
Di perjalanan pulang dari tempat reuni itu, seperti biasanya, mobil jadi sepi banget karena Jasmin terlelap di samping Haris. Sudah kenyang makan dan gosip akhirnya ia tepar juga di mobil, sementara Haris harus nyetir seorang diri dengan rasa penasaran tinggi, tentang jurus pamungkas apa yang digunakan Jasmin sehingga istrinya itu bisa survive ngobrol di meja bareng cewek-cewek yang notabene mantan-mantan mantan pacarnya, dan mantan pacar suaminya. Dan, kenapa juga si Mina bisa dateng padahal dia tidak punya hubungan sama sekali dengan sekolah Haris.
Jasmin membuka matanya saat mobil berhenti di lampu merah, ia nyengir ke arah Haris yang tampak serius berpikir di tempatnya duduk.
"Pamil... bumilnya haus," ujar Jasmin sambil mencolek lengan suaminya.
"Eh, udah bangun. Gue kira lu pingsan," ucap Haris kaget, lelaki itu pun membukakan tutup botol air minum dan menyerahkannya pada Jasmin.
Jasmin cengengesan, "Kalau kenyang jadinya pengen bobo... hehe."
"Kita udah sampe mana?" tanya Jasmin penasaran sambil meneliti sisi kiri dan kanan jalan.
"Lampu merah samsat masih jauh, eh jangan tidur lagi tapi. Gue gak ada temen ngobrol," jawab Haris dengan jengkel, karena melihat Jasmin sudah mulai merebahkan dirinya lagi ke sandaran kursi.
"Aduh bayii.. papamu bawel banget kalo sama mama.... pengennya diajak ngobrol. Padahal mama kan lagi gak mood ngobrol, mama capek pengennya makan tidur jalan-jalan aja... iya kan? Uduu bayi udah kenyang sekarang ya? Pengen bobo, ya?"
Haris tertawa kecil memperhatikan Jasmin yang bicara pada perutnya. "Nggak usah doktrin aneh-aneh Min sama anak gue. 50 persen si bayi itu hasil jerih payah gue juga... iya kan bayi iya kan?" ucap Haris sembari mengusap-usap perut Jasmin yang tidak respon apa pun.
"Dih apaan, lu mah cuma 30 persen, gue 70 persen!" elak Jasmin tak terima.
Haris jelas tidak terima juga keputusan istrinya. "Darimananya gue 30 persen? Gue kan yang membenihi lu biar si bayi tercipta," kata Haris dengan bangga dan tidak mau kalah.
"Nih ya, gue mengandung si bayi 9 bulan. Terus pas proses bikinnya gue juga harus react proses pembenihan. Huu... berat banget jadi ibu itu. Lu mah enak asal cus cus doang."
Haris tertawa sambil mengusap wajahnya. "Oh iya ya, wkwk iya deh iya, gue 30 lu 70 persen." Akhirnya, ngalah juga pamil satu ini.
Jasmin cekikikan membuat Haris mengerutkan dahinya. "Napa ketawa?" tanya Haris heran.
"Lu tahu ga si bayi ngomong apa barusan?"
Haris menggeleng, ya mana dia tahu sih orang tidak ada bayinya. "Apaan emang?"
"Si bayi sayang sama lu...," kata Jasmin dengan lembut, membuat Haris tersenyum hangat dan langsung mengusap perut buncit Jasmin dengan lembut.
"Yaa ampun, bayi sayang papanya nih? Iya dong, apalagi papanya... bayi belum keluar aja udah sayang banget. Baik-baik di sana ya sampe dilahirkan nanti."
"Eh Ris... di sebelah kiri ada apaan tuh rame-rame?!" tanya Jasmin sambil menengokkan wajahnya ke arah kiri.
"Oh, kayaknya sih pasar malem. Mau ke sana?"
"Wah... yang bener? Mauu Ris, belok-belok!" kata Jasmin excited membuat Haris langsung saja membelokkan mobilnya ke sebelah kiri untuk memasuki area pasar malam tersebut.
Jasmin bertepuk tangan dengan ceria, padahal ini sudah jam 8 malam lewat harusnya mereka segera beristirahat karena kondisi Jasmin yang sedang hamil. Namun, tidak apa-apalah sekali-sekali nyasar ke pasar malam.
"Mau ngapain ke pasar malem emangnya?"
"Mau nyari ribut, hehe...," jawab Jasmin dengan polos, membuat Haris menghela napasnya dengan kasar.
"Mau jadi apa anak gue Ya Allah."
"Ris, mau naik kincir.“ Tunjuk Jasmin pada sebuah arena permainan yang disediakan oleh pasar malam yang mereka kunjungi saat ini. Haris sih ngeri waktu melihat kincir angin yang bentukannya mirip dengan kandang burung itu, tapi Jasmin malah mau naik yang begituan.
"Ntar masuk angin Min, masa mau naik kincir.. yang lain aja."
Jasmin mendengkus pelan, ia melirik ke bawah dimana perutnya akan dijadikan senjata utama agar Haris luluh. "Si bayi yang mau...."
Haris menghela napasnya. "Enggak, enggak... si bayi harus belajar disiplin sejak dikandung badan. Gak ada kincir, yang lain aja. mending kita main pancing-pancingan aja," tolak Haris sembari menunjuk area pancingan ikan yang dipenuhi oleh anak-anak balita yang ditemani ibu dan ayah mereka. Jasmin cemberut.
"Yaudah, kora-kora!" ajak Jasmin dengan mata berbinar, Haris langsung cemberut mendengar permintaan aneh-aneh istrinya.
__ADS_1
"Nggak boleh! Apalagi kora-kora, ntar anak gua mabok Min dalem perut. Lu nya petakilan amat."
Jasmin cemberut lagi, dan Haris tidak mau luluh hanya karena Jasmin yang cemberut, kalau celaka kan Haris juga yang harus tanggung jawab dan kena resikonya.
Akhirnya, karena bujukan Haris, Jasmin pun mau melanjutkan jalan-jalan tanpa meminta arena yang aneh-aneh. Pasangan suami istri itu cukup berkeliling menyisir seluruh isi pasar malam sambil bergandengan tangan, sesekali Haris juga menawarkan Jasmin makanan yang dijual di sana. Alhasil, Jasmin minta untuk dibelikan cotton candy dan milkshake ukuran jumbo.
Sambil menikmati makanan khas pasar malam itu, mereka duduk di bangku panjang yang menghadap pada komedi putar. Di arena permainan itu ada anak kecil Iyang menaiki kuda, masih balita kira-kira usianya 3 tahunan ditemani oleh Ayahnya, mereka terlihat ceria senang sekali bermain di sana.
Tidak sengaja, pandangan Jasmin dan Haris tertuju pada arah yang sama, pada pasangan Ayah dan anak itu. Jasmin tersenyum gemas, dan tanpa sadar Haris mengelus perut Jasmin dengan lembut.
"Nanti, si bayi sama lu gitu juga gak ya, Pamil?" gumam Jasmin gemas.
Haris tersenyum kecil. "Ya tergantung mood nya. Mungkin kita bakal mabar pab ji bareng. Hehehe."
Jasmin mendelik. "Nggak boleh kalo main pab ji."
"Yee kok lu larang-larang, kan si bayi anak gue juga. Terserah kita dong mau ngabisin quality time kayak gimana... usil banget sih jadi emak."
Jasmin terkikik, Haris masih tidak mau kalah.
Haris langsung menutup bibirnya karena Jasmin tidak merespon omelannya, biasanya Jasmin pasti lebih galak kalau udah dikata-katain begitu.
"Kok gak bales?"
Jasmin malah menyandarkan kepalanya di bahu Haris, sekaligus merangkul lengan kiri suaminya dengan erat. "Bales apa sih Pamil... gue tuh gak sabar pengen ketemu sama si bayi. Nanti mukanya mirip siapa, terus kalo ngambek bakalan mirip siapa. Hmm, bayanginnya aja udah gumush ...."
Haris yang tadinya mau perang mulut gak jadi deh, karena terlanjur kalah duluan sama kata-kata Jasmin barusan.
"Udah pasti mirip gue sih Min... si bayi kalo cowok bakalan 3G pokoknya."
"Ih 3G apaan? Ucapan adalah doa loh," tanya Jasmin heran.
"Hihi Pamil... gumush...."
"Eh Min, waktu lu pacaran sama si Kai tingkah loh gimana sih? Kok bisa si Kai sampe gamon gitu keliatannya."
Nah kan, udah mulai bahas mantan nih, Jasmin terkikik mendengar pertanyaan suaminya.
"Hm, hm... apakah ini ada unsur-unsur cemburu seorang Pamil?!" selidik Jasmin nyebelin.
Haris menyebikan bibirnya saat diperlakukan begini oleh Jasmin, sialnya tebakan bumil yang satu ini tepat sasaran.
"Iya, iya, pamil cemburu nih... gatau kenapa, pasti karena hormon seorang papa hamil."
Jasmin cekikikan, "Dih katanya gak ada hubungannya sama hormon, kerasa kan? Kalo istrinya hamil tuh ada rasa-rasa hormon nya dalam jiwa?"
Haris mengangguk jengkel, Jasmin belum memberinya jawaban.
"Jadi... dulu kan masih SMA. Ya gimana sih anak SMA pacaran. Gue masih polos-polosnya gitu, si Kai kan fakboi banget ya... ya gitu deh. Susah jelasinnya," jelas Jasmin pada Haris yang masih saja membuat Haris tidak paham dan tidak bisa membayangkan juga gimana rasanya pacaran sama Jasmin.
"Coba contohin ke gue, polosnya elu gimana waktu SMA," pinta Haris dengan nada memerintah. Cowok ganteng itu menyilangkan kedua lengan di depan dada menunggu Jasmin mencontohkan salah satu sikap polosnya sewaktu SMA.
Jasmin tertawa kecil, “Haris.. Jasmin tuh laper, tapi pengen jalan-jalan juga. Mau naik motor keliling kota Bandung, habis itu Jasmin maunya Haris temenin Jasmin beli liptint baru di mall. Haris mau, ya?" ucap Jasmin dengan manis, ya kurang lebih begini lah tingkah Jasmin waktu berpacaran dengan Kai.
Winner Winner Chiken Dinner lah Jasmin, karena berhasil berada di posisi puncak di hati Haris setelah berhasil menembakkan peluru andalannya.
Ada peluru cinta menancap di jantung Haris, yang berhasil membuat Haris hampir kejang di bangku tempatnya duduk.
"Astagfirullah... untungnya gue nikahin lu cepet-cepet, Min."
__ADS_1
"Nggak nyangka lu bisa selucu ini, ya Allah.”
"Ini ngejek apa beneran nih?!"
"Beneran lah... ya ampun gumushh...." Haris kembali menjatuhkan cubitan di kedua pipi tembam Jasmin, dan Jasmin tertawa dibuatnya.
***
Pagi-pagi begini Jasmin sudah berada di rumah Airin untuk menemani kakak iparnya itu selagi Surya mengadakan kunjungan kerja ke luar kota. Karena sekarang usia kandungan Airin tinggal menghitung hari menuju persalinan, maka Airin tidak boleh dibiarkan sendirian di rumah atau keluar rumah tanpa adanya teman. Ya, meskipun Jasmin juga sama-sama sedang hamil, tetapi setidaknya Jasmin ini cukup bisa diandalkan.
Selain biang rusuh, Jasmin itu cepat tanggap juga untuk memanggil ambulance jika terjadi persalinan mendadak Airin. Haris juga sudah sepakat untuk meminjamkan Jasmin pada Airin selama ia menginspect furniture pesanan yang baru sampai di tokonya.
"Kak Airin kenapa sih kasih izin ke kak Surya buat pergi ke Bogor. Kalau lahiran gimana coba?"
Airin terkikik mendengar keluhan Jasmin yang justru terdengar lebih galak dibandingkan Hani mamahnya.
"Hehe, mau gimana lagi Min. Kasian Surya, kerjaannya banyak keteter sejak aku hamil. Tapi gapapa sih, kan masih ada kamu sama Haris yang jagain."
Jasmin menghela napasnya. Kalau sampai Haris pergi keluar kota tanpa ngajak, Jasmin bakal ngamuk banget kayaknya.
"Eh Kak, beneran loh apa yang kak Airin bilang waktu itu. Ternyata hamil itu bikin kita aneh banget ya. Aku sampe gamau ditinggalin Haris, kalo Haris ganti baju aja, aku pasti kepo nanyain dia mau pergi ke mana... soalnya, aku selalu pengen ikut."
Airin tiba-tiba saja meringis, saat terlihat pergerakan dari perut besarnya. Jasmin yang melihat hal tersebut segera mendekati Airin dan tampak khawatir.
"Kenapa? Mules, Kak? Aku telepon ambulance sekarang, ya? Atau kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ucap Jasmin tergesa-gesa, sebab dari tadi pun Jasmin merasa ada yang tidak beres dengan Airin. Airin sudah jarang bicara dan terlihat menahan rasa sakitnya. Namun, ketika ditanya, Airin selalu saja menjawab baik-baik saja.
Airin menggeleng pelan, tetapi napasnya terdengar tidak beraturan, membuat Jasmin tidak mempercayainya begitu saja.
Tanpa menunggu keputusan dari Airin, Jasmin segera mengambil Hpnya dan meminta Haris untuk datang terlebih dahulu ke rumah Airin, sementara Jasmin menghubungi Haris, ia menitipkan Airin pada asisten rumah tangga yang sejak tadi sedang merapikan rumah.
Jasmin beralih ke kamar Airin dan Surya, ia segera saja memasukkan pakaian bayi, popok dan segala macam peralatan yang akan dibutuhkan Airin di rumah sakit jika benar keponakannya akan lahir sekarang.
"Ya ampun... jadi riweuh gini," gumam Jasmin sembari melipat selimut dan memasukkannya ke dalam tas. Sementara sambungan teleponnya dengan Haris masih tersambung, Haris bisa mendengar apa yang Jasmin ucapkan dan terkekeh karena keluhan Jasmin selalu saja membuatnya greget.
"Udah udah... ntar gue bantuin. Lu duduk aja disitu, yang tenang... jangan banyak gerak apalagi sampe naik turun tangga," Peringat Haris pada Jasmin.
Jasmin menghela napasnya, ia sudah naik tangga barusan karena harus mengambil barang-barang. "Gue mah sehat kali.. si bayi kan kuat... cepetan kesini, panik banget gue sama kak Airin. Kasian ...."
"Iya sabar-sabar... ini udah di tikungan deket perum Batu Mas. Bentar lagi masuk perumnya," beritahu Haris lewat telpon.
Jasmin pun mendudukan dirinya di atas tempat tidur milik Airin, karena sedang hamil muda kondisi fisik Jasmin pun tidak bisa tahan lama seperti sebelum hamil. Berjalan sedikit bisa membuat Jasmin kelelahan dan kehabisan napas. Jasmin pun mengistirahatkan dirinya di ranjang dan mencoba untuk menetralkan pernapasannya, kalau sudah normal maka Jasmin akan turun ke bawah untuk ikut ke rumah sakit.
Jasmin menunduk ke bawah kakinya, merasakan sesuatu yang basah seperti terinjak oleh telapak kakinya yang tidak beralas. Dan...
"Ris...." Jasmin kembali mendekatkan HP ke telinganya, dan bicara pada Haris dengan suara agak goyah dan lemah.
"Hm, gue udah masuk perum nih... sabar-sabar," kata Haris sembari mengemudikan mobilnya untuk segera sampai di rumah Airin.
"Ris... gue berdarah...." Jasmin terisak, ia ketakutan saat melihat darah menuruni kakinya, merasakan sesuatu yang basah seperti terinjak oleh telapak kaki nya yang tidak beralas. Dan...
"HAH? BERDARAH GIMANA?!"
Jasmin menatap lantai kamar bercak-bercak darah yang yang memiliki sudah pasti berasal dari dirinya. Jasmin menggigit jarinya dengan keras, ia merasa gugup, takut dan benar-benar bingung. Jasmin memegangi perutnya yang tidak memberikan reaksi apa pun.
"Min! BERDARAH GIMANA?! MIN!"
Bersambung ....
Ada yang panik nggak?
__ADS_1
Part paling panjang ....