Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 46


__ADS_3

MASIH CERITA DI MASA SMA


***


Mereka tiba di cafe yang letaknya masih berada di wilayah ciwalk, cafe itu bernuansa pink dan putih, mungkin pada saat itu sedang masanya warna-warna soft pastel ngetrend di wilayah Bandung dan sekitarnya. Cafe itu tampak sudah cukup ramai dengan pengunjung. Bahkan Haris dan Jasmin harus mengantre untuk mendapatkan tempat duduk.


"Oh. Jadi ini alasan lu minta jemput?"


"Hehehe, iya dong. Sebagai teman harus bisa saling mengandalkan. Apalagi Arnold kan sahabatnya Jubaedah, forever."


Haris tersenyum kecil, Jasmin itu tampak seperti bocah yang bisa bahagia dan sedih dalam waktu singkat. Lima menit marah-marah, lima menit merajuk, lima menit kemudian Jasmin bisa saja menangis.


Jasmin sepertinya tak sabar untuk segera masuk dan mencicipi hidangan cafe yang baru diresmikan hari itu juga.


"Lu dapet referensi cafe beginian dari siapa sih?"


"Risa lah, siapa lagi."


"Faedahnya lu ngajakin gue ke sini ngapain? Kan bisa besok atau lusa."


"Ih bawel banget sih..."


"Kan gue nanya!"


"Ya jangan galak-galak dong nanyanya. Biasa aja gitu."


"Siapa juga yang galak," bisik Haris mengalah.


Jasmin berjinjit ke arah Haris dan berbisik kecil di telinga cowok itu sembari menarik tangan kiri Haris agar bisa menyesuaikan tinggi tubuh mereka.


"Ntar gue mau ke sini sama Kai. Jadi ini trial time gitu. Hehehe...."


"Oh, jadi gue cuma bahan uji coba tempat kencan."


Tidak terasa dengan diselingi pertengkaran dan obrolan yang sama sekali tidak guna untuk nusa dan bangsa, akhirnya Haris dan Jasmin dipersilakan untuk berhadapan dengan seorang resepsionis cafe yang menyambutnya sambil memegang buku menu yang ukurannya mirip-mirip sama map UUD 1945.


"Silahkan Kak. Dipilih dulu tempat duduknya. Di sini kita ada sisa tempat duduk balkon tanpa atap suasananya cozy mendekati romantis mediteranian Kakak. Dan ada tempat duduk dekat kamar mandi yang kesederhanaannya mengalahkan kehidupan ibu Malin Kundang di desa. Hanya ada itu saja kakak yang tersisa untuk tempatnya," jelas si penerima tamu dengan rinci.


Haris nyaris saja ketawa ngakak mendengar penjelasan si penerima tamu, begitupun Jasmin yang justru langsung mengerutkan dahinya bingung.


"Hmm, ini mau beli rumah apa mau makan sih?" tanya Jasmin asal ceplos.


Si penerima tamu menutup bibirnya sambil tersenyum dibuat elegan. "Oh. Dulu saya agen realestate Kakak. Hehe. Mangga dipilih Kak."


Haris tanpa berpikir langsung saja memutuskan sepihak. "Yaudah pilih tempat duduk dekat kamar mandi aja yang kesederhanaannya mengalahkan kehidupan ibu Malin Kundang di desa."


Jasmin melotot dengan jawaban yang diberikan Haris, masalahnya Jasmin itu sangat suka suasana balkon!


"Ah, pilihan yang sangat dermawan sekali Kakak tampan ini. Baiklah sudah saya booking ya lokasi duduknya. Wah. Ternyata kakak ini punya selera inovatif sekali dan perhatian pada pasangannya. Jarang-jarang loh ada pacar yang mau memilih tempat duduk dekat kamar mandi. Sungguh pecinta kantung kemih yang bijak.“


Haris tersenyum tipis dan merasa puas karena bisa ngerjain balik Jasmin.


"Oh iya, omong-omong. Kalian couple kan?"


"Enggak."


"Iyaa...," jawab Jasmin dan Haris secara bersamaan. Si pelayan menatap dua anak manusia itu dengan bingung.


"Maksudnya... iya... baru jadian," ralat Haris dengan jawabannya.

__ADS_1


"Okee. Silakan masuk... dan tempat duduknya ada di ujung cafe mentok dikit ke kiri ya Kak."


Dengan bibir bersungut-sungut Jasmin duduk di satu kursi yang cukup untuk dirinya, begitupun Haris yang duduk di hadapannya, ada meja bundar di antara mereka yang berisi kan vas bunga berisi mawar merah dan lili putih yang dipadukan dengan bunga kecil lain.


Dekorasi cafe itu sangat cantik, mungkin itu kata Jasmin, tetapi tidak banget-banget buat Haris. Semuanya warna-warna pastel, beda sama Haris yang suka kegelapan. Amarah Jasmin pun sirna saat gadis itu bisa melihat jejeran foto cowok-cowok Korea yang terpasang di dinding.


"Gongyoo cakep banget ya...," komentar Jasmin saat melihat foto pemeran drama hits goblin terpajang di dinding. Tampak Gongyoo sedang berpose dengan ganteng sambil memegangi sebuket bunga.


"Lah ini depan lu kan Gongyoo...."


Jasmin mencibir kesal, "Wlee... lu mah bukan Gongyoo, tapi Gumoong!"


*Gumoong adalah siluman sapi guys. Dibacanya


*Gumo-ong!


Haris tertawa ngakak mendengar ejekan Jasmin untuk dirinya.


"Makanannya enak nggak ya, menunya ada apa aja ya." Jasmin bergumam, daftar menu masih belum didapatkannya karena pelayan tampak masih sibuk dengan tamu yang membludak siang itu.


"Paling lu pesennya spageti atau makanan yang menu-menunya pake bahasa Inggris."


Jasmin memelototi Haris jengkel. Memang sih apa yang diucapkan Haris ada benarnya juga. Jasmin itu sok sok-an classy.


Tanpa menunggu terlalu lama, seorang pelayan mendatangi Jasmin dan Haris dengan membawa  buku menu. Pelayan kali ini berbeda dengan pelayan yang menyambut mereka diawal.


"Silakan Kak, menunya...."


Jasmin dan Haris bersiap memilih makanan yang akan mereka makan, belum semenit Haris langsung memesan makanan seperti tidak berpikir.


"Spageti oglio olio sama orange juice, dessertnya puding cokelat aja," ucap Haris tanpa membaca menu tersebut.


"Gue laper. Mana bisa mikirin menu. Eh Mas, menu yang saya mau pasti ada kan?" ujar Haris pada Jasmin dan pelayan secara bergantian.


Si pelayan tersenyum dan mengangguk. "Ada Kak, oh omong-omong jangan panggil Mas, kan ini bukan warung bakso."


Jasmin berbisik pada Haris. "Ris, kita bisa lebih mesra nggak? Kan kita ke sini pasangan."


Si pelayan memperhatikan gelagat Haris dan Jasmin dengan seksama. Sampai....


"Karena cafe ini baru grand opening, dan khusus untuk pasangan ada menu spesial yang gratis untuk kalian berdua, kalian tertarik mau ikut?"


"Waaahh, mau? Gimana caranya." Jasmin dengan semangat menyerobot ajakan pelayan tersebut. Dan Haris tampaknya cukup tertarik dengan kata gratis yang dilontarkan pelayan.


"Pacarnya kakak harus kasih gombalan jitu dan bikin kita baper,” jelas si pelayan sambil menatap kearah Haris yang langsung buang muka.


Jasmin memejamkan matanya jengkel, tidak mungkin banget kan seorang Haris mau buat kata-kata gombal kayak di Tivi Tivi?!


"Itu menunya satu set? Gratis?" tanya Haris hati-hati. Jasmin tampak tidak berselera untuk ikut, karena ujung-ujungnya ya pasti gagal.


"Iya Kak, bahkan ada dessert-nya juga. Gimana? Tertarik?"


"Boleh deh saya ikutan," ucap Sehun tanpa ragu, "Cuma gombalin cewek saya, kan?"


Si pelayan mengangguk dan langsung menyiapkan handycam untuk merekam aksi gombal Haris. Sementara Jasmin cukup terkejut dengan keputusan Haris untuk ikut dapat promosi satu set menu gratis dari cafe ini.


"Silakan Kak, dimulai gombalannya. Nanti kalau gombalan kakak bagus, kita bakal jadiin highlite cafe di website."


"Satu dua tiga. Action"

__ADS_1


Klik


Haris menatap Jasmin dengan serius dan Jasmin tampak tak sabar mendengar gombalan yang dibuat Haris.


"Kamu tahu nggak ada yang lebih manis dari gula?” tanya Haris pada Jasmin.


"Apa?" Jasmin menjawab dengan sok imut.


Pasti jawabannya senyumanmu kan, atau dirimu, atau kehadiranmu. Tapi....


"Yang lebih manis dari gula itu... madu. Hehe,“ jawab Haris dengan tampang datar.


***


Gara gara Haris, gagal harapan Jasmin dapat set menu gratis promosi cafe baru itu, mereka hanya mendapatkan eskrim sebagai bonus karena mau berpartisipasi. Mereka makan dengan tenang, Jasmin menyantap makanan sedikit demi sedikit karena sisanya gadis itu disibukkan dengan chat panjang bersama Kai.


Haris sangat ingin pulang saat ini, jujur saja dia tidak tahan dengan tingkah polah Jasmin terhadap Kai. Jasmin ini tidak pernah berpikir dua kali untuk sakit hati, dia selalu senang dipermainkan bahkan tidak peduli dengan kelakuan Kai yang menjadikannya bahan taruhan. Lalu, apa arti dari semua pukulan Haris untuk Kai kalau bukan untuk melindungi Jasmin. Namun, Jasmin dengan mudahnya kembali pada Kai bahkan sekarang jauh lebih lengket.


"Ris... lu balik sendiri gapapa?"


Haris mendongak ketika Jasmin menaruh dua lembar uang seratus ribuan di atas meja makan dengan terburu-buru.


"Emang lu nggak balik?"


Jasmin nyengir. "Balik. Tapi, gue pergi dulu bentar. Sama gue mau nitip pesen sama mami gue, tolong bilangin kalo gue ada kerja kelompok. Hehe."


"Terus lu mau ke mana emang?"


"Ada Kai di luar. hehe," jawab Jasmin.


Haris menghela napas kasar, mau tak mau cowok itu pun dengan pasrah mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya.


"Makasih... Arnold baik deh... hehe... oh iya, makanannya biar gue yang bayarin. Hehehehe... nih uangnya." Dengan mudahnya Jasmin meninggalkan Haris begitu saja untuk duduk di kursi yang kesederhanaannya mengalahkan kehidupan ibu Malin Kundang di desa.


***


Haris sedang menikmati nasi goreng buatan mamanya saat Airin baru saja tiba di rumah sepulang kuliah. Hari itu menjadi hari terburuk bagi Haris dalam seminggu terakhir, sebab dia harus bertemu dengan papanya yang sudah bertahun-tahun ia hindari.


"Kamu nggak keluar, Dek?" tanya Airin pada adik tirinya itu.


Haris menggelengkan kepalanya. "Enggak Kak, keluar sama siapa juga sih hehe."


"Cowok seganteng kamu nggak ada yang naksir apa?!" tanya Airin kaget.


Haris nyengir, dipuji ganteng sama Airin pun tak mempan. "Yang naksir banyak Kak, tapi kan nggak sreg," jawab Haris narsis.


"Hmm... kamu suka sama Jasmin, ya?"


Haris menoleh ke arah Airin dengan mata membulat, pipi anak itu seketika memerah. Airin tersenyum tipis dan sudah menduga kalau tebakannya itu tepat sasaran.


"Tadi waktu kakak kerjain tugas sama temen-temen, kakak liat ada Jasmin sama cowok... Jasmin udah punya pacar, ya?"


Haris lebih memilih untuk makan meski tidak nafsu, dia juga tidak menjawab pertanyaan Airin.


"Ris, bilang dong sama Jasmin... Kakak greget deh."


Haris hanya dapat tersenyum kecut, dengan adanya Airin disisinya membuat Haris cukup senang dan tenang karena ia memiliki sosok kakak perempuan yang mengerti keadaannya.


"Makasih Kak, jangan bilang siapa-siapa ya.”

__ADS_1


"Heem, ini rahasia kita."


__ADS_2