Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 41


__ADS_3

Saat api mulai memanaskan minyak pada wajan Haris dengan telaten menuangkan irisan bawang, cabai dan sosis ke dalamnya, cowok itu berlagak seperti seorang chef yang sering wara-wiri di tv.


"Kenapa sih Jasmin doyan banget ngatain gue Arnold. Emang sih gue agak mirip dia... tapi kan masih gantengan gue," gumam Haris sembari mengoseng bumbu di atas wajan, bluk... Haris juga menaruh sepiring nasi ke dalam wajan itu dan mulai menumisnya, tidak lupa saat bumbu dan nasi tercampur dia juga menambahkan irisan sayuran hijau dan irisan daging sapi yang sudah dipanggang.


Haris kembali membolak-balik nasi di atas wajan dengan semangat, cowok itu mencicipi seujung sendok nasi goreng buatannya, dirasa kurang nikmat ia pun menambahkan sedikit garam.


"Nah, udah enak nih," ucap Haris bangga.


Namun ...


Byarrr... saat Haris mengambil wadah, lengan cowok itu tidak sengaja menyenggol sudut wajan sehingga Haris refleks menepiskan tangannya, membuat tangannya terkena luka bakar dan nasi goreng buatannya tumpah ke lantai.


"Haah!" umpat Haris sambil menghela napas, luka bakar di lengannya cukup memanjang dan melepuh. Haris mengabaikan nasi goreng buatannya dan beralih untuk mengobati lengannya agar tidak infeksi.


Tiba-tiba Haris mendapatkan pesan dari WAnya, Haris langsung menyambar Hpnya dan membuka pesan itu. Bibir Haris cemberut saat mendapati pesan itu bukan dari Jasmin, ternyata dari Nela yang mengirimkan sebuah pesan suara berdurasi sekitar 20 detik.


"Gimana gue nggak keep in touch ama Haris... Kaiii... gue istrinya! Lu telat sih datengnya. Coba lu dateng enam bulanan ke belakang, pasti gue bakal mepetin elu. Nggak bakal gue nikah sama Haris!"


Seketika ekspresi wajah Haris berubah, dari datar menjadi menegang, lama kelamaan wajah cowok itu juga menjadi sedih, tergambar senyum hambar di seputar wajahnya yang kini menunduk.


Pesan dari Nela pun kini bertambah, membuat Haris semakin diliputi amarah yang tidak jelas dalam hatinya kepada si pengirim pesan, juga pada Jasmin yang suaranya terdengar begitu jelas menyuarakan penyesalan dan penolakan atas pernikahannya dengan Haris.


Nela : Kita harus ketemu. Lu dimana?!

__ADS_1


Haris langsung berdiri dari duduknya dan mengabarkan si pengirim pesan bahwa ia siap untuk langsung bertemu.


***


Kai mengajak Haris bertemu di sebuah cafe yang biasa mereka pakai untuk nongkrong semasa SMA dulu, cafe itu masih beroperasi sampai sekarang meskipun pengunjungnya tidak seramai dulu. Mereka memilih tempat di teras luar dan tampak keduanya diliputi oleh emosi masing-masing.


Kai langsung menyodorkan HPnya ke hadapan Haris, HP bergambar case hello kitty itu sepertinya sering dipakai oleh Nela untuk berhubungan dengan Kai, Haris maupun Jasmin.


Haris mengambil HP milik Kai dan langsung ditunjukkan kumpulan chat istrinya dengan Nela. Tidak ada yang aneh diawal percakapan mereka, tetapi pesan suara itu lah yang menjadi boomerang bagi Haris. Haris merasakan sesak di dadanya tanpa alasan.


"Jadi. ini alasan lu nge jauhin gue sama Jasmin waktu itu?! Biar lu bisa nikahin dia?!"


Haris menatap Kai dengan sinis, pria di hadapannya itu tersenyum kecut.


"Selama ini, lu udah bersikap terlalu jauh untuk ngatur hidup Jasmin."


Haris tidak menjawab perkataan-perkataan Kai, cowok itu masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Iya benar, bahwa Jasmin mungkin saja masih sangat mengharapkan kehadiran Kai, sehingga sengaja atau tidak Jasmin mengatakan kalimat itu dengan lancar, mengatakan penyesalannya karena telah menikah dengan Haris, dan menyayangkan kedatangan Kai yang terlambat dalam hidupnya.


"Lu udah selesai ngomong?" ujar Haris lemas dan tak bersemangat.


Kai tersenyum dipaksakan. “Udah... dan gue harap, lu segera sadar Ris... sampai kapan lu bikin Jasmin terus ada dibawah kendali lu, Ris?"


"Lu bukannya melindungi Jasmin, dengan sikap lu ini, lu hanya mempermainkan hidup sahabat lu sendiri."

__ADS_1


***


Haris mengusap wajahnya dengan kasar, berdiam diri di dalam kamar dengan pikiran sangat penuh dan pening, cowok itu merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Jona yang selama dua jam menjadi tempatnya melamun.


Jona muncul di dalam kamar dan menyerahkan dua bungkus nasi goreng kehadapan Haris. "Makan dulu Bro... nih gue beliin dua nasi goreng," kata Jona pada Haris.


"Udah kenyang gue Jon...," bisik Haris pelan.


"Kenyang dari mana? Lu dateng-dateng langsung nyuksruk di sini, udah-udah makan dulu, nggak baik biarin perut kosong."


Haris bangkit dan Jona menyiapkan nasi goreng ke atas piring. "Setelah makan, mending lu balik, lu ngobrol sama Jasmin dari awal sampe akhir. Lu jelasin semuanya ke dia tanpa gengsi."


"Jasmin nggak mungkin simpen perasaannya ke gue Jon, lu tau kan gimana breaking down nya Jasmin pas dia diputusin Kai?"


Jona ingat peristiwa bertahun-tahun yang lalu itu, Haris pun sampai bolos demi menghibur Jasmin, padahal Haris sedang melaksanakan try out pertama di sekolah.


"Hmm... Ris, ini udah malem. Jasmin pasti sendirian nungguin lu, bukannya tadi lu balik buat beliin dia nasi goreng ya? Di rumah nyokapnya, Jasmin sendirian kan?"


Haris menepuk keningnya. "Oh iya bener... yaudah gue bawa nasi gorengnya ya... lu jangan bilang-bilang gue curhat begini sama Ardi." Peringat Haris pada si pemilik warnet itu.


Jona tertawa kecil, "Haha iya-iya, bawel lu bocah, nih ambil yang masih dibungkus. Yang dipiring buat Ardi aja.“


"Oke... Thanks Bro. Gue balik."

__ADS_1


__ADS_2