Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 75


__ADS_3

Keringat dingin mengalir deras di dahi Jasmin malam itu, perut besar Jasmin juga tampak menegang karena ada kontraksi luar biasa hebat. Mungkin ini sudah waktunya melahirkan, tetapi Jasmin tidak berdaya melainkan hanya bisa diam di atas kursi dan napasnya sesak, malam-malam ia berada di toko furniture milik Haris dan ruangan di sana tampak begitu menyeramkan.


"Ris...," panggil Jasmin ditengah-tengah rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya.


"Ris!" panggil Jasmin dengan sedikit membentak agar Haris segera datang dan menolongnya untuk membawanya ke rumah sakit.


"Ris... bayinya pengen keluar," panggil Jasmin lagi dengan keringat yang mengucur makin banyak.


Haris muncul dan malah tersenyum mengejek. "Hehehe... gimana Min rasanya hamil anak gue?" tanya Haris dengan ekspresi tanpa rasa khawatir sedikit pun.


"Haris bangsat ya lu!" bentak Jasmin dengan kencang, Jasmin menggigit bibir bawahnya dan rasa sakit semakin menjadi-jadi menyerang perutnya, tetapi Haris malah diam saja dan menampilkan senyum pada Jasmin tanpa berbuat apa pun..


"Min... Min... Sayang...." Haris menepuk-nepuk pipi Jasmin dengan lembut di atas tempat tidur, istrinya itu terlihat gelisah dengan mata terpejam dan keningnya tampak berkeringat deras, tentu saja Haris panik karena ini pertama kalinya ia menyaksikan Jasmin mengigau saat tidur.


"Min," panggil Haris lagi, dan kali ini berhasil, Jasmin langsung membuka kedua matanya secara spontan.


"Huhuhu... Haris," rengek Jasmin sambil menangis membuat Haris tidak paham dengan situasi tengah malam begini, Haris membangunkan Jasmin dari tidurnya dan Jasmin langsung memeluk Haris dengan masih dengan isakan kecil.


"Kenapa? Mimpi buruk, ya?"


"Hmmm." Jasmin mengangguk patuh lalu kembali menangis bak anak kecil yang sudah disakiti teman bermainnya. Haris tertawa kecil. "Mimpi buruk?"


"Hmmm...." Jasmin melepas pelukannya dari tubuh Haris dan menatap suaminya itu dengan mata sembab. Haris mengusap keringat Jasmin dengan telapak tangannya kemudian menurunkan temperatur AC.


Sudah dua minggu sejak Jasmin ketahuan hamil, emosi Jasmin jadi benar-benar tidak bisa ditebak. Gampang marah, gampang nangis, tetapi susah banget disenengin. Ke mana Haris pergi Jasmin selalu pengen ikut, Haris telat sedikit Jasmin marah tidak beres-beres, Jasmin juga jadi tidak mau makan dan maunya cuma ngemil yang pedas-pedas. Haris jadi tidak enak kalau Jasmin tidak makan, ya setidaknya Jasmin harus makan biarpun dia cuma bisa masak aneka olahan telur.


"Kayaknya, kita harus kasih tau mami deh." Jasmin menatap pada perutnya yang sekarang sudah mulai bervolume. Daster bunga-bunga yang dikenakannya tampak menonjol sedikit di bagian perut.


"Hmm... ya kasih tau aja, mungkin si bayi pengen dipamerin ke nenek kakeknya. Makanya lu mimpi buruk terus."


Jasmin nyengir, "Besok ke rumah mami ya?"


Haris agak berpikir, besok dia ada rencana pergi ke Yogya untuk mengambil barang yang sudah jadi dari pabrik.


"Ris... gimana?" tanya Jasmin sembari menyenggol lengan suaminya di atas tempat tidur.


"Eh... hm... boleh deh," jawab Haris dengan ekspresi masih bingung.


Jasmin langsung cemberut. “Kok bolehnya pake deh...."

__ADS_1


"Iya hayuk. Boleh ke rumah mami," ucap Haris dengan hormat. Namun, Jasmin masih saja cemberut. "Ih... gak pake senyum."


Haris nyengir dan bersikap hormat di hadapan Jasmin, "iya hayuk, dengan hormat kita ke rumah mami."


"Hehehe.. asiikk... makasihh." Jasmin baru deh tersenyum.


Hani baru saja tertidur di atas ranjang bersama dengan Dimas. Sepulang dari Bali siang tadi ia belum sempat mengabari Jasmin dan mengantarkan oleh-oleh, rencananya besok sepulang dari toko baju Hani akan menemui Jasmin sekaligus memberikan anaknya buah tangan khas Bali.


Namun, baru saja ia mematikan lampu tidur Hpnya berdering, hal itu membuat Hani berdecak pelan dan langsung menyambar Hpnya yang ada di atas meja.


"Hallo," sapa Hani tanpa membaca layar telepon.


Dimas yang masih rebahan menaikan sebelah alisnya seolah bertanya siapa yang telepon malam-malam.


"Mamii." Suara Jasmin mengisi gendang telinga Hani, ibu satu anak itu pun tersenyum lebar dan langsung menghampiri Dimas dengan girang.


"Ya ampun Jasmin... kenapa malam-malam telepon."


Bip. Hani mengaktifkan loudspeaker pada Hpnya sehingga Dimas bisa ikut dengar.


"Min... belum tidur?" Dimas nimbrung.


"Mami papa... Jasmin kangen," ucap Jasmin dengan nada nelangsa.


"Jam setengah 2 Mi... Mami juga belum tidur? kapan sampe Bandung?"


"Udah sampe tadi sore, tapi mami belum sempet ke mana-mana nih. Harus beberes dulu di rumah," jelas Hani dan Dimas mendengarkan di sisinya dengan wajah terkantuk-kantuk.


"Mi, Jasmin mau ngomong."


Hani menghela napasnya, Jasmin tidak membuat masalah lagi kan? Kok mau ngomong via telepon, tengah malem lagi.


"Apa?" tanya Hani pelan.


"Jasmin hamil."


“Mih?"


Hani dan Dimas saling pandang dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


"Heh, siapa yang hamilin kamu?!" tanya Hani terkejut dengan tangan bergetar.


"Haris lah Mih... kita kan udah nikah. Kok Mami dengernya kayak kaget gitu?" ujar Haris ikut nimbrung.


Hani menepuk jidainya. "Oh iya. Haha mami lupa,


Ris!"


***


Jasmin tidak dandan, tidak juga sarapan karena setiap pagi dia dilanda rasa malas yang sangat besar. Sudah pukul 7, tetapi Jasmin masih aja berguling di atas tempat tidur dan malas-malasan, dia sudah mandi sih, tetapi pakaiannya masih daster yang semalam dipakai.


Sementara itu Haris sudah bersiap untuk mengantar Jasmin ke rumah maminya dan pergi kerja.


"Min, ayo, katanya mau ke rumah mami," ajak Haris sambil duduk di sisi Jasmin.


Jasmin menggeliat malas. “Males A... masih capek."


Haris menghela napasnya. "Capek apa sih pagi-pagi begini? Yuk ke Mami, tapi sarapan dulu. Aa udah bikinin susu."


"Gamau sarapan," ucap Jasmin sambil memalingkan wajahnya ke sisi lain, menghindari Haris yang jelas ada di hadapannya.


"Ck, yaudah ganti baju aja... sekalian kamu juga bawa baju ganti, malem ini kamu nginep di rumah mami ya. Gue mau pergi ke Yogya pulangnya besok."


"Hah? kok ke Yogya?! Ngapain... kok mendadak!" protes Jasmin dengan raut wajah sedih.


Haris mengelus bahu istrinya itu lembut. “Iya mendadak. Barang pesanan udah selesai dari pabrik. Nah si kostumer minta secepatnya dianterin ke lokasi. Kalau ga di cek dulu takutnya ada yang ga kekontrol."


"Ikut."


"Jogja loh. Jauh,“ ucap Haris melarang keinginan Jasmin.


"Ah nggak mau... ikut pokoknya!" Dipeluknya lengan Haris erat-erat oleh Jasmin, membuat Haris tentu saja tidak bisa menolak karena istrinya itu tidak pernah bersikap semanja ini sebelumnya.


"Kan kamu lagi hamil... hamilnya masih kecil banget, nanti kalau kenapa-kenapa gimana?"


"Kan ada Aa yang jagain... ya? Please. Mau ikut," bujuk Jasmin lagi sambil mendongak menatap Haris.


Haris nyerah. "Yaudah ikut, tapi makan dulu.“

__ADS_1


"Hehe... iyaa... asiikk!"


Bersambung ....


__ADS_2