
MASIH CERITA DI MASA SMA
***
2 BULAN KEMUDIAN
Hamid itu masih SMP, umurnya juga baru 14 tahun, tetapi badannya udah tinggi banget kaya siluman egrang. Liburan sekolah kali ini, anak itu dikirim oleh Pak Sainal untuk berlibur di Bandung bersama kakak sulungnya, Haris.
Selain sama-sama tinggi, Hamid ini sama gantengnya dengan Haris, wajar saja jika demikian karena mereka berasal dari DNA yang sama, yaitu sama-sama keturunan Sainal yang gantengnya bagaikan tetesan keringat Nabi Yusuf dan sungai alam surgawi.
Mina yang sudah dikenal oleh Fany dan Airin berkunjung ke rumah Haris, di sana ada Hamid juga sebagai tamu, kalian pasti bertanya-tanya posisi Hamid dikeluarga ini sebagai apa? Yapp. Hamid adalah adik Haris dari ayah yang sama, tetapi beda Ibu, Hamid anaknya Sainal hasil dari pernikahan keduanya, sementara Haris adalah anak pertama dari hasil pernikahan pertamanya.
Fany tidak memilah kasih sayang antara Haris atau Hamid, meski sebenarnya Fany tidak menyukai ibu Hamid tetap saja Hamid adalah adiknya Haris dan memiliki ikatan darah yang kuat karena mereka satu ayah. Fany tidak mau memutus tali persaudaraan itu. Namun, Haris sangat berbeda dengan Fany, bagi Haris si Hamid itu hanya orang asing yang tidak bisa menjadi bagian dari keluarganya.
Kira-kira sudah dua bulan lamanya Haris dan Mina berteman dekat, mereka juga berhubungan intens, hampir setiap minggu mereka menghabiskan waku bersama entah itu untuk belajar atau bertukar koleksi komik. Sekiranya, Haris kini sudah berhasil move on dari cinta dalam hatinya terhadap Jasmin.
Haris sedang duduk di teras belakang rumah bersama Mina, menikmati cemilan sore buatan Airin sambil membaca buku. Sesekali Mina mencuri pandang pada sosok Haris yang sudah dikenalnya cukup akrab, tetapi bagi Mina sikap Haris masih begitu dingin, tidak seperti cowok-cowok kebanyakan yang akan langsung memulai suatu hubungan percintaan.
"Ris," panggil Mina dengan suaranya yang lembut.
Haris menoleh sebentar. “Kenapa? Cemilannya kurang?" tanya Haris.
__ADS_1
Mina terkekeh kecil, “Bukan..."
"Terus?"
"Hmm... hubungan kita... apasih?" tanya Mina sambil menahan malu.
Haris menutup buku di tangannya dan berdeham pelan, dia cukup grogi ketika dihadapkan pada pertanyaan seperti ini. Jujur, ini pertama kalinya buat Haris sangat dekat dengan sosok wanita selain Jasmin, Fany dan Airin.
Mina itu cantik, Haris tidak bisa memungkiri itu. Gadis itu juga baik, dan amat perhatian. Namun, sulit bagi Haris untuk menempatkan Mina dihatinya, sulit mencari tempat untuk Mina agar bisa semi permanen di sistem limbik Haris yang sepenuhnya sudah diisi orang lain.
Haris membuka mulut hendak menjawab pertanyaan Mina, tetapi.
Haris sangat merindukan Jasmin, dua bulan mereka dipisahkan oleh pasangan masing-masing. Dan entah mengapa, Jasmin tampak selalu menghindari Haris begitupun sebaliknya. Mereka jaga jarak untuk waktu yang lama, tiba-tiba tidak mengabari satu sama lain tanpa alasan.
Karena teras belakang rumah begitu dekat dengan dapur maka tentu saja Haris dapat mendengar suara cempreng Jasmin.
"Eh ada Hamid... kapan ke sini?" Jasmin menyapa si tinggi Hamid dengan ramah dan anak itu tampaknya senang menemui Jasmin.
"Baru kemarin Kak... Kak kenapa ke sini?“
Jasmin cekikikan, "Ih kamu tinggi banget... padahal baru kemarin kamu masih sebahu aku. Kamu makan gantar ya?"
__ADS_1
Gantar : Bambu.
"Hehe Kak Jasmin bisa aja...."
"Gini loh Ham, aku tadi disuruh mami anterin semur jengkol. Btw tante Fany ke mana?“
Hamid tampak mengendikan bahunya. “Tante Fany lagi pergi sama Kak Airin ke mall."
"Loh, kamu sendirian di rumah?"
"Enggak, aku sama Kak Haris di sini. Mau aku panggilin kak Haris nya Kak?"
"Aahh... nggak usah, dia lagi sama someone ya?" tanya Jasmin sambil memelankan volume suaranya.
Hamid tersenyum kecil. “Iya Kak, sama temen ceweknya."
Jasmin terkekeh pelan. "Oh okee, nggak usah dikasih tau. Aku mau balik lagi kok. Mau jalan sama pacar. Hehe bye Ham... makan ya semurnya."
"Iya Kak Jasmin, makasih."
Haris menguping obrolan Jasmin dengan Hamid dibalik pintu, dan saat sahabatnya itu pergi Haris merasa cukup kecewa karena Jasmin sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya di sana.
__ADS_1