
Manusia memang tidak bisa ditebak lewat tampilan luarnya, manusia itu misterius dan beragam isinya. Kita tidak bisa menyimpulkan jika manusia dengan tampilan manis dan lugu maka isinya adalah sama polos dengan tampilan luarnya. Sekali lagi, manusia itu misteri. Tidak ada yang murni, karena yang murni hanya susu sapi asal Pangalengan yang sangat Haris sukai.
Hari jumat selepas ujian kenaikan kelas berlangsung, Jasmin duduk termenung di rumah Haris, gadis itu tidak datang ke sana untuk menemui Haris melainkan diminta menemani Fany dan Airin untuk memilihkan sepatu untuk kado ulang tahun Hamid esok hari. Mengapa dua wanita itu meminta Jasmin melakukannya? Ya, karena Jasmin sangat tahu selera Hamid dan Haris kakaknya, berdasarkan info kecocokan yang Jasmin dapatkan dari kakak beradik itu Jasmin tentu mengenal Hamid lewat Haris yang sangat dekat dengannya.
Saat melamun, tiba-tiba Fany menepuk pundak kecil Jasmin membuat gadis itu nyaris terhenyak.
"Ngelamun aja," tegur Fany sembari duduk di kursi samping Jasmin.
"Ih Tante... hehe... kapan kita berangkat Tan?"
"Sebentar lagi, mobilnya kan lagi dipakai Haris."
Mendengar nama Haris disebut oleh Fany, Jasmin hanya bisa tersenyum kecut. Anak itu sekarang makin lengket dengan Mina, seolah tidak ada waktu baginya dan keluarga.
"Oh... kenapa nggak naik taksi aja, Tan? Atau pinjem mobil maminya Jasmin aja, nggak dipake tuh satu lagi," tawar Jasmin dengan manis dan baik.
“Ah, mobil mami kamu itu manual. Tante nggak bisa pake yang manual Sayang."
"Oh iya ngomong-ngomong, kamu temennya Mina?" sambung Fany dengan tampang penasaran.
"Hmm, iya Tante. Mina temen sekelas aku. Anaknya pinter banget loh. Dia juga juara umum terus-terusan."
"Pantesan Haris suka," komentar Fany sambil tersenyum kecil, mengingat bahwa Haris kini sudah punya pacar, dan jarang ada di rumah. Hal itu tentu membuat Fany jadi tidak khawatir karena tidak perlu meminta Haris untuk keluar rumah, dengan sendirinya anak itu punya tujuan yang jelas.
Jasmin berusaha terlihat bahagia, entah mengapa mendengar Haris dan Mina begitu dekat ada sedikit keretakan di hati Jasmin. Ada rasa kehilangan yang tidak bisa digambarkan, ada rasa tak ikhlas karena harus melihat sahabatnya memiliki orang lain yang lebih dijadikan prioritas. Namun, Jasmin harus sadar, bahwa ia hanya sebatas teman masa kecil Haris. Toh, Jasmin punya Kai kan? Ya, Jasmin punya Kai, seharusnya Jasmin merasa bahagia karena kini dirinya dan Haris memiliki orang tersayang masing-masing.
"Loh itu kayaknya Haris udah dateng," ujar Fany saat mendengar suara mobilnya berada di teras rumah.
Jasmin dan Fany langsung bangkit dari duduknya dan menuju teras rumah di mana Haris sudah berhasil memarkir mobil.
"Mau pada ke mana?" tanya Haris ketika melihat Airin, Jasmin dan Fany sudah rapi dan cantik ditambah Hamid yang sejak tadi sudah duduk di kursi teras dengan gaya nyentrik sore itu.
__ADS_1
"Mau ke mall. Jalan-jalan," ujar Fany.
"Sini kunci mobilnya, Mama mau pake...," tambah Fany.
“Dih. Aku mau ikut, biar aku yang nyetir," ujar Haris sambil menolak memberikan kunci mobil.
"Nggak cukup apa jalan-jalan seharian pake mobil... sekarang giliran Mama. Tapi kalo kamu mau nyetir sih nggak papa, kamu nggak capek?"
Haris menggelengkan kepalanya. “Engga, ntar beliin aku sesuatu ya Ma...."
"Bawel kamu Ris... ayo naik, Hamid duduk didepan aja sama kak Haris...." Airin ikut angkat bicara dan meminta Hamid terlebih dahulu naik ke mobil dan duduk di samping kemudi.
Jasmin dan Haris tidak saling bertegur sapa, dua orang itu bagaikan manusia asing yang dipertemukan disituasi yang tidak jelas.
Jasmin juga merasa tak nyaman duduk di mobil, gadis itu bukan siapa-siapa sekarang, melainkan hanya berstatus tetangga Haris dan Fany, juga tetangga Airin.
Meski dalam perjalanan Airin mengajaknya terus berbincang, tetapi tetap saja, tidak biasanya la dan Haris hanya diam seribu bahasa, biasanya mereka ini selalu bertengkar memperdebatkan suatu hal yang bahkan sama sekali tidak penting.
"Sejak punya pacar, Haris berubah yaa, jadi pendiam," komentar Airin tiba-tiba, sebab adiknya itu fokus menyetir tanpa bicara banyak.
"Mina pacarmu, Ris?" tanya Fany ikut nimbrung.
"Apaan sih... bahas yang lain aja dong," Jawab Haris bersungut-sungut.
"Dih malu dia.. wkwkw... eh Min, Haris cerita nggak soal pacarnya?" ujar Airin sambil tertawa kecil.
Jasmin yang diberi pertanyaan begitu tentu saja hanya bisa tersenyum canggung, yang biasanya Jasmin cablak dan banyak bicara kini hanya dapat tersenyum saja.
"Tapi serius loh, Haris sejak pacaran jadi lebih pendiam. Beda pas waktu dia sering bareng kamu Min... tante pikir Haris sakit, eh taunya punya pacar, jadi lebih dewasa...," beritahu Fany pada Jasmin. Haris hanya dapat diam, tidak menanggapi obrolan tiga wanita di belakangnya, Hamid ikut terkekeh mendengar obrolan para wanita, dan Jasmin sama diamnya dengan Haris.
"Kalian sudah besar, sudah punya pacar juga. Hmm, mama jadi berasa tua banget nih dikelilingi kalian...." kenang Fany sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmin yang kebetulan berada di sisinya.
__ADS_1
***
Setelah membelikan sepatu dan tas sekolah untuk Hamid, kini mereka memutuskan untuk makan malam di salah satu restaurant milik teman Airin, Fany Hamid dan Airin kebetulan pergi ke toilet secara bersamaan, hanya Haris dan Jasmin yang duduk di meja makan sambil sibuk dengan ponsel masing-masing.
Haris melirik sedikit ke arah Jasmin, tetapi gadis itu tampaknya tidak bisa diganggu.
"Kapan jadian sama Mina?" tanya Jasmin tiba-tiba saat tidak sengaja memergoki Haris menatap ke arahnya.
Haris berdeham kecil. "Mau tau aja...," jawab Haris.
Jasmin menyebikan bibirnya. "Gitu amat jawabnya, gue tanya Mina aja langsung wleee..."
Haris tertawa, menatap Jennie dengan kepala dimiringkan sedikit. "Napa, cemburu?"
"Ngimpi lu... gue juga punya Kai... wlee... lagian, napa lu nanya gue pake kepala dimiring-miringin gitu? Migren lu?"
Tawa Haris makin pecah, tetapi bukannya berhenti cowok itu malah memangku dagu dengan kedua tangannya dan melihat lurus ke arah Jasmin, membuat Jasmin jadi grogi dilihat begitu oleh Haris.
"Gue kangen sama lu."
"Nggak usah becanda,” balas Jasmin.
"Serius, lu nggak kangen sama gue?"
Jasmin mendongak, menemukan senyum Haris memudar di wajahnya, digantikan dengan tampang cukup serius yang membuat Jasmin juga ingin mengatakan hal yang sama. Jasmin ingin curhat dengan Haris.
Hp Haris bergetar, sebuah panggilan masuk terlihat dilayar. Jasmin ikut membaca layar HP Haris dan mengetahui siapa si pemanggil.
Ada nama Mina dengan ditambah emotikon hati di belakang namanya.
"Hallo...." wajah Sehun berubah datar saat menerima panggilan, Jasmin memalingkan wajahnya kembali pada ponsel ditangannya.
__ADS_1
"Hmm, belum... kamu udah? Ah... iya... ini baru mau makan sama Mama... oh, cepetan makan, nanti sakit, iya iya, besok ketemu aja, biar aku jemput... hmm... mau jogging juga? Jam berapa?... oke.. aku ke rumah kamu sebelum jam enam... oke... bye...."
Telepon Haris tutup, obrolan singkat yang kurang dari lima menit itupun berakhir dengan disaksikan oleh Jasmin yang semakin merasa asing untuk berada dihadapan teman kecilnya.