
"Mungkin... lu juga nggak tahu, betapa begonya gue saat harus pilih cincin pernikahan kita... pura-pura nggak peduli sama keinginan lu... Tuhan udah kasih jawaban sejak lama, tapi manusia tempatnya khilaf, gue terlambat menyadari ini."
"Sandiwara pernikahan ini... seharusnya enggak gue rencanain, kalau pada akhirnya... kita emang nggak ditakdirkan untuk bersama-sama seperti yang gue harapkan... maafin gue Min."
BLAKKKK!
Betapa terkejutnya Haris saat Hani datang dan membuka pintu dengan paksa serta keras.
PLAKKK
Hani menampar pipi Haris saat wanita itu tiba di kamar. Jasmin yang melihatnya terkejut setengah mati. Tangan Jasmin gemetaran saat melihat Hani tampak sangat marah pada Haris yang kini berusaha untuk tenang dalam situasi genting. Namun, nyatanya ketegangan itu tidak berhasil dicairkan meskipun Dimas berusaha menenangkan istrinya.
"Anak kurang ajar! Brengsek! Berani-beraninya kamu bikin sandiwara!"
"Mami...," bisik Jasmin pelan, tetapi Hani menatap Jasmin dengan tajam, Hani tidak pernah marah sebesar ini, tetapi kini wanita itu tampak mengerikan dengan wajah memerah padam dan bibir bergetar.
"Maaf Tante...," ujar Haris sambil duduk bersimpuh di hadapan Hani yang berdiri di hadapannya. Saat Haris meminta maaf, Hani tampak bersiap untuk menampar Haris lagi.
"HARIS... SAYA UDAH ANGGAP KAMU SEPERTI ANAK SENDIRI!"
"Gimana mungkin kalian bohongin saya!"
Hani membentak, tetapi wanita itu juga tidak kuasa untuk menahan tangisannya, tangisan karena marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
Haris berdiri perlahan dan mencoba sekali lagi untuk meminta ampun pada Hani yang tampak tidak sudi menatapnya. Dimas tidak bisa berbuat apa-apa selain merangkul bahu Hani agar wanita itu tidak menampar Haris atau Jasmin.
__ADS_1
***
Rumah megah yang tenang itu tampak memiliki tamu di pekarangan mereka, ada setidaknya empat mobil terparkir rapi, tetapi suasana rumah sangat hening, tidak ada yang berani bicara dengan bebas selain berbisik satu sama lain.
Airin berada di sisi Jasmin untuk menenangkan gadis itu, sementara Surya berada di samping Haris untuk setidaknya bisa membantu menjadi penengah.
Sejujurnya Airin dan Surya tidak tahu masalah apa yang terjadi sehingga Hani dan Dimas meminta pertemuan darurat yang hampir tengah malam begini.
Jordan dan Fany duduk berdua dan menatap ke arah Haris dengan tatapan tidak percaya. Mungkin Hani dan Dimas sudah terlebih dahulu memberitahukan akar masalahnya ketika Fany tiba di sana terlebih dahulu.
"Jadi... pernikahan pura-pura kalian, kapan diurus perceraiannya?" ucapan Hani membuat seluruh mata terbelalak, terutama Haris dan Jasmin yang menjadi sasaran utama.
Airin dan Surya tampak terkejut mendengar pertanyaan spontan Hani tentang perceraian.
"Pernikahan pura-pura? Cerai?" ulang Surya bingung.
Dimas berusaha untuk tetap tenang.
"Han... apa sebaiknya kita kasih mereka waktu dulu...," ujar Fany angkat bicara.
"Waktu buat apa? Bikin strategi bohong lagi?! Ini aja mereka udah gila Fan... masih mau kamu kasih kesempatan buat anak yang mempermainkan makna pernikahan?!"
Fany tertunduk, ucapan Hani memang benar adanya.
Haris tidak dapat bicara sepatah kata pun, tetapi dia terus menatap ke arah Jasmin karena merasa begitu terpuruk, Jasmin terus menunduk dan menangis tanpa henti. Semuanya salah Haris, ya, Haris terus terngiang akan kesalahannya ini, tidak seharusnya Jasmin ikut menjadi korban atas kesalahan bodohnya.
__ADS_1
"Mi, Jasmin... minta maaf." Jasmin bicara ditengah isakannya, gadis itu susah payah bicara membuat Airin semakin kasihan ditengah rasa terkejutnya.
"Saya sudah telepon papi kamu, dia siap urus kamu lagi. Sekarang kamu udah besar, udah bisa bikin sandiwara, saya nggak perlu khawatir kalo kamu tinggal sama papi kamu."
"Hiks... mami... maafin Jasmin...."
Haris terbelalak, cowok itu berdiri dan menatap Hani tak ikhlas.
"Kenapa kamu berdiri? Marah? Nggak terima?" ujar Hani tak mau kalah.
Haris menggigit bibir bawahnya, Fany cukup khawatir dengan kalimat yang akan keluar dari bibir Haris.
"Pernikahan ini memang sandiwara Tante. Tapi... sayang saya ke Jasmin itu serius."
"Halah... serius kok main-main... kamu sadar nggak? Jasmin itu anak saya satu-satunya, cucu keluarga satu-satunya, generasi terakhir keluarga besar. Saya gak mau Jasmin gagal seperti saya, kamu tahu Haris? Sakit hati saya waktu dengar omongan kalian perihal sandiwara?! Bisa kamu tanggung jawab hah? Bisa kalian tanggungjawab?!"
Haris tertunduk, dia menghampiri Jasmin dan menarik tangan gadis itu dengan lembut, Jasmin menuruti keinginan Haris dan menggenggam jemari Haris yang terasa dingin.
Bukan tanpa alasan sikap Hani seperti ini. Hani memiliki pengalaman pernikahan yang buruk bersama Joseph, dan Hani tidak mau hal serupa menimpa Jasmin, apalagi Jasmin adalah harapan terakhir keluarga besarnya, kalau sampai nasib Jasmin harus seperti Hani, maka Hani akan sangat kecewa dan malu karena tidak bisa menjaga nama baik keluarga juga meneruskan generasi keluarganya.
"Han, aku minta maaf."
Hani menoleh ke arah Fany dan menghela napasnya kasar, Jordan tidak banyak bicara karena ia tidak mau terlalu banyak ikut campur, begitupun Dimas.
"Sampai kapan pun, Haris nggak akan cerai sama Jasmin," ucap Haris dengan tegas, dan mengeratkan genggaman tangannya di tangan Jasmin. Jasmin terkejut dan lebih dari itu, dia merasakan jantungnya yang mati kembali hidup, ada debaran yang keras muncul di dalam dadanya. Haris merangkul tubuh Jasmin untuk lebih rapat ke arahnya, melindunginya dari sesuatu yang bisa menyerang Jasmin dengan kesedihan.
__ADS_1
Bersambung ....