
Sementara itu, Haris masih diam di sebuah halte, melamun sambil menahan perut yang lapar karena belum sarapan. Wajahnya juga agak pucat karena dia tidak bisa tidur semalaman. Kejadian semalam selalu terbayang tiap Haris berkedip.
"Kenapa gue nyium Jasmin, sih?" tanya Haris pada dirinya sendiri. Mungkin satu-satunya jalan terbaik adalah curhat pada Jona atau Ardi.
Haris ingkar janji, dia tidak membuka toko atau mewawancarai pegawai baru yang akan bekerja di tokonya. Cowok itu malah nongkrong di warnet milik Jona yang jam 10 begini masih sepi pengunjung.
Jona tampak masih mengenakan celana training dan kaus oblong, Ardi sedang menikmati secangkir kopi instan sembari rebahan di atas kursi lecek milik Jona. Hanya Haris yang paling gaya di antara kedua temannya itu. Haris menggunakan kemeja dan celana jeans yang membuat penampilan serta wajahnya semakin wauw.
"Pagi-pagi udah ke sini. Tumben," timpal Jona ketika Haris dengan sangat tidak sopan menindih perut Ardi menggunakan kepalanya untuk rebahan.
"Mau curhat," ujar Haris lemas.
"Lu kira gue mamah dedeh pake curhat segala," ejek Jona sambil cengengesan.
"Cerita aja Ris, siapa tahu kan kita nggak bisa bantu," ujar Ardi dengan nada bercanda. Ardi menaruh Hp di tangannya sembarangan dan menghadap Haris dengan serius. Ya meski posisinya masih rebahan juga sih.
Haris tampaknya memiliki masalah akut pribadi, wajahnya tidak se heboh biasanya.
"Masalah Jasmin."
"Bini lu?" tanya Jona.
Haris mengangguk kecil. "Semalem...." Haris urung bercerita, padahal Ardi dan Jona sudah siap-siap mau mendengarkan ocehan sahabatnya.
"Kenapa? Dia jadi tremor Ris pas nganu? Wkwkw," ujar Ardi porno.
"Tremor apaan... nganu apaan," timpal Haris dengan wajah masih kusut.
Yakali Jasmin mau begituan, dicium semalam aja dua-duanya berasa mau semaput gara-gara kaget.
***
Karena bete tidak ada kegiatan, Jasmin memutuskan untuk membeli cemilan di sebuah minimarket yang ada di depan komplek. Komplek tempat tinggalnya Fany dan Jordan ini sangat tentram dan banyak anak-anak sebagai penghuninya, berbeda dengan komplek tempat Jasmin dan Haris yang sepi dan kebanyakan orang-orangnya sibuk bekerja.
Namun sialnya, saat hendak pulang Jasmin lupa blok lokasi rumah Fany berada, sehingga gadis itu harus tersesat di tengah-tengah gang sambil membawa kresek berisi beberapa camilan. Mau menghubungi Haris, Jasmin juga masih malu karena kejadian semalam, mau pakai maps juga tidak nyambung terus karena lokasinya bukan di jalan umum.
Dengan kebingungan dan rasa lelah, Jasmin memutuskan untuk duduk di salah satu pos yang ada di setiap gang, sembari menunggu orang lewat sehingga ia bisa bertanya di mana lokasi rumahnya berada.
Ketika menunggu, seorang anak kecil dengan sepeda roda dua muncul di hadapan Jasmin, anak itu adalah Nela yang memakai peralatan sepeda serba pink. Jasmin ingat betul dengan Nela, Nela si anak yang memanggil mantannya dengan sebutan Papa.
"Tante. Lagi ngapain di sini?" tanya Nela yang sepertinya juga mengingat Jasmin yang ia temui tempo hari di mall.
Jasmin melirik ke sana kemari. “Kamu ngomong sama aku?"
Nela mengangguk. "Iya, emang di sini cuma ada Tante aja," jawab Nela polos.
Jasmin menghela napas. ‘Duh ini anaknya mantan kok ngeselin, ya. Pake manggil-manggil tante segala.'
"Adek, aku bukan tante-tante... aku masih kakak-kakak."
Nela nyengir. "Aku juga bukan adek-adek, namaku Nela. Oh iya, Tante belum jawab pertanyaanku. Tante ngapain di sini?"
"Nongkrong," jawab Jasmin ngeselin.
Nela turun dari sepedanya dan mendekati Jasmin, melirik pada kantung kresek Jasmin yang berisi banyak makanan kesukaannya.
"Eh, pasti Tante nyasar, ya? Tante orang baru di komplek ini," selidik Nela sambil menatap Jasmin lamat-lamat.
"Ya ampun. Ini anak persis banget kayak bapaknya deh. Banyak tanya," ujar Jasmin keceplosan.
Nela tersenyum kecil. "Tante kalo nyasar, Nela bisa anterin."
"Wah serius? Kamu tahu rumahnya pak Jordan dong?" kata Jasmin ceria dengan ekspresi berbinar.
Namun, Nela menggelengkan kepalanya. "Enggak tahu Tante, tapi papa aku tahu."
Jasmin cemberut langsung, anak kecil di hadapannya ini sepertinya punya niat tidak benar. Jasmin mencium bau-bau kejahatan dibawah umur.
__ADS_1
"Gimana? Nanti papa anterin tante ke rumahnya pak Jordan."
Jasmin agak berpikir. “Yo wis lah." Akhirnya daripada nunggu malaikat memberi ilham, akhirnya Jasmin mengikuti Nela yang menggoes sepedanya menuju sebuah rumah tempatnya dan sang papa tinggal. Sekalian, Jasmin juga ingin kepo sedikit soal kehidupan sang mantan yang telah lama hilang dari hidupnya. Sekalian Jasmin juga ingin gibah dikit sama Nela tanya-tanya soal Kai.
"Dek, papa kamu itu namanya Kai?"
"Iya. Tante kenal papa?"
'Dih beneran anaknya gaes.' Jasmin cemberut.
"Hmm iya, dulu kita sekolah bareng," jawab Jasmin dengan senyum dipaksakan.
"Papa kamu emang nggak kerja, kok siang-siang ada di rumah?"
"Papa aku kerja Tante, tapi kalo lagi istirahat makan siang papa pulang dulu buat suapin aku."
'Tuhkaaan gaes... Kai tuh cowok idaman. Emang nggak salah pas SMA gue klepek-klepek sama dia.' Jasmin membatin dalam hati.
"Loh emang nggak ada mama?"
Nela menoleh ke arah Jasmin. "Mamanya enggak di Bandung, Tante."
Jasmin mengangguk-anggukan kepalanya, jahat
sih Jasmin tanya-tanya، tapi kan penasaran.
"Emang mama ke mana?"
Nela mengendikkan bahunya. "Mamanya di Jakarta. Kata Papa, Nela tinggal dulu di Bandung sama Papa."
"Mama tiap hari di Jakarta?"
Ini, Jasmin kalau sudah kepo berlanjut gaes, maafin.
"Hmm iyaa...," jawab Nela dengan senyum
ceria.
"Ini rumah aku sama papa...,“ ujar Nela ceria.
"Yaa Allah... Kai kenapa jadi belok gini demi anak," ujar Jasmin keceplosan.
"Rumah aku lucu kan, Tan? Ayo masuk."
"Ehh... Dek, tante tunggu sini aja deh. Tante mau cari rumahnya sendiri. Enggak apa-apa kok, nanti tanya sama satpam komplek yang patroli."
"Tante nggak boleh gitu... ayo masuk sebentar," ajak Nela sambil menarik lengan Jasmin untuk masuk ke dalam pagar hello kittynya, tetapi Jasmin masih enggan dan menolak.
"Nela, itu siapa?" Kai tiba-tiba muncul dari dalam rumah, menghampiri pagar dengan langkah terburu buru.
Jasmin berusaha menutupi wajahnya agar tidak terdeteksi oleh Kai sang mantan. Namun, tentu saja gagal karena Jasmin bukanlah seorang ninja. Kai berhasil mengenali Jasmin setelah lima detik bapak satu anak itu sampai di depan gerbang.
"Loh. Nela... kok kamu bisa sama Jasmin?"
Jasmin tersenyum kaku dipaksakan. “Hehe... iya ya," timpal Jasmin asal.
"Tante ini tadi nyasar, Pah. Nela mau anterin ke rumahnya, Papa tolongin tantenya dong...," cerita Nela pada Kai sembari menggandeng erat jemari Kai di hadapan Jasmin.
Jasmin sih dari tadi rasanya pengen ngilang, tetapi kalau Jasmin ngilang itu membuktikan bahwa Jasmin masih gamon sama Kai.
"Belum berubah ya Min, masih sering nyasar...," ujar Kai sambil tersenyum, wajahnya seolah mengingat kejadian tahun-tahun ke belakang di mana Kai masih berstatus pacarnya Jasmin.
Jasmin hanya tersenyum lagi-lagi dengan dipaksakan.
"Kamu tinggal di komplek ini sekarang?"
"Hmm iya."
__ADS_1
"Loh udah pindah rumah?"
Jasmin mengangguk saat Kai dengan senang hati menyetirkan mobil untuknya dan mengantarkan Jasmin ke rumah Pak Jordan.
"Lagi nginep di rumah Mamanya Haris?"
"Oh, kamu masih sahabatan sama Haris. Awet ya," komentar Kai dengan lembut. Jasmin duduk di belakang kemudi bersama Nela yang sepertinya tidak punya teman seumurannya.
"Kerja di mana, Min?"
"Hmm. Sekarang freelance aja.“
"Bidang apa?
"Eh, kecantikan."
Kai mengangguk-anggukkan kepalanya, sampai Jasmin menyadari kalau rumahnya tante Fany sudah ada di depan.
"Stopp... di depan... kayaknya itu rumahnya Om Jordan deh." Jasmin dengan mata berbinar akhirnya bisa terbebas dari Kai dan anaknya.
"Beneran udah sampe? Enggga salah kan?"
"Engga kok. Ini rumahnya...," ucap Jasmin saat melihat motor Haris terparkir di halaman rumah. Jasmin sangat yakin kalau rumah itu adalah rumah Jordan.
"Tante, kapan-kapan main lagi ya,” ajak Nela dengan senyum cerah di wajahnya, anak kecil itu tampak bahagia karena Jasmin memberikan semua cemilan belanjaannya untuk Nela.
"Hehe, iya, makasih ya, Nela udah anterin."
"Sama sama Min, makasih juga buat cemilannya. Kapan-kapan, kita jalan lagi ya."
Blusshhh...
Pipi Jasmin memerah dengan senyum amat tipis dan grogi dia mengangguk tanpa sadar pada tawaran Kai.
Jasmin turun dari mobil milik Kai, tidak menawarkan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah atau apa pun, melainkan hanya cepat-cepat turun dan langsung masuk ke dalam.
Sampai di dalam rumah, Jasmin kebingungan karena ia pasti akan berhadapan dengan Haris. Anak itu kenapa bisa pulang secepat ini, padahal waktu masih menunjukkan jam makan siang lewat 1 jam. Dengan santai Jasmin duduk di ruang tengah, melihat televisi yang menyala menayangkan tom and jerry kesukaannya. Jasmin menikmati tontonan sendiri tanpa mengajak Haris, biasanya kalau ada kartun di TV Jasmin pasti ribut memanggil Haris untuk menonton bersama.
"Si Haris ngapain ya, motornya ada, orangnya ke mana? Apa tidur?" gumam Jasmin pada dirinya sendiri.
"Gue harus gimana ntar malem. Kalo kita ketemu gimana?" ucap Jasmin lagi melanjutkan kebingungannya.
Haris keluar dari dalam kamar, dia baru selesai mengganti pakaian dengan kaus dan celana jeans biasa. Haris kembali karena dia mendapatkan telepon dari Fany yang mengatakan kalau Jasmin hilang dan tidak ada di rumah, Jasmin juga tidak bisa dihubungi selama dua jam lebih oleh kedua orang tua Harus. Alhasil kini Fany dan Jordan mencari Jasmin dan melapor ke polisi. Sedangkan Haris tentu sebagai suaminya diminta pertanggung jawaban penuh atas keselamatan Jasmin.
Dengan terburu-buru, Haris segera mengenakan jaket dan menuruni tangga rumahnya untuk mencari Jasmin yang katanya hilang.
"Sialan, apa jangan-jangan... Jasmin diculik sama komplotan rampok yang buron ya." Haris mengenakan helm saat sampai di ruang tengah, tetapi....
Pandangan Haris tertuju pada TV yang menyala, menayangkan tom and jerry yang sedang kejar-kejaran. Melirik ke arah sofa, Haris mendapati Jasmin sedang tertidur nyenyak sambil memeluk bantal sofa.
"Heh, si Jubaedah... orang pada nyariin dia malah enak-enakan molor!" umpat Haris sambil menghampiri Jasmin yang tertidur.
Haris yang sudah pakai helm siap tempur langsung melepas helmnya dan mendekati Jasmin.
Haris hendak membangunkan Jasmin, tetapi urung saat mengingat peristiwa ciuman semalam. Jasmin kini tampak tidur nyenyak dan tenang, wajahnya begitu polos saat tertidur, berbeda saat dirinya bangun dan mengoceh serta mengejek Haris dengan berisik. Haris tersenyum konyol, dia lalu meraih bantal sofa yang lain dan menimpuk pelan wajah Jasmin dengan bantal itu.
"Rese!" katanya dengan senyum jahil.
"Mih... Jasmin ketemu nih..."
"Hmm...."
"Di sofa, lagi tidur."
"Hmm, ga usah panik... Jasmin ada di rumah," ucap Haris pada sambungan teleponnya dengan Fany dan Hani.
Bersambung ....
__ADS_1
Ini cerita baru lagi, jangan lupa mampir.