
KEMBALI DULU KE MASA-MASA SMA.
***
Musim hujan melanda Bandung di tengah-tengah UTS seperti ini, Jasmin menatap pada jendela kelasnya yang tertutup, jendela itu basah kuyup dan setelah usai ujian cewek itu tidak bangkit ke mana-mana, malas ke kantin, malas ngapa-ngapain. Pasalnya, Kai pasti tidak akan bisa jemput karena hujan begini, Jasmin juga tidak punya jas hujan untuk pulang bareng dengan Kai, Jasmin pasti harus naik angkot.
Sikap Haris juga berubah ketika cowok itu punya keluarga baru, Airin sekarang sudah resmi menjadi kakak tiri Haris dan Jasmin merasa tidak enak untuk menghubungi Haris atau memintanya jalan bareng lagi. Haris dan Jasmin sudah terpisahkan oleh kesibukan dan urusan keluarga masing-masing.
Jasmin pun mencoba menghubungi Kai yang belum membalas pesannya dari tadi, Jasmin mencoba berpikir positif mungkin Kai harus Try out semua mata pelajaran karena cowok itu sudah kelas 3 SMA.
Jasmin : Kamu bubar sekolah jam berapa? Aku mau pulang tapi ujan deres.
Kaisay : Min sorry... dulu. Aku ada TO, hari ini nggak bisa ketemu.
Jasmin : Yaaah. Semangat TO nya, tapi nanti malam minggu jadi kan?
Jasmin melamun, Kai tidak kunjung membalas pesannya, cowok itu sekarang jadi jarang intens untuk chatting dengan Jasmin, tidak seperti sebulan lalu saat mereka awal jadian atau ketika Kai mengajak Jasmin untuk pendekatan.
Arnold : Lu dmn?
Jasmin mengerutkan alisnya, setelah puluhan purnama akhirnya Haris mengabarinya dengan bertanya posisi.
Jasmin : Sekolah, masi ujan.. Tumben nge-CHAT GUE. ADA BUTUH LU!
Arnold : DL. Wkwkwk KEUJANAN.
Jennie terkikik, "Ih kangen...."
Jasmin : Jemput Nold. Bawa jas ujan dua nggak?
Arnold : Bantuin kerjain LKS gue dong, mingdep disuruh kumpulin.
Arnold : Ada jas hujan mah atas bawah doang, lu pake yang bawahannya ya. Wkwkwk.
Jasmin : Ih LKS apaan? Ogah ah, itu kan pelajaran kelas 3.
Jasmin : Gue naik angkot aja deh.
Arnold : Yaelah, LKS B.indo... males gue, lu ngisi asal aja. Kagak bakal diperiksa sama bpknya.
Arnold : Jangan pundung, gue jemput nih ke sana.
Jasmin : Iye deh iyee, kenapa nggak minta bantuan Airin?
Arnold : Kalo ada elu, kenapa harus Airin? Wkwkwk.
Jasmin mendecih kesal, sahabatnya yang satu ini sudah menghilang sebulan, tetapi kembali dengan nyuruh-nyuruh ngisi LKS Dasar si Haris!
Haris berada di warung dengan tubuh basah kuyup, cowok itu sudah setengah jam berada di warung tersebut menunggu sekolah Jasmin bubar, entah apa yang ada dalam pikiran Haris sehingga ia bisa serajin ini untuk menemui Jasmin.
Ya, mungkin Haris kesepian, semenjak Jasmin berpacaran dengan Kai, Jasmin tampaknya tidak membutuhkan Haris lagi di sisinya, Jasmin juga selalu diantar jemput Kai di depan komplek, sedangkan Haris hanya dijadikan alasan oleh Jasmin kepada Maminya saja. Kalau Jasmin kencan dengan Kai, maka Jasmin akan mengatakan pada Maminya kalau dia akan hangout bersama Haris ke toko buku.
Hanya sebatas itu saja peranan Haris bagi Jasmin.
Jubaedah : Nold di manaaaa???
Haris tersenyum kecil, dia langsung menghampiri motornya yang terparkir di warung dan membunyikan klakson dua kali. Jasmin tidak lama muncul dengan menutupi kepalanya menggunakan tas sekolahnya.
***
Dengan ditemani susu cokelat panas dan cookies buatan Fany, Jasmin dengan rajin mengisi lembaran demi lembaran LKS milik Haris di ruang tengah, Jasmin juga meminjam baju Airin karena baju seragam Jasmin basah kuyup. Sementara Haris malah asik-asikan pilih desain-desain furniture terbaru yang akan segera luncur di toko mebeul papanya.
"Eh, lu kok balik cepet sih. Kai ada TO semua pelajaran," ujar Jasmin mengutarakan keheranannya.
Haris mengendikan bahunya cuek. "Gue nggak TO. Ngapain ikut ah. Lagian bukan UN beneran, yang penting tuh lu bisa ngerjain soal pas UN."
__ADS_1
"SOK PINTER BANGET SIH LU!" ejek Jasmin sambil menendang kaki Haris dengan kencang.
Haris tertawa cekikikan, "Emang pinter. Bagi gue mah soal TO tinggal ngedip juga beres," ujar Haris nyebelin.
"Lu sombong banget Min, setelah pacaran kayaknya lu nggak butuh gue ya...," ujar Haris tiba-tiba, kedua matanya tidak menatap Jasmin, tetapi Jasmin langsung menghentikan kegiatannya mengisi LKS Haris.
"Yaiya dong. Siapa sih yang nggak bakal sombong. Secara cowok gue itu KAISAR yang keren ganteng, banyak fansnya. Femessss...," timpal Jasmin dengan alay.
Haris menyebikan bibirnya. “Iye iye... kalian itu serasi banget, sama-sama dark mode."
"Eh, mainnya menghina fisik lu Ris!" bentak Jasmin jengkel.
"Gue tuh ga item... nih, nih, bandingin ama tangan lu." Jasmin mensejajarkan tangannya dengan tangan Haris, dan kulit mereka nyaris satu tone bahkan Jasmin sedikit lebih putih, tetapi lebih pada putih langsat, tidak seperti Haris yang putihnya sedikit pucat.
Haris jadi kaget saat Jasmin mendekatkan tubuh ke arahnya, karena tidak mau berdekatan Haris segera menyingkir dari sisi Jasmin dan memasang tampang datar.
Hp Jasmin bergetar, gadis itu tampak tersenyum semringah saat mengetahui bahwa si penelepon adalah Kai yang dia rindukan, tanpa membuat Kai menunggu lama gadis itu langsung saja mengangkat telepon dan berbicara dengan manis pada Kai.
Haris yang ada disampingnya tentu sudah hapal betul siapa yang menelepon kalau ekspresi Jasmin berubah kelojotan seperti sekarang.
"Hallo Kai... kenapa?“
"Hah? Ketemu... sekarang banget? Tapi kan lagi hujan."
"Ketemu di mana?"
"HAH? KAMU JANGAN KE RUMAHKU... Aku lagi di rumah Haris... kamu ke sini aja.“
Jasmin menatap sahabatnya itu dengan memohon, tetapi sepertinya Haris tidak dapat berbuat apa-apa selain mengiyakan permintaan Jasmin.
“Hmm... kamu hati-hati di jalannya... heem... aku tunggu kamu di rumah Haris."
Jasmin menutup sambungan telepon dan langsung menghadap pada Haris yang kini menatapnya datar.
Haris tersenyum kecut. "Main apaan. Lu kira gue sama si Kai masih doyan pedang-pedangan?"
Jasmin tertawa cekikikan, “Ih Haris mah... boleh, ya?"
"Ck... iya iya, lu yang pacaran kenapa gue yang repot sih," decih Haris kesal.
"Nanti gue kasih deh elu temen gue, namanya Mina, demi Allah cantiknya kayak Airin, senyumnya manis, kulitnya putih, baik, pinter,
juara kelas mulu. Tipe elu banget deh, ntar kita double date. Iya nggak?"
Haris tidak menanggapi ocehan kawannya itu melainkan pergi ngeloyor untuk merapikan buku-bukunya yang terhampar di atas meja.
Menunggu sekitar 10 menit, akhirnya Kai tiba di rumah Haris, cowok itu menerobos hujan deras menggunakan motornya, tanpa jas hujan atau penutup tubuh lain selain seragam dan helm full face.
Jasmin yang menunggu di teras rumah Haris segera menghampiri Kai ketika cowok itu berhasil memarkir motor di teras. Jasmin tergopoh-gopoh membawakan handuk untuk pacarnya.
Namun, apa yang Kai lakukan? Cowok itu tampak malas berhadapan dengan Jasmin, wajahnya juga kaku dan dingin.
"Kai... ini ujan gede, kan aku udah bilang kita bisa ketemu Sabtu," ujar Jasmin sembari menyerahkan handuk, Kai tidak menerima handuk itu, cowok itu juga hanya diam di batasan teras rumah Haris yang masih tertutupi plafon.
"Kita ga bisa ketemu Sabtu ini Min."
Jasmin mencelos. "Ih kamu sekangen itu ya sama aku, jadinya kita ketemu sekarang?"
Kai tersenyum kecut. “Kita putus aja.“
Jasmin mematung, hujan deras mungkin membuat pendengarannya sedikit mengabur.
"Hah?!"
"Kita putus Min... kita putus..."
__ADS_1
"Kamu apaan sih?! Hujan-hujanan gini Cuma bilang putus aja!" bentak Jasmin saat kesadaran kembali menguasai dirinya.
Jasmin jujur saja masih kaget, tetapi apa alasan Kai untuk memutuskannya, ini sama sekali tidak logis. Jasmin merasa bahwa mereka sama sekali tidak punya masalah apa pun selama ini. Lalu apa alasannya.
"Apa alasannya?!" desak Jasmin dengan kencang.
Kai menunduk. "Gue bosen sama hubungan ini... gue bosen sama lu yang selalu ngatur gue. Gue juga bosen sama gaya pacaran kita yang kayak anak kecil!"
Mulut Jasmin menganga, segitu mudahnya Kai menjabarkan alasan putus tanpa tanda-tanda terlebih dahulu, membuat Jasmin menjadi curiga.
"Kenapa kamu nggak ngomong kalo kamu bosen? Aku bisa berubah biar engga ngebosenin!" ujar Jasmin dengan suara hampir menangis.
"Aku juga minta maaf kalo ngatur kamu. aku juga minta maaf kalo pacarannya kayak anak kecil."
"Hikss...."
Kai menatap Jasmin dengan sendu, wajah cowok itu juga berusaha berpaling ke sana kemari. Jasmin hendak meraih tangan Kai, tetapi Kai dengan cepat menghindar dari Jasmin, sehingga Jasmin hanya memegang angin.
"Kamu pacar pertama aku Kai... hiks... maaf karena aku bikin kamu bosen."
"Aku gak mau kita putus!" tolak Jasmin dengan wajah bercucuran air mata. Kai tidak menggubrisnya, cowok itu langsung kembali menuju motornya dan meninggalkan Jasmin yang masih lemah karena tangisan yang terjadi secara tiba-tiba.
Setelah Kai pergi, Jasmin kembali masuk ke dalam rumah, menangis terisak begitu pedih dengan pakaian yang sedikit basah karena tercecer air hujan di teras rumah.
Haris melihatnya dengan bingung. "Mana si Kai?"
"HARIS... Gue DIPUTUSINNN... HIKSS... Gue NGGAK MAU PUTUS... HIKS... TA... TAPI... Kai... Kainya maksa putusin gue!" ujar Jasmin dengan tangisannya begitu kencang bak anak kecil yang ditinggalkan oleh Mamanya ditengah-tengah pasar.
Haris menjadi kalang kabut, cowok itu langsung menutup mulut Jasmin dengan tangan kanannya, membuat tangisan Jasmin agak teredam, tetapi tak berhenti.
Haris membawa Jennie duduk di sofa berusaha untuk menenangkan.
"Dia... dia bosen... hikss... sama... sama gu... gue...!"
"Kenapa dia ... hiks tega.. banget... gue... masih sayang..."
Haris menjadi pendengar yang baik saat ini, Jasmin terus mengoceh tak jelas mengutarakan isi hatinya di hadapan Haris. Jasmin tidak peduli kalaupun dirinya kini berparas jelek atau dia punya ingus dihidungnya karena menangis dengan kacau, Jasmin sangat sedih sehingga dia tidak mau membiarkan rasa sakit hatinya hanya tersimpan di dalam dada. Yang dapat Haris lakukan tentu berada di samping Jasmin, tidak menenangkan, Haris hanya berperan sebagaimana mestinya seorang teman.
Tangisan Jasmin mereda, setelah dua jam lamanya gadis itu terus terisak di atas sofa, kini suara isakannya memelan dan kedua matanya tampak bengkak dan sembab. Haris pun tidak menyingkir dari sisinya, sambil membaca buku akhirnya tangisan Jasmin dapat berhenti.
"Ris... kamu ngapain?" Airin tiba-tiba muncul, sepertinya gadis itu baru saja tiba di rumah setelah seharian ini kuliah.
Haris menutupi bibirnya dengan telunjuk, memberikan isyarat pada Airin agar tidak berisik. "Shhh.. Jasmin lagi tidur, Kak.“
Airin langsung menutup bibirnya sambil tersenyum kecil. "Ouh.. kenapa dia? Sakit?" bisik Airin sangat pelan.
Haris menggelengkan kepalanya. "Tadi mie nya Jasmin tumpah ke wastafel. Jadi nya nangis ga berenti berenti," jawab Haris ngasal.
Airin tertawa kecil dengan sangat pelan. "Loh kok bisa? Nanti kakak bikinin kalo mau mie. Bilangin nggak usah nangis...," beritahu Airin dengan gemas pada sikap Jasmin diceritakan oleh Haris.
"Hmm, nanti Haris bilangin."
Atas permintaan Haris untuk tidak berisik, Airin pun berlalu dari sana dengan langkah kecil yang pelan untuk menuju kamarnya. Airin merasa gemas dengan hubungan Haris dan Jasmin, tidak jarang Airin juga sering mengisengi Haris atau Jasmin ketika mereka berkumpul bersama di hari libur. Belakangan ini Airin tidak pernah melihat Jasmin berkunjung, tetapi sekarang Airin melihat Jasmin ada di rumah mereka membuat Airin merasakan sesuatu kembali pada diri Haris. Ya, adik tirinya itu tampak kembali ceria jika ada Jasmin bersamanya.
Tampaknya, Jasmin tertidur karena kelelahan, gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas meja ruang tengah sementara kedua kakinya berselonjor dibawah meja. Haris ikut menelungkupkan kepalanya di atas meja, agak menyampingkan wajahnya untuk menatap Jasmin. Senyum kecut Haris berikan pada Jasmin.
"Dasar cengeng!"
Tidak lupa Haris juga menjatuhkan jitakan lembut di kening Jasmin yang tidak berponi. Setelah dijitak, Haris justru menghadiahkan usapan lembut.
Memang plinplan Haris ini.
Haris kemudian mengambil HP nya yang hampir tiga jam menganggur di atas meja, lalu mengetik sebuah pesan untuk Kai.
"Lu di mana?!"
__ADS_1