Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 84


__ADS_3

Hani dan Dimas yang datang menjenguk kini berada di luar ruang periksa. Sepasang suami istri yang telah menikah kurang lebih 3 tahun itu akan segera menjadi kakek dan nenek, terutama Dimas sih, karena istrinya Surya alias Airin yang kini sedang berada di ruang bersalin.


"Gak nyangka akutuh, bakal jadi kakek...," gumam Dimas dengan wajah terharu, Hani tertawa kecil melihat tampang memelas suaminya saat ini.


"Oh iya, keadaan Jasmin gimana sekarang?!" tanya Dimas pada Hani. Hani hanya dapat menghela napasnya. "Barusan banget aku ngobrol sama dokternya, Jennie baik-baik aja, Harisnya doang yang terlalu parno. Maklum lah anak pertama, jadinya Haris panik banget."


"Kok kamu bisa sesantuy ini?" tanya Dimas lagi.


"Yah gimana gak santuy sih Mas, Jasmin aja sehat walafiat, dari tadi dia ngomelin Haris gak berenti-berenti. Kalau Jasmin udah jago ngomel ya, dia udah sehat."


Dimas tertawa, "Yaudah, kita jenguk Jasmin aja sekarang gimana? Jadi kangen, pengen ngeliat Haris sama Jasmin berantem."


Hani menepuk keningnya dengan bibir cemberut. "Gini banget punya suami. Untung kaya. Yaudah, ayo!"


***


Jasmin sekarang sudah diberikan obat lewat infus serta vitamin, di samping tempat tidurnya juga tersedia buah-buahan yang siap santap karena Haris sudah mengupas kulit buah-buahan itu barusan. Jasmin masih tidak mau bicara dengan Haris, karena masih jengkel dengan sikap Haris yang sok ke-bapak-bapak-an.


"Bayi, kamu ini ya masih di dalem perut berani-berani nya nge-prank orang tua. Kalau udah gede mau jadi apa sih?“ Haris dengan tanpa dosa mendekat ke arah Jasmin dan menyentuh puncak perut Jasmin dengan lembut.


Jasmin mendelik malas, menyilang lengan di depan dada. Haris mengajaknya tersenyum, tetapi tidak ada balasan.


"Aduh... awet banget marahnya si Jandut, kalo marahnya sambil hamil ntar anak nya mirip gue loh," kata Haris sambil mengulum senyum.


Jasmin pada akhirnya tersenyum, tetapi maksain nyengir lebar-lebar palsu. “Hiiihh... ya gimana gak bakal mirip sama lu, si bayi kan anaknya elu, masa mirip Gongyoo!"

__ADS_1


Haris menyebikan bibirnya. "Nah gitu dong senyum, kan jadi makin cantik Jandut. Aduh gumush kan pamilnya." Haris meraih kedua pipi Jasmin untuk dicubit, tetapi Jasmin segera tepis tangan itu.


"Kak Airin gimana?" tanya Jasmin setelah dia mulai reda kesal pada Haris.


"Belum melahirkan katanya."


Jasmin menggigit bibir bawahnya, ada raut cemas di wajah Jasmin yang kini tepat berhadapan dengan Haris.


"Kenapa? Takut ya, melahirkan?"


Jasmin mengangguk kecil pada pertanyaan suaminya itu, Haris menggenggam sebelah tangan Jasmin dengan kedua tangannya dan mengecupnya dalam-dalam.


"Ntar, kalo gue melahirkan, lu ada disamping gue kan, Nold?"


"Iya lah... ntar gue nitip tempat sama malaikat Rakib Atid biar bisa tepat disamping Jubaedah, hehe...."


Jasmin mengulum senyum. "Jangan pergi ke mana-mana, ya? Kalau mau pergi, gue harus ikut!"


"Hmm ... bawel... udah nih gak ngambek lagi?“ Jasmin menggeleng. "Dah sembuh, hehe...."


"Yaudah... makan dulu buahnya, susah payah nih gue kupasin kulit buah-buahan cuma buat lu... buka mulut nya, aaaaa ...." Haris menyuapkan sepotong buah apel ke dalam mulut Jasmin yang diterima dengan lahap.


"Aduh pinternya Jandut... lagi-lagi... Aaaaa....“


"Ammm... hmm enak, ya?"

__ADS_1


"Hmm, banget!" jawab Jasmin dengan mulut penuh oleh buah yang disuapkan Haris padanya.


Dimas dan Hani memasuki kamar ketika dua sejoli itu tengah memakan buah-buahan. Hani langsung mendudukkan tubuhnya di sofa, sementara Dimas menghampiri Jasmin dengan senyum amat lebar di wajahnya.


"Cie cie ...," kata Dimas setibanya di hadapan Jasmin.


Jelas saja membuat Jasmin tertawa kecil dengan kelakuan tidak jelas papanya ini. Sementara Haris yang sudah memaklumi tingkah mertuanya ini hanya bisa sedikit bergeser ketika Dimas ada di dekatnya.


"Ih, Papa kebiasaan cie-cie in orang nih!"


Dimas mengulum senyum. "Gimana? Si bayi gak kenapa-kenapa?" tanya Dimas sambil mengelus perut Jasmin.


"Enggak kok. Baik-baik aja, katanya itu cuman pendarahan biasa, jadi gak usah khawatir," jelas Jasmin dengan tenang. Heechul manggut-manggut lega.


"Papa tuh khawatir Jasmin gimana-gimana. Pasti kaget ya, karena Airin mendadak kontraksi?"


Jasmin mengangguk, Dimas mengambil alih tempat duduk Haris dan membiarkan menantunya itu duduk di sofa berdampingan dengan Hani.


"Iya kayaknya karena itu juga, makanya Jasmin mendadak pendarahan," jawab Jasmin dengan bibir ditekuk.


Dimas menatap Jasmin dengan kedua mata berbinar-binar, meskipun Dimas adalah sosok papa tiri bagi Jasmin, tetapi rasa sayang Dimas pada anak itu jauh lebih besar ketimbang pada Surya. Hal ini dikarenakan, Dimas sangat menginginkan anak perempuan dibanding anak laki-laki.


Karena anak perempuan bisa di kepang rambutnya. Hobi absurd Dimas adalah ngepang rambut.


Atas permintaan dokter dan juga keluarga, akhirnya Jasmin diminta untuk beristirahat di rumah setelah mendapatkan resep dan perawatan intensif selama beberapa jam di rumah sakit. Tentu saja, Haris ikut bersama istrinya dan membatalkan beberapa jadwal dengan konsumen tokonya untuk proses pengiriman dan pemesanan barang. Mungkin soal pekerjaan akan diurus nanti kalau Jasmin sudah sehat lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


Nanti kalau sempat aku up lagi, hehe, komen ya.


__ADS_2