Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 76


__ADS_3

Dari dulu Haris itu orangnya anti banget sama yang namanya ribet, dia itu cowok super simple yang terlahir pada masanya. Haris jarang bicara, karena bagi Haris kerjaan tidak bakal beres kalau cuma bicara doang. Namun, sekarang dia lagi jengkel banget sama Jasmin karena istrinya itu tidak mau makan ini itu, padahal di hadapannya sudah tersaji berbagai jenis sarapan yang sengaja Haris belikan dari kedai yang ada di sebrang rumahnya.


"Min, ayo makan dikit aja, nih lontongnya." Haris menyodorkan soto ayam kuah bening ke hadapan Jasmin bahkan dia juga menyendok satu sendok untuk disuapkan.


Jasmin menggelengkan kepalanya sambil menutup mulut dan hidung. "Bau... gak kuat, mual," jawab Jasmin sambil meringis, kedua matanya berair karena menahan muntah.


Haris menghela napasnya. “Katanya tadi mau ikut tapi sarapan dulu... kok bohong sih?"


Jasmin menunduk dan menatap perutnya, diusapnya perut itu dengan lembut dan mulai mengeluarkan jurus andalan, apalagi kalau bukan nangis.


"Hiks... kan gamau ditinggal."


Haris? nyerah lagi.


"Bayinya laper loh nanti... sesuap aja ya? Makan dulu."


"Makannya di pesawat aja, ya?“ bujuk Jasmin dengan tampang memelas.


"Yaudah.. tapi kalau sampai di pesawat gak makan lagi, gue tinggal!"


"Nih minum susunya biar ada tenaga," tambah Haris.


Jasmin mengangguk dan meraih susu yang sudah tersaji di atas meja lalu meminumnya hanya sedikit saja karena dia tidak kuat untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulut pagi-pagi begini.


"Min, lu hamil kok jadi nyebelin sih,“ ceplos Haris dengan tampang jengkel, dibilang begitu Jasmin malah nyengir sambil usap-usap perut.


"Kan hormon, hehe."


Bener kata Airin kalau hamil itu bawaannya jadi malas, nyium makanan bau dan mual, tidak mau makan jadinya, maunya tiduran, disayang-sayang, sensitif dan gampang banget tersinggung sama hal sepele.


***


Setelah tiba di Yogyakarta, Haris langsung mengantar Jasmin ke hotel untuk beristirahat, sebab kata dokter Jasmin diharuskan banyak beristirahat di usia kandungan yang masih begitu muda. Dan rencananya kalau sudah booking hotel, Haris akan langsung mengunjungi pabrik untuk checking furniture sebelum dikirim ke customer.


"Min, gue ke pabrik dulu ya, lu tidur di sini aja dulu. Mau nitip sesuatu gak?"


Jasmin yang sedang rebahan pun langsung bangkit dan menatap Haris dengan mata membulat. "Ih... Aa diem dulu di sini, aku pengen ikut juga ke pabrik."


Haris mendesah, "Diem Min, jangan ikut-ikut ke pabrik kotor banyak polusi, lu kan lagi hamil. Harusnya istirahat... tunggu aja."


Jasmin cemberut. "Adek bayinya yang mau ikut... bukan gue."


"Lagian, kita baru sampe. Diem dulu kek, temenin dulu adek bayi tidur siang... ya?" tambah Jasmin dengan memelas, tetapi Haris sudah buru-buru sekali, sebab janji dengan orang pabrik itu sudah lewat 30 menit.


"Min, gue udah telat banget ini, kalau nungguin lu tidur siang orang pabriknya keburu balik."

__ADS_1


"Bukan gue yang mau tidur siang. Adek bayinya, ih. Gak pengertian banget sih!" ucap Jasmin agak membentak.


Haris lagi-lagi menghela napas. "Iya iya sama aja. Yaudah, gue pergi sendiri aja. Lu tunggu di sini"


"Ih. Gue mau ikut!" bantah Jasmin lagi, tetapi tubuhnya masih berada diatas tempat tidur, sementara Haris sudah ada di ambang pintu bersiap untuk pergi.


"Gak usahlah. Lu gak usah ikut, tidur aja di sini. Lagian udah tahu hamil mau ikut aja ke mana-mana. Berabe kan. Nyusahin aja!“ omel Haris dengan tampang agak mengeras.


Tiba-tiba saja Jasmin membanting bantal ke arah Haris dan mengenai lengan suaminya, sontak Haris yang sudah panas karena terburu-buru pun melotot ke arah Jasmin dengan terkejut.


"Jadi gue nyusahin?! Gue hamil nyusahin?!" bentak Jasmin dengan lemah, tetapi nada suara nya cukup meninggi. Haris diam karena dia merasa sudah kelewatan bicara.


"Ini juga anak lu... gak bisa apa lu sabar dikit ngadepin gue?! Gue juga gak tau kenapa pengen ikut lu ke mana-mana... tau hamil begini, gue gamau hamil!"


Blak! Giliran Haris yang melempar kembali bantal ke arah kasur, tetapi tidak sampai mengenai Jasmin. Jasmin terkejut begitupun Haris yang terkejut karena ucapan Jasmin yang sembarangan barusan.


"Min. Lu ngomong hati-hati ya!" Haris melirik jam dinding, waktu menunjukkan nyaris jam 3 sore dan itu artinya janji dengan orang pabrik pun semakin sempit.


"Pulang dari pabrik, kita ngomong baik-baik. Sekarang gue pergi dulu. Lu diem di sini jangan macem-macem."


BRAK!


Haris membanting pintu dan wajahnya amat menegang saat meninggalkan Jasmin di kamar sendirian.


Jasmin menunduk, air mata mengalir deras menuruni kedua pipinya. Dada Jasmin berdebar tak karuan. Ini adalah kali pertama baginya dan Haris bertengkar hebat setelah mereka menikah. Yang bisa Jasmin lakukan sekarang adalah menangis dan menenggelamkan wajahnya pada bantal, Jasmin mengusap perutnya dan terus terbayang wajah memerah Haris yang memarahinya tadi. Entah kenapa sakit sekali hati Jasmin ketika Haris meninggalkannya.


***


Sainal sang Papa yang kebetulan ikut kunjungan pabrik pun menepuk pundak anaknya dengan lembut, Haris terkejut dan menoleh, setelah mengetahui bahwa yang menepuk pundaknya adalah sang papa, Haris tersenyum dipaksakan.


"Ngelamun terus, Ris? Gimana... ada yang kurang gak barangnya?" tanya Sainal sambil memperhatikan raut wajah sang anak.


Haris menggeleng. “Nggak ada Pah, udah cukup kok. Tinggal kirim aja, warna juga semuanya solid," jawab Haris sambil menutup buku laporannya.


Sainal tersenyum. "Hemm... kenapa kamu ngelamun? Jasmin nggak diajak?"


"Hmm, kepikiran aja Pah... Jasmin kan lagi hamil sekarang, dia sensitif banget. Aku jadi gak enak karena tadi udah bentak Jasmin."


"Loh... dibentak kenapa? Harus maklum Ris, wanita hamil emang begitu. Gak bisa ditebak emosinya... harusnya kamu lebih sabar," beritahu Sainal yang sudah berpengalaman mengurusi ibu hamil.


Haris menganggukkan kepalanya setuju. “Iya Pah... mungkin tadi juga karena aku lagi buru-buru, tapi Jasmin maksa pengen ikut, tapi dianya juga keukeuh pengen tidur siang. Ya gitu deh, kita agak cekcok sedikit."


"Kasihan dong Jasminnya...," ucap Sainal merasa prihatin.


"Hmm, Pah, kayaknya, Haris harus balik ke hotel sekarang deh... khawatir Jasmin kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Eh Ris, besok kamu ke Surabaya ya, sudah lama kita gak mancing bareng. Hamid juga lagi libur kuliah."


"Iya Pah, InsyaAllah.“


***


Dengan terburu-buru Haris balik ke hotel, tetapi sebelum pulang ke hotel Haris mampir dulu ke toko oleh-oleh dan membelikan Jasmin camilan, yang dijual di sana. Dengan hati yang begitu merasa bersalah, Haris memaksakan senyumnya saat mengingat kembali bagaimana sedihnya wajah Jasmin ketika ia bentak di hotel.


"Min... maafin gue,"bisik Haris lemah.


Saat Haris kembali setelah maghrib ke hotel, suasana kamar masih begitu gelap dan suhu di dalam kamar begitu dingin. Haris langsung menuju ke arah tempat tidur dan menemukan Jasmin berbaring membelakangi arah pintu masuk. Pasti Jasmin dari tadi tidak ke mana-mana dan nurut dengan ucapan Haris, makanya ruangan kamar dingin banget sebab tidak ada yang beraktivitas di dalamnya.


Jasmin mengusap air matanya yang sejak tadi tidak berhenti menangis saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Haris menaruh kantung belanjaan di atas meja dan langsung saja mengusap punggung Jasmin dengan lembut.


"Min... Aa pulang nih...,“ ucap Haris lembut setengah berbisik, Haris juga sudah menyalakan lampu kamar dengan cara menekan remote yang ada di sisi Jasmin.


Jasmin menarik ingusnya dan membalik tubuhnya ke arah Haris. Haris tersenyum ke arahnya dengan penuh kelembutan membuat tangisan Jasmin kembali pecah.


"Maafin gue ya... gue khilaf, tadi udah banting-banting pintu.."


"Hiks... sakit... sakit hati," balas Jasmin dengan terisak, rambut Jasmin sangat berantakan dan Haris dengan cepat merapikan rambut istrinya dulu yang terurai tak beraturan. Haris mengikat rambut Jasmin asal menggunakan gelang tangan yang dikenakannya.


"Iya, maafin... sumpah, tadi emosinya gak kekontrol banget. Maafin banget Min, janji gak akan ngulang hal gitu lagi."


"Sekarang, boleh deh marah-marah sama Aa, hm?" tambah Haris sembari menarik dagu Jasmin untuk membuat wajah istrinya mendongak ke arahnya.


Anehnya, Jasmin langsung berhenti menangis dan langsung mengganti wajah sedihnya menjadi penuh senyum, tetapi masih ada sisa isakan di bibirnya, hidung Jasmin juga memerah padam karena sejak tadi menangis tak berhenti.


Melihat perubahan ekspresi Jasmin, Haris akhirnya bisa bernapas lega dan ikut tersenyum. Emang orang hamil segininya, ya?


"Pokoknya... kalo ke mana-mana mau ikut!” Jasmin memeluk lengan Haris dengan erat membuat Haris manggut-manggut dengan gemas.


"Iya iya... ke mana-mana bakal diajakin."


"Janji?"


"Hmm, janji... makan dulu ya? Tuh tadi mampir ke toko cemilan... apa mau makan keluar?" tanya Haris lembut.


Jasmin mengangguk dan tersenyum lebar. “Mau ke angkringan nasi kucing... hehe."


"Oke kuy, kamunya mandi dulu... abis itu, kita cari makan keluar, oke?"


"Hehe iya, adek bayi dari tadi kesel di sini terus tunggu Aa, aku mandinya bentar." Jasmin langsung meluncur ke kamar mandi dan bersikap riang seolah tidak terjadi pertengkaran di antara keduanya.


Haris sampai geleng-geleng kepala heran. "Min, Min, gue nggak nyangka lu bisa begini."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2