
Pukul delapan malam setelah isya, Haris mendapatkan kabar dari Mami Hani dan Papa Dimas untuk segera ke rumah sakit, karena Airin telah berhasil melahirkan bayi perempuan dengan sehat dan selamat. Persalinan dilakukan dengan normal sehingga membutuhkan waktu cukup lama karena kontraksi palsu yang sering terjadi, ditambah lagi kondisi Airin yang baru pertama kali bersalin memang mengharuskannya untuk melakukan proses melahirkan secara normal, kalau sesar nanti anaknya doyan joget, itu kata Papa Dimas.
Jasmin mengelus perutnya ketika ia berada di sisi Haris yang kini sama-sama duduk di ruang tunggu untuk menjenguk Airin. Haris melihat ke samping dan tersenyum hangat pada istrinya itu yang sejak tadi tidak banyak bicara.
"Jandut... kok ngelamun aja?" tanya Haris seraya meraih salah satu tangan Jasmin untuk digenggam
"A... melahirkan sakit, ya?" tanya Jasmin pelan, kedua matanya agak bergetar, seperti menyimpan rasa takut.
Aduh, paling susah kalau udah dipanggil Aa. Bawaannya pengen ngarungin! batin Haris.
"Aa nggak tahu Min... sakit apa enggak. Kalau disunat sakit banget. Kalo lahiran gatau."
Jasmin merenung, menatap lagi pada perutnya yang sudah cukup besar untuk ukuran hamil 4 bulan.
"Tapi di sunat kan sekali seumur hidup. Kalau melahirkan bisa jadi dua kali atau tiga kali. Aa... Jasmin takut. Makanya, tadi siang sampe pendarahan...," keluh Jasmin lagi dengan wajah cemberut.
Haris juga bingung, gimana cara menenangkan Jasmin yang sekarang jadi parno kebangetan, yah Haris juga parno sih kalo Jasmin kenapa-kenapa... Tapi, Haris kan tidak ngalamin dan ngerasain gimana sakitnya.
__ADS_1
"Jandut... Tenang aja ya, nanti kalo semisal lahirannya sakit. Boleh deh pukulin gue ya sekenceng-kencengnya. Mau gampar kek! Nyakar kek! Tampol kek! Sambat kek... boleh deh, gratis sehari itu.“
"Beneran, ya?!" ujar Jasmin dengan semangat ditambah senyum manis di bibirnya yang amat merekah-rekah.
Haris menyebikan bibirnya. "Giliran menganiaya semangat banget tampangnya.“
"Hehe... udah kebayang nanti, lagi mikirin mau tampol bagian mana hehehe," ucap Jasmin sambil nyengir.
"Iya deh iya, pasti karena terlalu gumush kan, makanya dibayangin?"
Jasmin mengangguk setuju dengan pernyataan Haris barusan. "Iya dong ...."
"Udah, makasih, A!"
Sementara itu perawat jaga yang kebetulan berada di sana, hanya dapat bergidik mendengar obrolan sepasang suami istri di hadapannya.
***
__ADS_1
Ruangan bayi yang luas dan hening itu diisi dengan wajah greget para kakek dan nenek muda yang ada di sana. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan dengan wajah merah dan cantik tampak tertidur pulas di atas box kaca yang hangat, bayi Airin dan Surya yang belum diberikan nama membuat kakek dan nenek ada di sana tidak sabar untuk menggendong.
"Ya ampun kyud banget cucuku... Sur! kamu berhasil, Nak!" ujar Dimas sambil merangkul bahu Hani yang ada di sampingnya.
Fany yang mendengar ocehan Dimas tersenyum kecil, tetapi juga cukup terharu karena Airin berhasil melahirkan bayi yang sehat seperti ini.
"Ya, atas sumbangsih yang luar biasa dari Airin dan Surya, pada akhirnya cucu cantik ini lahir dengan bahagia ke dunia. Gue gak ngira, bakal jadi kakek di saat lagi ganteng-gantengnya!" pamer Jordan yang tersenyum tak kalah lebar dibandingkan Dimas.
"Eh Jor, lu masih kalah sama gue. Karena gue punya cucu pas lagi lawak-lawaknya hehe," timpal Dimas tak mau kalah.
Hani dan Fany benar-benar meringis ketika denger obrolan absurd suami mereka masing-masing.
"Oh iya, apa Airin sama Surya udah siapin nama buat cucu pertama kita ini, Dim?"
"Airin sama Surya belum ada ide nama yang sreg banget. Katanya fokus mereka itu lebih ke rencana perawatan bayi," jawab Fany.
"Wah bagus dong, ayo lah sekarang kita rembukan kasih nama buat cucu pertama kita" ajak Jordan dengan semangat.
__ADS_1
Bersambung ....
Maaf ya, aku baru up, besok-besok aku akan rajin up kok, karena mau tamatin bulan ini juga.