
"Nih, kakak bikinin bubur." Airin menyerahkan termos mungil yang berisi bubur buatannya, karena Airin adalah mahasiswi tataboga maka wajar sekali kalau gadis cantik itu sangat pandai memasak.
Haris menaikkan sebelah alisnya. "Kok bikin dua?" tanya Haris saat melihat ada dua termos di hadapannya.
"Yang satu buat Mina, kamu mau jengkuk, kan?"
"Satu lagi?" tanya Haris lagi dengan bingung.
"Ini buat Jasmin, dia sakit. Biar kakak yang anterin bubur buat Jasmin," balas Airin dengan raut keibuannya.
"Jasmin sakit Kak?"
"Emang kamu nggak tahu? Udah dua hari katanya...."
Haris menggeleng pelan, Mina juga sakit sudah hampir seminggu, beruntung gadis itu sudah menyelesaikan ujian kenaikan kelas sehingga tidak perlu khawatir bolos.
"Apa jangan-jangan kamu udah jengukin Jasmin?" tambah Airin lagi sambil melirik sungguh-sungguh pada adiknya.
Haris tersenyum kecut. “Belum Kak, aku baru tahu kalo si Jubaedah sakit."
Airin terkikik mendengar panggilan Haris untuk Jasmin. "Keliatannya udah move on nih sama cinta masa kecilnya... Mina hebat ya... syukur deh, kakak ikut seneng kalo kamu udah move on. Meski agak kehilangan juga sih, karena Jasmin sekarang jarang main ke rumah."
"Aku pergi ya Kak, udah telat, nanti keburu hujan." Haris dengan terburu-buru meninggalkan Airin yang sebenarnya masih ingin bicara. Airin hanya dapat berdecak ketika Haris dengan sembarangan pergi dan pamit begitu saja.
***
Haris merenung bersama Ardi dan Jona yang sebenarnya tengah menyibukkan diri dengan gadget masing-masing. Tiga cowok sebaya yang hanya beda bulan kelahiran itu dikenalkan lewat komunitas game online, hanya Ardi saja sih, kalau sama Jona, Haris sudah mengenalnya cukup lama karena Jona merupakan teman sekelasnya dulu ketika Haris masih sekolah di SMA reguler.
"Ini bubur nggak lu kirim, Ris? Udah dingin nih," ujar Ardi ketika mendapati termos di samping tempat duduknya.
__ADS_1
Haris mengendikkan bahunya cuek, cowok itu juga langsung menelungkupkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya, seperti sedang bersembunyi dari hal yang tidak ingin dia temui.
Ardi dan Jona langsung menghampiri Haris lebih dekat, dan menepuk bahu cowok itu dengan simpati.
"Kenapa Ris?" tanya Ardi pelan.
Haris membuka kedua telapak tangannya sehingga wajahnya tampak jelas dimata Ardi dan Jona.
"Gue mau ke rumah Mina dulu... gue lupa anterin buburnya," ujar Haris dengan senyum dipaksakan, padahal jelas kalau wajah Haris benar-benar semrawut seperti habis menangis. Jona dan Ardi tak dapat berkata apa pun selain mengizinkan Haris pergi dari tempat rental Game itu.
Mina terlihat pucat, tetapi wajah gadis itu sangat dipenuhi senyuman manis ketika Haris datang menjengukenya, Haris juga membawakannya bubur dan Mina kini menikmati semangkuk bubur ayam itu meski harus dipaksakan. Namun beruntung, karena Mina pada awalnya tidak mau makan, tetapi karena ada Haris dan cowok itu membawakan bubur maka sedikit karbohidrat dapat masuk ke perut gadis itu.
"Udah kenyang?" tanya Haris ketika Mina menolak suapan bubur darinya.
Mina mengangguk kecil. “Udah, makasih."
"Aku sedih, karena nggak bisa sekolah... nggak bisa ikut kegiatan osis buat porak," keluh Mina yang membuat Haris lagi-lagi tersenyum dipaksakan.
"Nggak usah mikirin sekolah dulu, kecuali kalo kamu ada remed mapel."
Mina terkikik. “Kalau itu aku nggak pernah.. hehe," jawab Mina bangga.
Haris mengangguk setuju. “Hmm syukur deh kalau nggak pernah remed."
"Tapi, aku tuh suka nggak enak sama temen-temen, mereka pasti kesusahan kalau aku nggak masuk. Aku nggak bisa kasih bocoran soal remednya sama mereka."
"Terus, aku juga udah bikin rancangan kegiatan osis, karena aku seksi acara buat porak tahun ini, ya tapi mau gimana lagi, aku nggak bisa ikutan."
"Gagal deh pake jalur kreativitas buat tambahin di CV nanti, aku juga pengen ikutan organisasi kalau udah kuliah nanti soalnya."
__ADS_1
"Menurut kamu, bisa nggak ya aku tetep masukin kreativitas acara ke CV aku meskipun aku nggak ikut porak?"
Bodoamat, Haris tidak paham dengan semua ucapan Mina tentang porak dan tektekbengek tentang organisasi OSIS, pikiran Haris tidak ada di tempat itu melainkan ada di sebrang sana yang cukup jauh dari tempatnya duduk sekarang.
Waktu Jasmin sakit, beberapa bulan lalu, sebelum jadian dan kenal dengan Kai.
"Masih idup aja Min? Kapan tahlilan?" Haris dengan jahil bertanya demikian pada sahabatnya, Jasmin yang terlihat mengenakan infus di lengan kirinya dan memegangi mangkuk bubur di atas tempat tidur. Jasmin hanya dapat memelototinya dengan jengkel.
"Aduh gue pengen sembuh!" keluh Jasmin sambil memasukkan suap demi suap bubur ke dalam mulutnya, gadis itu dengan sangat memaksa ingin sembuh dan kembali ke sekolah, tidak peduli kalau trombositnya masih sangat lemah karena ia terkena demam berdarah sudah hampir satu minggu lebih.
"Pelan-pelan juga kali makannya, ntar lu keselek, terus mati gimana?!" Haris merebut sendok dan mangkuk bubur milik Jasmin, dia mengambil alih tugas Jasmin untuk makan. Haris mencicipi bubur milik Jasmin dan rasanya lumayan enak bagi Haris, karena cowok itu sehat walafiat
Jasmin melirik Haris dan mendengkus pelan.
"Gue banyak remed... harus cepetan balik ke sekolah. Kalau gue remed sendirian gue nyontek sama siapa coba?"
Haris terkikik mendengar keluhan Jasmin tanpa sadar bubur milik sahabatnya itu hampir habis ditangan Haris. Mereka juga bergantian memakan buburnya, Haris juga menyuapi Jasmin dengan baik.
"Pantesan pengen cepet sembuh, nggak ada ladang contekan ya... wkwk."
"Berisik lu... ini semua demi masa depan, kalau gue sakit terus dan gue remed juga. Gimana rapot gue Ris, ntar gue nggak bisa ikut jalur prestasi pas mau kuliah kalo nilai rapot jelek."
"Udah sih santai aja, mending nggak usah kuliah, daripada lu ribet-ribet ngurusin masa depan lu yang kelihatannya udah berantakan. Hahaha."
Dezig! Haris kena tendang di pantat karena bicaranya sangat sembarangan sekali.
"Amit-amit. Haris ngomongnya ih. Hidup gue tuh bakal cerah, di masa depan gue bakal nikah sama cowok tajir dan ganteng... itu kata nyokap dan nenek gue."
Haris kemudian merebahkan dirinya di samping Jasmin, seragam putih abunya yang bersih tampak sangat pantas dikenakan oleh Haris. "Nggak usah ngeliat ke gue juga dong pas bagian nyebut cowok tajir dan gantengnya.“
__ADS_1