Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 57 : Pesona Haris


__ADS_3

Karena sejak pulang sekolah tidur dan menangis, maka menjelang tengah malam begini Jasmin tidak bisa tidur, gadis itu merasakan mata sembabnya berat, tetapi ia tak bisa terlelap, seperti ada yang mengganjal dipelupuknya.


Jasmin membuka HPnya, ada notifikasi dari grup kelas dan juga pesan dari Mina.


Mina : Jasmin, aku udah lama mau bilang ini sama kamu. Makasih banget udah kenalin Haris ke aku.


Mina : Haris orangnya baik banget, perhatian dan pendiam, dia tipe aku banget Min. Waktu aku sakit dia selalu anterin makanan ke rumah, bahkan mama sama papa aku udah suka juga sama Haris. Tapi aku masih bingung, gimana caranya bikin Haris seneng juga sama aku.


Mina : Maksud aku... gak cuma Haris yang bisa bikin aku seneng jadi pacarnya, tapi... sebaliknya juga, Haris seneng bisa jadi pacar aku. Aku sampe sekarang masih agak kewalahan sama sikap pendiemnya Haris. Kalau ngobrol pasti aku yang tanya duluan.


Mina : Tapi... sekali lagi makasiiiii banyak ya Min... hehe, kapan-kapan kita belajar bareng ya, sekalian aku mau kepoin Haris ke kamu. Min, sorry ganggu. Hehe makasih....


Jasmin tidak membalas pesan itu, justru gadis itu mengabaikannya dan langsung mematikan HPnya. Jasmin melirik ke samping di mana Enin sudah tertidur lelap sambil memeluk guling. Jasmin tersenyum dan menjatuhkan satu kecupan di kening Enin perlahan. Setelah itu Jasmin keluar dari kamar Enin untuk sekedar memunculkan rasa kantuk pada dirinya.


Namun, bukan rasa kantuk yang Jasmin dapatkan, melainkan canggung dan gugup ia menemukan Haris tengah duduk di sofa saat sambil membaca sebuah buku. Seumur hidup, Jasmin tidak pernah menemukan Haris seserius ini kalau sedang baca buku, kecuali komik. Namun, sekarang Haris sedang membaca buku tentang desain interior yang terlihat dari judulnya, buku itu sepertinya sering Jasmin lihat ada di meja belajar Haris.


Ucapan Haris saat Jasmin menangis tadi seperti terngiang-ngiang di kuping Jasmin, dan membuat gadis itu merasa terganggu karena wajahnya terasa panas bila mengingatnya lagi, ditambah lagi rasa kagum Mina yang berlebihan terhadap Haris membuat Jasmin ikut merasa terdoktrin untuk merasakan kekaguman yang sama.


"Kalo dia pergi... gue akan tetap tinggal."


Jasmin mengerjapkan kedua matanya dan berusaha untuk menahan diri untuk tidak terjerumus pada pesona Haris yang memang patut untuk diakui.

__ADS_1


Haris mengenakan kaus panjang hitam, celana training warna abu-abu, rambutnya agak berantakan, tetapi kedua matanya begitu fokus membaca kalimat demi kalimat dalam buku dengan baik, cowok itu juga tampak menyilang kaki panjangnya dan sebelah tangannya menyangga tubuh ke sisi sofa.


Jasmin menelan ludahnya dengan susah payah dan menghampiri Haris untuk mengecek apakah dirinya masih normal atau tidak jika berada di dekat Haris.


"Lagi ngapain?" tanya Jasmin sesampainya di sana.


Jasmin harap Haris blas dengan super nyebelin, biar bisa luntur itu rasa kagum.


"Belum tidur?" sambung Jasmin.


"Ini, belajar desain interor lagi, gue kan sekarang lagi coba bikin furniture sendiri. Pengennya gue jadi lebih filosofis gitu, jadi nggak cuma bikin tapi ngikutin trend sama karakteristik pengguna furniturenya."


"Oohhh." Jasmin manggut-manggut pura-pura ngerti ucapan sahabatnya.


Haris kembali larut pada bacaannya, dan Jasmin hanya bisa bengong di hadapannya dengan memangku dagu menggunakan kedua tangannya.


"Min," panggil Haris pelan.


Jasmin menoleh dengan cepat atas panggilan itu, membuat Haris tersenyum kecil.


"Hm?"

__ADS_1


Aduh senyumnya, kenapa di mata Jasmin senyum Haris barusan seperti ada efek bunganya.


"Udah nggak sedih?"


Jasmin tersenyum."Enggak...."


"Bagus... itu baru Jubaedahnya Arnold, hehe."


Haris terkikik begitupun Jasmin, suasana kembali hening, tetapi hujan di luar masih cukup deras mengguyur bumi.


"Besok sibuk nggak?" tanya Haris.


"Enggak. Kenapa emang?"


"Kita nikah, hehehe."


Plak! Haris kena pukul di bagian lengan oleh Jasmin yang kini tertawa kecil dipaksakan.


"Paan sih."


"Cepetan tidur, besok sekolah hari terakhir," beritahu Haris, cowok itu terlihat menguap dan merentangkan kedua tangannya. Jasmin mengangguk patuh, seakan akan Haris adalah orang yang baru dikenalnya, seakan-akan Haris adalah sosok laki-laki yang ia anggap sebagai lebih tua dan dewasa darinya. Bukan Arnold, dia Haris.

__ADS_1


__ADS_2