
Hamid dan Jasmin sedang menikmati sejuknya taman yang tidak jauh dari kampus tempat Hamid menuntut ilmu, tentunya kegiatan pagi ini sambil melakukan peregangan yang rutin dilakukan oleh Jasmin selama masa kehamilan, seharusnya sih partner Jasmin itu Haris, tetapi si Haris itu masih tidur gara-gara semaleman suntuk baca buku cara merawat bayi gajah. Acara tujuh bulanan atau kata gaulnya Baby shower akan digelar nanti sore di kediaman Sainal, alias Papanya Haris. Rencananya pesta menyambut kelahiran bayi itu akan dihadiri oleh Dimas dan Hani yang saat ini masih berada di Bandung.
Jasmin meluruskan kakinya ke depan, dan Hamid duduk di sampingnya sambil memperhatikan beberapa orang yang tengah jogging atau olahraga ringan di wilayah taman terbuka tersebut.
"Nih Kak, susunya." Hamid menyerahkan susu kotak yang sejak tadi ia simpan dalam tas pada Jasmin, Jasmin tentu menerimanya dengan senang hati.
"Hihi... makasih Mid... kayaknya kalo kamu jadi suami atau papa nanti. Istri kamu tuh bakalan seneng banget deh, diperhatiin kayak gini," puji Jasmin pada adik iparnya tersebut.
Hamid tertawa kecil sampai lesung pipinya muncul dan tampak menggemaskan. Selain ganteng, Hamid ini bertampang manis dan gemesin karena punya gummy smile seperti Jasmin.
"Ah Kak Jasmin bisa aja... Tapi, Hamid aminin deh omongannya Kakak," jawab Hamid dengan lembut.
Jasmin menghela napasnya, susunya sudah habis dalam sekejap. "Akutuh sebenernya heran sama diri sendiri... kenapa pas hamil jadi laperan sama baperan... Haris nyebelin dikit aja pasti ngambek, liat makanan atau nyium aromanya aja aku pengen."
"Hehehe... tapi, keliatannya Kak Haris banyak berubah ya Kak, sejak mau jadi Papa... Aku juga liat kalo kak Haris rajin banget baca buku."
"Hmm... iya sih, rajin baca buku.. tapi... semalem dia baca buku cara merawat bayi gajah Mid... padahal kita kan mau punya bayi manusia bukan bayi gajah, mana keliatannya kayak bocah banget lagi... pake segala pamer-pamerin foto anak gajah di bukunya."
Jasmin keliatannya masih jengkel dengan peristiwa semalam, hal itu tentu membuat Hamid ngakak di tempatnya duduk.
"Hahahaha... sabar Kak sabar."
Jasmin mengusap perut buncitnya dengan lembut sambil cemberut. "Emang! Intinya kalo sama pasangan itu harus disabarin sampe kapanpun, Mid. Nggak boleh gak sabar kan udah saling memiliki."
Hamid tersenyum lembut dan mengangguk. "Setuju deh sama Kakak... oh iya Kak, mau beli sarapan dulu? Aku punya temen yang punya kedai di sekitaran sini, Kak Jasmin sama dede bayi harus nyobain pokoknya."
"Ih, mau banget lah... kalo perlu sarapan aja di kedainya Mid, sekalian dibungkus juga hihi."
"Oh, mau bungkus buat kak Haris?"
Jennie menyebikan bibir nya, "buat aku dong, kan kalo sarapan di kedai itu Cuma buat si debay a ja.... hehe"
"yaa ampun kak Jasmin... hahaha"
__ADS_1
***
Bangun tidur, Haris menemukan keadaan dalam rumah sangat sepi sekali, padahal ini baru jam 7 pagi, tetapi sepertinya Papanya dan adiknya sudah melakukan aktivitas di luar rumah. Haris beberapa kali menguap karena merasa masih mengantuk, semalam dia tidur jam berapa, ya? Kayaknya lewat dari jam 2 pagi deh makanya badan pegel-pegel semua. Sebenernya waktu subuh Haris sempet bangun, tapi cuma buat sholat aja habis itu dia tidur lagi.
"Oh iya.. Jasmin ke mana, ya?!" Kedua mata Haris langsung tampak segar bugar ketika menyadari bahwa Jasmin belum ia lihat sejak membuka kedua matanya.
"Waduh, jangan-jangan ngambek gegara gue baca buku tentang gajah," gumam Haris sambil ribut mencari handphone-nya untuk menghubungi Jasmin.
"Ckck. Jandut. Cemburuan banget sih sama Aa... gak mungkin lah aa selingkuh sama emaknya gajah," gerutu Haris lagi saat dirinya menunggu panggilannya diangkat oleh Jasmin.
"Paan sih ...." Jasmin tiba-tiba muncul dan menjatuhkan tepukan keras di punggung suaminya.
Haris nyengir kuda saat menemukan Jasmin masih sehat wala fiat berada di belakangnya.
"Yaa ampun Jandut... ke mana aja sih? Kangen gue."
Haris memeluk pinggang istrinya dan menyandarkan sisi wajahnya di perut buncit Jasmin. Jasmin tersenyum kecil. “Habis olahraga sama Hamid. Lu nya sih tidur mulu... gue tinggal, kan?!"
"Serius? Olahraga? Emang si Hamid bisa ngangkat badan lu?"
Haris menyebikan bibirnya, sementara Jasmin yang masih mengenakan stelan olahraga pun menjatuhkan diri di kursi tepat di sisi suaminya.
"Malah lebih jago Hamid dibandingkan lu, iya kan baby sayang?" tanya Jasmin pada bayi dalam perutnya dengan wajah semringah, beda banget pas ngomong sama Haris.
Hamid hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kakak iparnya tersebut.
"Cih... Tapi kan Cuma gue yang bisa bikin lu gendut gitu Jub... Hamid mah mana bisa, fresh graduate aja belum...."
“Ck, berisik ah... pijitin nih pundak sama punggungnya, pegel abis jalan-jalan." Jasmin menepuk pundaknya agar Haris segera memijat bagian tersebut karena badannya agak pegal-pegal setelah melakukan olahraga bersama si bayi.
"Oh iya... tadi Mama telepon, katanya gak bisa ke sini," beritahu Jasmin pada Haris, suara Jasmin terdengar amat pelan.
"Mama gue?" tanya Haris memastikan.
__ADS_1
Jasmin mengangguk kecil. “Huum.. mertua gue."
Haris tersenyum kecut. "Iya, wajar sih... siapa juga yang mau ketemu mantan suami,“ timpal Haris dengan lemas. Jasmin membalik tubuhnya jadi menghadap Haris dan menangkup kedua pipi suaminya itu sambil tersenyum lembut.
"Ngambek nih pamilnya?"
"Apaan sih.. haha... enggak lah, agak sedih aja.... kasian si bayi gak di temenin neneknya pas baby shower."
"Iih... kan ada nenek Hani sama kakek Dimas... mereka udah cukup kok," ucap Jasmin sambil mencubit kecil pipi Haris. Haris terkikik.
"Heem, untung mereka dateng ya."
Tapi tetap saja, Haris terlihat tidak bersemangat saat mengetahui bahwa mamanya tidak bisa hadir di acara sakral keluarga kecilnya.
"Ada yang lebih penting dari itu loh Sayang." Jasmin merapatkan tubuhnya ke arah Haris, dan memandang wajah suaminya itu dengan jarak amat dekat, bahkan Haris bisa merasakan hangatnya napas Jasmin di seputar wajahnya.
"Apa tuh yang lebih penting, Sayang?"
"Kamu lah... yang penting kan pamil selalu ada....“ Jasmin menarik tangan Haris untuk mendarat di atas perut buncitnya. "Ini kan bayi Ja-Ris ...," tambah Jasmin sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
Haris tersenyum gemas dengan tingkah istrinya, dipeluknya tubuh Jasmin agak longgar agar istrinya tidak merasakan pengap, tetapi merasa nyaman akan dekapan itu.
"Aduh.. gumush banget siii... istrinya siapa ini?"
"hihi.. istrinya H-a-r-i-s!"
Sebagai rasa syukur atas karunia tersebut, Haris menjatuhkan kecupan kecil di atas puncak kepala Jasmin dalam-dalam dengan mata terpejam.
"Min, ***** lu makin gede ya?"
"Arnold kampret!”
"HAHAHAHA ...!"
__ADS_1
Bersambung ....
Aku akan usahain hari ini, Pasutri Gaje tamat.