
Tiga hari sudah berlalu dengan sangat cepat, Jasmin sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan Haris juga terlihat sudah luntur kepopulerannya. Maka dari itu, sepulang dari rumah sakit Jasmin mengajak Haris untuk membeli peralatan make up dan benda-benda kecantikan lainnya.
Melihat Jasmin yang memilih segala jenis lipstik dan shadow pallete membuat Haris keheranan.
"Bukannya di rumah masih banyak yaa, yang beginian?"
"Ck, gue beli lagi, hehe."
"Buat apaan sih? Abisin aja dulu yang ada."
"Hmm... iya sih, tapi kadang permintaan klien tuh beda-beda. Gue gak mau kasih make up monoton. Gue butuh warna lain, biar tiap event make up gue tuh kasih kesan yang beda juga..."
"Oh. Ribet banget sih hidup lu."
"Lu kalo mau ngatain gue mending nggak usah ngikut-ngikut. Noh tunggu di sono!" tunjuk Jasmin pada jajaran kursi yang sudah diisi bapak-bapak yang bawa tas bayi atau tas istrinya.
Haris bergidik ngeri. “Ogah! Yaudah mana, mau gue bantuin nggak milihinnya?"
"Ogah!" balas Jasmin persis seperti Haris.
Sesuai janji yang ditepati keduanya, sekarang giliran Jasmin yang mengantar Haris ke toko mebeul Haris yang sudah beberapa hari tutup karena sang owner harus menunggu istri di rumah sakit, keperluan Haris ke toko hanya untuk mengambil ayunan pesanan Surya dan Airin untuk diantarkan ke pemilik rumah, sebuah mobil angkut sudah menunggu di depan toko dan beberapa orang sudah mulai mengangkat ayunan untuk diantarkan.
Jasmin menunggu duduk di teras sambil menikmati sebotol minuman dingin. Botol minuman itu Jasmin gunakan untuk mengompres pipinya yang masih terlihat agak lebam. Saat Jasmin melamun, Haris memperhatikan dengan senyum tipis, tetapi saat menyadari apa yang dilakukannya, Haris cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
***
"Riiissss... saosnya mana?!" teriak Jasmin dari dalam kamar, di hadapannya ada semangkuk penuh mie rebus lengkap dengan irisan cabe merah dan telur rebus setengah matang.
__ADS_1
Haris dengan cepat langsung ke kamar dan mengambilkan saos untuk Jasmin.
“Nih!" kata Haris sambil menaruh botol saos cap indomood.
"Hehehe، makan-makan," kata Jasmin meminta Haris menikmati mienya juga.
Jadi, setelah pulang dari rumah sakit Jasmin meminta Haris untuk melakukan semua pekerjaan rumah. Dikarenakan mereka sekarang menginap di rumah Fany dan Jordan maka mau tidak mau dua anak itu mesti bertingkah layaknya pasangan suami istri normal. Namun, bukannya Haris yang enak, melainkan dia yang sengsara. Fany selalu memanjakan Jasmin dan meminta Haris untuk memberikan pelayanan terbaik bagi istrinya. Hal itu sukses membuat Jasmin betah dan bahagia karena bisa menjahili juga menyuruh-nyuruh Haris seenaknya.
Sehabis makan mie, Jasmin rebahan di tempat tidur, di hadapannya ada tayangan yang melalui proyektor. Jasmin menonton film kesukaannya yang berjudul titasik eh bukan titanic.
Dengan serius gadis itu menyaksikan adegan dimana Jack dan Rose berada diujung kapal saling berciuman, bagi Jasmin adegan itu sangat romantis dan menyisakan banyak perasaan haru. Beda sama Haris yang langsung gelagapan tiap adegan mesra di film.
Jasmin menggigit bibir bawahnya, melirik pada Haris yang tampaknya tidak selera menonton.
"Lu... pernah cium orang, nggak?" tanya Jasmin spontan.
"Ah, bohong!"
Haris langsung diam, tetapi dia sepertinya tidak mau kalah. "Kayak sendirinya pernah aja.“
"Bacot!" balas Jasmin kasar.
"Seenggaknya gue tuh punya mantan. Gak kayak lu. Wkwkw," tambah Jasmin dengan puas dan sengaja.
"Meski gue gak punya mantan. Banyak cewe yang suka sama gue."
"Tapi tetep kan. Lu tuh nggak pernah cium orang. Lu itu masih noob. Wkwkwk."
__ADS_1
Haris diam, keliatan jengkel, persis kayak anak kecil yang kalah ngadu gambar.
Setelah sedikit perselisihan kecil akhirnya kini mulai mereda juga pertengkaran itu. Mereka melanjutkan tontonan dengan serius karena adegan demi adegan tampaknya tidak membosankan meskipun film sudah ditonton puluhan atau ratusan kali.
Adegan mulai nyeleneh, setelah adegan melukis yang dilakukan dua tokoh utama, kisah romantis dan vulgar pun mulai tersaji di layar. Hal ini membuat Jasmin tidak bisa diam, dan Haris berkali kali mengipasi wajahnya yang mendadak panas. Jasmin juga tidak berani melontarkan ucapan apa pun begitupula Haris.
Tiba-tiba tatapan Jasmin dan Haris bertemu di atas ranjang, Haris bernapas dengan terburu-buru sementara Jasmin merasakan adanya sebuah magnet yang menarik dirinya untuk lebih dekat dengan Haris.
Walau bagaimana pun Haris adalah laki-laki normal yang sudah dewasa, begitupula Jasmin yang sangat normal dan penasaran dengan sentuhan seorang pria pada tubuhnya.
Bentar-bentar!
Jasmin memejamkan matanya dengan rapat, Haris meraih sebelah tangan Jasmin dan menggenggamnya penuh kelembutan. Dengan satu tarikan Jasmin jatuh keatas ranjang dan Haris menindihnya, menatap kedua mata Jasmin dengan jakunnya yang naik turun.
"Ris...," ucap Jasmin pelan, kalimatnya tersangkut, otaknya kosong. Haris pun tak dapat bicara, organ tubuhnya lah yang bergenderang seperti hajatan tetangga.
Sesuatu dalam diri Haris terbangun, menempel pada perut rata Jasmin yang masih tertutupi pakaian dan jeans tebal yang melapisinya.
Apa mungkin malam ini akan menjadi akhir dari sandiwara itu?
Haris menjatuhkan sebuah ciuman lembut di atas bibir Jasmin, Jasmin memejamkan matanya, sengatan demi sengatan seperti muncul di tubuh keduanya, sensasi yang tidak biasa yang membuat Jasmin meremas seprai menggunakan sebelah tangannya. Tangan Haris mencengkeram lengan Jasmin cukup keras, Haris menaikkan tangan Jasmin tepat diatas kepala gadis itu sembari terus memagut bibir kecil Jasmin menggunakan bibir tipisnya.
Bersambung ....
Bentar-bentar, aku deg-degan 😅
Pernah nonton titanic di channel GT*
__ADS_1