Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 56


__ADS_3

Di rumah neneknya Jasmin atau yang sering Jasmin panggil dengan sebutan Enin itu, si gadis berpipi tembam hanya bisa tiduran di atas sofa, sejak Aki meninggal Enin hanya tinggal sendirian, tetapi Jasmin dan Hani tidak perlu khawatir karena ada Bibi mereka yang rumahnya dekat dengan Enin. Biasanya setiap bulan Jasmin akan pergi menginap ke rumah Enin, tetapi belakangan gadis itu melupakan Enin-nya karena sudah memiliki pacar.


Akinya Jasmin itu pensiunan Jenderal, sementara Enin adalah seorang pensiunan guru yang sekarang kesibukannya hanya sebatas tinggal di rumah atau pergi ke pengajian komplek saja.


Saat Jasmin mendengar suara hujan turun cukup deras di rumah Eninnya, gadis itu juga samar-samar mendengar suara obrolan asik sang Enin dengan suara familiar yang sering ia dengar.


"Masa sih dia ke sini," bisik Jasmin pada dirinya sendiri, dengan muka bantal Jasmin pun bangkit untuk memeriksa keadaan Enin nya yang bahkan tertawa-tawa karena asik mengobrol.


Jasmin berjalan perlahan menuju ruang tamu tempat sumber suara berada, dan pendengaran Jasmin memang tidak salah, orang itu datang ke sini dan kini sedang mengobrol dengan sang Enin.


Enin tampak duduk di sebuah kursi goyang kayu yang terlihat masih baru, kayunya mengkilap seperti habis di cat sedemikian rupa, dari ukirannya sudah jelas kalau kayu itu asli ukiran Jepara dan identik dengan seseorang.


"Enake kursinya... kenapa atuh baru sekarang diberesin... Enin udah nungguin," kata Enin sambil duduk nyaman di kursi goyang.


Si pemberi kursi goyang tersenyum kecil dengan tampang sok ganteng. "Ah Enin nya tiap Haris ke sini suka nggak ada, katanya Enin ke salon, pengajian, jalan-jalan... yaudah telat deh kasihinnya. Lagian Nin, ini baru dateng banget kemarin sore dari Jepara."


"Iya iya, makasih loh... bayar pake apa nih enin ke Haris?"


Haris nyengir, sepertinya ada yang anak itu mau dari si Enin. "Hmm... mau ayam garang asem buatan Enin, hehe,“ katanya sambil menggaruk tengkuknya.


Jasmin yang menonton obrolan antara Enin dan Haris pun hanya dapat tersenyum haru, setelah keadaannya begini ternyata yang datang bukan orang yang Jasmin harapkan, melainkan orang yang selalu ada di saat Jasmin benar-benar terlena akan keadaan.


"Oke, Enin bikinin... makasih juga nih, genteng bocornya udah kamu benerin. Enin jadi nggak perlu repot panggil Mang Dadang buat benerin atapnya."


"Ah Enin biasa aja, itu mah kecil." Haris menjentikan jemarinya menandakan bahwa bantuannya pada nenek itu hanya perbuatan biasa yang sering ia lakukan, padahal jelas-jelas Haris itu phobia banget dengan yang namanya ketinggian, dan ini yang membuat Jasmin semakin berterima kasih karena telah dianugerahi sahabat seperti Haris.

__ADS_1


"Sebentar atuh, enin ke dapur dulu... Haris tunggu di sini, bikin garang asem mah sebentar.. tunggu yah, Cu."


Haris menganggukkan kepalanya dengan patuh dan tersenyum kepada Enin yang sudah ia anggap sebagai neneknya sendiri. Jadi, Haris itu sudah tidak punya kakek dan nenek baik itu dari pihak papanya ataupun mamanya, maka wajar sekali jika Haris cukup dekat dengan Enin karena sejak kecil Fany sering menitipkan Haris kepada Eninnya Jasmin.


Jasmin yang sejak sepuluh menit lalu bersembunyi di balik lemari besar semakin terisak, gadis itu tidak bisa pergi ke mana-mana karena lututnya begitu lemas, ia juga malu untuk menemui Haris dengan keadaannya yang masih patah hati karena Kai. Andai saja Jasmin mendengarkan ucapan Haris waktu itu yang sering memperingati dirinya untuk tidak terlalu dekat atau bahkan cinta pada Kai, mungkin akhirnya tidak akan seperti ini.


Haris yang sejak tadi sudah melihat Jasmin di balik lemari pun menghampiri sahabat kecilnya itu, dan tersenyum seakan tidak terjadi ара-ара.


"Lu ngapain disitu? Mau jadi cicak nempel di dinding?" tegur Haris yang membuat Jasmin langsung menghapus air matanya.


"Hehe... mau nyobain nggak? Kursi goyang buatan gue?" tambah Haris lagi sambil menarik pelan lengan Jasmin untuk ikut dengannya.


Jasmin masih terisak, pura-pura tidak menangis dan ikut dengan Haris untuk duduk di kursi baru milik Enin. Haris yang melihatnya merasa cukup terhibur dengan wajah sembab dan isakan kecil Jasmin, seperti anak kecil saja yang tidak kebagian cokelat atau permen.


"Tau lu ke rumah Enin mah tadi balik sekolahnya bareng gue."


"Angkot," jawab Jasmin pelan.


"Angkot? Lu naik angkot tiga kali dong?"


Jasmin mengangguk.


"Nold?" ujar Jasmin dengan mata berkaca-kaca, bibirnya mengerucut Jasmin gigit kecil karena gadis itu menahan isakannya.


"Hm... apa Jubaedah?" tanya Haris lembut, tetapi masih dengan tampangnya yang agak menyebalkan.

__ADS_1


"Kai ninggalin gue...."


Tangisan Jasmin pecah lagi, kali ini sangat kencang sampai-sampai gadis itu lupa diri kalau mereka sedang di rumah Enin. Untung Enin berada di dapur sehingga tidak mungkin bisa dengar tangisan cucu kesayangannya.


"Shhh... ngomongnya pelan-pelan."


"Huhuhu.... Kai jahat... hiks... dia.... nggak ada... kabar," ucap Jasmin putus-putus.


Haris langsung menarik Jasmin ke dalam pelukannya guna membuat tangisan sahabatnya itu teredam.


"Gue sayang sama dia. Tapi, dianya enggak...."


"Kenapa, hiks... kenapa, dia ninggalin gue."


Setengah jam Jasmin menangis di hadapan Haris, hampir satu pak tisue yang ada di atas meja pun habis. Hari itu Haris menjadi tukang tisu dadakan untuk Jasmin dan ia sama sekali tidak keberatan akan hal itu.


Haris akan menunaikan janji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menjaga Jasmin meski tanpa diminta siapapun, karena dia yang ingin.


"Kalau dia pergi, gue akan tetep tinggal Min...."


Lalu apa alasan terbesar dibalik niat dan janjinya ini kalau bukan karena perasaan yang tumbuh semakin kuat terhadap sahabatnya? Ya, Haris itu cinta, bogoh, tresno, love, ai, sarang, amour ke Jasmin. Ia hendak mengatakannya hari ini, tetapi bibirnya terkunci rapat karena tidak akan pantas bagi Haris untuk mengutarakan perasaan pada orang yang tengah patah hati.


Haris pun tidak mau menjadi pelarian, ia ingin Jasmin tetap menjadi Jasmin yang memiliki sahabat seperti dirinya, sehingga tidak ada jarak atau batasan karena ungkapan rasa cinta di antara mereka. Haris tidak mau ketimpangan terjadi, persahabatan itu sudah mereka jalin sejak mereka kecil bagaimana mungkin dirusak karena perasaan yang tidak akan terbalaskan.


Setelah benerin genteng bocor dan mengantarkan kursi ke rumah Enin, makan malam pun sudah dilakukan oleh Haris, Jasmin dan Enin dengan menu garang asem seperti permintaan Haris. Karena terlalu malam untuk pulang ke rumah ditambah jalanan banjir dibeberapa titik sehingga lalu lintas ditutup, maka Enin melarang Haris untuk pulang dan meminta anak itu untuk menginap di rumahnya.

__ADS_1


Mungkin karena kelelahan, Haris sudah terlebih dulu tidur di ruang tengah yang sudah disiapkan matras oleh Enin dan Jasmin, sementara itu Jasmin tidur di kamar bersama Eninnya.


__ADS_2