangkir kopi susu, dan ada Jasmin sambil menopang menggunakan kedua tangan.
Surya, Airin dan Haris sedang diajak pergi oleh
Jordan dan Fany menuju suatu tempat.
"Duh, momoginya enak," kata Dimas sambil membuka kemasan baru momogi tanpa pesan dengan kedua meluncurkan.
Hani mendecih pelan, mendengarkan decihan Maminya Jasmin menoleh lalu menatap suami isteri itu dengan malas.
"Mas kamu jangan ngemil mulu dong. Nanti perutnya gendut bagaimana?" ujar Hani kesal, tetapi dengan genit Dimas menyuapkan sepotong momogi bekas gigitannya pada Hani.
"Biarin dong, aku gendut kan sudah laku. Hehe.“
"Hilih biirin ding iki gindit kin sidih liki,“ ejek Jasmin menirukan meme yang ada di Twitter dan Facebook.
"Sebel banget sih liat Papa sama mami. Becandaannya kayak anak muda aja.“ Hani cekikikan mendengar ejekan putrinya, begitupun Dimas.
"Mami kamu ini cemburu Min, dulu papi punya pacar namanya Mira."
"Ih Mira geisha itu mantannya papa sewaktu muda?"
"Hihi bukan Mira geisha Min, Mira Tuaise
yang mirip sama Chika Jessica itu loh."
"Oh my god! Jasmin ga peduli tuh. Hahaha...." Jasmin lalu pergi dari hadapan kedua orang tuanya, daripada disemprot sama Hani yang kini melotot kaget di tempatnya duduk.
***
Jasmin menyusul Haris yang sedang berada di suatu tempat bersama Mama dan Papanya, melihat kemesraan Hani dan Dimas entah mengapa membuat Jasmin merasa sakit hati. Dulu, dia begitu dekat dengan Papinya, tetapi sejak orang tua memutuskan untuk bercerai Jasmin terpaksa berpisah dengan sang papi dan tinggal bersama nenek dan kakeknya, waktu itu Jasmin masih TK dan Hani juga masih bekerja di sebuah perusahaan sambil kuliah. Tak ada waktu bagi Hani untuk merawat Jasmin yang sebetulnya membutuhkan kasih sayang kedua orang tua. Sesekali Joseph 'papi' nya Jasmin sering berkunjung, tetapi belakangan ini pria itu tidak pernah datang lagi menemui Jasmin. Terakhir adalah ketika Jasmin dan Haris menikah, itupun karena Joseph harus bertindak sebagai wali nikah Jasmin.
Saat berjalan langkah Jasmin terhenti saat Surya ada di hadapannya, kakak tiri Jasmin itu tampak terkejut melihat Jasmin jalan sendirian.
"Loh Jasmin, mau ke mana?" tanya Surya pada
adiknya.
Jasmin tersenyum kecut. “Mau nyusulin Haris, aku bete di vila sama papa mami."
__ADS_1
Surya tertawa kecil. "Oh, kenapa ga pake motor? Lumayan jauh loh." beritahu Surya pada Jasmin.
"Aku ga bisa bawa motor, Kak," keluh Jasmin sambil cemberut.
"Tapi, Kak Surya mau ke mana?" sambung Jasmin.
Surya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Nyari udara seger... ga mau ganggu juga Airin sama Papanya"
Jasmin manggut-manggut. 'Duh si Haris apa kabar ya.'
"Yaudah, gimana kalo kita jalan-jalan. Quality time kakak adik?" tawar Surya dengan ramah, Jasmin tentu saja langsung menyanggupi ajakan Surya tanpa mikir dua kali.
'Ris sorry ya, gue enak sendirian. Wwkwkwk.' Jasmin terkikik, dia akhirnya berjalan menyusuri jalan besar menuju tempat pedagang berkumpul bersama Surya. Awalnya Jasmin ingin nyamperin Haris yang sedang berada di puncak resort, tetapi untung Surya menahannya dan mengajaknya jalan-jalan.
Karena jalan-jalan saja tidak cukup, maka pada akhirnya Surya membelikan Jasmin tahu bulat, cimol, somay dan bandrek. Mereka memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di dekat parkiran, karena parkiran itu khusus untuk para penghuni vila elite, maka terasa cukup sepi tanpa pengunjung seperti parkiran umum.
"Kok ga dimakan cimolnya?" tanya Surya.
Jasmin masih memainkan penusuk cimol di tangannya, dia tampak tak berselera.
"Jasmin kangen papinya Jasmin Kak," jawab Jasmin sedih, ini bukan modus, ini beneran.
Surya tersenyum kecil. "Sudah dihubungi papinya?"
"Coba kamu kunjungin papi kamu sama Haris. Mungkin dia sibuk.."
Jasmin terdiam, tetapi tetesan air mata ternyata turun membasahi pipinya, mata Jasmin terpejam saat rasa panas semakin menguasai kedua pelupuknya. Surya yang ada di sampingnya langsung mengambil alih cimol di tangan Jasmin dan menenangkan adiknya itu.
"Shh... kok Jasmin nangis?"
"Huhuhu... Jasmin malu," kata Jasmin sambil terisak-isak.
Surya merasa lucu saat melihat Jasmin bak anak kecil di dekatnya, mungkin Jasmin adalah jawaban atas doa-doanya yang menginginkan seorang adik perempuan.
"Ya udah... Jasmin boleh nangis, tapi Jasmin ga boleh sedih terus-terusan... Kak Surya akan selalu ada buat Jasmin, ada kak Airin juga, ada Haris."
Jasmin menggigit bibir bawahnya, dengan menahan rasa malu ia mencoba menatap wajah Surya. Surya tampak tersenyum ke arah Jasmin, mengusap puncak kepala Jasmin dan menepuk-nepuk bahu gadis itu dengan lembut. Pipi Jasmin memerah, dan tangisannya agak mereda.
"Kita semua berusaha untuk jadi keluarga... kamu jangan sedih sendirian, semuanya harus dibagi," ucap Surya menenangkan.
"Kalian lagi ngapain?!" tanya suara cadel, polos, dan dongo milik Haris tiba-tiba muncul, mengagetkan Surya dan Jasmin yang tengah mengobrol serius. Tentu saja Surya dan Jasmin menoleh ke sumber suara.
"Lah Min... lu mewek?" sambung Haris agak terkejut melihat Jasmin udah basah semuka-muka.
__ADS_1
Jasmin mengusap wajahnya kasar dan berdiri dari duduknya.
"Lu ngapain di sini?" tanya Jasmin spontan.
Haris menunjukkan kantong kresek hitam di tangannya. "Beli cilok sama cimol buat kak Airin."
"Ris, Min... kalo gitu biar kakak aja yang bawa cimol sama ciloknya. kalian jalan-jalan aja di sini...."
Terakhir, Surya juga menjatuhkan usapan lembut pada bahu Jasmin. “Jasmin, jangan sedih terus!" peringat Surya, lalu benar-benar pamit meninggalkan Haris di sana.
"Lu diapain sama Surya?!" tanya Haris sembari duduk di samping Jasmin. Jasmin menepis wajah Haris yang terlalu dekat dengan wajahnya.
"Dibaperin...," jawab Jasmin ngasal, lalu kembali melamun.
Haris tertawa mengejek. “Dasar makhluk lemahhhh... katanya cewe strong, ga mempan dibaperin."
"Ris, bisa ga sih lu serius dikit?" tanya Jasmin lembut.
"Engga bisa lah, kayak nggak tahu gue aja."
"Ih, Haris mah, gue serius, mau nanya nih."
"Tanya aja di ask.fm gue."
"Lo pernah kangen bokap nggak?"
Haris diam, kemudian wajah arogan dan jenakanya sirna, digantikan dengan ekspresi tak terbaca.
"Enggak," jawab Haris singkat. Jasmin meraih tangan Haris dan menggenggamnya.
"Sorry," ujar Jasmin lembut, tak ada canda dalam tatapan gadis itu, begitupun Haris. Jasmin kembali menangis, tetapi kini tanpa isakan seperti tadi, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Haris dan mencoba menikmati hening dengan suaminya.
"Nggak dosa kan gue sender-sender... kita kan suami istri?" ucap Jasmin sambil terkekeh pelan.
"Dosalah, karena gue sebagai suami lu, nggak
ikhlas disenderin begini," cibir Haris.
Jasmin tertawa kecil. "Ih, suamiku jahat... Nggak dikasih jatah nih."
"Bodo amat!"
"Hahahaha...!"
__ADS_1