
Enin rupanya sangat senang dengan kedatangan Haris kemarin, apalagi ketika anak itu menginap di rumahnya dan membetulkan genteng rumah yang bocor. Selain membantu, kedatangan Haris dan Jasmin ke rumah tentu dapat menghibur Enin yang sering kesepian karena tidak ada teman, kecuali kalau ada bibinya Jasmin yang menginap di rumah Enin, tetapi itu pun jarang karena si Bibi bekerja dan sibule, apalagi sekarang bibi sedang ada kegiatan di luar kota.
Setelah sarapan, Jasmin ditinggal sendiri di ruang nonton TV sementara Haris diajak Enin untuk membereskan gudang. Namun, tiba-tiba sekali Jasmin sangat terkejut karena Haris muncul mengenakan seragam letnan kolonel milik almarhum kakek yang sudah sangat lama sekali tersimpan di lemari.
Enin tersenyum sambil meminta Haris untuk berputar dengan pakaian kebanggan keluarga itu, ya seragam letnan milik Aki nya Jasmin sangat pas di tubuh Haris. Haris tersenyum malu-malu.
"Cocok ya Min?" tanya Enin pada Jasmin yang masih terbelalak, antara terpesona sekaligus kaget juga karena Haris begitu cocok mengenakan pakaian perwira.
"Ehh... kok dia cobain?" tanya Jasmin pada Enin, yang membuat Haris terkikik.
"Nggak tahu nih Enin, tapi boleh juga nih kalau bajunya dipinjem ke kondangan, hehe, biar keren," ucap Haris sambil mematut dirinya di depan cermin lemari.
Enin tertawa kecil. "Duh... kalo aja Enin punya cucu laki-laki... mungkin bisa profesinya aki turun ke cucu laki-laki itu. Jadi ada penerus."
Jasmin cemberut, jadi kangen dengan Aki yang sudah lima tahun meninggal dunia.
Haris merangkul Enin dengan hangat membuat Enin tampaknya semakin terharu pagi itu.
"Jadi, Haris bukan cucunya Enin, nih?"
Jasmin mendongak tak lama gadis itu tersenyum dan menghampiri Enin yang tengah dipeluk Haris.
"Hehe Enin lupa... Haris udah Enin anggep sebagai cucu sendiri... kalo Jasmin, kesayangan Enin."
"Yeee... gitu dong, sampai kapanpun Haris akan terus jadi cucunya Enin. Enin jangan sedih makanya. Kalo ada apa-apa, bilang aja sama Haris, pasti Haris bantuin."
"Iyaa, makasih ya Ris."
Jasmin ikut memeluk Enin bergabung dengan Haris, sebagai cucu satu-satunya keluarga besar, Jasmin tentu merasa tertekan dengan keadaan Enin yang sering kesepian. Betapa beruntungnya Jasmin bisa memiliki Haris sebagai sahabat sekaligus teman baginya di situasi seperti ini.
Haris mengganti pakaiannya di hadapan Jasmin yang sedang mengenang masa kecil sembari membuka kembali album kenangan milik keluarga.
"Suka deh sama laki-laki yang pake seragam perwira gini," ujar Jasmin sambil melihat foto kakeknya dalam album yang mengenakan seragam kolonel.
Haris terkikik, "Hansip juga perwira seragaman."
Jasmin mendecih sebal. "Ya enggak hansip juga, Nold."
Haris ikut duduk setelah ia menaruh pakaian seragam ke lemari lagi, ia duduk di sisi Jasmin memperhatikan deretan foto keluarga yang tampak masih terawat.
"Min?"
"Hmm?" Jasmin mendongak, Haris mengalihkan pandagannya ke arah lain, sejujurnya Jasmin masih aneh dengan kehadiran Haris di dekatnya, meski Jasmin mencoba biasa saja, tetapi perasaan berdebar dan panas dikedua pipinya itu tetap timbul. Mengapa bisa begini? Apalagi ketika Haris memanggil namanya dengan lembut seperti tadi.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jasmin lagi penasaran.
"Engg... Nggak jadi deh.. hehe, ntar aja."
***
Rencana pesta Prom Night yang sudah menjadi rutinitas di sekolah akhirnya akan terealisasi diakhir pekan bulan ini. Perpisahan kelas 3 setelah serangkaian ujian sekolah, nasional sampai pendaftaran masuk universitas pun telah berakhir, sebagai bayaran atas kerja keras para siswa, maka sekolah mengadakan pesta rutinan setahun sekali untuk murid-muridnya. Disinilah, kreativitas, kegenitan, kejombloan, dan kehedonan akan terungkap habis-habisan.
Sehari tidak bertemu mungkin bukan menjadi soal dalam menjalin hubungan, tetapi di zaman serba canggih dan mudah ini sungguh keterlaluan rasanya kalau tidak bertegur sapa lewat aplikasi chat atau paling tidak via telepon rumah yang menganggur. Kisah cinta anak SMA yang kadang lebih membara dari panasnya api dapat menimbulkan 1000 kecurigaan dari hanya 1 kejadian janggal.
Setelah ungkapan kagumnya terhadap Haris yang la katakan pada Jasmin, Mina justru tak dapat kabar lagi dari pacarnya, Haris menghilang bagaikan potongan pisang dalam terigu yang digoreng hingga berwarna kuning keemasan. Kehadiran Haris begitu universal, antara ada dan tiada, atau ada, tetapi tak bisa disaksikan dengan mata telanjang. Undangan prom night yang Mina berikan pada Haris pun belum mendapatkan acc dari kekasihnya itu. Hal ini tentu membuat Mina galau setengah mati, gaun untuk prom night dengan dress code hitam sudah disiapkan sedemikan rupa, Mina juga bahkan sudah mempersiapkan segala hal untuk Haris kalau-kalau cowok itu butuh. Mina sangat tidak terima dengan semua sikap Haris, hal yang mengesalkan tentu saja karena Mina tidak bisa menghubungi Jasmin lagi, entah apa yang terjadi dengan Jasmin hingga sama dengan Haris, sama-sama ngilang!
Mina pun pada akhirnya memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Haris hari itu, tepat setelah gadis itu selesai rapat untuk acara prom night besok malam, Mina kan OSIS wajar dong kalau sibuk dan ada kegiatan rapatnya!
"Loh. Mina... pulang sekolah langsung ke sini?" tanya Fany saat menyambut Mina di ruang tamu rumahnya. Fany tampak cukup kaget ketika mendapatkan tamu, apalagi tamunya kini adalah pacarnya Haris.
Mina tersenyum kecil sambil membenahkan rambut panjangnya yang sudah sangat rapi.
"Hehe, iya Tante. Ganggu, ya?"
"Ah, enggak, Harisnya lagi pergi tapi... mau ke Haris kan?"
Mina mengangguk malu-malu.
"Haris pergi ke mana Tante?"
"Haris lagi pergi ke tempat servis Hp, dia nggak ada kabar karena HP nya kemarin rusak."
Mina menghela napasnya lega. "Haahh... gitu ya Tante?"
"Iya... khawatir ya sama Haris?"
"Hehe... iya Tante, sebenernya aku ke sini mau ajak Haris buat dateng ke prom night."
"Assalamualaikum. Mah, Haris pulang...." Suara Haris mengucapkan salam terdengar di ruang tamu, Fany dan Mina tentu saja senang mendengar kedatangan anak itu dari servis Hp.
Haris terkejut karena Mina ada di rumahnya, tetapi ia berusaha untuk terlihat sangat datar ketika mendapati Mina menatapnya dengan pandangan penuh dengan rasa ingin tahu yang sangat banyak.
"Besok malem ada prom night di sekolah,“ beritahu Mina pada Haris.
Haris mengerutkan dahinya, kenapa Jasmin tidak bilang ya, kalau bakal ada prom night.
"Oh ya?" ujar Haris pura-pura antusias.
__ADS_1
Mina tersenyum miring, tetapi ia hempaskan sesaat rasa marahnya pada Haris karena ia butuh Haris sebagai partnernya nanti di prom night. "Ris, kamu bisa dateng kan? Jadi pasangan aku?"
Haris membulatkan kedua matanya lebar-lebar, seumur-umur baru kali ini Haris diundang ke acara prom night.
"Hmm... aku nggak bisa nolak kan?" ujar Haris kemudian.
Mina terkekeh, wajahnya tampak sedikit lebih cerah dari sebelumnya. “Jadi, mau ya?“
Haris mengangguk kecil. "Okay, besok malem."
"Dress codenya hitam," beritahu mina.
"Okay."
Mina merasa obrolan mereka kini begitu hambar, Haris hanya mengangguk, menggeleng atau menjawab hmm, iya, okay, oh.
"Kenapa kamu gak dateng ke rumah aku beberapa hari ini?"
Haris mendongak, merasa sedikit aneh dengan sikap Mina yang pada awalnya cukup lembut, tetapi kini tampak menuntut.
"HPnya rusak, terus... hujan terus, jalanan banjir juga jadinya macet," jelas Haris seadanya.
Mina mendecih pelan, baru kali ini dia merasa kecewa dengan Haris, sebab pada awalnya Mina terlalu berekspektasi tinggi pada Haris, tetapi Haris justru sama seperti cowok kebanyakan, suka cari alasan.
"Kamu kan bisa dateng ke sekolah," balas Mina agak menuntut.
Haris mendesah pelan. "Aku nggak kepikiran ke situ, aku pikir, kamu nggak ke sekolah setelah pembagian rapot selesai."
Mina mengerucutkan bibirnya, pikiran gadis itu pun semakin kacau karena Haris justru tidak peka dan tidak minta maaf.
"Kamu inget nggak tanggal jadian kita?"
Loh, kok tiba tiba ke situ? Haris bingung, ditambah lagi dia sama sekali tidak ingat kapan jadian dengan Mina.
Haris tentu diam, dan itu membuat Mina semakin terpuruk.
"Heris...," ucap Mina karena tidak sabar dengan jawaban Haris.
"Aku... lupa...."
"16 Januari Ris." Mina memberitahu dengan bahu yang turun, Haris tersenyum dipaksakan. Itu hari ulang tahun Jasmin.
"Catet ya di memo Hp kamu, nih... aku juga catet di memo aku." Mina menunjukkan layar HP nya yang menuliskan memo tanggal jadian mereka di sana.
__ADS_1
Perlu tidak sih? Haris merasa ini semua terlalu berlebihan.
BERSAMBUNG....