
Haris masuk ke dalam kamar milik Jasmin. Kamar istimewa yang sudah Joseph persiapkan sejak memiliki rumah di Leiden. Joseph selalu menunggu kedatangan Jasmin untuk berkunjung atau tinggal bersamanya, maka dari itu Joseph menyiapkan segala hal terbaik untuk Jasmin di sini.
Kamarnya luas, ukuran 5x5 meter persegi, bahkan dilengkapi dengan perapian kecil di sudut ruangan, ada jendela seluas dua meter menghadap langsung pada taman kecil di depan rumah, serta perlengkapan lain seperti lemari empat pintu dan kaca tempat berdandan yang sudah disediakan peralatan make-up, sebab Joseph tahu kalau Jasmin menyukai hal-hal berbau kecantikan.
Balik lagi ke Haris, laki-laki itu justru langsung merebahkan dirinya di sofa saat mengetahui kalau Jasmin sudah terlelap di atas tempat tidur miliknya..
"Eh bentar, kenapa gue tidur di sini?!" tanya Haris pada dirinya sendiri ketika menyadari kalau tubuhnya justru berada di atas sofa.
Haris tersenyum geli. "Ya ampuun...," katanya sambil berjalan mengendap ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya di sisi Jasmin pelan-pelan.
"Min... gue tidur samping lu ya," kata Haris lembut.
"Iya Aa Haris. Ih... gumush." Haris berpura-pura menjadi Jasmin. Haris menarik selimut Jasmin perlahan-lahan untuk menutupi tubuhnya.
Haris menatap langit-langit kamar, karena efek kopi dia jadi tidak bisa tidur kayak sekarang nih. Haris melirik ke samping kiri dan kanan, sunyi banget kayak Sandiego Hills.
Haris pun memutuskan untuk memeluk tubuh Jasmin dari belakang, menempatkan tangannya di pinggang ramping milik Jasmin, dan memejamkan matanya dengan penuh kedamaian.
Tapi....
"Hnggg...." Jasmin bangun, merasakan sesuatu yang hangat berada di belakang tubuhnya.
Mendengar suara helaan napas Jasmin, Haris langsung menyingkirkan tangannya dari tubuh Jasmin dan berbalik ke sisi berlawanan secara langsung. Jasmin membuka matanya dan membalik tubuhnya ke arah Haris.
"Ris, lu ke sini kapan?" tanya Jasmin dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Haris tidak menjawab pertanyaan Jasmin.
Jasmin beringsut ke arah Haris. "Nggak usah pura-pura, kerasa tahu pas lu dateng!"
__ADS_1
Haris berbalik dan nyengir. “Hehe... ada kali lima menitan yang lalu.“
Jasmin mengucek kedua matanya dan terduduk di atas ranjang, diikuti oleh Haris yang melakukan hal yang sama.
"Kok lu bangun?" tanya Haris keheranan, sebab biasanya kalau Jasmin sudah tidur dia tidak akan bangun sebelum alarmnya nyala.
"Belum terbiasa di sini. Jadinya gak bisa tidur nyenyak."
"Ouuhh...."
Krik krik krik krik
Jadi aneh kan kalau udah hadep-hadepan gini.
Jasmin mengalihkan tatapannya ke sana kemari, begitupun dengan Haris, pikiran mereka sudah satu tujuan, tetapi gengsi mereka masih ada di taraf Internasional, alias tinggi.
Jasmin yang tadinya lelah banget dan pengen langsung tidur seketika seger liat wajah Haris ada di hadapannya. Jasmin tidak bohong, kalau Haris malam ini kelihatan ganteng banget dengan kaus oblong hitam polos yang dikenakannya. Ya, dimata Haris juga, Jasmin itu cantik banget apalagi sekarang Jasmin pakai baju tidur warna krem yang polos dan sedikit terbuka di bagian dada ditambah ada renda-renda di seputar dada bagian atasnya yang memberikan kesan seksi bagi yang mengenakannya.
Jasmin melotot. "Ih Haris apaan sih."
"Dih, ayo tidur maksud gue. Emang lu kira ayo apaan?" tanya Haris balik dengan wajah tanpa dosa.
Jasmin cengengesan. "Kirain ayo apaan... hehe."
"Lu mau gak?"
"Mumpung di Belanda," tambah Haris sambil menulis-nulis menggunakan telunjuknya di atas permukaan kasur.
Jasmin menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Ayo Min, dari kemarin dipending mulu," rayu Haris lagi.
"Gue belum kasih nafkah batin sama lu. Dosa Min...."
"Ris... baru kali ini, gue takut sama lu.“
"Lah, kok takut Min... gue gak gigit."
Jasmin cengengesan, Haris duduk semakin dekat ke arahnya membuat Jasmin merapatkan diri pada kepala ranjang miliknya yang agak berderik karena perbuatan Haris.
Haris tersenyum, meraih sebelah tangan Jasmin untuk di genggam erat olehnya. Jasmin mengangkat wajahnya perlahan dan berhadapan sangat dekat dengan Haris, hanya dibatasi jarak setidaknya 3 inci sehingga mereka berdua dapat beradu napas ditengah suhu dingin kota Leiden.
Haris mencium tangan Jasmin dengan lembut seraya menarik tubuh Jasmin semakin dekat ke arahnya. Ciuman Haris naik ke lengan bagian atas Jasmin, lalu ke pipi sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh Jasmin ke atas tempat tidur.
Jasmin menahan rasa geli saat Haris mengecup lehernya dan menyingkirkan helaian rambut panjang yang menghalangi bahunya yang sudah tidak tertutupi pakaian, karena Haris menarik turun ke bawah dress tidur Jasmin. Jasmin meremas bahu lebar Haris ketika Haris melancarkan semua cumbuannya malam itu. Jasmin tidak mengira jika ia bisa merasa lumpuh berada di bawah tindihan Haris, Jasmin sama sekali tidak berdaya ketika Haris menyingkap dressnya, membuka pakaiannya bahkan menciumi seluruh wajahnya dengan amat mesra.
"Min, lu react dong."
Pyarr....
Tadinya Jasmin merasa terhanyut, tetapi setelah mendengar Haris berkata begitu pecah sudah konsentrasi Jasmin.
"Re... react gimana?!" tanya Jasmin kaget.
Haris menatapnya dengan lurus, napasnya memburu. "Men.des....sahh"
"Haris... bener-bener ya lu!"
Bersambung ....
__ADS_1
Menurut kalian, bagusan Haris dipanggil Aa atau Mas nih?