Pasutri Gaje

Pasutri Gaje
Part 93


__ADS_3

Jasmin tampak cantik dengan sanggul yang dihiasi oleh bunga melati serta sedap malam yang diselipkan di atas sanggulnya, make up tipis dengan lipstik merah cherry membuat wajahnya semakin memancarkan kecantikan wanita Sunda yang bersahaja dan ceria. Wanita hamil itu pun melengkapi penampilan tujuh bulanannya dengan mengenakan kebaya sunda berwarna pink corak bunga keemasan dan kain batik hitam bercorak bunga teratai sebagai rok, dan selimut rajutan melati yang digunakan untuk menutupi bahu hingga ke mata kaki. Hani sebagai calon nenek dari si jabang bayi pun menuntun Jasmin untuk menuju pelaminan yang akan digunakan sebagai prosesi adat mandi tujuh bulan.


Pelaminan itu sudah dirias sedemikian rupa, Haris duduk bersimpuh di atas lantai yang di hadapannya sudah disediakan satu wadah air yang diberi beberapa jenis bunga yang wangi untuk mandi Jasmin sebentar lagi. Penampilan Haris pun tidak kalah menarik, Haris terlihat sangat gagah dan tampan dengan jawi jangkep yang membalut tubuh tingginya, atasan hitam yang diberikan aksesori berupa pin emas dan keris kecil di bagian dada sebelah kiri, melambangkan kehormatan dan tanggung jawab laki-laki yang harus menjaga belahan jiwanya dan harkat martabat keluarga. Sementara keris di bagian pinggang belakang adalah simbol untuk terus menjaga keselamatan keluarga. Haris tersenyum kecil ke arah Jasmin yang melangkah makin dekat ke arahnya. Haris meraih tangan Jasmin dengan lembut dan dipandu oleh yang sepuh yang mengatur jalannya prosesi adat ini.


Sainal dan Dimas yang dulu pernah satu SMA tampak serius menyaksikan prosesi adat tersebut dengan senyum kecil di bibir, terutama Sainal yang tidak menyangka bisa menyaksikan yang kini amat mengagumkan, Sainal seperti melihat dirinya yang dulu hadir di pelaminan.


Sainal mengusap kedua matanya yang agak berair, tanpa pria itu sadari Dimas memperhatikannya dengan senyum kecil di bibir.


Dimas pun memberikan senggolan kecil ke lengan teman lamanya tersebut. “Nangis lu?" Sainal tersenyum susah payah, mengangguk malu-malu dengan ejekan kawannya, "yaah... keliatan ya?"


"Hahaha.. iya. Berasa flash sale ya, Nal?" ujar Dimas setelah tawanya reda.


Sainal mengerutkan dahinya bingung, "Flash sale?... flashback kali," jawab Sainal membenarkan.


"Hehe... nah iya itu. Udah Nal, jangan sedih... berbahagia dong. Ckck... Haris bener-bener mirip banget sama lu pas kita masih SMA."


"Haris jarang banget ngomong, persis lu pokoknya....“


Sainal tertawa kecil menanggapi ucapan Dimas.

__ADS_1


Dimas kembali tertawa mengikuti teman lamanya itu, tidak menyangka kini mereka menjadi besan meskipun Dimas hanya lah Papa sambungnya Jasmin.


Haris mengambil air berisi bunga-bunga menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa dan gagangnya berbahan dasar kayu cendana dengan hati-hati, diiringi dengan kalimat panjat syukur dan doa oleh sesepuh dan juga Hani yang setia berada di hadapan Jasmin.


Jasmin tersenyum kecil, memandang ke arah suaminya yang tampak sangat tampan. Jasmin memejamkan matanya saat satu guyuran pelan air jatuh membahasai puncak kepalanya dan menuruni sekujur tubuhnya.


"Sehat-sehat ya bayi," gumam Haris saat ia bertatapan lagi dengan Jasmin.


Jasmin mengangguk dan mengusap perut buncitnya dengan amat lembut dan penuh dengan harapan baik.


Hamid mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan kamera profesional miliknya, sebagai calon Om dari anak nya Ja-Ris, cowok itu tampak sangat puas dengan prosesi tujuh bulanan yang sakral dan khidmat itu.


Setelah acara selesai, keluarga pun berkumpul di ruang tengah yang sudah Sainal siapkan sejak kedatangan anak dan mantunya itu ke Jogjakarta. Kini rumah besar dan unik dengan ornamen klasik khas jawa bermaterial 80 persen kayu tersebut tidak lagi sepi, melainkan sangat ramai dengan kehadiran Hani dan Dimas yang cukup senang mengobrol.


Sainal amat sangat bahagia hari ini, ah lebih tepatnya la sangat bahagia ketika mengetahui kabar bahwa Haris akan menikahi seorang perempuan yang sudah ia kenal sejak kecil. Dan kini kebahagiaan Siwon bertambah besar ketika Haris juga akan memberikannya cucu.


"Min, kalian ada rencana tinggal disini, gak?" tanya Sainal pada Jasmin yang terlihat sudah berganti pakaian dengan daster.


Jasmin menatap Maminya dengan bertanya-tanya, membuat seisi ruangan tertawa kecil dengan ekspresi itu. Jasmin seperti meminta persetujuan pada Hani.

__ADS_1


Hani merangkul bahu Jasmin dengan lembut. "Duh mending tanya Haris aja deh... mau kamu bawa Jasmin ke sini, Ris? Kan dia udah hak paten kamu."


Haris agak berpikir. “Kita bakal sering ke sini kok Pah... papa ga usah khawatir. Mungkin nanti si bayi betah di sini. Untuk sekarang sih, kita belum tahu rencana mau pindah ke sini atau enggak. Rumah di Bandung juga masih baru kita tinggalin beberapa bulan, tetangga di sana juga baik-baik, kecuali ibu-ibu nya yang rese."


Jasmin tertawa dan menutup bibirnya, jadi inget waktu Haris borong sayuran sampe se gerobak penuh gara-gara ulah ibu-ibu.


"Seru kayaknya... kalau nanti di rumah ini ada tangisan bayi, Ris," timpal Sainal dengan wajah berharap.


Jasmin tiba-tiba saja tidak enak dengan ekspresi Sainal barusan. Ya, tapi mau gimana dong, Jasmin kan ga betah di Jogja.


"Bukan seru Pah, pasti berisik... kasian Hamid sama Papa bakal keganggu waktu istirahat. Hehe."


"Udah deh, Papa... Papa Dimas sama Mami tenang aja... Haris sama Jasmin udah dewasa kok, kita memang ada rencana mau urus si bayi sendiri tanpa ngandelin nannies. Jadi, kita dua-duanya mau fokus sama si bayi." Tambah Sehun dengan dewasa.


Jasmin mengangguk setuju dengan ucapan suaminya tersebut. Biarpun si Haris ini malah baca bukunya cara ngurus bayi gajah, tetapi setidaknya Haris sudah bisa dipercaya bila dilihat dari tekad dan gelagatnya.


Bersambung ....


1 Part lagi ....

__ADS_1


__ADS_2